Shy Girl

Shy Girl
57. Malam Minggu



Hani POV


Di kamarku yang sepi aku berguling kesana-kemari tidak jelas. Menyalakan tv sebentar, lalu aku mematikannya karena semua acaranya tidak ada yang menarik. Lantas aku beralih ke meja belajar mencari tugas yang belum aku kerjakan. Tapi setelah aku cek ternyata semua tugas sudah aku kerjakan dari jauh-jauh hari.


"Aku bosen," ujarku dengan nada merengek.


Sudah tidak ada yang bisa aku lakukan. Akhirnya aku memutuskan untuk tiduran di atas ranjang menatap langit-langit kamar sambil memeluk bantal guling.


Tok tok tok!


"Sayang, keluar! Ada temen kamu!" Teriak mama dari balik pintu.


Dengan bergegas aku bangun dengan kening berkerut dalam. "Temen? Malam minggu? Siapa?" Gumamku keheranan.


"Siapa ma?!" Teriakku lantang.


"Cowok yang pernah nganterin kamu."


"Elang!" Pekikku tiba-tiba. Dengan cepat aku berjalan menuju ke pintu hendak keluar. Tapi aku baru sadar kalau aku harus memperbaiki penampilanku lebih dulu. Jangan sampai aku menemui Elang dengan keadaan berantakan.


Tubuhku langsung berputar menjauh dari pintu dan berjalan menuju ke meja rias. Aku menatap pantulan wajahku yang ada di dalam cermin. Memastikan tidak ada hal yang aneh hingga aku terlihat konyol di depan cowok yang aku suka.


Aku sedikit merapikan rambutku yang berantakan. Tak lupa aku menyisir rambutku yang lurus dan panjang ini dengan rapi. Lalu aku mengambil jepit rambut dan memakainya di rambutku yang tergerai panjang. Sebelum keluar menemui Elang, tiba-tiba mataku menatap liptint yang jarang aku gunakan tergeletak di atas meja rias.


"Pake nggak ya?" Tanyaku pada diriku sendiri.


"Aneh nggak sih pake liptint di rumah?" Tanyaku lagi.


"Tapi liptint ini cuma aku pake ke acara resmi. Kira-kira mama bakal ledekin nggak ya kalo liat aku pake ini pas ketemu sama Elang?" Aku mengetuk-ngetuk daguku dengan jari telunjuk, bimbang. Antara pake atau tidak.


"Pake ajalah, toh masih banyak. Sayang kalo sampai kadaluwarsa," putusku dengan nekad. Kuoleskan sedikit liptint di bibirku dengan hati-hati.


Setelah itu aku memberanikan diri untuk menemui Elang. Aku begitu gugup hingga tanganku berkeringat dingin. Bahkan jantungku berdebar-debar tidak karuan.


Aku menuruni tangga dan berjalan ke arah ruang tamu. Di sana terlihat seseorang yang sedang duduk membelakangiku. Hingga aku tidak bisa melihat wajahnya.


"Itu Hani udah keluar," ujar mama menatap ke arahku. Dan tak berapa lama kemudian, seseorang itu menengok ke belakang.


"Lama banget sih keluarnya."


"Rangga?!" Pekikku syok karena tidak menyangka kalau ternyata dia yang datang. Lalu buru-buru aku menutup bibirku dengan kedua tangan sebelum dia sadar kalau ada yang beda dari diriku.


"Em... Aku ke toilet dulu sebentar," ujarku panik.


"Nggak perlu dihapus. Ayo!" Tanpa aba-aba Rangga langsung menarik tanganku dan menyeretku keluar rumah.


"Saya permisi dulu Tante," ujar Rangga seraya menyeret tanganku.


"Kita mau kemana?" Tanyaku saat dia membukakan pintu mobil dan mendorong tubuhku agar masuk. Namun, aku menolak masuk sebelum dia mengatakan kepada ku apa yang sebenarnya terjadi.


"Gawat, terjadi sesuatu sama Elang," ujar Rangga dengan ekspresi panik.


"Elang kenapa?" Tanyaku ikut panik melihat dia panik.


"Jangan banyak omong, kita harus cepat ke sana sebelum Elang...." Ucapan Rangga terputus, membuatku semakin panik.


"Sebelum Elang apa?"


"Masuk dan jangan banyak omong. Gue harus fokus nyetir." Aku mengangguk dan menuruti ucapan Rangga untuk duduk diam agar tidak mengganggunya saat menyetir.


Keningku berkerut saat mobil memasuki tempat parkir.


"Ini di mana?" Tanyaku menatap ke arah Rangga yang tengah memarkirkan mobil.


Tanpa menjawab pertanyaan dariku, Rangga keluar dari mobil dan berjalan memutar. Ia membukakan pintu mobil dan menarik tanganku berjalan ke tempat asing itu. Di luar bangunan itu sangat ramai cowok-cowok dengan baju bola yang tengah tertawa terbahak-bahak.


Dan kita berdua masuk ke dalam bangunan yang terdapat sebuah lapangan di dalamnya. Terdapat pula bangku panjang yang berada di luar lapangan.


Aku mematung sesaat menatap ke arah Elang yang tengah menatapku di tengah lapangan dengan wajah melongo. Tatapan mata kami beradu hingga membuatku malu. Tapi bukan hanya Elang yang berada di tengah lapangan. Kak Agam juga ternyata ada di sana bersama teman-temannya sesama kelas IPA. Sekilas ia menatapku dengan tatapan tajam. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.


***


Elang POV


Deg deg deg.


Gue menyentuh dada kiri dengan telapak tangan kanan, merasakan debaran jantung yang menggila. Ini bukan mimpikan?


Hani, gadis itu terlihat sangat cantik dengan dress warna putih selutut dan dipadukan dengan sweater. Rambutnya yang selalu ia kuncir kini ia gerai dengan sebuah jepit rambut yang tersemat di sana. Gue sebenernya nggak rela sama sekali kalo Hani ditatap semua cowok-cowok yang ada di sini. Tapi mau gimana lagi? Hani harus liat pertandingan penting ini.


Tampak wajahnya sangat kebingungan. Ia dituntun Ulfa duduk di bangku yang udah gue siapin buat dia. Tempat paling strategis buat curi-curi pandang.


"Woi!" Suara Rangga yang melengking tinggi di dekat telinga gue membuat gue refleks memukul kepalanya dengan kencang.


"Apa-apaan Lo," ujar gue sambil menggosok telinga kiri gue.


Rangga malah cengengesan. "Cepet banget Lo ganti bajunya?" Tanya gue heran saat memperhatikan perubahan bajunya. Perasaan baru sebentar gue liat Hani masuk sama dia. Dan baru sebentar gue liatin Hani. Padahal gue berharap Rangga ganti bajunya lama. Biar gue bisa lama juga liatin Hani.


"Bajunya udah gue pake dari rumah. Cuma gak keliatan soalnya gue lapisin jaket sama celana panjang."


"Gimana kalo kita mulai sekarang?" Tanya si kunyuk yang tiba-tiba nongol di samping gue.


"Oke," balas Rangga dengan nada menantang.


Gue berlari ke gawang. Sebelum permainan dimulai, gue berdoa dulu supaya gue menang. Gue mengusap wajah dengan kedua telapak tangan setelah doa selesai. Setelah itu gue ke sisi gawang bagian kanan dan memegang besi gawang dengan tangan kanan. Habis itu gue beralih ke sisi gawang bagian kiri. Dan gue memegang besi gawang bagian kiri dengan tangan kiri.


Balik lagi ke bagian tengah gawang, gue menyentuh besi gawang bagian atas dengan kedua tangan. Itulah ritual gue sebelum permainan dimulai. Berharap malaikat bantuin gue jagain gawang. Supaya si kunyuk nggak bisa deketin Hani lagi. Biar dia kena akibat dari taruhannya sendiri.


Semua ritual udah gue lakuin, barulah gue mulai pemanasan setelah itu melompat-lompat lalu menggerakkan tangan seolah-olah ada bola yang datang mendekat.


Prittt!


Si kunyuk dan temennya mulai menggiring bola mendekat. Mereka saling oper bola dengan cekatan. Gue mulai bersiap jika bola itu melesat ke gawang gue. Tapi dengan cepat Rangga merebut bola dan menggiringnya ke gawang lawan.


"Bagus," gumam gue sambil menyeringai.


Sial!


Bolanya ditangkap dengan mudah oleh kiper. Si kunyuk menyeringai senang.


"Tim gue pasti menang," ujar gue dalam hati.


Bola digiring si kunyuk lalu dioper ke temennya yang ada di deket gawang.


Gawat!


Gue fokus liatin bola sampe bola itu ditendang dan melayang ke arah kanan. Gue menangkap bola itu dengan mudah.


Gue menyeringai menatap si kunyuk yang keliatan kesel. Bola gue lempar ke arah Rangga yang sudah bersiap di depan sana. Rangga mengoper bola ke molor lalu si kunyuk merebut bolanya dari molor dengan cepat.


Arya berusaha merebut bola tapi dengan curang si kunyuk berhasil melewati Arya dan menendang bola dengan cepat.


"Gol!! Gol!!" Teriak tim si kunyuk kegirangan.


Sial! Gue salah perhitungan. Si kunyuk menyeringai dengan lebar ke arah gue. Sombong banget Lo!


"Gue nggak boleh emosi, kalo gue sampe kepancing. Gue nggak akan bisa fokus nangkep bola," batin gue sambil mengatur nafas.


Rangga mendekat ke arah gue. "Santai bro, waktu masih panjang. Gue sama yang lain bakal cetak gol. Elo cukup jaga gawang aja." Setelah berkata seperti itu Rangga kembali fokus ke arah depan.


Diem-diem gue ngelirik ke arah Hani. Gadis itu terlihat cemas dan bukannya seneng si kunyuk mencetak gol. Lalu seperti mood booster, gue langsung bisa semangat dan fokus ke permainan. Berarti dia nggak mau gue kalah. Gue harus bisa tampil keren di depan dia.


Permainan kembali dimulai, si kunyuk kayak terobsesi mencetak gol lagi. Tapi Rangga dan yang lain bisa mengambil alih permainan. Dengan kerja sama tim yang kompak Rangga berhasil mencetak gol indah.


Yes!


Gue jingkrak-jingkrak kegirangan dan bertingkah konyol. Lalu gue inget kalo di sini ada Hani. Gerakkan konyol gue langsung berhenti mendadak. Dengan gerakkan pelan gue menoleh ke arah Hani yang ada di bangku lagi ngeliatin gue. Dia lagi terkikik geli sambil nutup mulutnya dengan satu tangan. Melihatnya tertawa cekikikan karena tingkah konyol gue, gue semakin semangat menjaga gawang ini.


Babak pertama kami bermain dengan sengit. Dan babak kedua pun dimulai. Si kunyuk terlihat arogan. Dia ingin menguasai bola sendirian, bahkan temen-temennya yang lain nggak ia kasih bola sama sekali. Sifat aslinya keliatan banget di sini sampai temen-temennya kebingungan.


Si kunyuk datang dan langsung menendang bola dengan emosi. Untung bola itu kena kaki gue jadi nggak masuk gawang. Gue menyugar rambut dengan tangan sambil menyeringai ke arah si kunyuk.


Setelah itu si kunyuk semakin menggebu-gebu memasukan bola ke gawang. Namun, karena dia dikendalikan emosi. Makanya semua tendangannya nggak terarah. Memanfaatkan keegoisan si kunyuk, Rangga dan yang lainnya dengan mudah membobol gawang lawan. Sampai permainan berakhir dengan skor 4 -1, tim gue berhasil menang telak.


"Hebat banget kalian." Gue melakukan tos yang biasa gue lakukan sama temen-temen yang lain.


"Elo juga hebat Lang, gue bangga punya kiper kayak elo." Rangga tersenyum bahagia. Mungkin karena dia berhasil ngalahin si kunyuk.


"Lang, kapan nih?" Tanya Arya sambil natap gue.


"Apa?" Tanya gue dengan wajah bingung.


Rangga menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala. "Katanya mau lakuin sesuatu kalo berhasil menang?" Ujar Rangga dengan nada mengejek.


"Njirr lupa gue!" Pekik gue sambil menepuk jidat. Gara-gara fokus tanding tadi gue sampe lupa hal yang paling penting.


Gue berlari ke sudut yang berbeda. Lalu gue ambil sesuatu yang udah gue siapin dari tadi. Dan gue sembunyikan di belakang badan gue.


Tiba-tiba jantung gue berdetak cepat, tapi bukan karena habis olahraga. Lebih tepatnya karena gadis cantik itu. Gue mulai merapikan rambut gue dengan menyugarnya ke belakang dengan satu tangan.


Gue berjalan pelan sambil mengatur napas. Tatapan gue hanya tertuju ke Hani. Gue udah memantapkan diri untuk nembak dia di sini. Mengukuhkan status gue agar si kunyuk nggak bisa deketin Hani sama sekali.


Gue berdiri di depan Hani yang sedang duduk hingga kepalanya harus mendongak menatap wajah gue. Tanpa permisi gue ambil tangan kanannya. Gue berjalan mundur sambil menarik tangan Hani ke lapangan. Setelah berada tepat di tengah-tengah lapangan gue berhenti.


"Ehemm," dehem gue untuk melegakan tenggorokan sebelum mulai ngomong.


Gue menggaruk tengkuk belakang gue karena gugup. Kata-kata yang udah gue siapin dari rumah hilang entah kemana. Otak gue tiba-tiba kosong.


"Njirr, gue harus ngomong apa?" Batin gue panik. Apalagi semua orang yang ada di sini liatin gue sama Hani.


"Hani, aku mau jujur sama kamu." Gue meneguk saliva gue dengan susah payah.


"Mau ngomong apa?" Cicitnya sambil celingukan kesana-kemari dengan wajah merah padam. Mungkin dia malu diliatin banyak orang.


"Dari dulu aku nggak pernah ngerasain kayak gini," ujar gue sambil berjalan mendekat, memangkas jarak.


Gue meletakkan tangan Hani di dada kiri gue. Supaya dia tahu gimana kencangnya detak jantung gue saat ini.


Gadis itu natap gue dengan kening berkerut.


"Hani, aku baru sadar satu hal. Ternyata kamulah satu-satunya penyebab detak jantungku menggila seperti ini." Gue menghembuskan nafas untuk mengurangi kepanikan yang tiba-tiba menyerang.


"Mau nggak kamu jadi pacarku?" Gue mengeluarkan buket bunga yang gue pegang di balik badan.


"Kalo kamu mau, ambil bunga ini lalu kamu peluk. Tapi kalo kamu tolak, ambil bunga ini lalu kamu lempar," ujar gue sambil berlutut di depannya.


Gue menanti jawaban darinya dengan harap-harap cemas.


"Terima! Terima! Terima!" Teriak semua orang di sana kecuali si kunyuk. Bahkan dari semua orang yang ada di sini, hanya Rangga yang paling semangat berteriak.


Hani memegang buket bunga di tangan gue dengan ragu. Lalu tak berapa lama bunga itu berpindah tangan ke tangannya. Tapi, hal yang nggak gue sangka terjadi. Buket bunga itu dilempar sangat jauh olehnya.


Melihat bunga itu hancur, gue terpaku. Rasanya bunga itu kayak hati gue yang hancur berantakan.


"Gue ditolak," batin gue sambil menunduk lesu.


Tapi tiba-tiba ada yang meluk gue erat. Gue terkejut. Saat gue lihat ternyata Hani yang meluk gue erat-erat.


"Aku udah cerita belom, kalo aku alergi bunga?" Bisiknya di samping telinga gue. Dengan cepat gue menggeleng.


"Aku mau jadi pacar kamu," jawabnya kemudian.


***


Maaf kalo ada kesalahan dalam permainan futsal yang aku ceritakan di atas. Soalnya aku nggak begitu tahu permainan itu.


Maaf kalo bahasanya tidak baku. Itu memang disengaja supaya membedakan karakter Hani dan Elang.


Terima kasih sudah membaca, komen dan like.