
Aku bolak-balik menatap kaitan tanganku dengan tangan cowok tinggi di sampingku ini secara terus-menerus. Rasanya seperti mimpi saja berjalan sambil bergandengan tangan dengan cowok yang aku suka.
Elang. Cowok itu tiba-tiba muncul bak pahlawan yang menyelamatkan aku dari cowok menyeramkan barusan. Tubuhku sudah menggigil ketakutan saat cowok tadi mencekal lenganku. Aku bahkan hampir menangis saking takutnya. Harusnya aku tidak perlu keluar rumah malam ini. Tapi mama terus memaksaku pergi untuk membelikannya bahan-bahan kue di minimarket.
Kalau Elang tidak menyelamatkan ku, aku tidak tahu lagi harus meminta tolong siapa.
"Lang, makasih ya," ujarku sedikit gugup. Pasalnya tangan Elang terus menggenggam erat tangan ku. Sepertinya dia tidak berniat melepaskannya. Bahkan tangan ku yang dingin berangsur-angsur menghangat.
Dan bukan hanya tanganku yang hangat. Tapi ternyata sudah menjalar ke hati dan wajahku. Dan aku yakini pipiku sudah merona karenanya.
"Hmm," sahutnya singkat.
Aku mendongak agar bisa menatap wajahnya. Sudah aku bilang, tubuhnya tinggi sedangkan aku pendek. Aku melihat wajahnya memerah, bahkan saat menjawab tadi ia tidak menatap ke arahku. Apa dia sedang marah padaku ya?
Tapi apa salahku?
"Kenapa malam-malam pergi keluar rumah?" Tanyanya seraya melirikku sekilas.
"Aku disuruh mama beli bahan kue di minimarket," sahutku.
"Kenapa jalan kaki?" Tanyanya.
"Soalnya sepedaku rusak." Aku menjawab dengan jujur. Tadi sore rantai sepedaku putus. Dan belum sempat diperbaiki karena papa sibuk.
"Kenapa sendirian, emangnya elo nggak bisa minta anterin saudara Lo?" Aku mengerutkan dahiku heran. Ada apa dengan Elang? Kenapa ia banyak tanya?
"Aku anak tunggal. Jadi nggak punya saudara." Aku merasakan genggaman tangannya mengerat.
"Kalo gitu minta anterin pacar Lo." Ucapan Elang membuatku tersedak.
Uhuk uhuk uhuk
"Lo kenapa?" Tanya Elang seraya menghentikan langkahnya.
"Aku nggak punya pacar," sahutku pelan.
"Terus cowok yang di kantin waktu itu siapa?" Aku mencoba mengingat kembali kira-kira siapa yang bersamaku di kantin.
Ah! Aku ingat sekarang. Pasti kak Agam.
Aku tak begitu mengingatnya. Toh! Itu bukan sesuatu yang istimewa. Makanya aku bisa dengan cepat melupakannya. Kecuali kalau menyangkut masalah kamu.
Tuh kan pipiku tiba-tiba memerah lagi. Mengingat genggaman tangannya masih erat menggenggam tanganku. Aku yakin sekali, kalau sampai kapanpun momen saat ini tidak akan pernah aku lupakan.
"Dia kak Agam, kita cuma temenan aja."
"Oh, begitu rupanya." Tampak sudut bibirnya terangkat sambil mengangguk pelan.
Sayang seribu sayang, Elang sudah jadi milik orang lain.
Mengingat hal itu, aku akhirnya hendak melepaskan tangannya. Aku tidak mau dianggap pelakor. Siapa tahu ada teman sekolah yang melihat ini semua.
Namun, genggaman tangannya tidak bisa aku lepaskan.
"Maaf Lang, bisa lepasin tanganku."
"Nggak bisa," ujarnya membuatku mengerutkan keningku dalam. Apa maksudnya tidak bisa?
"Kenapa?"
"Jangan banyak tanya, biarin seperti ini sampai depan rumah Lo." Ujar Elang dengan suara berat dan dalam. Lantas ia tersenyum manis.
Dan hal itu membuatku tidak bisa menolaknya sama sekali. Aku seakan terpesona melihat senyum manisnya dengan jarak yang sangat dekat.
Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku. Tapi genggaman tangannya tak juga lepas.
"Lang, bisa lepasin tanganku sekarang." Ia tampak mengangguk sekilas. Lalu ia melepaskan tanganku. Tapi wajahnya tampak menyiratkan keengganan.
"Ini belanjaan Lo." Dia menyerahkan kantong plastik minimarket itu ke arahku.
"Makasih udah bantuin aku tadi."
"Sama-sama."
Hening. Aku merasa canggung sekali dengan situasi ini.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanyaku akhirnya saat kami berdua saling terdiam cukup lama. Rasanya tidak enak kalau tiba-tiba menyuruhnya pulang. Lagi pula tidak mungkin juga aku menyuruhnya mampir. Ini sudah malam. Dan rasanya sekarang bukan waktu yang tepat juga. Mau bilang apa aku sama papa dan mama.
"Eummmm... Itu..." Ia tampak gelagapan. Matanya bergerak-gerak gelisah. Seperti tengah mencari jawaban yang pas.
"Tadi gue... Mampir ke rumah temen. Iya! Ke rumah temen!" ujar Elang seraya menggaruk tengkuknya. Elang seakan menegaskan kalau ia baru saja mampir ke rumah temannya. Tapi kenapa dia kelihatan gugup. Seperti bukan Elang saja.
"Oh begitu ya," sahutku seraya mengangguk. Aku mencoba percaya, walaupun kelihatan sangat aneh.
"Sana elo masuk duluan. Angin malem nggak baik buat kesehatan." Elang membalikkan badanku dan mendorongku sampai di depan gerbang.
"Motor kamu di mana?" Aku mengedarkan pandanganku saat tersadar kalau Elang sedari tadi berjalan kaki.
"Ada," sahutnya terlihat gugup.
"Udah sana masuk." Ia menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah tengah mengusirku.
Aku mengangguk seraya tersenyum geli. Baru kali ini aku melihat wajah Elang merona. Dan terlihat sangat lucu dengan tingkahnya yang berbeda dari biasanya. Tampak canggung dan gugup. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Yang pasti bukan karena aku. Mungkin saja ia gugup karena takut ketahuan Vera. Karena takut dianggap selingkuh.
Aku membuka gerbang dan masuk ke dalam. Ia masih berdiri di depan sana seraya tersenyum. Ia melambaikan tangannya dan aku balas dengan ragu-ragu.
Lagi-lagi ia menggerak-gerakkan tangannya seolah mengisyaratkan aku agar cepat masuk ke dalam rumah. Sebelum aku menutup pintu, sekali lagi aku memandang wajahnya yang masih setia berdiri di sana.
Setelah pintu tertutup rapat. Buru-buru aku lari ke kamarku di lantai atas. Ku letakkan belanjaan pesanan mama begitu saja. Aku membuka kelambu jendela. Dan betapa terkejutnya aku saat mendapati Elang berjalan ke arah seberang. Ia mendekat ke arah motor yang baru aku sadari keberadaannya.
Elang menaiki motornya dan memakai helm full face. Ia mulai menyalakan mesin motor yang menderu keras di malam yang sunyi ini. Lalu ia melaju pergi hingga tubuhnya tak terlihat oleh mataku.
Aku membalikan badanku membelakangi jendela. Kenapa Elang parkir motor di sana?
Bukankah dia bilang sedang main ke rumah temannya. Seharusnya motor itu tidak terparkir di sana.
Memangnya siapa teman Elang di komplek ini?
Perasaan tidak ada anak seusia ku di sini. Rata-rata mereka sudah kuliah di luar kota bahkan ada yang keluar negeri.
Deg.
Apa jangan-jangan teman Elang itu aku?
Dia sengaja datang untuk menemuiku?
Aku menggeleng kuat. Untuk apa?
Aku bukan pacarnya. Lagi pula tidak ada tugas yang mengharuskan kita bertemu. Lalu kenapa Elang bisa muncul dengan tepat waktu saat aku digoda cowok itu.
Apa Elang mengikutiku dari awal?
Aish... Pusingnya!! Buru-buru aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Lebih baik aku tidur saja.