
Hani POV
Aku dan Avi duduk sambil menikmati semangkok bakso dan segelas es teh manis yang sangat segar setelah berkeringat sehabis berolahraga.
"Hani," panggil Ulfa dengan suara manja dari ujung kantin. Dia berjalan dengan cepat menghampiri mejaku dan duduk di hadapan Avi. Ia tampak sangat kesal, terlihat dari bibirnya yang cemberut.
Aku menatapnya dengan alis bertaut. Ada apa lagi ini?
"Hani," Rengeknya seraya mencomot bakso dari mangkokku menggunakan garpu lalu memakannya dengan seenaknya sendiri.
"Akou kuesel buanget," ujarnya tidak jelas karena mengunyah bakso hasil dari mencomot tanpa izin.
"Telen dulu ih, takut keselek," ujarku kemudian.
Ulfa berhasil menelan bakso tersebut. "Aku kesel banget dong!" Ujarnya dengan suara meninggi.
Dia hendak mencomot lagi bakso ku namun sudah lebih dulu aku tarik mangkok baksoku supaya tangannya tidak bisa meraihnya begitu aja. Enak saja, datang-datang main makan bakso orang. Apalagi aku butuh memulihkan kembali energi ku setelah terkuras habis saat olahraga tadi.
"Yah, kok diambil sih...." Ulfa menatap nanar mangkok bakso yang aku jauhkan dari tangannya.
"Kalo mau bakso pesen sana," ujarku kemudian.
"Han, aku kesel sama...."
"Hai, pacarku." Tiba-tiba Rangga duduk di sebelah Ulfa seraya tersenyum manis. Wajahnya begitu berseri-seri menatap ke arah Ulfa tanpa menghiraukan orang yang ada di dekatnya.
"Ogah, jijik. Pergi sana!" Ujar Ulfa cepat. Tubuhnya ia geser menjauhi Rangga dengan raut wajah jijik dan muak.
"Kesel kenapa sih fa?" Tanya Avi yang duduk di samping kiri ku seraya menatap ke arah Ulfa dan Rangga secara bergantian.
"Ini nih, serangga busuk di sebelah aku," jawab Ulfa seraya melirik ke arah Rangga.
"Ish! Gausah pegang-pegang," ujar Ulfa seraya menjauhkan tangan Rangga yang hendak menyentuh wajahnya.
"Itu di bibir kamu ada saus," balas Rangga tanpa permisi langsung menghapus saus itu dari bibir Ulfa. Refleks tangan Ulfa langsung mendorong Rangga.
Gubrak!
Rangga terjungkal ke belakang hingga jatuh ke lantai setelah Ulfa mendorongnya dengan kuat.
Aku terkejut, tidak menyangka kalau Ulfa akan mendorong Rangga dengan kuat. Ulfa tampak terkejut dengan yang barusan ia lakukan. Sepertinya dia juga tidak sengaja melakukannya.
"Aw... Sakit. Kayaknya gue nggak bisa berdiri deh," ujar Rangga yang masih di posisi semula. Ia tampak meringis menahan rasa sakit. Duduk di lantai dan menjadi tontonan seluruh siswa-siswi yang sedang makan.
"Ayang, bantuin aku dong," ujar Rangga dengan nada manja.
Ulfa tampak khawatir, tapi ia terlihat gengsi untuk membantu Rangga berdiri. "Bangun sendiri, dasar manja," Ujar Ulfa dengan nada ketus. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Yaudah, gue minta Hani aja buat bantuin gue," ujar Rangga sepertinya ia sedang mencoba membuat Ulfa cemburu.
"Yaudah sana," balas Ulfa dengan nada ketus.
"Hani, bantuin gue."
"Sini aku bantu," ujarku seraya berdiri dari bangku hendak membantu Rangga berdiri. Tapi tiba-tiba ada sepasang tangan yang berada di kedua pundak ku dan menekan badanku agar kembali duduk.
"Jangan dibantuin, dia bisa bangun sendiri," ujar Elang. Lalu dia melenggang pergi ke arah dan kembali mengambil duduk di sebelah kanan ku seraya tersenyum manis. Ia meletakkan semangkok mie ayam dan es teh manis di atas meja.
"Ha...ha...ha... Ternyata gue ketauan," ujar Rangga seraya bangkit berdiri dan kembali duduk di tempatnya tadi.
"Becandaannya nggak lucu tau nggak," ujar Ulfa seraya menjambak rambut Rangga.
"Kalo gini terus lama-lama pala gue bisa botak," ujar Rangga seraya menahan rasa sakit.
"Biarin," balas Ulfa geram. Ia melepaskan rambut Rangga dan pergi menuju ke arah pedagang.
"Tungguin, Abang mau ikut," ujar Rangga seraya bangkit dan mengejar Ulfa. Aku hanya bisa tersenyum geli seraya menggelengkan kepalaku saat melihat kebucinan Rangga.
"Manis," ujar Elang tiba-tiba.
"Hah!" Aku terkejut dan refleks menatap ke arahnya. Dan ternyata Elang sedang menatap ke arahku dengan senyuman manis yang tidak pudar dari bibirnya.
Tatapan mata kami beradu. Sontak jantungku menggila.
"Apa?" Tanyaku karena tidak paham apa yang Elang maksud.
"Senyumanmu," ujarnya kemudian. Pipiku langsung memerah karena malu.
"Uhuk uhuk..." Terdengar suara batuk-batuk dari arah kiri ku. Aku menolehkan kepalaku menatap ke arah Avi yang tengah meneguk es tehnya dengan wajah merah.
Brak!
Avi menghentakkan gelas itu dengan kencang ke atas meja.
"Kalian kira-kira dong kalo mau pacaran, aku sampai keselek gara-gara kalian berdua," ujar Avi dengan nada ketus.
"Siapa yang pacaran?" Tanyaku heran. Perasaan status jomblo ku masih melekat kuat. Belum berganti jadi status berpacaran.
"Tuh, pak Joko sama Bu Retno. CK! Ya kalian berdua lah!!" Ujar Avi dengan suara lantang. Hingga membuat sebagian siswa-siswi yang sedang menikmati makanannya berhenti sejenak dari aktivitas mereka hanya untuk memandang ke arah meja kami.
"Aku nggak pacaran," balasku jujur. Pada kenyataannya memang begitu bukan?
"Pake nggak ngaku lagi," ujarnya.
"Lebih tepatnya belom," celetuk Elang tiba-tiba.
"Tuh kan apa aku bilang, kalian berdua emang lagi deket. Soalnya keliatan banget aura berbunga-bunga dari wajah kalian berdua."
"Masa sih?" Tanyaku dalam hati. Apa begitu terlihat kalau aku menyukai Elang. Pantas saja Rangga juga bisa dengan mudah menebak.
"Kalian lagi ngobrolin apa? Kayaknya seru banget." Ulfa kembali dengan membawa dua gelas es teh manis. Meninggalkan Rangga di belakang sana.
"Ada yang lagi berbunga-bunga sampai pipinya merah karena habis digombalin sama Elang," ungkap Avi dengan suara keras.
"Sedangkan aku cuma dijadiin obat nyamuk, sedih banget nggak sih nasibku," keluh Avi.
"Banget," celetuk Rangga tiba-tiba.
"Apalagi elo sendirian diantara dua pasangan," ujar Rangga seraya meletakkan dua mangkok mie ayam.
"Pacarnya Rangga mau disuapin nggak?" Tanya Rangga dengan senyuman jail.
"Nggak!" Jawab Ulfa cepat dan mantap.
Terdengar suara tawa Elang yang tampak lepas untuk meledek Rangga.
"Kasihan banget Lo, ditolak mentah-mentah," ledeknya.
"Dari pada elo, jomblo," ejek Rangga balik.
"Kayak elo nggak aja," ujar Elang.
Rangga tampak tertawa bahagia. "Sayangnya gue udah nggak jomblo lagi."
"Emangnya siapa pacar Lo?" Tanya Elang terkejut. Aku juga terkejut dengan pengakuan Rangga.
"Siapa lagi kalo bukan cewek cantik di samping gue ini," balasnya dengan raut bahagia.
Ulfa langsung menoleh ke arah Rangga dengan mata melotot lebar. "Enak aja Lo! Kapan kita jadian?!"
"Bukannya tadi kita udah jadian?"
"Nggak!" Balas Ulfa tampak panik. Sebenarnya siapa yang benar? Pacaran atau tidak.
"Bukannya kamu yang...." Ulfa langsung membekap mulut Rangga dengan tangannya.
Aku mengerutkan keningku menatap mereka berdua dengan rasa penasaran yang sangat besar.
"Nggak usah penasaran," ujar Elang seraya tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Hingga membuatku melongo.
"Ehemm... Ehemm! Aku beneran jadi obat nyamuk di sini!" Ujar Avi seraya mengipasi wajahnya dengan tangan. Terlihat sangat gerah.
Brak!
Perhatianku beralih ke arah depan. Di sana Vera tengah menatapku dengan tatapan tajam dan sinis. Lalu ia langsung pergi begitu saja.