Shy Girl

Shy Girl
18. Truth or Dare



Jam kosong kali ini dimanfaatkan oleh sebagian siswa-siswi dengan duduk-duduk santai di dalam kelas. Adapula yang sedang tiduran di lantai depan di bawah papa tulis seraya menyumpal kedua telinganya dengan earphone.


"Hahaha...." Suara keras Elang dan Jono tertawa terbahak-bahak di belakang sana.


Otomatis aku menatap ke arah dua cowok itu dengan perasaan ingin tahu. Apa yang sedang kedua orang itu tertawakan. Alisku bertaut kala melihat Elang, Revi, Tya, Ika, Jono dan Arya sedang bermain sesuatu yang aku tidak tahu. Aku lihat Revi kini sedang berjoget dengan menirukan gaya monyet.


Setelah itu Revi duduk di kursi lalu sebuah botol mineral diputar. Hingga beberapa saat kemudian tutup botol menghadap ke arah Arya.


Semuanya bersorak senang sambil menunjuk ke arah Arya. Cowok itu mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangan.


Lalu Arya mengambil gulungan kertas yang sudah tersedia di atas meja. Lalu membukanya.


"Dare," ujarnya cukup kencang, dengan menunjukkan potongan kertas itu ke arah yang lain.


"Yah... Kok dare sih... Padahal gue mau nanya sesuatu," ujar Tya dengan wajah kecewa.


"Sabar, ntar pasti kena truth juga. Tenang... masih banyak nih gulungan kertasnya." Revi menepuk bahu Tya.


Arya tersenyum pongah.


"Nah! Sekarang giliran gue yang kasih Lo dare Ar. Tapi apaan ya?" Revi mengerutkan keningnya.


Lama menunggu ReviĀ  belum juga mengutarakan tantangan untuk Arya.


"Ayo! Cepetan Rev," ujar Arya sombong.


"Bentar dulu ih!" sahut Revi tampak kebingungan.


"Ah lama," ujar Arya lagi. Terlihat Elang terkekeh di samping Arya.


Lagi-lagi wajahku memanas melihat wajahnya yang tampan itu dari tempatku duduk. Andai aku bisa bergaul bersama mereka. Mungkin aku juga bisa tertawa di sana. Dan tahu apa yang sedang mereka lakukan. Aku ini kudet, tidak pernah bergaul. Jadi tidak tahu apa-apa cara bersosialisasi apalagi yang menyangkut soal cinta.


Hidupku hanya di sekolah dan di rumah. Itupun aku sering berada di dalam kamar. Orang bilang aku ini termasuk introvert. Lebih suka menyendiri di dalam kamar. Jika dibandingkan bersosialisasi dengan masyarakat.


Karena menurutku dengan menyendiri, aku bisa lebih merenungkan segala hal yang sudah aku jalani. Hingga aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ngomong-ngomong aku juga termasuk orang yang sensitif.


Mudah sekali menangis jika disakiti. Maka aku berusaha dengan keras untuk menjaga ucapanku yang akan keluar dari mulutku. Jika ucapan itu menyakiti diriku, maka aku tidak akan mengatakannya kepada orang lain. Untuk menjaga perasaan orang lain. Yang bisa saja terluka dengan ucapan yang aku lontarkan tanpa aku ketahui.


Selain itu aku juga mudah tersenyum kalau perasaanku sedang bahagia. Maka dari itu, setelah bertemu dengan Elang. Aku berusaha tidak tersenyum lebar demi menjaga image. Agar tidak disangka gila karena sering tersenyum lebar seorang diri.


"Elo harus minta nomor ponselnya kak Gina anak kelas duabelas IPA 1 sekarang juga," ujar Revi seraya menggerak-gerakkan kedua alisnya.


"CK, yakin nggak mau ganti tantangan," ujar Arya seraya menatap Revi. Tampak Revi mengangguk mantap.


"Nggak bakal diganti. Kak Gina kan cewek paling galak di sekolah. Dan elo harus inget kalo kak Gina itu jago karate. Pasti seru pas elo di tendang kak Gina. Jadi itu tantangan yang cocok buat elo."


Elang justru tertawa terbahak-bahak mendengar tantangan Revi.


"Yaudah kalo itu mau elo." Arya lalu mencari ponselnya dan mengutak-atik sebentar. Lalu ia memperlihatkan layar ponselnya ke arah Revi.


"Gue udah punya nomor ponselnya kak Gina."


"Kok bisa sih?!" Revi merebut ponsel Arya dan mengamati nomor itu dengan teliti.


"Ya bisalah, Arya ini kan sepupu kak Gina," sahut Elang seraya menepuk bahu Arya.


"Kok elo nggak bilang dari tadi! Kalo gitu kan gue bisa kasih tantangan yang lain." Revi tampak kecewa berat. Karena gagal membuat Arya kebingungan.


"Kan, gue udah bilang tadi. Mau ganti nggak. Nah! Elo malah bilang nggak," ujar Arya membela diri.


Tampak Revi berdecak kesal. Lalu pandangannya tertuju ke arahku.


"Hah! Aku?" Tanyaku kebingungan.


"Iya, kalian berdua. Dari pada bengong."


"Yaudah yuk ikutan keliatannya seru," ujar Avi seraya menarik lenganku dan membawaku paksa ke dalam gerombolan itu. Aku duduk di dekat Avi. Dan tepat di depanku ada Elang yang tengah tersenyum manis. Ragu-ragu aku membalas senyumnya.


"Cara mainnya gampang, kalian berdua tinggal duduk yang manis. Nanti Arya yang bakal puter botol ini. Nah! Nanti tutup botol itu bakal terarah ke salah satu dari kita. Baru setelah itu, salah satu dari kita itu bakal ambil gulungan kertas di depan kalian. Dan ini gulungan kertas itu. Ada truth atau dare. Taukan artinya truth sama dare?" Aku dan Avi mengangguk paham.


"Setelah ambil gulungan kertas itu kalian buka dan dapet yang apa, trurh atau dare. Permainan ini udah gue modifikasi sedikit. Biasanya kan para pemain bakal milih sendiri mau truth atau dare. Nah! Berhubung biar rame, dan nggak seperti biasanya. Gue bikin deh gulungan kertas ini. Jadi para pemain nggak bakal tahu dia bakal dapet truth atau dare. Biar surprise gitu ceritanya," jelas Revi panjang lebar. Aku hanya mengangguk saja.


Lagi pula aku sedikit mengerti permainan ini karena sudah melihat cara mereka bermain barusan.


"Yah! Pokoknya begitu lah. Udah paham kan?"


"Udah." Jawabku dan Avi kompak.


"Bagus, kalian berdua udah paham. Jadi gue nggak perlu repot-repot ngulang lagi," ujarnya seraya mengipasi wajahnya dengan tangan.


"Udah siap?" Tanya Arya seraya memegang botol air mineral.


"Langsung puter," ujar bang Jon. Setelah itu Arya langsung memutar botol itu dengan cepat.


Aku berdoa supaya aku tidak menjadi yang selanjutnya. Dan sayangnya hal itu tidak terwujud. Tutup botol itu mengarah ke arahku.


Deg.


Jantungku berdetak kencang berkali-kali lipat. Beberapa kali aku mengangguk salivaku susah payah.


"Ambil gulungan kertasnya Han," ujar Revi antusias. Dengan tangan bergetar aku mengambil satu gulungan itu seraya berdoa. Supaya aku tidak mendapatkan dare.


Ku buka pelan-pelan gulungan kertas itu. Dan aku menghela nafasku lega setelah melihat tulisan truth di dalam gulungan kertas itu.


"Apa?!" Semuanya tampak antusias.


"Truth," balasku.


"Ar, pertanyaannya apaan?" Tanya Revi beralih menatap wajah Arya.


Cowok itu tampak berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba matanya tertuju ke arahku.


"Berapa mantan lo?" Tanya Arya serius.


"Hah!" Pekikku terkejut. Aku tidak pernah diberi pertanyaan seperti itu sebelumnya.


"Eum... Aku..." Aku gugup saat ini.


"Berapa Han, gue juga penasaran," ujar Revi.


"Sebenarnya aku belum pernah pacaran," ujarku lirih.


Lalu ku tatap wajah mereka semua termasuk Elang. Tampak semuanya syok mendengar jawaban dariku.


"Elo beneran nggak pernah pacaran, Han?" Tanya Revi masih tidak percaya.


"Iya."


"Kok, bisa! Padahal gue aja udah punya lima mantan," ujar Revi syok.


Aku hanya tersenyum canggung. Sedangkan mereka menatapku seolah-olah aku makhluk luar angkasa yang terdampar di bumi.