Shy Girl

Shy Girl
24. Jaket



Aku malu setengah mati karena terus dipandangi oleh semua orang. Aku tidak menyangka kalau banyak yang memberiku tepuk tangan.


"Hani, kamu berbakat. Kalau ada lomba menyanyi ibu akan mendaftarkan kamu untuk mewakili sekolah kita, ibu yakin kamu bakal jadi bintang terkenal," ujar Bu Ila dengan antusias.


"Tapi Bu...," Ucapanku terpotong oleh ucapan Revi.


"Udah nggak pa-pa, suara lo bagus banget. Kapan-kapan lo ajarin gue nyanyi ya," ujar Revi semangat seraya merangkul bahuku.


"Hah?" Aku bingung, kenapa jadi begini? Aku tidak mau mengikuti lomba apapun. Untuk hari ini saja aku terpaksa.


Saat keluar ruang musik, Elang menghampiriku sambil tersenyum.


"Suara lo bagus," ujarnya.


"Kapan-kapan kita nyanyi bareng ya," ujarnya seraya berlalu dengan senyuman yang masih tercetak jelas dibibirnya.


"Iya," ucapku lirih dengan kening berkerut saking bingungnya.


Sebuah colekan mampir ke lenganku. Membuatku kaget setengah mati.


"Eh!" Pekikku seraya menengok ke arah pria yang baru saja mencolek lenganku.


"Jangan bengong, cie...cie...cie...." Rangga tersenyum seraya melewatiku.


Aku menundukkan kepalaku seraya berjalan kembali ke kelas. Aku yakin pipiku sudah merah padam. Kenapa ada cowok yang menyadari perasaanku sama Elang?


Bagaimana kalau Rangga mengatakan kepada Elang kalau aku suka dia?


"Ish... Kesal," batinku.


Katanya cowok itu makhluk nggak peka. Tapi kenapa Rangga malah peka banget?


***


Disaat aku sedang menutup jendela kelas. Tak sengaja pandangan mataku mengarah ke kursi dibagian belakang, di mana Elang biasa duduk di sana.


"Jaket Elang?" Gumamku dengan pandangan mata terus terarah ke jaket yang tergeletak di atas meja.


Sepertinya Elang tidak sengaja meninggalkannya. Buru-buru aku mengambil jaket itu dan berlari keluar kelas menuju ke arah tempat parkir. Berharap semoga Elang belum pergi jauh dari lingkungan sekolah.


Tap tap tap


Aku berlari dengan terburu-buru.


Brak!


"Maaf," ujarku tidak enak hati kepada seorang gadis yang baru saja aku senggol.


"Iya, nggak pa-pa." Gadis itu tersenyum kepadaku seraya mengambil bukunya yang jatuh. Aku berniat membantunya tapi, aku tidak punya banyak waktu.


Aku kembali berlari seraya mengedarkan pandanganku mencari sosok yang aku cari dibanyaknya siswa cowok yang berkerumun di tempat parkir.


"Elang biasa parkir di mana ya?" Gumamku seraya mengedarkan pandanganku.


"Apa Elang sudah pulang?" Tanyaku dalam hati sambil mengamati wajah cowok-cowok yang sedang duduk di atas motor mengantre untuk keluar.


"Apa sebaiknya aku tunggu di depan gerbang ya?" Tanyaku dalam hati.


Akhirnya aku putusnya menunggu Elang di depan gerbang. Supaya di saat aku melihatnya keluar, aku bisa menyerahkan jaketnya secara langsung.


Aku mengambil jalur memutar dengan berlari, supaya bisa berada di depan gerbang lebih cepat. Jika dibandingkan dengan menerobos antrean motor yang mulai berdesak-desakan.


Aku berdiri di depan gerbang mengamati setiap siswa cowok yang lewat. Seraya memegang jaket denim warna biru di bawah terpaan sinar matahari langsung. Mataku tak lelah memperhatikan satu persatu cowok yang melewatiku dengan sesekali mengusap peluh yang menetes di keningku.


Sudah sekitar 15 menit aku berdiri di sini sendirian. Bahkan kendaraan yang keluar dari sekolah sudah mulai sedikit.


Tidak ada.


Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depanku. Aku tidak mengenalinya karena ia memakai helm full face. Tapi dari tas yang dipakainya, sepertinya dia bukan Elang. Cowok itu membuka kaca helmnya. Aku terus memandanginya dengan alis bertaut.


"Itu bukannya jaket Elang? Kenapa ada sama elo?" Tatapan matanya tertuju ke arah jaket yang aku pegang.


"Iya, tadi ketinggalan," ujarku berusaha bersikap santai. Walau sebenarnya aku tidak nyaman berbicara dengan lawan jenis seperti ini.


Ia mengangguk paham.


"Jadi maksudnya elo di sini nyariin Elang gitu?"


"Iya," cicitku lirih. Kenapa cowok ini bisa tahu?


"Kayaknya Elang lagi nongkrong di warung sebelah sana." Tunjuknya ke arah jalan yang biasa aku lewati.


Aku mengerutkan dahiku. Maksudnya Elang biasa nongkrong di warung yang ramai cowok-cowok itu. Bahkan setiap kali aku pulang melewati warung itu, aku selalu tak memperhatikan gerombolan cowok-cowok yang sedang duduk-duduk di sana.


"Maksudnya warung yang ramai cowok-cowok itu?" Tanyaku dengan ragu-ragu.


Rangga mengangguk. "Coba deh elo ke sana," ujarnya lalu ia pergi begitu saja.


"Eh...tunggu." ujarku tertutup suara bising dari motor sportnya yang sudah pergi menjauh.


Aku menggaruk kepalaku walau tidak gatal. Bagaimana ini?


"Anterin nggak ya?" Tanyaku dalam hati.


"Anterin aja, kasihan kalo ternyata Elang nyariin," ujar sisi diriku.


"Tapi aku malu, di sana banyak sekali cowok-cowok yang nongkrong," Ujar sisi diriku yang lain.


Pergolakan batin ini membuatku bingung. Namun keputusanku sudah bulat untuk tetap menyerahkan jaketnya yang tertinggal di dalam kelas.


"Cukup berhenti, masuk dan serahkan. Jangan pedulikan omongan cowok-cowok di sana. Oke! kamu pasti bisa Hani. Semangat!" ujarku dalam hati untuk memberiku kekuatan untuk masuk ke dalam warung berisi cowok-cowok. Tapi kayuhanku melemah seiring dengan laju sepedaku yang mulai mendekati warung itu. Perasaan gugup tiba-tiba membuatku cemas.


"Bagaimana kalau Elang tidak ada di sana?" Gumamku dengan alis berkerut dalam. Aku meremas stang sepedaku dengan erat.


"Karena udah deket, nekad ajalah," ujarku akhirnya walau dengan kegugupan yang melanda.


Ciiitttts


Aku mengerem sepedaku di depan warung yang berisi cowok-cowok. Otomatis pandangan mereka semua tertuju ke arahku.


Glek


Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Kakiku tiba-tiba lemas dipandangi semua cowok yang ada di sana. Tiba-tiba mataku melihat punggung yang sangat familiar. Cowok yang duduk di pojok sana pasti Elang. Aku mengembuskan nafasku kencang sebelum melangkah maju ke depan. Tatapan mataku fokus ke arah punggung itu.


"Hey," sapa cowok dengan rambut berantakan seraya tersenyum manis.


"Kak Agam," sapaku. Lalu dia mencoba merapikan rambutnya yang berantakan.


"Permisi," ujarku seraya tersenyum kaku melewatinya.


Jari telunjukku menekan-nekan bahu Elang yang saat ini tengah asik bercanda dengan seseorang. Ia menengok dengan alis berkerut dalam. Sepertinya ia bingung mendapati diriku berada di tempat ini.


"Hani," ujarnya bingung.


"Eum...." Mulutku tak sanggup mengucapkan apapun saat mataku bertemu pandang dengan matanya yang berwarna coklat tua itu. Walaupun otakku sudah berusaha membuatku berkata-kata. Tapi tetap saja, mulutku seakan terkunci rapat.


"Ada apa?" Tanyanya dengan alis terangkat sebelah.


Karena mulutku tak bisa diajak kompromi, makanya aku langsung membuka tas dan mengambil barang yang akan aku berikan kepadanya.


"Ini," ujarku seraya menyodorkan jaketnya yang sudah aku lipat rapi. Ia tampak tersenyum senang melihat jaketnya.


"Wah! Gue lupa bawa tadi. Makasih ya," ujar Elang seraya mengambil jaketnya dari tanganku.


"Iya, sama-sama." Setelah itu aku langsung berbalik dan pergi dari tempat itu. Karena aku tidak nyaman dipandangi terus menerus.


Disaat menaiki sepeda, aku melihat dari ujung mataku, kalau semuanya tengah memperhatikanku saat ini.