
Elang POV
Gue berjalan ke kelas sambil bersiul-siul santai. Gue nggak peduli si kunyuk mau bilang apa. Selama Hani masih jomblo. Boleh dong gue deketin.
Kenapa jadi dia yang repot. Kalo dia juga suka sama Hani gue nggak masalah. Lagian bukan hak dia perintah-perintah gue seenaknya. Semuanya ada di tangan Hani, mau dia milih si kunyuk atau gue. Tapi kayaknya Hani sukanya sama gue bukan tuh orang. Dilihat dari manapun, gue yang paling cocok buat Hani. Dibandingkan cowok tukang pencitraan, dan bermuka dua itu.
Walaupun gue bandel, tapi gue apa adanya. Daripada dia yang sok alim, sok teladan. Tapi ternyata berandalan kelas kakap.
"Abis ngobrol apa Lo sama Agam?" Tanya Rangga yang tiba-tiba ngerangkul bahu gue setelah gue duduk di kursi.
"Kepo Lo kayak Afif," sahut gue malas.
"Beda dong bro, kalo Afif cuma kepo doang. Kalo gue kepo tapi bakal bantuin elo kalo tuh mantan ketos macem-macem."
Gue menaikan sebelah alis gue liat ke arah Rangga dengan curiga. "Elo tau sesuatu tentang Agam?"
"Jelas gue tau semua tentang dia," jawab Rangga seraya melepaskan tangannya dari bahu gue. Tatapan matanya berubah jadi tajam seperti sedang mengingat sesuatu.
Rangga nengok ke arah gue lalu dia nyengir. "Kayaknya elo juga tau siapa Agam," ujarnya.
"Sebatas apa Lo tau tentang dia Lang?" Tanya Rangga hingga gue mulai mengingat kembali dari mana gue tau siapa Agam sebenarnya.
Flashback
Saat itu gue masih SMP kelas dua, sedangkan dia SMP kelas tiga. Kita satu sekolah di luar kota. Bukan kota yang sekarang gue tinggali. Awalnya gue nggak tau siapa dia. Hingga gue pernah pergokin dia lagi bully seseorang sampai keesokan harinya seseorang itu kritis dan nggak lama setelah itu dia meninggal.
Entah perasaan gue atau bukan. Sepertinya pihak sekolah justru menutupi kasus itu rapat-rapat. Bahkan pihak keluarga nggak ada yang tahu kalo anak mereka kritis karena jadi korban bully. Pihak sekolah selalu mengatakan kalo murid itu terjatuh dari tangga sekolah.
Waktu itu gue terlalu cuek dengan kejadian itu. Hingga nggak ada yang maju untuk menjadi saksi perbuatannya. Sampai sekarang gue nyesel, karena nggak bisa mengungkap kejadian itu. Waktu itu tiba-tiba si kunyuk pindah sekolah ke luar kota. Dan beberapa tahu yang lalu gue dan keluarga gue pindah ke kota ini.
Gue nggak nyangka kalo gue bakal ketemu lagi sama dia. Gue pikir dia udah berubah karena kejadian itu. Tapi ternyata semuanya hanya kedok untuk mengelabuhi semua orang. Dan gue yakin banget kalo yang dia tipu sebenarnya keluarganya sendiri.
Menurut tebakan gue, dia pura-pura jadi anak teladan supaya bisa dapet kepercayaan lagi dari keluarganya. Dan dengan bodohnya, semua orang suka sama dia. Nggak murid cewek, nggak guru. Semuanya udah kemakan sama tipu muslihat si kunyuk.
Dan gue nggak akan biarin Hani juga kemakan tipu daya si kunyuk. Kali ini gue bakal lebih berhati-hati sama dia.
"Sebatas itu," jawab gue setelah menceritakan semuanya. Mumpung kelas masih kosong dan hanya ada gue dan Rangga.
"Ternyata elo saksi kunci," ujar Rangga dengan geraman tertahan. Wajahnya langsung merah menahan amarah tiba-tiba dia meremas kerah baju gue dengan tatapan melotot.
"Kenapa waktu itu elo nggak ngomong yang sebenarnya?" Gigi Rangga bergeletuk.
"Elo kenapa ga?" Gue bingung liat perubahan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba.
Dia memejamkan matanya lalu membuang nafas kasar. "Sorry," ujarnya seraya melepaskan tangannya dari kerah baju gue.
Dia mengacak-acak rambutnya kasar dengan kedua tangannya.
"Elo kenapa ga?" Pelan-pelan gue bertanya. Keliatannya dia lagi ada masalah.
"Seseorang itu sepupu gue. Samuel, namanya. Dia emang keliatan lemah, makanya mudah banget jadi sasaran bully. Dari cerita kakaknya yang curiga dengan pengakuan pihak sekolah. Akhirnya kakaknya sama gue mulai nyelidiki kasus itu sembunyi-sembunyi. Dari penyelidikan kami, Samuel emang selalu dibully di sekolah sama geng yang diketuai Agam. Tapi waktu kejadian itu terjadi. Nggak ada satupun yang berani ngasih kesaksian mereka tentang kebiasaan Agam yang bully Samuel. Mereka diem kayak patung. Gue tau kalo saat kejadian itu semua orang udah pulang sekolah. Tapi setidaknya...." Rangga tampak nggak sanggup cerita.
"Gue minta maaf, karena sebagai saksi satu-satunya gue terlalu cuek." Gue menunduk menyesali kejadian itu. Gue tahu kalo waktu itu gue salah.
"Elo nggak salah, yang satu-satunya salah di sini itu Agam. Gue udah selidiki semua tentang dia. Dari keluarganya sampe temen-temennya yang sekarang. Temen-temen yang nggak semua orang tau," ujar Rangga dengan tatapan menerawang.
"Gue harap elo jangan gegabah, dia bukan orang sembarangan. Tapi tenang aja, sekarang gue jadi pihak elo. Gue bakal selalu bantuin elo." Rangga menepuk bahu gue dengan sok keren. Ekspresi wajahnya udah kembali ke mode awal.
"Kenapa elo bisa sesantai itu pas bareng sama Agam di mal waktu itu? Kalo gue jadi elo, belum tentu gue bisa ngontrol emosi gue." Gue salut sama Rangga. Ternyata diam-diam dia punya dendam sama Agam tapi hebatnya dia bisa mengontrol emosinya. Bahkan sampai Agam sendiri nggak tau soal ini.
"Agam yang jadi alasan gue masuk sekolah ini. Waktu itu gue belum bisa ngontrol emosi gue. Liat wajahnya yang nyebelin penuh pencitraan itu bikin perut gue mual. Rasanya pengen gue tonjok tuh muka. Tapi gue sadar, kalo orang kayak dia nggak bisa dilawan pake fisik. Pasti di mata orang banyak gue yang jahat karena mukulin cowok teladan kayak dia." Rangga mengakhiri ceritanya dengan menghembuskan nafas lelah.
"Terus apa yang bakal Lo lakuin ga?" Gue natap Rangga dengan serius.
"Yang bisa gue lakuin cuma satu. Gue bakal pastiin nggak ada Samuel-samuel lain di sekolah ini. Makanya gue mau bantuin elo."
"Gue juga bakal bantuin elo ga," ujar gue sambil nepuk bahunya.
"Woi! Kenapa jadi elo yang sok keren. Bagian nepuk bahu itu punya gue." Rangga nyingkirin tangan gue dengan kasar.