
Jam istirahat kali ini aku dan Avi memilih membeli makanan di koperasi. Kebetulan di sana juga terdapat jajanan seperti bakpao, donat, tahu isi, lumpia dan minumannya ada air mineral dan teh dengan kemasan gelas.
Untuk hari ini aku lebih memilih makanan yang mengenyangkan. Dan pilihanku jatuh ke donat dan air mineral kemasan botol. Setelah itu aku dan Avi duduk di lantai depan kelas bersama teman-teman yang lain. Aku hanya ikut-ikutan saja.
Aku menikmati donat itu dengan lahap. Lalu Elang muncul sambil tersenyum manis ke arahku.
Aku membatu melihat senyumannya. Hampir saja bongkahan donat di mulutku terjatuh, saking lebarnya aku membuka mulutku. Setelah sadar aku buru-buru menutup mulutku. Dan mengunyah donat itu dengan cepat. Untung saja teman-temanku yang lain sedang sibuk sendiri. Jadi mereka tidak melihatku melongo.
Rasanya donat yang ada di tanganku ini kalah manis dengan senyuman Elang padaku barusan. Aku mengulum senyum sambil menunduk. Saat ini aku sedang malu. Mungkin wajahku sekarang berwarna merah padam seperti kepiting rebus.
Bel masuk berbunyi, aku cepat-capet masuk ke dalam kelas. Jangan sampai ada guru yang memergoki siswanya yang masih duduk di luar kelas. Dan tak lama kemudian Elang, Jono, Arya dan mas molor masuk ke dalam kelas dengan baju yang sudah kembali berantakan.
Lalu Bu Endang datang, guru sosiologi itu meletakkan bukunya diatasi meja. Setelah beberapa menit Bu Endang menjelaskan pelajaran hari ini. Ia lantas menyuruh sekretaris kelas mencatat di papan tulis.
"Sekretaris ayo maju," ujarnya sambil melihat struktur organisasi. Namun sekretaris belum juga maju ke depan. Aku membalikkan badan ke belakang seraya memandangi Revi yang masih asik sendiri.
"Revi," panggilnya. Revi yang tidak sadar kalau dirinya sekretaris berjangkit kaget.
"Iya, buk," ujarnya sambil tersenyum lebar.
Gadis itu mendekat sambil cengengesan. Bu Endang membuka buku paketnya dan menunjukkan mana-mana saja yang harus dicatat. Sesekali Revi menggaruk kepalanya sambil melihat apa yang ditunjuk Bu Endang.
Dari arah belakang, Tya dan Ika berbisik-bisik. Yang sayangnya masih terdengar oleh telingaku.
"Kasihan tuh si Revi. Kayaknya dia bingung. Hihihi," ujar Tya sambil cekikikan senang melihat temannya mencatat di papan tulis.
"Biar tahu rasa tuh bocah," ujar Ika menimpali.
Terlihat Revi menggaris papan tulis dengan spidol menjadi dua. Lalu tangannya terangkat ke atas dan mulai menulis.
Aku menulis catatan di bukuku dengan fokus. Lalu di saat aku melihat ke arah samping. Jantungku berdetak kencang karena terkejut. Di kursi sampingku sudah diduduki Elang yang juga fokus mencatat di buku catatannya.
Sejak kapan? Pertanyaanku saat tak merasakan pergantian ini. Tadi jelas-jelas Avi yang duduk di sampingku. Lalu kenapa berubah jadi Elang. Lalu aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Avi. Ternyata dia pindah ke meja lain.
Tiba-tiba udara disekitarku memanas. Aku mengambil buku yang lain untuk mengipasi wajahku. Aku tidak sanggup menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. Mataku juga tidak fokus menulis karena degupan jantungku yang bertalu-talu.
"Kenapa panas ya," ujar Elang yang tiba-tiba menatap wajahku di saat aku sedang menatapnya.
"Aku kepergok!" Jeritku dalam hati. Aku yakin wajahku semakin memanas.
Glek.
Aku mengangguk kaku sambil meneguk salivaku dengan susah payah. Tanpa kata Elang langsung berdiri dan menghampiri pintu.
"Mau kemana kamu?!" Tanya Bu Endang dengan wajah tampak garang.
Aku tegang seketika dan menegakkan tubuhku. Kulihat Elang tampak santai.
"Mau buka pintu, buk. Biar udaranya masuk," ujarnya sambil tersenyum.
Deg
Jantungku berdegup semakin kencang, tubuhku menegang. Bahkan aku sampai sulit bernafas. Efek ini membuatku terhenyak sesaat.
Setelah membuka pintu dengan lebar, Elang kembali duduk di sampingku.
"Masih panas nggak?" Tanyanya sambil melihat ke arahku.
Lalu dia kembali menulis catatan dengan tenang. Seakan-akan dia tidak terganggu oleh keberadaanku yang gemetaran di sampingnya.
***
Bel berdering tanda waktu belajar telah usai. Membuat semuanya bernafas lega. Elang yang duduk di sampingku akan berpindah ke tempat duduknya makanya ia mengemasi barang-barangnya yang ada di meja. Begitupun denganku.
Setelah memanjatkan doa. Semuanya langsung keluar kelas dengan gaduh. Hingga beberapa menit kemudian mereka semua sudah tidak tampak lagi dari tempatku berdiri. Lalu aku menepuk jidatku karena baru ingat sesuatu. Aku kembali masuk ke dalam kelas dan menutup jendela satu persatu. Hingga semuanya telah tertutup sempurna. Baru setelahnya aku melangkah ke arah tempat parkir.
Di sana tampak gaduh karena ingin keluar dari tempat parkir lebih dulu. Bahkan sepedaku terjepit diantara motor yang terparkir. Alhasil aku harus menunggu motor-motor itu pergi lebih dulu. Aku jadi mengingat kejadian kemarin. Di saat sepedaku terjepit seperti ini. Karena tidak ada yang Elang yang membantuku. Makanya aku memberanikan diri meminta bantuan siapa saja. Lalu ada cowok yang berjalan mendekat ke arahku.
Aku bingung, antara meminta bantuan seperti yang Elang bilang. Atau aku menunggu saja seperti biasanya. Tapi aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Maka ku beranikan diriku meminta tolong cowok itu. Sepertinya dia kakak kelas. Wajahnya juga bukan termasuk berandalan.
"Kak!" Panggil ku saat dia melintas di depanku. Lalu dia menengok sambil mengernyitkan dahinya.
"Ada apa?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.
"Eum... Kak boleh minta tolong," cicitku. Aku tidak yakin dia bisa mendengar suaraku.
"Boleh," balasnya membuatku sedikit terkejut. Ternyata dia mendengar suaraku yang lirih ini.
"Bantu apa?"
"Bisa bantuin geserin motor ini nggak? Soalnya sepedaku nggak bisa keluar."
Tatapan matanya tertuju ke arah sepedaku. Lalu ia mengangguk paham. Dia dengan begitu mudahnya mengeluarkan sepedaku. Bahkan ini tidak memerlukan banyak waktu.
"Makasih kak," ujarku begitu terima kasih. Berkat dia aku bisa langsung pulang tanpa perlu menunggu lebih lama lagi.
"Sama-sama," balasnya seraya tersenyum manis.
"Nama kamu siapa?" Tanyanya seraya mengulurkan tangannya.
"Hani kak," balasku gugup.
"Kalo namaku Agam. Kamu kelas berapa?"
"Kelas sebelas IPS 4," sahutku kemudian.
Tampak ia sedikit terkejut mendengar aku mengatakan kelasku. Terlihat dari wajahnya aku melihat ada ketidakpercayaan yang begitu terlihat jelas.
"Beneran?"
Aku mengangguk, karena memang benar aku berada di kelas itu.
"Masa sih kamu di kelas itu?" Tanyanya dengan rasa tidak percaya.
"Emangnya kenapa kak?" Tanyaku penasaran.
"Ah! Nggak-nggak." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti tengah menepis pikiran yang ada di otaknya.
"Hati-hati di jalan," ujarnya lalu ia melenggang pergi meninggalkanku dengan kebingungan.
"Apa maksudnya?" Gumamku seraya mengernyitkan dahiku heran sambil menatap kepergian cowok rapi itu.