Shy Girl

Shy Girl
46. Mulai Curiga



Elang POV.


Sial!!


Ngapain mantan ketos datengin Hani terus. Sok kegantengan lagi. Gue duduk di sofa di rumah Rangga membayangkan kejadian tadi pagi. Siang ini gue sama temen-temen emang lagi nongkrong di rumah Rangga buat main PS. Kebetulan juga Vera lagi ada kerja kelompok. Makanya gue bisa ngumpul bareng temen-temen.


"Sial!!" Pekik Afif lantang. Matanya fokus menghadap ke arah tv. Dan tangannya memegang stik PS dengan lincah. Tapi sayangnya mulutnya berisik sedari tadi.


"Gue musti menang lawan elo. Nggak bisa dibiarin!!"


"Udahlah, ngaku kalah aja lo," ujar Jono dengan nada meledek. Lalu gue lihat molor lagi numpang tidur di ranjang Rangga. Tidurnya pules banget, kayaknya tadi malem dia nggak tidur lagi. Maklum insomnia dia. Lalu si penghuni rumah sedari tadi cekikikan duduk dipojokan sambil mainin ponselnya. Kayaknya dia lagi chatting sama temennya Hani. Gue dulu ngira kalo Rangga suka sama Hani. Tapi semakin kesini gue jadi tahu kalo Rangga ternyata suka sama temennya Hani.


Sedangkan gue memeluk gitar tanpa minat memainkannya. Padahal kalo biasanya gue yang paling sering mainin gitar. Tapi sekarang, entah kenapa rasanya sangat malas.


"Ga! Woi!" Panggil Jono menatap wajah sumringah Rangga di pojokan.


"Nggak ada aer apa di rumah Lo. Seret banget nih leher."


"Ada dong!" Pekiknya.


"Tapi ambil sendiri sono. Gue lagi pw nih," sahut Rangga kemudian.


"Yaelah. Bukannya tamu adalah raja. Masa raja ngambil sendiri," sahut Jono protes. Dan diangguki Afif dengan semangat.


"Bilang aja elo males," rutuk Afif.


"Emang," sahut Rangga dengan nada menyebalkan.


"Gue banting juga nih stik PS Lo."


"Jangan woi!!" Pekik Rangga panik. "Iya...iya... Gue ambilin." Dengan malas Rangga berdiri hendak ke dapur.


"Ga, biar gue aja yang ambil," ujar gue menawarkan diri.


"Cakep!" Rangga mengacungkan jempolnya ke arahku seraya tersenyum lebar. Lalu ia kembali duduk di tempatnya lagi.


"Lang! Gue sirup rasa jeruk," Pekik Afif kencang tanpa menoleh sedikitpun.


"Gue minuman soda," pekik Jono.


"Lo apa lor," ujar gue saat melihat molor mulai membuka matanya.


"Gue apa aja asal jangan kopi. Gue masih pengen tidur."


Gue turun ke bawah. Rumah sepi, mungkin karena orang tuanya lagi pergi keluar negeri. Dan kakaknya lagi kuliah. Makanya rumahnya sangat sepi. Gue masuk ke dalam dapur dan nggak menemukan pembantu di sini. Akhirnya gue cari sendiri di mana letak tuh sirup warna-warni.


"Woi! Lang!" Rangga menepuk bahu gue di saat gue lagi ngaduk sirup.


"Hmm," sahut gue singkat.


"Elo kayaknya lagi galau," ujar Rangga tepat sasaran.


"Elo abis diputusin sama Vera ya?"


"Nggak," jawab gue singkat.


"Kalo gitu, elo lagi berantem sama Vera," tebaknya sekali lagi.


"Nggak." Dia mengerutkan dahinya.


"Lah! Terus apaan dah?" Rangga menggaruk kepalanya.


"Gue bingung, elo keliatan galau tapi nggak lagi berantem sama Vera. Elo lagi ada masalah keluarga?" Keliatan banget kalo Rangga sangat penasaran.


"Nggak. Sok tau Lo," tukas gue berusaha mengelak.


"Atau karena Hani dideketin sama mantan ketos." Dengan cepat gue menoleh menatap wajahnya dengan raut terkejut.


Bagaimana dia bisa tahu?


Dia tampak tersenyum jahil. "Kenapa? Tebakan gue bener ya." Ia menarik turunkan alisnya.


Gue membalikan badan seraya bersedekap menyender di lemari es.


"Elo suka sama Hani?" Tanya Rangga.


"Gue nggak tahu," ujar gue pada akhirnya.


"Tapi elo keliatan banget suka sama Hani. Dari tatapan elo ke dia." Gue hanya bisa terdiam.


"Gue nggak bisa."


"Kenapa?" Rangga tersenyum bersahabat.


"Kayaknya elo perlu tahu Vera lebih dalem lagi. Seperti apa dia sebenarnya." Gue menaikkan sebelah alis gue. Nggak paham apa yang barusan dia omongin.


"Maksud elo apa?" Tanya gue.


"Coba elo ikutin pacar elo. Kira-kira kemana dia kalo kerja kelompok." Rangga menepuk bahu gue dua kali. Lalu dia pergi ninggalin gue sendirian sambil bawa sirup dan cemilan kembali ke kamarnya.


Setelah pulang dari rumah Rangga, gue jadi tambah kepikiran. Vera selalu ngelarang gue buat anterin dia ke tempat temennya. Katanya dia ada kerja kelompok di sana.


Tapi sekarang gue jadi tambah curiga. Vera selalu ngecek isi ponsel gue. Bahkan nomor kontak temen cewek dia hapus semua. Katanya dari kontak itu bisa berpotensi jadi pelakor. Makanya dia hapus semua kecuali kontak mama dan sepupu gue.


Dan anehnya, giliran gue mau pinjem ponselnya. Dia malah terus beralasan. Dia nggak biarin gue nyentuh ponselnya sedetikpun.


Dan saat ini gue mulai curiga. Kira-kira ada apa di ponselnya sampe gue yang pacarnya sendiri aja nggak boleh liat. Padahal ponsel gue dia acak-acakin.


Drrttt drrttt


Tiba-tiba ponsel gue bergetar. Gue lihat ada pesan masuk dari Rangga.


"Kalo Lo mau tau Vera kemana pas kerja kelompok. Elo pergi aja ke kafe Blue. Di sana elo pasti tau semuanya." Gue mengerutkan dahi gue setelah membaca pesan dari Rangga.


"Kafe Blue," gumam gue. Ada apa di kafe blue?


Dan ada hubungan apa kafe blue sama Vera?


Gue semakin penasaran. Apa yang disembunyikan Vera dari gue.


***


Pagi ini gue jemput Vera di rumahnya. Gue udah turun dari motor dan berjalan mendekat ke arah pintu.


Ting tong


Gue pencet belnya berkali-kali.


"Eh masnya," ujar Mbak Ningsih. Pembantu di rumah Vera.


"Veranya ada mbak?" Gue tersenyum ramah. Lalu dia mengangguk.


"Ada mas, tunggu sebentar ya."


"Iya, mbak." Gue mengangguk.


"Masnya itu pacarnya non Vera ya?" Tanya Mbak Ningsih penasaran.


"Iya mbak," sahutku singkat.


"Lah! Terus yang anak kuliahan itu siapanya non Vera ya?" Ia tampak mengerutkan keningnya.


"Anak kuliahan yang mana mbak?" Perasaan Vera tidak punya teman anak kuliahan.


"Ada mas, kemaren non Vera dijemput pake mobil keren banget. Pintunya cuma dua. Tapi wajahnya keliatan lebih tua dari non Vera. Malahan gantengan masnya dari pada cowok itu." Sepertinya mbak Ningsih tanpa sadar memberi gue informasi. Gue menyeringai. Dengan ini gue bakal cari informasi tentang Vera dari mulut bocor mbak Ningsih.


"Terus apa lagi?" Dia mengerutkan keningnya tengah mengingat sesuatu.


"Oh iya!" Pekiknya tiba-tiba.


"Apa lagi mbak?" Gue makin penasaran.


"Non Vera itu kalo dianter pulang sama cowok itu pasti bawa banyak banget belanjaan. Ada baju, sepatu, tas, boneka, make up. Pokoknya semua keperluan perempuan ada. Bahkan saya sampai kualahan bawain barang belanjaan saking banyaknya."


"Terus ada lagi nggak mbak?"


"Ada! Kemarin...."


"Lang, aku udah siap. Ayo berangkat sekarang." Tiba-tiba Vera sudah muncul di ambang pintu dan memotong ucapan mbak Ningsih.


"Mama kamu mana, aku mau pamit."


"Nggak usah. Lagian mama udah berangkat kerja dari tadi."


"Mbak saya permisi dulu," ujar gue seraya melambaikan tangan ke arah mbak Ningsih.


"Apa sih Lang, pake acara dadah dadah segala sama pembantu," ujar Vera dengan nada sinis.