Shy Girl

Shy Girl
25. Toko Buku



Hari Minggu seperti ini aku biasa pergi ke toko buku, kebetulan novelku sudah habis aku baca. Di sinilah aku berada sekarang. Berdiri diantara rak-rak buku yang berjejer rapi dan berwarna-warni. Mataku mengedar mencari novel yang sekiranya bagus. Tapi sepertinya aku kesulitan saat menentukan dua novel yang ada di sisi kanan dan kiri tanganku.


Uangku tidak cukup untuk membeli keduanya, makanya aku harus menentukan satu pilihanku. Di saat aku sedang bingung. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku.


"Hani," panggilnya dengan suara bass. Aku celingukan ke sana kemari mencari sumber suara.


"Hey." Elang berjalan dengan langkah cepat mendekatiku seraya melambaikan tangan.


"Elo di sini juga?" Ujarnya seraya menggaruk tengkuknya.


"Iya," sahutku lirih.


"Itu novel ya?"


Aku memandang wajahnya dengan alis berkerut dalam.


"Itu di tangan lo," ujarnya saat menyadari kebingunganku.


"I...iya," ujarku gugup dengan wajah memanas.


Ia terkekeh renyah seraya menutup mulutnya dengan punggung tangan.


Aku menunduk malu seraya memegang kedua novel itu dengan erat. Pertemuan ini tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Aku tidak tahu kalau Elang juga suka membaca buku.


"Sendirian aja?" Ia tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Iya," jawabku seraya mengangguk.


"Eum... Aku boleh minta tolong nggak?" Tanyanya seraya memandangiku dengan intens.


"Bantu apa ya?" Tanyaku dengan gugup.


"Boleh pilihin novel yang bagus," ujarnya dengan antusias.


"Genrenya apa?" Tanyaku lagi, karena aku tidak tahu apa yang dia sukai.


"Eum...gue nggak ngerti. Soalnya novel itu buat kado seseorang." Aku mengangguk paham.


"Cewek apa cowok?" Tanyaku dengan suara lirih. Aku tidak yakin dia bisa mendengarnya.


"Hah! Apa?" Tubuhnya membungkuk agar bisa mendengar cicitanku.


"Buat cewek apa cowok," ujarku dengan suara yang kubuat sekeras mungkin, supaya ia bisa mendengar suaraku dengan jelas.


"Oh...." Ia mengangguk paham, lalu menegakkan tubuhnya kembali.


"Buat cewek," ujarnya seraya tersenyum.


"Coba lihat novel yang ada di tangan Lo," ujarnya dengan pandangan mata tertuju ke arah kedua novel yang ada dikedua tanganku.


Aku menyerahkan keduanya. Ia membaca blurb novel yang terletak di bagian belakang. Lalu ia tersenyum setelahnya.


"Kayaknya novel yang ini bagus," ujar Elang seraya menggoyangkan novel bersampul biru muda itu.


Aku hanya mampu mengangguk seraya tersenyum canggung.


"Ini." Dia menyerahkan kedua novel itu kepadaku. Lalu aku menerimanya dengan perasaan gugup.


"Ngomong-ngomong novel yang itu ada dibagian mana?" Tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke deretan novel-novel yang berjejer di sebelahku.


"Novel ini cuma ada satu," ujarku dengan suara yang kubuat keras, supaya Elang bisa mendengarnya.


"Cuma ada satu?"


"Iya," jawabku seraya menunduk.


"Yah!" Aku mencuri pandang ke arah Elang yang saat ini sedang mendesah kecewa.


"Kalo kamu mau, ini ambil aja." Aku menyodorkan novel itu ke arahnya.


"Beneran?" Tanyanya seraya memandangiku.


Aku mengangguk.


"Tapi kamu...."


"Oh yaudah," ujarnya dengan canggung seraya menggaruk tengkuknya.


"Aku permisi dulu," ujarku lantas aku berjalan dengan cepat menuju ke arah kasir. Wajahku benar-benar sudah merah padam. Aku sangat malu saat ini. Tidak ku sangka aku dan Elang bisa bertemu di mall sebesar ini.


Di saat aku menyerahkan novel kepada kasir, tiba-tiba ada satu novel lagi yang terulur melewati tubuhku.


"Mbak yang ini sekalian," ujarnya lalu tanpa terduga, dia merangkul bahuku. Membuatku menahan nafas saking gugupnya.


"Totalnya 150 ribu." Aku langsung mencari keberadaan dompetku di dalam tas.


"Ini mbak," ujar Elang yang sudah lebih dulu menyerahkan sejumlah uang. Ia menerima plastik berisi novel itu Elang menarikku keluar dari antrian.


Aku berjalan dengan linglung. Saat sudah berada di luar toko, Elang melepaskan rangkulan tangannya di bahuku. Membuatku tanpa sadar menghela nafas lega. Terlihat Elang mengambil novelnya, lalu ia masukkan ke dalam tasnya. Setelah itu ia menyerahkan plastik tadi kepadaku.


"Ini uang buat bayar novel tadi," ujarku seraya menyerahkan sejumlah uang.


"Nggak usah, novel itu buat tanda terima kasih. Karena elo udah baik ke gue. Tolong diterima ya."


"Terima kasih," ujarku seraya menunduk malu.


Hening. Kami berdua sama-sama terdiam canggung.


"Mau nggak Lo temenin gue makan," ujar Elang sambil menggaruk tengkuknya. Aku menelungkupkan kepalaku memutar kembali ingatanku tentang jadwalku hari ini. Sepertinya tidak ada hal yang penting.


"Boleh," sahutku kebetulan perutku juga belum diisi.


***


Pada akhirnya kami berdua duduk di food court. Aku memesan bakso makanan kesukaanku. Sedangkan dia memesan bakmi.


Karena perutku sudah sangat lapar, maka dari itu aku langsung menyantapnya dengan lahap. Sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Elang yang duduk di depanku.


Di saat aku sedang meminum lemon teaku, barulah aku sadar bahwa Elang kini sedang terkekeh geli melihat cara makanku yang tidak ada jaim-jaimnya.


Uhuk uhuk uhuk


Aku tersedak minumanku sendiri. Karena terkejut saat menyadari kebodohanku saat ini.


"Dasar bodoh," batinku menjerit. Tingkahku tidak bisa terkontrol saat berhubungan dengan makanan kesukaan.


"Pelan-pelan aja," ujarnya masih terkekeh sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. Pandangan matanya masih tertuju ke arahku.


Setelah batukku reda, aku tidak lagi berselera makan. Aku hanya mengaduk-aduk mangkok berisi bakso itu tanpa minat.


"Kenapa cuma diaduk-aduk aja. Ayo dimakan."


"Iya," sahutku lirih seraya menunduk.


Setelah selesai makan, Elang berniat mentraktirku makan. Namun aku menolaknya. Aku tidak enak hati. Novel dia yang bayarin dan sekarang dia mau traktir makan. Rasanya aku tidak pantas diperlakukan seperti itu.


Karena aku terus menolak, makanya dia menyerah. Akhirnya kami bayar masing-masing.


"Rumah kamu di mana?" Tanyanya saat kami berjalan keluar.


Aku mendongak ke arahnya.


"Deket kok, di jalan manggis sana," sahutku.


"Ayo aku anterin." Tanpa terduga ia langsung menarik tanganku ke arah tempat parkir. Di mana motornya berada.


"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri," tolakku panik.


"Udah santai aja, ayo naik." Aku memandang motor sport warna hitam itu dengan alis bertaut.


Elang sudah memakai helmnya dan menstarter motornya hingga mengeluarkan suara keras. Aku sedikit melonjak kaget.


"Ayo naik," ujarnya dari balik helm full face dengan tangan terulur ke arahku.


Dengan jantung berdegup kencang, aku meraih uluran tangannya. Lalu naik ke atas jok motornya yang tinggi. Aku sedikit oleng, karena terkejut dengan tingginya jok yang aku naiki. Baru kali ini aku menaiki motor sport. Dan ternyata sangat menakutkan. Disaat inilah aku bingung harus berpegangan apa. Tidak mungkin aku memeluk Elang dari belakang. Lantas aku harus bagaimana?


"Pegangan," ujar Elang.


"Iya," sahutku lantas memegang ujung jaket Elang di sisi kanan dan kiri.