
Sepulang sekolah aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku mengayuh sepedaku menuju ke arah gedung terbengkalai yang jarang sekali ada orang di sana. Aku terduduk di atas rooftop memandang bangunan-bangunan yang ada di sekitarku.
Aku hanya ingin sendiri merenungkan segala perasaan yang aku alami akhir-akhir ini.
"Kenapa aku harus jatuh cinta kalau pada akhirnya tidak bisa memiliki dia sama sekali?"
"Kenapa harus aku yang mengalami ini semua?"
"Kenapa bukan orang lain saja?" Ujarku seraya menatap langit mendung.
"Andai perasaan ini tidak hadir dalam hidupku. Mungkin aku tidak akan merasakan perasaan perih di dalam hatiku ini."
"Aku pasti akan berangkat sekolah seperti hari-hariku sebelumnya, tanpa memikirkan Elang dan rasa sakit ini."
"Tuhan, hapuslah rasa cintaku ini. Agar aku bisa hidup tenang seperti biasanya."
"Aku tahu kalau aku tidak pantas untuk Elang. Aku tahu kalau aku tidak secantik dan sepopuler Vera."
"Sudah?" Suara bass itu tiba-tiba masuk ke dalam pendengaranku.
"Hah...!" Pekikku terkejut saat menyadari kalau ada seseorang selain aku di tempat ini.
Buru-buru aku mengambil tasku yang tergeletak di bawah. Lalu aku melangkah hendak meninggalkan tempat ini tanpa melihat siapa pemilik suara itu.
"Lo mau kabur heh?!" Ujarnya dengan nada mengejek. Aku membeku di tempat seketika.
"Mengeluh ini itu, lalu saat ada yang dengerin malah kabur," ujarnya lagi dengan nada mengejek yang sama.
Ish...! Sangat menyebalkan.
Aku membalikkan badanku menatap ke arah sumber suara menyebalkan itu.
Cowok yang pertama kali menyadari perasaanku. Si cowok peka itu... Rangga.
"Itu bukan urusan mu," ujarku seraya membalikkan badanku.
"Baru segitu aja udah nyerah... Cemen." Aku berusaha tidak mendengar perkataannya.
"Aku memang cemen," ujarku dalam hati.
"Bagaimana Elang mau jatuh cinta sama lo. Kalau Lo aja nggak cinta sama diri Lo sendiri."
Apa maksudnya dia bilang seperti itu. Tentu saja aku cinta diriku sendiri. Dasar sok tahu!
Aku mencoba mengontrol emosiku dengan mengepalkan tangan.
"Dasar sok tahu," ujarku lirih.
"Gue nggak sok tahu." Aku menengok ke arah wajahnya dengan tatapan sengit. Wajahnya begitu menyebalkan dengan seringainya.
"Dia benar-benar!" Geramku dalam hati. Bukan hanya peka, tapi sepertinya dia juga memiliki pendengaran yang sangat tajam.
"Apa?" Tanyanya dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Menatap ke arahku seraya menyeringai.
"Tidak pa-pa," ujarku dengan nada datar.
"Marah? Ayo coba tunjukkan ekspresi marah lo itu," tantangnya.
"Hah... Elo pasti nggak bisa," ujarnya meremehkan diriku dengan senyum mengejek.
"Apa maksudmu sebenarnya hah?!"
Entah mengapa emosiku tiba-tiba terpancing keluar. Ia tampak menyeringai.
"Kamu nggak tahu apa-apa tentang aku. Jadi lebih baik kamu diam!!"
"Aku nggak butuh ejekan kamu itu!!" Ujarku penuh emosi.
"Gue?" Tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Temen sekelas Lo," ujarnya santai.
Aku memutar bola mataku jengah. Aku tahu dia teman sekelasku. Tapi, kita tidak terlalu dekat untuk membahas masalah kehidupan ku. Apalagi gayanya sok tahu segalanya tentang ku selama ini. Padahal baru beberapa minggu kita berada di kelas yang sama. Dan ditambah kita tidak pernah mengobrol cukup lama membahas kehidupan ku atau kehidupannya. Tidak sama sekali. Yang ada dia hanya mengerjaiku dengan berpura-pura hendak memberitahukan perasaanku kepada Elang.
"Terus?!" Tanyaku dengan nada sinis.
"Terus gue mau bantuin elo dapetin Elang," ujarnya santai membuatku mengerutkan dahiku dalam.
"Apa maksud kamu?" Tanyaku heran. Bukannya menjawab, dia justru berjalan dan duduk di tempat yang aku duduki tadi.
"Sini duduk dulu, jangan jauh-jauh." Rangga menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Dengan kesal aku tetap berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
Entah kenapa aku bisa menatap wajahnya dengan santai. Padahal selama ini aku tidak pernah mengenal cowok yang ada di sampingku ini. Tapi aku tidak merasa terancam sama sekali. Walaupun pakaiannya berantakan dengan wajah berandalan. Bahkan aku tidak malu seperti biasa. Mungkin karena ia sudah memancing emosiku terlebih dulu.
"Udah jangan lama-lama ngeliatnya, entar Lo malah suka sama gue. Gue tahu kalo gue ganteng. Tapi sorry... elo bukan tipe gue," ujarnya seraya mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Cih... Geer banget nih orang," batinku dengan tatapan jijik ke arahnya. Ia mengeluarkan permen karet dari dalam tasnya dan mengupasnya lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Nih! makan, dari pada ngeliatin wajah ganteng gue terus." Ia memperlihatkan permen karet itu dengan cara dijepit kedua jarinya menggantung di depan wajahku. Lalu ia menggoyang-goyangkan permen karet itu agar aku menerimanya.
Di saat tanganku hendak meraihnya, ia sudah lebih dulu menjatuhkan permen karet itu begitu saja. Untung permen itu masih ada bungkusnya dan jatuh tepat di atas telapak tanganku. Jika tidak, aku pasti akan memukul wajahnya yang sok kegantengan itu dengan tasku.
"Nggak niat banget sih, ngasihnya," ujarku dengan nada sinis. Sengaja aku tinggikan nadaku agar ia bisa mendengarnya. Tapi dia tampak acuh seraya mengunyah permen karet dan sesekali meniupnya.
Tak butuh waktu lama, aku mengupasnya lalu mengunyahnya perlahan-lahan.
"Jadi apa maksud kamu sebenarnya?" Tanyaku penasaran. Apakah dia memang benar mau membantuku. Tapi bukannya Elang sudah punya pacar.
"Seperti yang gue bilang tadi, gue mau bantuin elo dapetin Elang."
"Tapi... Elang kan sudah punya pacar," ujarku seraya menatap langit sore dari atas gedung ini.
"Kamu mau aku jadi pelakor?!" Ujarku tiba-tiba seraya menatap wajahnya dengan horor, setelah mencerna ucapannya yang mengatakan ingin membantuku mendapatkan Elang.
"Nggak gitu juga, dasar b*doh." Ia menoyor kepalaku hingga terhempas ke samping.
"Astaga!!" Pekikku kencang karena terkejut dengan tenaganya yang ia gunakan untuk menoyor kepalaku.
"Heh! Aku ini cewek, kenapa toyornya pake tenaga penuh," protesku seraya mengusap-usap kepalaku.
"Kayak lagi toyor temen cowok aja," gerutuku kesal.
"He...he...he... Kelepasan sorry," ujarnya sambil cengengesan.
"Aish... Nyeselin banget nih orang," gumamku.
"Gue kan udah bilang sorry...."
"Iya...iya... Aku maafin," sahutku akhirnya.
"Nah! Gitu dong."
"Heh! Kenapa malah jadi ngelantur gini sih?! Bukannya aku lagi mau bahas yang tadi. Apa maksud dari perkataan kamu itu sebenarnya. Cepat beri tahu aku," Protesku.
"Jadi... Gue emang bilang mau bantuin elo dapetin Elang. Tapi gue nggak bilang mau jadiin elo pelakor. Gue tahu kalo sekarang Elang udah punya pacar. Apalagi pacarnya cantik, populer, tinggi nggak boncel kayak elo."
"Stop!! Bisa nggak sih, nggak bawa-bawa tinggi badan," ujarku sinis.
"Oke...oke... Gue nggak bawa-bawa tinggi badan lagi. Tapi gue bisa lanjutin sekarang?"
"Yaudah lanjutin aja," sahutku sedikit geram.
"Jadi rasanya sulit kalo gue nyuruh elo nikung Elang. Ibarat lomba balap motor nih... Ceweknya Elang itu motor sport, sedangkan elo motor cub. Elo nggak akan bisa ngejar dia deh." Wajahnya sangat meremehkan aku. Tapi memang benar sih, aku tidak sepadan dengan Elang.