
Tak terasa seminggu berlangsung dengan cepat. Jujur saja, kalau aku belum siap bernyanyi di depan orang banyak. Apalagi di depan Elang.
Akh!!
Aku mengacak-acak rambutku dengan frustasi. Lalu merapikannya lagi di depan cermin. Aku memperhatikan bayangan wajahku di dalam cermin. Kedua telapak tanganku menangkup pipiku yang sengaja aku gembungkan. Hingga bibirku monyong ke depan.
"Bagaimana ini?" Gumamku setengah merengek. Ini terlalu sulit untuk aku lakukan. Aku tidak pernah bernyanyi di depan umum sebelumnya. Lalu bagaimana kalau aku berbuat sesuatu yang memalukan di depan Elang karena rasa gugupku yang tidak bisa dikendalikan ini?
Pasti aku akan ditertawakan semua orang. Aku berjalan mondar-mandir sambil menggigit bibir bawahku dengan tangan terlipat di depan dada.
Tok tok tok
"Han... Hani!" Teriak mama dari luar seraya mengutuk pintu. Aku membuka pintu dan mendapati mama yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.
"Cepetan keluar, kita sarapan sama-sama," ujar mama.
"Iya, sebentar lagi," ujarku seraya mengangguk.
"Yaudah, mama sama papa tunggu di bawah," ujarnya lalu pergi ke lantai bawah.
Aku kembali lagi di depan cermin, memastikan penampilanku baik-baik saja hari ini. Aku mengambil tas yang tergeletak di meja belajar dan menggendongnya dipunggung lalu turun ke lantai bawah. Di mana letak meja makan berada.
"Pagi ma pa," sapaku dengan nada lemah seraya mengambil duduk di kursi yang biasa aku duduki. Aku mengambil roti dan mengoleskan selai tanpa minat. Entahlah, sebenarnya aku tidak nafsu makan pagi ini. Aku menggigit roti dengan selai strawberry dengan malas-malasan. Bahkan aku mengunyahnya dengan lambat.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya mama yang kini melihat ke arahku dengan alis bertaut.
"Nggak pa-pa ma," ujarku lemah.
"Masa sih? Kok mama nggak percaya ya?" Ujarnya membuatku berdecak sebal.
"Coba cerita dong sama mama," ujar mama membujukku. Ia mengambil duduk di sampingku. Seraya mendekati wajahku dengan wajah penasaran.
"Kepo," ujarku seraya memandang wajah mama dengan nada meledek.
"CK...." Mama tampak berdecak seraya memutar bola matanya.
"Pa, nih anaknya," rengek mama seraya memandang wajah papa dengan sok imut. Membuatku memutar bola mata jengah.
"Han, kamu jangan begitu sama mama," ujar papa membuatku menunduk takut. Papa itu tidak pernah marah, jadi kalau kali ini ia marah berarti aku keterlaluan.
"Iya, pa... Ma, Hani minta maaf udah kurang ajar sama mama," ujarku dengan rasa menyesal.
"Nggak pa-pa, mama maafin kok. Tapi kamu cerita dulu sama mama, kenapa bibirnya monyong gini?" Tanya mama seraya mencomot bibirku.
"Ma, hari ini aku ada penilaian menyanyi," rengekku frustasi.
"Kenapa emangnya?" Tanya mama seraya mengernyitkan dahinya.
"Ish... Mama," rengekku lebih kencang.
"Ya, kalo disuruh nyanyi ya tinggal nyanyi aja. Apa susahnya?"
"CK... Tapi aku takut salah lirik, atau suaraku fals. Aku nggak mau diketawain sama temen-temen. Malu...."
"Ish...ish...ish... Cuma gitu doang anak mama yang cantik ini pusing," ujar mama seraya menggelengkan kepala.
"Sayang... Kamu itu harus percaya diri. Mama yakin kamu bisa bernyanyi dengan baik. Jangan berpikir negatif terus. Soalnya kalo dipikirin begitu, maka yang terjadi ya begitu juga."
"Maksud nama apa? Aku nggak ngerti?"
"Jadi gini." mama memutar tubuhku menghadap ke arahnya. Kedua tangannya juga berada di bahuku. Tatapan matanya tertuju ke arah mataku.
"Kalo kamu berpikir terus menerus bakal berbuat kesalahan, maka yang akan terjadi ya kamu buat kesalahan itu menjadi kenyataan. Tapi jika sebaliknya, kamu nggak pikirin yang macem-macem fokus sama latihan nyanyi kamu. Maka mama jamin, kamu bakal menampilkan yang terbaik. Tanpa ada kesalahan apapun," ujar mama mencoba meyakinkanku. Lalu aku mengangguk.
"Pertama-tama, bibirnya jangan monyong kayak gini terus." Mama mencomot bibirku lagi.
"Ish...." Aku kesal diperlakukan seperti itu. Lalu menggosok bekas tangan mama yang ada di bibirku dengan tangan.
"Terus yang kedua percaya diri. Kamu itu cantik, sayang...." Kali ini mama mencolek daguku.
"Yang ketiga, kamu jangan panik. Hadapi dengan santai."
"Tapi nggak semudah itu ma," rengekku lagi. Semua memang tidak semudah itu. Aku cenderung mudah panikan. Lalu bagaimana caranya aku bisa menghadapi kepanikan itu sendiri? Apalagi aku paling tidak nyaman dengan tatapan mata orang-orang yang akan tertuju ke arahku. Aku merasa seperti terpojok dan begitu sesak saat bernafas.
"Kamu pasti bisa sayang... Mama yakin banget. Caranya kamu jangan pikirin macem-macem. Bila perlu tutup mata kamu, dan hayati lagu yang akan kamu nyanyikan. Jangan pedulikan tatapan orang lain. Anggap saja mereka tidak ada. Bayangkan kalo kamu disitu sendirian, anggap saja kamu sedang bernyanyi di kamar mandi."
"Apa aku bisa, ma?" Tanyaku ragu.
"Anak mama yang cantik pasti bisa, percaya aja sama mama dan papa. Ya kan pa?" Tanya mama seraya memandang wajah papa yang masih asik makan roti.
"Iya," sahut papa dengan mulut penuh roti.
***
Sepanjang jalan menuju ke sekolah, aku berusaha tidak memikirkannya. Aku mengalihkannya ke hal-hal yang aku suka. Seperti novel apa yang akan aku beli di toko buku. Dan membayangkan semangkok bakso panas dengan sambal di atasnya. Membuatku hampir meneteskan air liurku karena membayangkannya.
Padahal ini masih pagi, tapi kalau masalah bakso. Aku tidak mengenal waktu. Bisa pagi, siang, sore dan malam. Disaat aku sedang mencoba mengalihkan pikiran ku ke hal yang membuatku tenang. Tiba-tiba geng Revi masuk ke dalam kelas sambil bernyanyi dengan suara cemprengnya itu.
Aku bahkan sampai mengernyitkan dahiku karena menahan suara yang sangat mengganggu di telinga. Karena hal itulah aku mulai panik lagi. Apalagi ditambah bel masuk berbunyi. Yang tandanya saat ini penilaian menyanyi akan segera dimulai.
Aku duduk dengan tegang dan kaku. Aku melihat semua orang tampak antusias menyambut pelajaran yang mungkin mereka tunggu-tunggu.
Tuk tuk tuk
Suara sepatu yang aku tebak milik Bu Ila menggema semakin dekat. Tebakanku benar adanya, saat wanita itu masuk ke dalam kelas sambil mengulas senyum.
"Pagi anak-anak," sapanya.
"Pagiiii bukkk," sahut semuanya kompak.
"Oke, sekarang kita ke ruang musik sekarang, ibu akan menilainya di sana. Kalian sudah siap?!"
"Siappp bukk!" Sahut semuanya dengan semangat kecuali aku.
Deg deg deg
Jantungku mulai berdetak kencang, nafasku juga mulai sesak. Tapi aku berusaha memikirkan hal-hal yang membuatku melupakan ketakutanku saat ini.
"Revi, silakan maju ke depan," ujar Bu Ila. Dia mulai bernyanyi dengan suara cemprengnya hingga membuat semua teman-teman tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuatku semakin panik. Dan anehnya Revi masih percaya diri dengan terus bernyanyi walau sambil ditertawakan hingga selesai.
"Selanjutnya Elang silakan maju ke depan."
Cowok itu mengambil gitar akustik dan mulai memetik senarnya hingga menghasilkan suara yang indah. Lalu Elang mulai bernyanyi dengan suaranya yang ternyata merdu sekali. Semuanya terhenyak mendengar nyanyiannya. Suaranya begitu menenangkan bahkan sampai aku lupa kepanikanku sendiri. Mataku terus berbinar-binar melihat wajahnya yang tampan dengan alunan suara merdu yang ia miliki. Elang itu sempurna banget. Sudah pintar olahraga, bisa memainkan gitar dan sekarang ia bisa juga menyanyi.
"Hah! Apa Vi?" Tanyaku bingung sambil memandangnya.
"Maju ke depan," ujarnya membuat sebelah alisku terangkat.
"Siapa? Aku?" Tunjukku ke arah wajahku sendiri. Lalu ia mengangguk.
"Ayo silakan maju Hani," ujar Bu Ila membuatku berjalan ke depan dengan tubuh gemetaran.
"Han, mau aku iringi pake gitar?" Tanya Elang seraya memandangku sambil tersenyum.
Aku menggeleng kaku. Bukannya aku sombong menolak Elang. Tapi bagaimana aku bisa bernyanyi kalau ada Elang di sampingku. Sendirian saja sudah gemetaran apalagi ada Elang. Bisa jadi suaraku tidak keluar sama sekali.
"A..ku ha...nya...." Aku berhenti bernyanyi dengan kedua tangan meremas rok di kiri dan kananku.
"Ha...ha...ha...." Tawa semua teman-teman bergema mendengar suaraku yang bergetar. Keringatku mengucur deras. Tiba-tiba suaraku hilang.
"Anak-anak diam!" Ujar Bu ila seraya bertepuk tangan. Berharap semuanya terdiam.
"Woi! Diem woi!" Ujar Revi sambil berkacak pinggang. Tawa mulai reda, walau masih ada yang cekikikan di belakang sana.
"Ayo, sekali lagi," ujar Bu Ila. Aku mengangguk.
Aku memejamkan mataku dan menghirup nafas dalam-dalam. Dan mengembuskannya dengan pelan. Aku membuka mataku dan pandanganku langsung tertuju ke arah Elang yang kini tengah melihatku seraya tersenyum lembut.
"Aku bisa," batinku yakin.
Pertama-tama aku memejamkan mata dan mulai bernyanyi.
Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkanlah kubicara
Agar kau juga dapat mengerti
Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tahu mengapa
Yang kutahu inilah cinta
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Kamu yang buat hati bergetar
Senyumanmu mengartikan semua
Tanpa aku sadari
Merasuk di dalam dada
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Ho-oo ai ya ha-a
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Aku membuka mataku karena aku baru sadar kalau ruangan yang tadinya riuh dengan cekikikan telah hening. Kulihat semua orang menatapku dengan wajah melongo.
Plok plok plok
Tiba-tiba suara riuh tepuk tangan menggema. Mereka semua tersenyum terutama Elang. Ia kini melihatku dengan tatapan mata yang berbeda. Seperti tatapan terpesona.
"Ah tidak mungkin," batinku.
"Wah! Suara kamu bagus banget," puji Bu ila membuat wajahku memerah karena malu.
"Nggak buk, biasa saja," ujarku dengan malu-malu.
Aku duduk ke tempatku tadi.
"Wah, Han. Diem-diem suara kamu bagus juga," ujar Avi tampak melihatku dengan rasa kagum.
"Nggak kok," sahutku malu-malu.