Shy Girl

Shy Girl
33. Hukuman



Hari ini adalah hari tersial yang pernah aku alami. Bagaimana tidak? Semua siswa-siswi kelas sebelas IPS 4 dihukum ditengah lapangan. Kami semua dijemur diteriknya sinar matahari gara-gara kesalahan satu orang yaitu ketua kelas. Dia yang lupa memberitahu kalau ada tugas Minggu kemarin dan harus dikumpulkan hari ini. Hingga pada hari ini kami semua dihukum atas kesalahannya.


Sudah beberapa kali kami mengatakan kalau kami benar-benar tidak tahu kalau ada tugas dari Bu Endang. Tapi Bu Endang tetap tidak percaya. Beliau malah mengatakan kalau kelas sebelas IPS 4 terlalu malas mengerjakan tugas. Sampai terus membela diri dengan alasan lupa dan sebagainya.


Alhasil aku juga dihukum dan menjadi bahan lelucon kelas lain. Mereka menertawakan kami semua. Sudah hampir tiga puluh menit kami berdiri di lapangan sambil hormat ke arah bendera. Kakiku bergetar hebat dibawah sana, peluhku menetes deras hingga baju seragam ku basah kuyup.


Tapi sepertinya Bu Endang belum mau memaafkan kami dengan mudah. Beliau terus-menerus mengawasi kami dengan mata melotot lebar, seolah-olah kami akan kabur saat matanya berkedip.


Sebelum ini, aku tidak pernah dihukum dengan kesalahan apa pun. Walau aku tidak pintar, tapi aku selalu tepat saat mengumpulkan tugas.


Mataku menatap ketua kelas di depan sana dengan tatapan tajam. Aku ingin sekali melubangi punggungnya dengan tatapanku ini. Bagaimana tidak?


Dia satu-satunya pelaku yang membuat kami semua dihukum. Tapi apa yang dia lakukan benar-benar membuat emosiku terpancing. Dengan santainya dia bilang kalau semua ini sebagai bentuk solidaritas.


Solidaritas mata mu!!!


Gara-gara selalu menyepelekan sesuatu, ujung-ujungnya aku juga yang sial. Aku heran sekali, kenapa dia terpilih menjadi ketua kelas. Dilihat dari sudut manapun dia sangat tidak layak. Ia tidak memiliki tanggung jawab sebagai ketua kelas. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, pada saat pemilihan ketua kelas waktu itu. Tidak ada yang mau menjadi ketua kelas. Sampai cowok itu mengajukan diri.


Dan Tara!!!


Kesialan terjadi pada hidupku karena dia. Sosok Elang yang biasanya bisa meredam kemarahan ku. Kini telah berubah, bukannya bikin adem malah bikin tambah kesel. Bagaimana tidak kesal?!


Dia malah asik pandangan-pandangan mata dengan Vera yang kini tengah berdiri di pinggir lapangan seraya membawa botol minum. Aku yakin sekali kalau botol itu akan ia berikan ke Elang.


Benar!


Ini sudah jam istirahat. Makanya banyak yang menonton kami sambil cekikikan di pinggir lapangan. Seolah-olah kami adalah rombongan sirkus yang patut ditertawakan. Dan sayangnya Bu Endang yang menjadi pawangnya.


Kejam!!


Bahkan waktu istirahat hampir selesai. Dan Bu Endang tampak tak peduli sama sekali.


Tiba-tiba Bu Asih datang dari arah ruang guru. Melihat hal itu aku semakin menahan nafasku. Akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Yang pertama, Bu Asih akan menyelamatkan kami semua dari hukuman Bu Endang. Atau yang kedua, Bu Asih justru menambah hukuman semakin parah.


Kenapa aku berpikir kalau Bu Asih akan mengambil pilihan kedua ya? Aku harap pikiranku salah besar. Keringat ku yang sudah banyak mengucur karena terpaan sinar matahari. Dan sekarang ditambah dengan keringat sebesar biji jagung karena kedatangan Bu Asih.


"Ada apa ini bu?"


"Ini bu, anak-anak kamu sudah buat saya kesal. Sudah diberi tugas dari Minggu kemarin. Sampai sekarang belum ada satupun yang mengumpulkan. Lah! Pas saya tagih tugasnya. Eh!! Malah pada beralasan nggak tau kalo ada tugas. Jadinya saya kesel. Mereka semua meremehkan saya sebagai seorang guru di sini," ujar Bu Endang dengan nada menyebalkan. Masalahnya aku benar-benar tidak tahu apa pun. Tapi dituduh macam-macam.


"Kalian semuanya kenapa nggak ngerjain tugas dari Bu Endang?" Tanya Bu Asih selaku wali kelas.


"Jadi gini Bu ceritanya. Minggu kemarin Bu Endang kasih tugas ke ketua kelas lewat wa. Terus ketua kelas lupa ngasih tahu ke semaunya. Makanya kami nggak tahu Bu kalo ada tugas, saya berani sumpah Bu," ujar Revi menjelaskan kejadian yang sebenarnya seraya mengangkat tangan.


"Udah... Nggak usah pake sumpah-sumpahan. Ibu percaya kok sama kalian," ujar Bu Asih sambil mengibaskan tangannya. Membuatku menghela nafas lega. Benar, ternyata pikiranku salah untuk hari ini.


"Loh!! Bu!! Kenapa main percaya aja. Mereka itu jelas lagi beralasan. Lihat penampilan mereka semua, nggak ada yang bisa dipercaya."


"Sudahlah Bu, ini kan bisa dibicarakan baik-baik. Lagi pula mereka sudah dihukum dari tadi. Apa ibu nggak kasihan. Ini jam istirahat saja sudah hampir habis. Mereka juga butuh makan dan minum supaya bisa mengikuti pelajaran berikutnya."


"Ya nggak bisa gitu dong!" Bu Endang tampak tak terima.


"Tapi...."


"Kalo gitu Bu Endang bicara sama pak Haris. Kalo sampai mereka semua tidak bisa mengikuti pelajaran pak Haris dengan baik, karena kelaparan dan kehausan. Jangan sampai mereka dihukum lagi karena hal itu." Bu Asih tampak seperti pahlawan di mataku.


"Ya sudah kalo begitu, kalian semua boleh pergi." Baru saja mulut Bu Endang menutup. Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Hingga membuat bahuku merosot.


Alamat nggak istirahat ini!


"Kalian semua masuk ke dalam kelas, jangan ada yang keluar satupun. Mengerti!"


"Mengerti Bu!!" Seru kami semua. Lalu Bu Asih bergegas menuju ke ruang guru dengan langkah tergesa-gesa.


Nah!! Sekarang aku menyaksikan adegan ala-ala drama Korea. Vera berjalan dengan tergesa-gesa mendekat ke arah Elang. Ia menyerahkan botol minuman itu dan diterima Elang seraya tersenyum. Di saat Elang meneguk minuman itu langsung dari botolnya. Vera mengeluarkan tisu dan mengelap keringat yang ada di wajah Elang.


Cih... Lebay!!


"Woi!!"


"Astaga!!" Pekikku saat mendapati Rangga menghalangi pandangan ku.


"Ngagetin aja sih!"


"Cemburu ya?" Ia tampak tersenyum senang.


"Udah tau pake nanya," sahutku ketus.


"Yah!! Cemburunya sama siapa... marahnya sama siapa," sahut Rangga seraya menarik tanganku menuju ke arah kelas.


"Ih... Nggak usah pegang-pegang!" Ujarku masih dengan nada ketus.


"Woles... woles...woles..." Rangga tampak mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah. Aku menengok ke arah Elang dan Vera yang kini tengah asik mengobrol di tempat tadi.


"Nggak usah nengok ke belakang." Rangga menggerakkan kepalaku menghadap ke depan lagi.


Aish...kesalnya!!


"Kalo nengok ke belakang lagi, gue bakal panggil Elang sekarang juga," ancam Rangga membuatku langsung fokus menatap ke depan dengan bibir mengerucut.


"Bagus, mulai sekarang jangan liatin Elang diem-diem. Katanya mau bikin Elang terpesona...," Ujarnya dengan nada menyebalkan. Apa lagi suara bass-nya yang cenderung besar membuatku panik seketika. Jangan sampai ada yang mendengarnya terutama Elang.


Plak!!


"Set dah!! Kenapa gue dipukul?"


"Makanya kontrol suara kamu," bisikku.


"Yah!! Malah ngomong jorok."


"Siapa yang ngomong jorok?! Dasar budeg! Makanya kalo punya telinga sering-sering dibersihin!" ujarku kesal seraya berjalan mendahului dirinya dengan menghentak-hentakkan kakiku.