Shy Girl

Shy Girl
5. Oase di Gurun Sahara



Biasanya aku akan selalu bersemangat mengayuh sepeda ke sekolah. Tapi setelah mengetahui kelasku tidak ada siswa-siswi yang normal. Aku menjadi sangat malas berangkat. Aku melirik jam tangan yang aku pakai. Biasanya jam segini aku sudah duduk manis di kursiku sambil membaca novel yang belum habis aku baca.


Tapi sekarang aku masih ada di jalan dan mengayuh sepeda dengan santai. Bahkan jalanan yang biasa aku lalui sudah mulai ramai kendaraan sepeda motor. Walaupun belum seramai atau sepadat ketika jam sudah menunjukkan pukul 7. Pastilah jam-jam itu rawan akan kecelakaan.


Setelah memarkirkan sepeda, aku berjalan menuju ke kelas dengan langkah lesu. Sudah ada segelintir siswa yang mengobrol di koridor. Mereka duduk lesehan di atas lantai yang baru saja dipel oleh petugas kebersihan.


Aku pun masuk ke dalam kelas yang sangat sepi. Langit cerah di luar sana tak bisa membuat hatiku yang mendung ini ikut cerah seperti dirinya. Aku meletakkan tas ke atas meja. Kubuka tasku untuk mencari novel yang bisa mengalihkan duniaku walau sebentar.


Setelahnya aku mulai tenggelam dengan alur cerita. Sampai tiba-tiba banyak suara-suara orang berbincang-bincang dengan cukup keras dan banyak di luar kelas. Hingga membuatku tak fokus lagi membaca novel. Ku tutup dengan kencang novelku ini. Dan mendongak untuk melihat keadaan sekitar.


"Astaga!" Pekikku saat mendapati Avi sudah duduk di sampingku tanpa aku sadari.


"Fokus banget bacanya, emang baca novel apa?" Tanya Avi sambil mencoba membaca judul novelku.


"True Love," gumamnya setelah membaca judul novel yang aku pegang.


"Ceritanya gimana? Bagus nggak?" Tanyanya dengan antusias.


"Bagus," jawabku lirih.


Aku melirik jam yang menggantung di dinding.


"Sudah pukul 7 rupanya," gumamku.


***


Satu persatu siswa penghuni kelas ini datang dan menempati meja masing-masing.


Kelas ini benar-benar kelas paling gaduh yang pernah aku masuki. Entah apa yang bisa membuatku tetap bertahan di kelas yang berisik ini.


Tak berapa lama pak guru datang memasuki kelas. Karena ini baru masuk lagi setelah libur panjang. Dan juga karena pembagian kelas dengan mengacak siswa-siswi. Maka hari ini difokuskan untuk sesi perkenalan terlebih dahulu.  Sebenarnya aku benci sesi perkenalan ini.


Satu persatu berdiri dari tempat duduknya dan mulai menyebutkan nama lengkap, nama panggilan dan juga tempat tinggal. Semua berjalan dengan lancar walau badanku bergetar hebat. Satu kelas memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tidak suka dipandangi seperti itu. Aku malu!


Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 tiba-tiba ada suara ketukan pintu.


Tok tok tok


Pak guru dan kami yang ada di kelas menatap serentak ke arah pintu. Hingga muncullah satu persatu cowok yang berjumlah 4 orang. Yang pertama masuk, dia tampak cengengesan di depan pak guru. Membuatku fokus memandanginya karena dia yang masuk pertama. Sedangkan ketiga lainnya tak begitu aku perhatikan.


"Maaf pak, kami terlambat," ujarnya dengan cengengesan lalu mencium tangan pak guru dan diikuti ketiga cowok lainnya.


"Kamu dan kamu! Sudah tidak naik kelas. Sekarang malah terlambat." Pak guru menunjuk cowok pertama dan cowok kedua. Aku lebih fokus ke arah keduanya.


Oh! ternyata dua cowok itu tidak naik kelas. Lalu aku melihat ke arah cowok ketiga dan keempat.


Deg


Jantungku langsung berdetak kencang. Saat melihat cowok keempat yang berdiri paling dekat dengan pintu.


"Tuhan... takdir apa yang akan aku jalani?" Erangku. Dengan tatapan mata yang masih fokus ke arah cowok itu.


Dia Elang! si cowok penjaga gawang yang pakai sepatu pink. Cowok yang mau disuruh membuang sampah dengan teman satu kelasnya. Wajahku memanas, suara detak jantungku semakin menggila. Ini benar-benar keajaiban Tuhan.


Untung tak ada, aku sudah mengeceknya dengan diam-diam. Jangan sampai Avi tahu kelakuanku ini. Bisa malu aku kalau hal itu terjadi.


"Kalian berempat perkenalkan diri, di mulai dari kamu." Tunjuk pak guru ke  si cowok pertama.


"Yah Pak! Kenapa pake perkenalan segala sih? Bapak kan sudah kenal saya," ujarnya seorang cowok pertama masuk.


"Ya iyalah, bapak jelas kenal kamu sama kamu. Lha wong kalian berdua tinggal kelas." Tunjuknya pada dua cowok tadi.


"Tapi teman-teman kalian belum tahu nama kalian siapa," ujar pak guru lagi.


"Halo." Si cowok pertama melambaikan tangan tetap sambil cengengesan.


"Perkenalkan nama saya, Arfian Pratama. Biasa dipanggil molor."


"Hahahaha...."


Ucapannya memancing gelak tawa dari seisi kelas. Aku pun ikut terkekeh geli. Namanya bagus tapi panggilannya molor alias tidur.


Lalu cowok kedua maju.


"Perkenalkan nama saya Arjuna Wibowo. Biasa dipanggil Jono."


"Hahahaha...."


Gelak tawa semakin menggelegar mendengar nama panggilan cowok kedua. Belum reda tawa yang pertama sekarang ditambah dengan tawa kedua. Perutku semakin kram, menahan geli yang menggelitik perutku. Yang sebenarnya tawa ini ingin menyembur keluar. Tapi urung ku lakukan karena aku malu.


Aku melihat semuanya tertawa terbahak-bahak. Bahkan ada yang sampai memukul-mukul meja saking lucunya.


"Perkenalkan nama saya Arya Prasetyo. Biasa dipanggil Arya."


Aku bisa menghela nafas lega. Karena nama panggilan cowok yang ketiga tidak aneh-aneh seperti cowok yang pertama dan kedua. Lalu kini saatnya Elang memperkenalkan nama lengkapnya. Inilah waktu yang kutunggu-tunggu sejak class meeting waktu itu.


Elang menggaruk tengkuk leher bagian belakang sambil tersenyum malu. Membuatku terpana dengan ketampanan dan senyumannya yang manis.


"Perkenalkan nama saya Elang Mahardhika. Biasa dipanggil Elang."


"Oke, kalian berempat silakan duduk. Untuk hari ini keterlambatan kalian akan saya maafkan. Tapi, kalau besok masih ada yang terlambat. Maka saya akan menghukum kalian. Mengerti!"


"Mengertiiiii," sahut semuanya dengan serentak.


Cowok itu mengambil duduk di meja depanku. Aku Ingin berteriak saat itu juga. Kalau aku sedang bahagia. Ternyata ini rencana Tuhan yang membiarkanku terdampar di kelas neraka. Karena di sinilah aku bisa satu kelas dengan pangeran penjaga hati bersepatu pink.


Uuuuaaawww!


Amazing!


Tuhan memang paling mengerti hamba-hamba berhati gersang seperti diriku ini, yang membutuhkan siraman cinta dari pangeran tampan penjaga gawang bersepatu pink. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.


Hari ini aku bisa dengan puas melihat punggung tegap dan bahu lebar Elang dengan jarak yang begitu dekat. Wajahku semakin memanas. Sepertinya wajahku sudah merah sekali. Hingga aku menutupinya dengan berpura-pura membaca buku.