Shy Girl

Shy Girl
16. Jaket dan Tas Elang



Setelah dari toilet aku langsung pergi ke kelas. Kebetulan Elang dan gadis itu sudah pergi entah kemana. Hingga aku bisa bernafas lega. Saat aku berada di ambang pintu. Tiba-tiba suara mas molor menggelegar.


"Woi! Nyalain kipas angin!" Ujarnya. Aku terkejut dan menengok ke arahnya. Aku yakin wajahku sangat aneh saat ini.


"Aku mas." Aku menunjuk wajahku untuk memastikan dia sedang berbicara denganku.


"Iya, elo! Emang siapa lagi?!"


Aku meringis lalu buru-buru menyalakan kipas angin.


"Namanya Hani, bukan woi. Makanya hapalin mana temen sekelas jangan tidur terus," ujar Elang seraya merangkul bahu mas molor seraya menatapku dengan tatapan tajam sambil menyunggingkan bibirnya.


***


Aku berguling kesana-kemari di atas ranjang sambil senyum-senyum sendiri. Mungkin jika ada yang melihatnya. Orang akan menganggapku gila. Bagaimana tidak?


Jika aku sudah tidak bisa lagi menahan senyuman lebarku. Di sekolah mungkin aku tampak biasa-biasa saja. Tapi sebenarnya dalam hati, aku ingin berteriak dengan heboh sambil loncat-loncat saking senangnya karena Elang menyebut namaku. Sepertinya dia hafal sekali.


Apa dia sudah mulai menghafalkan namaku untuk dia sebutkan disaat ijab Kabul nanti.


Plak


"Aw!" Pekikku setelah aku memukul kepalaku sendiri.


Sepertinya aku sedang berhalusinasi. Mana mau Elang yang tampan dan banyak disukai cewek-cewek cantik mau denganku yang biasa saja ini.


Aku berguling lagi seraya mendekap bantal guling dengan erat. Kepalaku aku tekan dengan bantal saking malunya. Menyadari Elang tadi siang memandangiku.


Aku mengipasi wajahku dengan tangan. Wajahku memanas mengingat tatapan matanya yang tajam itu. Tadi sempat aku lihat sudut bibirnya naik sedikit. Apa dia sedang menertawakanku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Aku boleh geer nggak sih?" Gumamku lirih.


Aku mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk dengan bantal guling di atas pangkuanku.


"Kayaknya yang tadi cuma kebetulan, deh."


"Ah! Sepertinya yang kemarin-kemarin juga, cuma kebetulan yang tidak disengaja," gumamku lagi.


Lalu aku menggigit jari telunjuk kananku.


"Tapi... Kenapa banyak kebetulan seperti ini!" Aku mengacak-acak rambut panjangku. Hingga mirip singa jantan.


Akh!


"Sudahlah, lebih baik aku tidur saja." Aku putuskan untuk tidur saja. Agar besok pagi aku bisa bangun lebih cepat. Karena besok jadwal piketku.


Tapi bibirku masih saja terus mengulas senyum dengan sendirinya karena membayangkan wajah Elang sambil menunggu kantuk datang.


***


Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat sekolah.


"Neng, kok udah dateng?" Tanya tukang kebun yang sedang menyapu di bawah pohon yang penuh dengan daun kering.


"Iya, pak. Soalnya mau piket dulu," sahutku seraya tersenyum kecil.


Tukang kebun itu mengangguk paham.


"Saya permisi dulu pak," ujarku.


"Iya."


Setelah itu aku berjalan ke arah kelasku. Aku menepuk jidatku. Semoga pintu kelasku sudah dibuka penjaga sekolah. Karena aku benar-benar tidak akan bisa membukanya dengan tinggiku yang mungil ini.


Aku letakkan tasku di atas kursi, lalu aku berjalan ke arah belakang mengambil sapu. Aku mulai membersihkan kelas dan menghapus papan tulis yang kemarin digunakan.


Setelah itu aku membersihkan meja guru dan merapikan kertas-kertas yang ada di atasnya.


Aku meletakkan sapu ke belakang kelas kembali. Lalu aku menatap kelas yang sudah bersih seraya menghapus peluh yang menetes di kening.


"Capek juga ternyata," gumamku seraya kembali ke kursiku sambil mengipasi wajahku dengan buku tulis.


Aku mulai membaca lagi buku pelajaran yang akan diujikan dalam ulangan harian jam kelima nanti. Dengan tangan kanan terus bergerak mengipasi wajahku.


Walaupun ulangan harian diadakan nanti, tapi sebagai siswi yang tidak pintar. Aku harus terus mengulang kembali pelajaran. Agar hasil nilai ulanganku tinggi.


Aku kaget sekali saat mendapati mas molor masuk ke dalam kelas dijam sepagi ini. Ia melewatiku dan meletakkan tasnya di sana. Aku bahkan sampai melongo melihatnya. Ini beneran mas molor si tukang tidur sama si tukang telat kan? Aku menggosok-gosok mataku sambil mengernyitkan dahi. Ini mas molor aslikan? Atau dia makhluk gaib yang menyamar jadi mas molor?


"Belajar apa?" Tanyanya saat akan keluar dari kelas dan melihatku sedang membuka buku.


"Sosiologi mas, nanti ada ulangan," jawabku dengan kaku dan canggung.


"Oh...." Setelah mengatakan itu dia pergi ke arah kantin.


"Aku pikir dia mau bilang apa, taunya cuma oh...doang," gumamku lirih. Aku memutar bola mataku jengah. Benar-benar tidak ada yang normal. Dasar kelas neraka.


Di saat aku sedang melanjutkan membaca buku.


Tap tap tap


Suara sepatu menghentak lantai dengan cepat terdengar menggema. Lalu tiba-tiba Elang muncul di ambang pintu seraya mengatur nafasnya yang putus-putus. Lalu ia melemparkan jaket jeans dan tasnya ke mejaku. Membuat aku melonjak kaget.


Brak


"Eh!" Pekikku.


"Tolong taruh di meja gue ya," ujarnya seraya tersenyum. Sebelum aku menjawab, dia sudah lebih dulu berlari menuju ke arah kantin.


Tap tap tap


Aku menelan kata-kata yang hampir terucap. Aku melihat sekitar sepi. Lalu aku mengulum senyum dibibir saking senangnya. Sebenarnya aku ingin sekali berjingkrak-jingkrak di sini. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan. Makanya aku hanya sanggup menyimpan kegirangan ku untuk nanti saja, kalau sudah sampai di dalam kamar. Di sana aku bebas berjingkrak-jingkrak ataupun berjungkir balik.


Tanganku gemetaran saat akan memegang tas dan juga jaket Elang. Wangi parfum menguar dari jaketnya.


"Cupu kamu Han, gitu aja pake gemetaran," kata hatiku.


"Kapan lagi bisa pegang-pegang jaket sama tasnya kalo bukan sekarang," kata hatiku lagi.


"Mungkin sekarang cuma bisa pegang jaket sama tasnya. Siapa tahu besok bisa pegang tangannya," kata hatiku lagi. Aku mengulum senyum seraya membayangkan kalau hal itu benar terjadi.


Aku menepuk-nepuk pelan kedua pipiku yang sekarang pasti sudah memerah. Lalu aku menggeleng untuk mengenyahkan bayangan yang mustahil terjadi.


Walaupun tanganku bergetar tapi aku tetap membawa jaket dan juga tas Elang ke tempat duduknya. Aku meletakkan dengan perlahan-lahan, seakan-akan benda itu bisa rusak jika aku meletakkan dengan kasar.


Lebay!


Aku akui saat ini aku memang sedang lebay. Tapi tidak apa-apa lebay, kalau demi menyenangkan hatiku. Namun di saat aku hampir berbalik, aku melihat tasnya miring. Hingga aku benarkan lagi dengan menepuk-nepuk sedikit tasnya seraya tersenyum puas setelah melihat hasilnya.


Aku duduk di kursiku seraya mencium wangi parfum Elang yang tertinggal di kedua telapak tanganku.


Gila!


Hanya dengan wangi parfum ini, jantung berdenyut keras. Denyutan yang tidak menyakitkan. Tapi denyutan yang sangat mengasikkan. Hingga aku ingin lebih sering merasakannya di masa SMA ini. Aku tidak tahu kalau menyukai seseorang bisa berdampak besar untuk denyut jantungku.


Ku hirup dalam-dalam aroma ini. Namun tiba-tiba aku mendengar suara sepatu menggema semakin dekat. Buru-buru aku mengatur kembali wajahku seraya berpura-pura membaca buku. Yang dalam kenyataanya aku sudah tidak fokus lagi untuk belajar.