Shy Girl

Shy Girl
20. Taman



Kring!!! Kring!!!


Tanganku terulur untuk mematikan jam weker yang berbunyi di atas nakas. Setelah bunyi itu mati, aku terdiam sejenak. Agar mataku terbuka sepenuhnya. Seraya menatap langit-langit kamar.


Begitu mata ini sudah terbuka, aku bangkit dari ranjang. Dan mencuci mukaku di kamar mandi. Senyum ku mengembang seraya berjalan ke arah di mana sepedaku berada.


Biasanya di hari Minggu seperti ini, Ulfa masih tertidur lelap. Sehingga aku tidak bisa mengajaknya bermain sepeda di taman. Dia pasti semalaman menonton drama Korea kesukaannya. Sampai-sampai susah untuk dibangunkan.


Dari pada repot membangunkan dia lebih baik aku bersepeda seorang diri. Lagi pula dia juga tidak terlalu suka olah raga.


Kukayuh sepedaku menuju ke taman terdekat. Di sana aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Begitu sampai di taman, aku berkeliling taman itu menggunakan sepeda. Kukayuh sepeda dan menikmati udara segar yang masuk ke dalam rongga dadaku. Rasanya sangat bebas dan menyenangkan.


Saking menikmatinya aku sampai terkejut ketika ada seorang anak kecil melintas di depanku begitu saja. Membuatku oleng dan...


Gubrak!!!


Aku menabrak pohon tangan dan di depanku sampai aku terjatuh hingga siku dan lututku terluka.


"AW!!" Ringisku saat meniup luka yang ada di siku. Aku terduduk di bawah pohon menahan sakit.


"Siku sama lutut Lo kenapa?" Tanya seseorang. Hingga membuatku mendongakkan kepalaku melihat siapa yang sedang berbicara itu.


Deg.


Elang.


Kenapa dia ada di sini?


"Jatuh," jawabku singkat. Jujur saja aku masih syok dengan kedatangan dia di tempat ini.


Dia tampak menatap sepedaku yang tergeletak di sampingku. Ban depanku sedikit bengkok. Lalu tanpa kata dia bergegas pergi meninggalkan ku sendirian. Membuatku mengernyitkan dahi ku bingung dengan tingkahnya. Tiba-tiba datang, lalu tiba-tiba pergi tanpa pamit. Aku menghela nafas lelah sambil meniup lututku yang berdarah. Ku tepuk-tepuk tanah yang menempel di baju dan tubuhku hingga bersih. Di saat aku sedang sibuk membersihkan bajuku yang kotor. Tiba-tiba suara hentakan sepatu mendekat ke arahku.


Aku pun mendongak dan betapa terkejutnya aku saat Elang berlari menghampiri ku seraya membawa kantong plastik minimarket.


"Hah...hah...hah...." Nafasnya memburu, sepertinya dia berlari dengan cepat hingga cuma membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk membeli sesuatu yang ada di kantong plastik itu.


"Kok, bisa?" Dia berlutut di depanku seraya mengeluarkan botol air mineral dan membukanya. Lalu dia menyiram lukaku di lutut dengan air itu.


"AW!" Aku meringis merasakan perih di lukaku. Darah dan tanah yang menempel dia bersihkan sampai hilang.


"Biar aku aja," ujarku hendak merebut plester yang ia pegang. Setelah dikeluarkan dari dalam kantong plastik.


"Nggak, biar gue. Elo diem aja," ujarnya dengan nada tegas. Hingga aku tidak sanggup menbantahnya. Lalu dia memasangkan plester itu di lukaku. Wajahnya begitu serius, teliti setiap menempelkan plester dia sesekali meniup luka itu. Aku hanya mampu diam memperhatikan saja.


"Udah selesai," ujarnya setelah selesai mengobati siku dan lututku.


"Sekarang jawab pertanyaan gue yang tadi."


"Pertanyaan yang mana?" Aku benar-benar lupa karena aku hanya fokus ke lukaku.


Dia terkekeh geli seraya menutup mulutnya dengan punggung tangan. Apanya yang lucu?


Kedua alisku bertaut menatap wajahnya.


"Kok bisa jatuh?" Tanyanya setelah meredakan tawanya.


"Tadi ada anak kecil yang tiba-tiba lewat. Karena kaget jadinya oleng dan nabrak pohon deh," sahutku mengingat kejadian tadi.


Dia tampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


Dia mengambil botol air mineral dari kantong plastik itu dan menyerahkannya kepadaku.


Aku menatapnya bingung.


"Nih, minum dulu." Ia membuka tutup botol itu supaya aku bisa meminumnya langsung. Tanpa perlu repot-repot membukanya.


"Makasih," ujarku seraya menerima botol itu. Dan meneguk perlahan-lahan air mineral yang segar ini.


"Kayaknya haus banget," ujarnya seraya menatapku sambil tersenyum.


Uhuk uhuk uhuk!


Aku tersedak karena baru sadar kalau dia sedang menatap ke arahku.


"Iya," balasku pelan.


"Rumah elo mana? Gue anterin ya?" Tanyanya tiba-tiba. Membuatku gelagapan.


"Eum... Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri," balasku kemudian.


"Tapi elo kan lagi sakit. Gue anterin aja. Dari pada kenapa-napa di jalan. Ntar gue yang ngerasa bersalah banget." Aku menggelengkan kepalaku menolak.


Drrttt drrttt


Dia tampak mengambil ponsel di sakunya. Lalu mengangkat panggilan yang masuk.


"Aku lagi ada urusan sebentar. Kamu bisakan nunggu. Atau kalo nggak, kamu pulang duluan aja. Kayaknya aku bakalan lama."


"Aku beneran nggak bisa," ujarnya frustasi sampai-sampai mengacak-acak rambutnya.


"Aku nggak bohong."


Siapa yang menelpon Elang? Terus kenapa pake aku-kamu. Atau jangan-jangan dia pacarnya Elang. Lalu aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau asal menebak. Bisa jadi itu adiknya. Jadi dia tidak mungkin menggunakan panggilan elo-gue.


Iya! Pasti seperti itu.


"Dan urusan yang bakalan lama itu pasti aku. Apa lebih baik aku menolak diantar saja ya? Kayaknya dia lagi ada urusan sama seseorang," batinku.


"Eum... Lang," panggilku dengan degup jantung yang berdetak kencang.


Dia menatapku dengan sebelah alis terangkat.


"Apa?" Tanyanya sambil menjauhkan ponselnya.


"Kamu pergi aja, aku nggak pa-pa kok. Lagi pula aku bisa minta jemput papa," ujarku kemudian.


"Elo yakin?" Aku mengangguk.


"Tapi..."


"Aku nggak pa-pa. Rumahku Deket kok dari sini," ujarku memotong ucapannya. Aku tersenyum meyakinkan dirinya.


Dia akhirnya mengangguk paham. Lalu dia mengatakan kepada seseorang yang sedang menelponnya bahwa dia akan datang. Baru setelah itu ia menutup panggilan itu.


"Gue pergi dulu ya." Aku sekali lagi mengangguk sebagai jawaban.


Dia berjalan menjauh, tapi dia berbalik lagi dan berlari mendekat.


"Ada apa lagi?" Tanyaku bingung.


"Eum... Gue temenin ya, sampai papa Lo jemput."


"Nggak usah," balasku.


"Eum... Kalo gitu gue duluan," ujarnya seraya menggaruk tengkuknya seraya tersenyum.


"Iya," ujarku seraya mengangguk.


Dia memutar badannya dan kembali berjalan menjauh. Aku terkekeh geli melihatnya salah tingkah begitu. Punggungnya sudah menghilang entah kemana. Dan sekarang waktunya meminta papa jemput dan menghadapi omelan mama yang cerewet itu. Makanya aku mengubungi ponsel papa. Tapi entah kenapa ponsel papa tidak bisa dihubungi.


Aku menarik nafas dan mengembuskannya perlahan. Dengan terpaksa aku menghubungi mama.


"Halo, assalamualaikum. Ma jemput aku di taman ya."


"Wa'alaikumsalam. Kenapa minta di jemput? Biasanya juga pulang sendiri."


"Aku abis nabrak pohon ma. Siku sama lututku sakit. Aku nggak bisa jalan," rengekku.


"Astaghfirullah!" Pekiknya kencang membuat telingaku berdenging.


"Kenapa pohon anteng kamu tabrak?!!"


"Ya Allah, kok bisa begitu?!" Aku menggaruk kepalaku kesal. Aku tidak berniat menabrakkan diri ke pohon.


"Ma! Aku kecelakaan. Bukan sengaja nabrak pohon. Aku nggak seiseng itu."