
Elang POV
Jam pelajaran udah selesai dan sekarang gue liat Hani yang kesusahan bawa tumpukan buku yang mau dikumpulin di ruang guru. Tanpa banyak omong lagi gue rebut paksa tumpukan buku itu dari tangan Hani.
"Eh!" Pekiknya kaget.
"Biar gue aja yang bawa," ujar gue sambil senyum. Pipinya langsung merah tanda kalo dia lagi malu. Ini yang gue suka dari Hani. Cuman gue doang yang bisa bikin pipinya merah.
Entah kenapa, ini jadi kebiasaan gue buat liatin pipinya yang merah kayak tomat matang.
"Jangan semuanya, aku nggak enak kalo nggak bawa apa-apa. Inikan tugasku," cicitnya tapi masih bisa gue denger. Lumayanlah, sekarang suaranya udah kedengaran nggak kayak awal ketemu.
"Oke," jawab gue sambil ngasih dia beberapa buku aja buat dia tenteng.
"Kok dikit banget?" Matanya berkedip-kedip bingung.
"Jangan banyak-banyak ini berat, biar aku aja," balas gue niruin Dilan. Tanpa gue sangka Hani terkikik geli setelah denger gombalan receh gue.
"Gombalannya nggak kreatif," ujar Hani sangat lirih. Bahkan gue nggak yakin dia bilang begitu atau gue yang salah denger.
"Hah! Apa?" Gue terkejut. Gombalan gue nggak kreatif?
"Njirr... Malu gue," gumam gue seraya mengacak-acak rambut dengan kasar pake satu tangan gue yang bebas dari tumpukan buku.
Waktu gue nengok ke arah Hani. Gadis itu malah jalan makin cepet ninggalin gue yang masih diam di tempat karena syok berat. "Tunggu!" Teriak gue sambil ngejar dia.
"Tadi kamu bilang apa?" Tanya gue buat mastiin sambil berjalan di samping Hani dengan menyesuaikan kecepatan langkah kakinya.
Dia malah menggelengkan kepalanya dengan wajah merah padam.
"Aku pengen denger sekali lagi," ujar gue mencoba menggodanya.
"Nggak mau," balasnya sambil jalan makin cepet berusaha menghindar dari gue.
"Hei, kenapa jalannya cepet-cepet?" Hani bahkan sampai menutup sebagian wajahnya pake buku.
Sepanjang perjalanan ke ruang guru gue sengaja godain dia. Sampai wajahnya tambah merah. Bahkan setelah naroh buku di meja Bu Siska. Dia langsung cepat-cepat pergi ninggalin gue.
Brak!
Gue tersungkur di ambang pintu. Karena ada seseorang yang dorong punggung gue.
"Maaf, aku nggak sengaja. Kamu nggak pa-pa kan? Sini gue bantu." Gue dongakkin kepala gue ngeliat wajah sok bersalah si kunyuk yang lagi ngulurin tangannya di depan gue.
"Dasar tukang pencitraan," gumam gue seraya menyeringai. Gue tau kalo di ruang guru ini banyak yang lagi perhatiin gue sama si kunyuk ini. Jadi dia langsung pasang muka cowok baik-baik.
"Gue nggak pa-pa kok. Lagian gue bisa bangun sendiri." Jawab gue dengan nada ketus. Gue bangun tanpa bantuannya. Gue nepuk-nepuk kedua tangan gue buat bersihin debu yang nempel di telapak tangan.
"Dasar anak IPS 4, nggak ada sopan santunnya. Bilang makasih kek udah ada yang mau bantuin," ujar salah satu guru yang ada di deket gue.
Bener kata Rangga, selama si kunyuk masih pake topeng anak teladan. Gue pasti yang bakal salah di mata orang-orang. Pinter juga dia bisa memutar balikkan fakta.
Kalo gue bilang makasih, dia pasti besar kepala. Tapi kalo gue nggak bilang makasih, nama gue jadi tambah buruk di mata guru-guru.
Aish... Menyebalkan.
"Lang, ayo kita bicara sebentar," katanya dengan sok akrab.
"Saya permisi dulu bu," ujar si kunyuk sambil tersenyum sopan.
"Ngomong-ngomong, kalian berdua seperti langit dan bumi ya," ujar Bu Endang lagi seraya meneliti penampilan gue dari atas sampai bawah.
"Iya Bu, saya langitnya dan dia buminya. Saya juga permisi Bu," ujar gue sambil cengengesan. Mendengar ucapan gue, Bu Endang langsung mendengus kencang lalu pergi.
"Emang gitu kan?" Gumam gue lalu mengedikkan bahu gue.
Si kunyuk udah lebih dulu pergi ninggalin gue.
"Kebiasaan banget tuh si kunyuk," gerutu gue seraya berjalan mengikutinya dari jauh.
"Selain tukang pencitraan, ternyata dia juga tukang gangguin orang seneng. Gara-gara dia gue jadi gagal godain Hani kan," kesal gue seraya melipat kedua tangan gue di depan dada.
"Kak Agam!" Teriak seorang gadis yang baru aja berlari lewatin gue. Mereka berdua terlihat ngobrol dengan seru. Di sana si kunyuk lagi pake topengnya dengan pura-pura jadi kakak kelas yang baik.
Gue mendekat dan melewati mereka berdua.
"Kak, makasih ya udah bantuin aku," kata gadis itu dengan centil.
"Iya sama-sama, kalo butuh apa-apa kamu bilang aja," balas si kunyuk dengan sok kalem.
Cih... Raja pencitraan.
Males dengerin si kunyuk akting, gue pergi ke warung tempat biasa gue nongkrong ninggalin tuh raja pencitraan.
Bodo amatlah, dia mau ngomong apa juga. Palingan mau ngancem gue supaya nggak deketin Hani.
***
Gue lagi ngobrol di warung yang biasa gue sama temen-temen ngumpul setelah pulang sekolah. Tiba-tiba Rangga mengedikkan dagunya ke arah pintu. Secara otomatis gue langsung nengok ke arah yang ditunjuk Rangga.
Di sana Agam masuk ke dalam warung dengan wajah datar dan kaku. Dia berjalan diikuti kedua temennya. Si kunyuk berhenti tepat di depan gue.
"Ayo kita tanding futsal," tantangnya tiba-tiba.
"Dalam rangka apa Lo ngajakin gue tanding futsal?" Terlihat kedua temennya melongo mendengar seorang mantan ketua OSIS yang hobi belajar dan nggak pernah mau diajak main futsal. Tiba-tiba nantangin gue yang notabenenya sering main futsal.
"Iya gam, Lo kok tiba-tiba ngajak tanding Elang?" Tanya salah satu temennya.
"Gimana kalo kita taruhan. Siapa yang menang boleh deketin Hani. Tapi yang kalah harus jauhin Hani. Setuju?" Ujar Agam dengan tampang serius.
Gue menyeringai lebar. "Elo." Tunjuk gue ke arah wajah Agam sambil terkekeh geli.
"Agam, yang katanya anak teladan kesayangan guru-guru dan alim ini. Tiba-tiba ngajak taruhan. Apa nggak salah?" Tanya gue dengan nada mengejek.
"Wajar kalo gue dulu yang ngajak taruhan. Tapi ini elo." Tunjuk gue lagi dengan ekspresi keheranan. Dan benar saja, semua orang yang ada di dalam warung ini ikut memandangi Agam dengan raut wajah keheranan.
"Hani itu nggak pantes dijadiin taruhan. Kalo elo beneran suka sama dia, elo nggak mungkin lakuin ini," ujar gue sambil memakan kacang yang ada di atas meja dengan santai.
"Bilang aja kamu takut," ujarnya dengan santai.
"Gue takut?" Tunjuk gue ke arah wajah gue sendiri.
"Iya, gue takut. Tapi bukan sama elo. Dibandingkan elo, gue lebih takut sama emak gue," jawab gue dengan candaan.
"Kalo gitu kita ketemu di tempat futsal malem Minggu jam tujuh malem," ujarnya lalu pergi begitu aja dan dibuntuti kedua antek-anteknya.