Shy Girl

Shy Girl
30. Cewek Antik



"Ngomong-ngomong motor cub itu seperti apa?" Tanyaku sedikit bingung dengan ibarat yang Rangga gunakan. Aku mana tahu jenis motor yang ia sebutkan tadi untuk mengibaratkan diriku.


"Cih... Gue lupa elo cewek," ujarnya lalu ia mengutak-atik ponselnya. Lalu memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan sebuah gambar sepeda motor.


"Nyebelin! Jadi kamu ibaratin aku motor jadul ini. Sedangkan Vera kamu ibaratin motor sport!" Protesku tidak terima diibaratkan sebagai motor jaman dulu.


"Makanya gue nggak nyuruh elo nikung Elang. Yang gue maksud itu elo harus memulai dari dalam diri Lo sendiri dengan menunjukkan jati diri lo yang sebenarnya. Dengan mengakui keunikan elo yang nggak dimiliki cewek pada umumnya."


"Keunikan apa? Perasaan aku nggak punya keunikan apa-apa," balasku seraya mengernyitkan dahiku.


"Jadi selama ini elo nggak sadar keunikan yang ada dalam diri lo? CK...CK...CK..." Decaknya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Elo musti sadar kalo elo beda dan elo unik. Yang pertama, elo itu nggak pernah pacaran. Jaman sekarang mana ada sih, cewek SMA nggak pernah pacaran. Padahal elo tahu kalo semua cewek yang ada di kelas kita udah pernah pacaran, minimal sekali lah. Lalu elo mengakui itu dengan jujur. Elo itu cewek langka, musti dijaga biar nggak punah."


"Emang nggak ada akhlak ni cowok," batinku kesal.


"Uniknya dibagian mana?" Aku mengernyitkan dahiku heran dengan jalan pikirannya. Tidak pernah pacaran dia bilang unik? Aneh!


Dia menepuk jidatnya cukup kencang. "Itu artinya cowok yang jadi pacar elo bakal jadi pacar pertama Lo."


"Oh... Gitu," ujarku menganggukkan kepalaku.


"Lalu Yang kedua, seperti yang udah gue sebutkan tadi, kalo elo itu cewek yang jujur. Jujur mengakui kalo elo jomblo dari zigot."


Aku memutar bola mataku.


"Eh! Denger ya, nggak semua cewek mau mengakui kalau dia jomblo. Kebanyakan mereka malu dan takut diejek nggak laku. Makanya banyak yang pacaran bukan karena saling suka, tapi karena nggak mau berstatus jomblo. Dan yang jadi korban pasti cowok. Si cewek bakal mutusin cowoknya kalo si cewek udah nemuin gebetan yang dia suka. Sedangkan elo bertahan di status jomblo dari lahir. Menurut gue elo keren sih."


"Sok tahu kamu." Lalu aku meniup permen karet yang ada di mulutku hingga membentuk balon besar.


"Lha! Bukannya elo sendiri yang bilang kalo nggak pernah pacaran atau elo nggak pacaran karena nggak laku," balasnya santai.


Boleh nggak sih mulutnya aku jahit? Bikin kesel aja!!


Balon yang kutiup meletus. Lalu aku mengunyahnya lagi.


"Masih ada lagi nggak?!" Tanyaku nada meninggi saking kesalnya.


"Dan yang terakhir, elo itu cewek dengan kepedulian tinggi. Buktinya setiap pulang sekolah elo pasti nutup semua jendela yang masih terbuka seorang diri. Padahal yang lain cuek dan langsung pulang gitu aja. Walaupun tampak sederhana, tapi apa yang elo lakuin membuktikan kalo elo itu memedulikan sekitar. Contohnya lagi pas elo nyariin sepatu Elang waktu itu. Mungkin elo keliatan diem, tapi ternyata diem Lo itu sambil bantu. Dan apa yang ada dalam diri Lo nggak dimiliki semua cewek."


"Lalu apa hubungannya dengan motor cub itu?" Tanyaku heran.


"Gini ya gue jelasin... Motor sport boleh menang di body sama kecepatan. Tapi motor cub menang dikeunikan dan kelangkaannya. Motor sport semakin lama semakin biasa aja dan harganya lebih murah. Karena pasti ada motor sport yang lebih bagus lagi yang dikeluarkan setiap tahunnya. Sedangkan motor cub, semakin lama semakin antik. Kalo udah antik semakin mahal harganya. Dan elo termasuk cewek antik."


"Nah! Gue mau bantuin elo memancarkan keunikan yang elo miliki ke semua orang. Ibarat berlian, elo itu belum digali dari dalam tanah. Jadi mana bisa Elang terpesona sama elo."


"Tadi diibaratin motor cub, sekarang diibaratin berlian belum digali. Besok-besok apa lagi?" Gerutuku seraya menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Makanya elo harus lebih percaya diri lagi. Dengan mencintai diri Lo sendiri terlebih dahulu. Yang elo anggap kekurangan belum tentu sebuah kekurangan. Jangan pura-pura baik-baik aja kalo nyatanya elo terluka. Jangan malu-malu."


"Gimana caranya?" Tanyaku.


"Jujurlah sama diri lo sendiri. Jika sedih menangis lah, jika marah berteriak lah, jika bahagia tersenyum lah yang lebar. Tunjukkan ekspresi wajah lo pada orang lain. Agar orang lain mengerti apa yang sedang Lo rasain," ujar Rangga sok bijak.


"Hi...hi...hi...." Entah mengapa mendengar dia berbicara seperti itu. Perutku terasa geli. Rangga itu cowok yang sama berandalannya dengan yang lain. Tapi tiba-tiba ia berbicara seperti itu. Membuatku merasa aneh. Apalagi ini pertama kalinya aku berbincang cukup lama dengannya.


"Hei! Kenapa Lo ketawa?" Tanyanya dengan tatapan terheran-heran.


"Ha... Ha... Ha...." Tawaku bukannya mereda. Tapi malah semakin terbahak-bahak.


"Maksud Lo apa?!"


"Gue tersinggung tau!" Dia memutar tubuhnya menghadap ke arah ku.


"Oops, sorry. Nggak sengaja," ujarku seraya menutup mulutku dengan kedua tangan.


"Oke karena gue baik. Jadi elo gue maafin."


"Ngomong-ngomong, kamu kenapa ada di sini?" Aku menatap ke arah wajahnya yang tampak menikmati embusan angin sore menerpa wajahnya.


"Harusnya gue yang nanya gitu. Kenapa elo ada di sini? Inikan gedung terbengkalai. Emangnya elo nggak takut hantu di gedung ini apa?"


Aku mengembuskan nafas lelah. Bukannya yang tanya duluan itu aku. Kenapa malah dia yang balik bertanya.


Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak takut tuh," sahutku santai.


"Terus jawaban pertanyaan yang tadi apa?" Tanya Rangga dengan rasa penasaran.


"Pertanyaan yang mana?"


"Ish... Pertanyaan yang kenapa lo ada di sini?" Ujarnya seraya menggaruk kepalanya.


"Oh... Pertanyaan yang itu. Eum.... Jawabannya apa ya?"


"Udah di jawab aja nggak usah pake mikir segala."


"Kamu juga harus jawab kenapa ada di gedung ini," ujarku agak nyolot.


"Elo jawab, gue juga jawab."


"Oke," ujarku. Lalu dia mengulurkan tangannya ke arahku. Aku menatap tangannya dengan heran. Apa maksudnya?


"CK... Lama banget," ujarnya seraya mengambil tanganku dan kami berdua bersalaman.


"Kenapa aku ada di gedung ini, jawabannya karena gedung ini sepi dan pemandangannya indah. Aku bisa lihat seluruh gedung-gedung dan langit sore. Cocok buat menenangkan diri sejenak," balasku.


"Sekarang gantian kamu yang jawab, kenapa kamu ada di gedung ini?" Tanyaku seraya menatap wajahnya.


"Pengen aja." Aku mengernyitkan dahiku.


"Udah gitu aja?" Tanyaku heran. Dia mengangguk.


"Wah curang!" Pekikku kencang. Entah mengapa aku bisa lebih santai berbincang dengannya.


"Nah! Gitu dong. Santai nggak kaku kayak biasanya. Banyakin ketawa lepas. Jangan ditahan-tahan lagi Tunjukkin kalo elo bisa jadi cewek yang unik dan antik. Gue yakin inner beauty Lo bakal keluar. Dan buat Elang terpesona dengan kecantikan lo secara alami."


"Emang bisa?"


"Jelas bisa. Kunci keberhasilan memancarkan inner beauty itu ada lima. Senyum, percaya diri, memiliki passion, berbuat baik dan yang terakhir optimis. Elo udah memiliki passion dan hati yang baik. Nah, sekarang elo harus banyak senyum, lebih percaya diri dan optimis. Jangan buru-buru mundur. Kalo nyoba aja belom."


"Lo udah paham?"


"Iya ini ajalah, biar cepet. Penjelasan kamu bikin kepala pusing," ujarku seraya memijit pangkal hidungku.


"Gue yakin Elang yang bakal ngelirik elo diem-diem kalo elo berhasil."


"Hmm," sahutku pada akhirnya.