
Setelah keluar dari lab komputer, aku memakai lagi sepatuku. Namun mataku tak bisa lepas dari sosok cowok yang akhir-akhir ini membuatku deg-degan. Dia tampak menggaruk kepalanya seraya memandang ke arah bawah. Sepertinya dia sedang mencari sesuatu. Tapi setelah aku melihat satu sepatu ditangan kanannya. Aku bisa menebak, kalau Elang tengah mencari sebelah sepatunya yang hilang.
Ini pasti ulah jahil dari salah satu cowok-cowok itu. Yang bukannya ikut membantu mencari. Tapi malah asik menertawakannya. Diam-diam mataku pun mengedar mencari sebelah sepatu Elang yang hilang. Dari sorot mata cowok-cowok itu, sepertinya mereka tidak menyembunyikan sebelah sepatu Elang disebelah sini.
Aku berdiri seraya mengedarkan pandanganku ke arah lain. Sambil menunggu Avi yang lama sekali kalau sedang memakai sepatu. Namun, hal itu justru memberiku waktu untuk ikut mencari sepatu Elang secara diam-diam. Aku pura-pura berjalan kesana-kemari seolah-olah aku bosan duduk diam.
"Woi! Mana sepatu gue!" Ujar Elang sambil mengacak-acak rambutnya.
"Wah! Kalian bener-bener." Elang menunjuk segerombolan cowok-cowok duduk menonton Elang yang sedang kesusahan sambil cengengesan.
Kurang ajar!
"Kalo kalian nggak ngomong, gue sumpahi dikejar kecoa baru tahu rasa Lo," ujar Elang dengan sumpah serapahnya kepada cowok-cowok yang menyebalkan itu.
Disaat Elang sudah frustasi, aku justru melihat sepatu Elang yang satunya. Pantas saja Elang tidak melihatnya. Akupun memerlukan waktu lebih untuk menemukannya.
Ternyata oh ternyata, sepatu Elang diletakkan di tanaman bunga di dekat ruang guru. Dan tertutup dedaunan hijau.
Lalu aku mengambilnya dan membawanya ke arah Elang berada saat ini. Tentu saja dengan detak jantung yang teramat kencang. Tapi aku harus memberanikan diri memberikan sepatunya. Makanya tanpa kata, aku langsung menyodorkan sebelah sepatu di depannya. Dia tampak tersenyum senang menerima sebelah sepatu yang sudah dia cari-cari sedari tadi.
Setelah itu aku langsung pergi mengikuti Avi yang sudah berjalan lebih dulu. Terdengar di telingaku, cowok-cowok itu memekik kecewa. Mungkin karena aku, Elang bisa menemukan sebelah sepatunya.
***
Tiba-tiba suara cowok-cowok diluar kelas menggangguku.
Mereka tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang sedang mereka tertawakan diluar sana. Tapi tiba-tiba salah satu cowok masuk ke dalam kelas dengan kedua tangan penuh dengan busa sabun. Aku tebak mereka sedang bermain sabun cuci tangan yang berada di depan kelas dekat dengan kran air.
Ada saja kelakuan anak 11 IPS 4 kalau sedang gabut. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku saat melihat kelakuan mereka yang layaknya anak kecil. Mereka berkejar-kejaran dengan saling mencipratkan busa sabun. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak saat busa sabun itu terkena teman yang lain.
Bel istirahat berbunyi nyaring.
"Kantin yuk, Han." Avi berjalan lebih dulu ke arah pintu.
"Bentar, aku taroh bolpoin dulu ke dalem tas," ujarku seraya meletakkan bolpoin yang belum aku masukkan ke dalam tas.
Tapi disaat aku mau keluar kelas, tiba-tiba Elang menghalangi jalanku. Tubuhnya membungkuk dengan mata tertutup dan tangannya terentang meraba-raba jalan di depannya. Sepertinya matanya perih setelah terkena busa sabun yang barusan dimainkannya.
Aku berjalan mundur dengan kaku dan juga gugup. Lalu punggungku menumbruk meja yang berada di belakangku. Tapi Elang masih terus berjalan mendekatiku dengan mata tertutup dengan tangan meraba-raba.
Suaraku hilang entah kemana saking gugupnya. Harusnya aku bisa bilang stop. Tapi mulutku seakan terkunci rapat dengan detak jantung yang menggila. Keringat sudah mengucur deras di pelipisku. Wajahnya mendekat hingga membuatku gugup. Apalagi tangan kanan dan tangan kirinya yang panjang memerangkap tubuhku.
Plak!!
Maka entah kenapa tangan kiriku tiba-tiba refleks memukul tangan kanannya hingga memberi celah tubuhku untuk melimpir keluar dari kungkungannya.
Buru-buru aku keluar dari kelas lalu sesampainya diluar kelas. Otakku kosong. Aku bingung harus kemana. Aku terdiam sesaat seraya mengingat kemana tujuanku saat ini. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling.
Lalu mataku menangkap punggung Avi yang sudah berjalan menjauh.
Aku malu!
Ku pegang pipi kanan dan kiriku dengan kedua tangan. Berjalan dengan linglung menuju ke arah kantin. Di kantin pun aku masih seperti orang bodoh.
Disaat aku dan Avi berjalan ke kelas. Langkah kakiku semakin melambat. Aku belum siap bertemu Elang saat ini. Jantungku semakin berpacu kencang. Lalu mataku menatap ke arah toilet yang akan aku lewati. Buru-buru aku menghentikan Avi sebelum dia semakin jauh.
"Avi!" Teriakku kencang. Membuat Avi menengok ke belakang, di mana aku sudah tertinggal.
"Loh, kok kamu ketinggalan sih?" Avi mengerutkan keningnya menatap heran ke arahku.
"Eum... Aku ke toilet dulu," ujarku seraya menunjuk ke arah toilet dengan sedikit panik.
"Mau aku temenin?"
"Gak usah," ujarku sambil menggelengkan kepalaku.
"Kalo gitu aku duluan ya," ujar Avi dan akupun mengangguk. Buru-buru aku masuk ke dalam salah satu bilik.
Kira-kira Elang tahu tidak ya, kalau aku yang pukul tangan kanannya?
Aku menggelengkan kepalaku kencang, jangan sampai Elang tahu aku pelakunya.
Lalu bagaimana kalo Elang ternyata sedang mengerjaiku?
Aku malu!
Kuacak-acak rambutku dengan frustasi sampai rambutku berantakan. Tak terasa waktu berputar begitu cepat. Hingga bel masuk menggema. Memaksaku untuk kembali ke kelas dan bertemu dengan Elang. Sesampainya di kelas, aku selalu menundukkan kepalaku karena malu. Aku tidak berani melihat ke arah belakang.
Bahkan sampai bel pulang sekolah berbunyi. Setelah berdoa bersama, aku cepat-cepat pergi dari kelas tanpa memedulikan apapun lagi. Pokoknya jangan sampai aku melihat Elang saat ini.
Tapi sepertinya semua tidak berjalan sempurna. Elang justru berlari mengejarku.
"Han! Tunggu!" Teriaknya kencang.
Dia berdiri di depanku dengan nafas memburu. Lalu ia menyerahkan buku kepadaku.
"Ini, buku Lo ketinggalan," ujarnya kemudian setelah ia bisa menormalkan kembali nafasnya yang memburu.
"Makasih," sahutku lirih seraya mengambil buku itu.
"Harusnya gue yang bilang begitu. Makasih buat yang tadi," ujarnya lalu tersenyum seraya berlalu meninggalkan diriku yang mematung.
Sesampainya di kamar aku terus membayangkan kejadian tadi di sekolah. Benar-benar sangat memalukan. Untung saja saat itu tidak ada yang melihat kejadian itu. Kalau sampai ada yang melihat, bisa habis aku di ejek terus-menerus Apalagi kalau ada Revi dan gengnya.
Tamatlah riwayat ku.