Shy Girl

Shy Girl
45. Agam



Karena sepedaku masih rusak, dan papa belum ada waktu untuk memperbaikinya. Maka dengan terpaksa pagi ini aku harus berangkat sekolah naik angkot. Kebetulan papa tidak bisa juga mengantarkan aku ke sekolah. Alhasil aku harus duduk di halte sembari menunggu angkot. Sekitar lima menit aku duduk dengan gelisah. Pasalnya, kalau menunggu seperti ini membuatku tidak tenang. Lebih tenang kalau naik sepeda.


Seandainya sepedaku tidak rusak. Sudah dipastikan kalau saat ini aku sudah duduk manis di dalam kelas. Dengan menggunakan sepeda, aku bisa menentukan kapan aku harus mengayuh pedal dengan cepat agar cepat sampai. Tapi kalau menunggu angkot seperti ini sangat membosankan.


Apalagi kalau angkot justru berhenti lama agar mengangkut banyak penumpang. Bahkan sampai berhimpitan saking penuhnya orang yang dipaksa masuk. Tentu saja agar pendapatannya bertambah banyak dalam sekali jalan.


"Lama banget sih?!" Mataku tak lepas dari jalan di mana angkot yang aku tunggu datang.


"Nah! Itu dia!" Pekikku dalam hati.


Angkot pun berhenti di depanku. Aku duduk di tempat yang kosong.


"Hani," panggil seseorang. Aku mengedarkan pandanganku mencari sumber suara.


"Kak Agam," ujarku terkejut melihat mantan ketua OSIS yang populer dan digilai banyak gadis justru duduk di dalam angkot. Bukannya menaiki sepeda motor seperti yang lainnya.


Dia tersenyum. "Kok kamu naik angkot? Biasanya juga naik sepeda. Sepeda kamu rusak?"


"Iya kak, sepedanya lagi pengen liburan kayaknya," sahutku sedikit bercanda.


Dia terkekeh geli. Sampai membuat gadis-gadis yang ada di dalam angkot itu terpesona. Aku rasa gadis-gadis ini naik angkot bukan karena ia tidak mempunyai mobil atau kendaraan. Melainkan ingin lebih dekat dengan kak Agam. Dilihat dari penampilannya saja sudah terlihat kalau sebagian besar gadis itu anak orang kaya.


Jangan tanyakan bagaimana aku bisa tahu. Dari auranya saja sudah sangat mencolok.


"Kamu lucu juga," ujarnya membuatku terkejut. Terlihat tatapan sinis dilayangkan gadis-gadis itu ke arahku.


Glek


Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Rasanya aku ingin cepat-cepat sampai. Entah kenapa udara di angkot ini begitu menyesakkan. Apa karena aku berbagi oksigen dengan orang-orang yang tidak suka denganku.


Sebenarnya aku tidak berniat mendekati kak Agam. Hanya saja kita jadi sering bertemu akhir-akhir ini. Sungguh! Aku tidak mencoba mendekatinya dengan sengaja menunggu angkot yang ia naiki demi bisa bersamanya.


"Ayo cepetan sampai," ujarku lirih.


Saat angkot berhenti di halte dekat sekolah. Barulah aku bisa bernafas lega. Setelah membayar, aku langsung berjalan begitu saja meninggalkan kak Agam. Yang memanggil-manggil namaku. Tapi aku pura-pura tidak mendengarnya.


"Ayo cepat Hani! Jangan nengok ke belakang. Fans kak Agam keliatan beringas," ujarku dalam hati seraya berjalan cepat. Tidak bisa dibayangkan bagaimana beringasnya gadis-gadis cantik itu. Dari tatapannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.


Saat memasuki kelas aku dikejutkan dengan keadaan kelas yang ramai. Aku mengecek jam tanganku berulangkali. Sepertinya jam tangan ku tidak rusak. Tapi kenapa mereka sudah datang pagi-pagi. Biasanya juga nunggu sampai siang, baru mereka berangkat secara bersamaan.


Heran juga sama teman-teman ku itu. Berangkat mepet kok barengan. Mungkin pikiran mereka nyambung satu sama lain. Jadi, tidak perlu kompakan berangkat siang. Mereka sudah kompak dengan sendirinya.


"Halo ketua!!" Pekik Rangga seraya menghampiriku.


Pagi-pagi wajahnya sudah terlihat menyebalkan. Ah iya! Gara-gara dia, Ulfa tidak mau lagi masuk ke kelasku. Katanya ia ilfil sama Rangga yang sok keren dan sok ganteng. Kata Ulfa setiap hari ia selalu digombalin cowok menyebalkan itu. Hingga membuatnya pusing. Makanya dengan sekuat tenaga Ulfa menghindar darinya.


"Ulfa kok nggak pernah main ke sini lagi sih? Coba elo yang manggil. Mungkin dia mau ke sini," ujarnya seraya duduk di kursi Avi tanpa permisi.


"Nggak mau ah. Kamu aja sendiri yang minta. Lagian kamu udah aku kasih nomor teleponnya." Aku jelas menolak mentah-mentah permintaannya.


"Kayaknya Ulfa malu ketemu sama gue. Makanya dia nggak main ke sini lagi," ujarnya sok tahu.


"Kalo gitu gue aja deh yang main ke sana. Mumpung masih ada waktu." Rangga melangkah dengan percaya diri keluar kelas. Aku sampai melongo melihatnya terlalu kepedean.


Dia pikir Ulfa kegirangan kalau didatengin. Padahal aku yakin sekali kalau Ulfa bakalan kabur ke sini sebentar lagi.


Satu...


Dua...


"HANI!!!" Teriak Ulfa dengan suara melengking. Ia langsung duduk di kursi Avi tanpa permisi.


Tuh kan! Apa aku bilang.


"Han, tolongin aku," Rengeknya sambil menggoyang-goyang lenganku cukup kencang.


"Iya tapi berhenti dulu. Aku pusing...."


Aku mengembuskan nafas lega. Akhirnya ia berhenti juga menggoyang-goyang lenganku.


"Han, itu serangga nyebelin datengin aku," adunya dengan bibir cemberut.


"Serangga? Serangga apa?" Tanyaku keheranan.


"Ish...! Serangga yang itu... Cowok tengil yang gangguin aku terus dari malem sampe malem lagi."


"Si Rangga ganteng ini maksudnya." Tiba-tiba Rangga berdiri di depan meja seraya tersenyum menyebalkan sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ish!! Nyebelin kan Han," Ujar Ulfa seraya melengos tidak mau menatap Rangga.


"Han!!!" Teriak Avi di ambang pintu.


"Ada apa Vi?" Tanyaku seraya menatap dirinya. Dengan mengalihkan atensi ku dari kedua pasangan ini.


"Ini ada yang nyariin."


"Siapa?" Baru saja aku selesai berbicara. Tiba-tiba kepala kak Agam muncul dibalik pintu seraya tersenyum manis.


"Hai." Dia melambaikan tangannya. Saat aku menatap Ulfa di sampingku. Dia tampak syok berat. Matanya melotot sangat lebar menatap kak Agam. Tapi dengan jahilnya Rangga justru menutup pandangan Ulfa dengan tubuhnya yang besar.


"Ish... Minggir."


Plak


Ulfa memukul Rangga agar tidak menghalangi pandangannya. Aku terkekeh geli melihat keduanya bertengkar lagi.


"Ada apa kak?" Tanyaku dengan alis berkerut.


"Ini, novel kamu ketinggalan di angkot." Ia memperlihatkan novel di tangan kanannya.


"Ah iya!" Pekikku baru sadar kalau novel yang aku pegang tertinggal di angkot. Masalahnya tadi aku buru-buru keluar angkot menghindari tatapan sinis fans berat kak Agam sampai melupakan novel yang aku pegang.


"Makasih kak," ujarku seraya menerima novel yang dia serahkan kepadaku.


"Lain kali jangan sampai ketinggalan ya," ujarnya seraya tersenyum manis. Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Iya kak. Kalo nggak ada kakak, novel ini pasti udah ilang. Padahal novel ini baru aku beli. Sekali lagi makasih ya kak." Aku benar-benar berterima kasih karena ia yang menemukannya. Kalau orang lain mungkin sudah dibawa pulang. Apalagi novel ini baru aku beli hari Minggu kemarin.


"Kamu suka baca novel?" Aku pun mengangguk.


"Kapan-kapan kita ke toko buku sama-sama ya."


"I-iya," sahutku ragu. Lalu Elang berjalan keluar kelas dengan tatapan tajam tertuju ke arah kak Agam.


Elang kenapa ya?