Shy Girl

Shy Girl
22. Ruang Musik



Pelajaran yang paling aku suka adalah pelajaran seni. Bukan karena aku pandai bermain musik atau sejenisnya. Tapi lebih ke suka pelajaran yang tidak terlalu serius seperti pelajaran yang lainnya. Apalagi Bu Ila cuma memberi tugas mengerjakan soal pilihan ganda di LKS. Kadang-kadang juga pergi ke ruang musik dan berakhir dengan bermain musik bagi yang bisa memainkannya. Sedangkan aku, cukup menonton dan memberi tepuk tangan saja.


Seperti pagi ini, kami rombongan kelas 11 IPS 4 berjalan seraya membawa buku tulis yang belum tentu terpakai. Rombongan kami sengaja berjalan menuju ruang musik sambil tersenyum senang ke arah kelas-kelas lain yang kami lewati.


Mereka berusaha meledek kelas lain yang sedang serius mengerjakan soal. Sesampainya di ruang musik, aku mengambil duduk di pojok ruangan agar tidak terlalu terlihat. Kebetulan di ruangan ini tidak disediakan kursi seperti ke kelas. Kami semua duduk di lantai yang sudah dilapisi karpet.


Disini banyak sekali peralatan musik, ada drum, gitar, bass, keyboard bahkan ada mikrofon. Tempat ini juga sering digunakan sebagai tempat latihan band yang beranggotakan siswa sekolah ini.


"Selamat pagi, anak-anak."


"Pagi Bu," sahut kami dengan semangat.


"Kalian pasti sudah tahu apa saja alat musik yang ada di ruangan ini. Ibu mau tanya, diantara kalian siapa yang bisa memainkan salah satu alat musik yang ada di sini. Coba angkat tangan," ujar Bu Ila.


"Afif bisa main gitar buk," teriak Irwan kencang.


"Ya Afif silakan maju ke depan." Afif yang duduk di depan menggeleng dengan kuat.


"Nggak buk, Irwan bo'ong!" Ujarnya seraya menoyor kepala Irwan dengan kencang.


"Ika bisa main drum buk," ujar Revi menunjuk Ika.


"Enggak buk," kilah Ika dengan menggelengkan kepalanya.


"Bo'ong buk, dulu pas SMP pernah ikut band buk," ujar Revi, membuat Ika panik.


"Ayo Ika maju ke depan, biar temen-temen lihat." Bu Ila menarik Ika yang terlihat sangat malas.


"Tapi udah lama buk nggak main lagi."


"Sebisanya aja nggak pa-pa," ujar Bu Ila lemah lembut.


Terlihat Ika duduk di kursi, lalu ia mengambil stik drum dan mulai memukulnya dengan kaku. Mungkin karena baru mulai lagi memainkan drum jadi agak kaku. Tapi lama kelamaan permainan drumnya bagus. Bahkan aku sampai kagum dengan keahlian Ika yang tak pernah aku sangka-sangka. Gadis berpipi chubby dan feminim itu ternyata bisa memainkan alat musik yang biasa dimainkan oleh laki-laki.


Prok prok prok


Tepuk tangan bergemuruh setelah permainannya selesai. Bu Ila tampak tersenyum senang melihat cara bermain Ika.


"Siapa lagi yang mau maju dan menampilkan bakat," ujar Bu Ila sekali lagi.


"Elang buk," ujar Arya menepuk bahu Elang. Dengan senyum malu-malu dia maju ke depan dan mengambil sebuah gitar akustik.


Petikan gitar mengalun dengan lembut, aku ikut terhanyut dalam irama yang dia hasilkan. Mataku berbinar-binar cerah. Tak terasa senyumku mengembang melihat betapa menghayati Elang saat memainkan alat musik gitar. Dia begitu bersinar, dan menghanyutkan.


Detak jantungku yang berpacu kencang tertutup lembutnya musik yang ia hasilkan. Aku terpesona. Aku bahagia. Hatiku meleleh hanya dengan tatapannya.


Aku suka dengan Elang yang lembut dengan permainan gitarnya. Tapi aku juga suka Elang yang pekerja keras dan pantang menyerah, saat menjadi penjaga gawang. Aku suka Elang saat dia tertawa terbahak-bahak sambil bermain layaknya anak kecil tanpa beban. Aku suka Elang. Elang Mahardhika.


Permainan gitarnya telah usai. Semua orang hanyut dalam permainan gitarnya.


"Oke, Minggu depan kalian semua penilaian menyanyi. Bagi yang mau pakai alat musik, silakan digunakan." Ucapan Bu Ila membuat bahuku merosot.


Hingga disaat aku menoleh ke arah kanan. Ternyata Rangga sedang melihat ke arahku. Buru-buru aku mengalihkan pandangan mataku. Apa maksud dari tatapan matanya itu?


Pelajaran telah usai, semua orang bergerak cepat keluar dari ruang musik. Tapi disaat aku ingin keluar, tiba-tiba lenganku ditahan seseorang.


Deg


Siapa?


Dengan jantung yang berdetak kencang, aku menengok ke arah belakang. Di mana Rangga telah melepaskan cekalan tangannya di lenganku.


"Ada apa?" Tanyaku ragu-ragu.


Deg deg deg


Jantungku berdetak lebih kencang, aku tidak sanggup mengucap sepatah katapun. Lidahku membeku dengan keringat yang menetes di pelipis.


Bagaimana dia bisa tahu?


"A...aku...." Aku sangat gugup.


"Han, ayo cepat kesini!" Seru Avi dari luar.


"Iya," sahutku cepat.


"Aku keluar dulu," ujarku lirih lalu pergi dari ruang musik itu begitu saja tanpa menoleh ke belakang.


Tanpa aku duga ternyata Rangga berjalan di sampingku.


"Kenapa dia jalan di sini sih?" Gerutuku tak nyaman berjalan di samping cowok.


"Emangnya gue harus jalan di mana?bukannya ini jalanan umum."


Deg.


Dia tahu apa yang aku katakan. Dahiku mengernyit heran. Cowok yang satu ini benar-benar aneh.


"Heh, jawab dulu pertanyaan gue yang tadi. Elo beneran suka sama Elang?"


"Nggak," sahutku cepat.


"Bohong," balasnya kemudian.


"Udah keliatan kali dari cara Lo ngeliatin dia." Rangga mengedikkan dagunya menunjuk Elang yang ada di depan kami.


"Udah tahu kenapa pake nanya?" Batinku kesal.


"Nggak, kata siapa?" Aku masih berusaha menyangkal.


"Oh...gitu." dia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lang! Elang!" Teriaknya kencang hingga Elang menengok ke arah belakang.


"Apa?" Tanyanya dengan raut penasaran.


"Gue mau bilang kalo..." Aku panik seketika. Jangan-jangan Rangga mau mengatakan bahwa aku menyukai Elang. Rangga sengaja memutus perkataannya agar membuatku panik. Dia menatapku sebentar lalu menyeringai.


Gawat!! Gawat!!


"Kalo tali sepatu Lo lepas," ujar Rangga kemudian. Elang menatap tali sepatunya lalu mengikatnya kembali.


"Makasih bro!" Ujarnya seraya berlari mengejar mas molor dan bang Jon yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


Huff...


Rasanya jantungku hampir lepas dari tempatnya. Bahkan sedari tadi aku menahan nafas saking tegangnya. Dan ternyata pikiranku salah. Rangga hanya sedang mengetesnya saja. Apakah aku benar-benar menyukai Elang atau tidak. Tapi caranya itu membuatku sangat panik.


Benar-benar keterlaluan. Cowok itu menyeringai semakin lebar menatap ke arahku.


"Bilang aja suka. Kenapa pake acara bohong segala." Ujarnya seraya berjalan melewati ku begitu saja.


Tapi tiba-tiba membalikkan badannya. "Kalo suka bilang aja langsung. Jangan sampe nyesel. Elang bukan cowok biasa aja. Dia itu cowok populer yang disukai banyak cewek. Bahkan cewek yang lebih cantik dari elo aja ngantri." Baru setelah itu dia benar-benar pergi.


"Kenapa dia ngurusin hidup aku. Kenal banget aja nggak," gumamku kesal seraya menghentak-hentakkan kakiku di lantai.