
Elang POV
Selama seminggu ini gue selalu nunggu momen saat Vera nggak mau diganggu karena ada kerja kelompok. Dan sepertinya momen itu akan segera datang. Terlihat Vera menghampiri gue saat gue lagi main gitar di depan kelas.
"Lang, aku mau ngomong sesuatu," ujarnya. Gue mengangkat sebelah alis gue, pura-pura ingin tahu.
"Apa?" Tanya gue dengan nada sehalus mungkin.
"Eum... Hari ini kamu nggak usah anterin aku pulang soalnya aku mau kerja kelompok." Gue diam-diam menyeringai. Ini pasti masalah kerja kelompok lagi kayak Minggu kemaren.
"Terus kamu naik apa?" Tanya gue basa-basi.
"Aku sama Tia kok," sahutnya terlihat meyakinkan. Gue pun mengangguk.
"Kerja kelompok di mana?" Gue coba cari tahu apakah dia bakalan bohong atau memang kerja kelompok sungguhan.
"Di rumah Tia lah," balasnya dengan nada ketus. Lagi-lagi gue mengangguk.
"Kalo gitu hati-hati ya," ujar gue kemudian. Ia tampak mengangguk sebentar sebelum kembali ke kelasnya.
"Vera kerja kelompok?" Tanya Rangga yang ada di sebelahnya gue.
"Lo denger sendiri tadi," sahut gue malas. Ia kemudian menepuk bahuku sambil senyum. "Mau nggak gue bantuin?"
Gue menyeringai. "Boleh juga."
***
Gue sama Rangga bertukar jaket dan motor. Rangga sudah lebih dulu pergi untuk mengecoh Vera. Agar dia mengira kalo gue udah pulang. Tapi nyatanya gue masih di sekolah. Lebih tepatnya di belakang Vera dan teman-temannya yang sedang duduk di halte. Dengan sengaja gue pake masker buat menutup wajah gue supaya Vera nggak tahu.
Dan berkat ide Rangga, gue bisa dengan mudah mendengar pembicaraan gadis-gadis itu. Gue aja nggak pernah kepikiran buat nyamar dan mencari tahu tentang Vera di belakang gue.
"Enak ya jadi elo ver, punya dua pacar. Yang satu ganteng dan yang satu tajir melintir," ujar Tia teman sebangku Vera.
"Iya dong," sahut Vera bangga. Ia mengibaskan rambutnya kebelakang.
"Buat apa punya wajah cantik, kalo cuma punya satu pacar. Rugi dong gue." Tampak Vera mengambil ponselnya di saku. Sepertinya dia lagi chatting-an sama cowok itu.
Sial!! Gue kena tipu!
Cewek yang gue pikir asik buat diajak ngobrol, ternyata cewek matre dan tukang tipu.
"Ver, kalo disuruh milih salah satu di antara Elang sama cowok tajir itu. Kira-kira elo mau pilih yang mana?"
"Gue pilih Elang dong, tapi gue porotin dulu duit Tyo sampe abis." Gue mendengus kencang. Ogah! Enak aja tuh cewek mainin gue. Lagian mau milih gue, udah gue sambit duluan Lo sampe planet mars. Gue bener-bener geram, bukan karena gue cemburu. Catat itu baik-baik! Tapi lebih tepatnya, marah karena harga diri gue dia injek-injek dengan seenaknya sendiri.
Kalo di dunia ini hanya ada satu cewek yaitu elo. Gue mending milih jomblo seumur idup. Cewek nggak tahu diuntung. Mana nomor kontak temen-temen cewek dari SD sampe SMP dia hapus semua. Ponsel gue diacak-acak seenak jidatnya sendiri.
Dan sekarang elo dengan entengnya milih gue.
Cuih.... Gue gak sudi... Mending elo sama cowok tajir itu aja. Gue rela dan ikhlas.
"Elang nggak pelit sih, cuma dia nggak asik aja. Soalnya dia sering ngelarang gue beli ini-itu. Bikin kesel tau nggak! Padahal gue suka nemu barang-barang lucu." Gue semakin menggeram marah. Apa dia bilang?! Gue nggak asik?!
Dia nggak mikir apa... Yang dia bilang lucu itu hampir di setiap toko dia bilang 'Ih lucu banget, gue pengen punya satu.' kalo dihitung ada berapa toko di mall. Yang ada gue sama dia pulang sendiri-sendiri.
Gimana nggak sendiri?!
Barang belanjaan dia pasti banyak banget. Kalo masalah duit, gue punya. Bukannya sombong. Berandal-berandal gini gue punya usaha kecil-kecilan yaitu distro. Sebenernya gue mau dibeliin mobil sama kakek gue sebagai hadiah ulang tahun. Tapi gue tolak, mending duitnya gue pake buat bangun usaha distro itu.
Lumayanlah, dari hasil usaha distro itu gue bisa beli motor sport yang gue mau. Dan kalau masalah uang, jangan tanya. Gue mampu! Amat sangat mampu beliin semua yang Vera mau.
Tapi, yang jadi masalahnya itu. Barang-barang belanjaan sebanyak itu mau ditaroh di mana. Sedangkan gue ngajak Vera jalan pake motor sport.
Harusnya dia mikir dong! Mau dikemanain tuh barang belanjaan. Emang motor sport ada bagasinya apa?!
Jangankan bawa barang segitu banyaknya. Bawa kantong plastik isi satu bungkus bakso aja repotnya minta ampun.
Dan dengan entengnya dia bilang gue nggak asik. Kalo dia mau pulang sendiri naik taksi online. Gue bayarin tuh! Barang-barang lucu yang dia mau. Masalahnya dia pasti nuduh gue selingkuh kalo gue pulangnya nggak sama dia.
Udah apal gue semua tabiatnya. Gue lirik sinis ke arahnya. Beda banget sama Hani. Dia anaknya baik dan nggak enakan. Mau gue bayarin makan dianya malah nolak. Udah gitu dia berterima kasih. Bukannya gue nggak ikhlas. Masalahnya Vera nggak pernah sekalipun berterima kasih ke gue buat apa pun yang pernah gue kasih ke dia. Padahal kata terima kasih nggak terlalu sulit untuk diucapin. Gue cuma mau dihargai.
Vera mulai merapikan rambutnya sebentar. Dan gue juga pura-pura lagi chatting-an sama seseorang. Untung jaket Rangga ada penutup kepalanya. Jadi gue aman terkendali.
Tampak Vera membaca pesan masuk.
"Bentar lagi cowok gue jemput," ujar Vera memberitahu temannya.
"Hmm," sahutnya tampak tak peduli. Sepertinya Tia juga sedang chatting-an sama cowoknya.
Tiba-tiba sebuah mobil merah dengan lambang kuda jingkrak berhenti. Kaca mobil itu dibuka perlahan-lahan. Lalu cowok itu tersenyum ke arah Vera.
Gue liatin tuh cowok, tampangnya biasa-biasa aja. "Yang, buruan masuk." Cowok itu melambaikan tangannya.
Lalu Vera berlari ke arah cowok itu dengan riang gembira.
"Tia, gue jalan dulu ya?"
"Iya!" Pekik Tia tampak malas. Sepertinya dia juga tidak ingin diganggu.
Karena penasaran mereka mau kemana, makanya gue ikutin pake motornya Rangga.
Alis gue berkerut. Mall lagi? Gue heran sama tuh cewek. Perasaan mall ini udah didatengin setiap minggu. Dan dia nggak bosen-bosen juga.
Gue berjalan di belakang mereka berdua. Terlihat dengan jelas kalo cowok itu sayang banget sama Vera.
Emang tega tuh cewek manfaatin cowok. Mana gue juga **** lagi. Bisa-bisanya gue ketipu sama tampangnya yang sok imut itu. Kalo tau gini, gue ogah sama dia. Mending gue jomblo.
"Yang, kita beli es krim dulu ya," ujar Vera dengan suara manja.