
Di dalam kamar, aku berguling kesana-kemari di atas ranjang seraya memikirkan perkataan Rangga yang menyuruhku untuk memancarkan inner beauty yang aku miliki agar Elang sadar dengan kehadiranku. Yang kata Rangga aku itu unik.
"Apa ya tadi kata Rangga biar inner beautyku keluar?" Aku menggaruk kepalaku seraya mengingat-ingat ucapan Rangga tadi sore.
"Oh... Iya, pertama senyum, yang kedua... percaya diri, yang ketiga memiliki passion, keempat berbuat baik dan yang terakhir optimis," ujarku seraya mengacungkan kelima jariku.
"Kalo ngomong emang gampang. Tapi susah dipraktiknya." Aku bangkit dan mengacak-acak rambutku.
"Kenapa sih cowok itu malah bikin aku repot. Padahal kan aku lagi patah hati," rengekku kesal.
"Tapi kalo cara itu bisa bikin aku nggak sedih lagi. Nggak pa-pa kali ya di coba? Lagian selama ini aku selalu berada di zona nyaman." Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri untuk keluar zona aman dan nyaman.
Dan menuruti perkataan Rangga. Untuk fokus ke dalam diriku dengan memancarkan inner beauty yang ku punya. Bukan hanya fokus ke arah Elang terus.
"Besok harus dicoba kayaknya," ujarku sebelum menghempaskan tubuhku kembali ke ranjang. Dan menutup mata untuk menyambut hari esok yang sangat mendebarkan.
***
Seperti kata Rangga kemarin, aku menyapa Ulfa dengan senyuman selebar mungkin hingga menampakkan deretan gigiku.
"Hai! Ulfa!" Sapaku tak lupa dengan lambaian tangan. Yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.
"Kamu sakit Han?" Ulfa lantas memegang keningku dengan penuh kekhawatiran yang tampak dari matanya.
Akupun menggeleng-gelengkan kepalaku. "Nggak," balasku.
Tiba-tiba Ulfa duduk di sampingku dengan kening berkerut dalam menatap ke arahku.
"Kamu, bukan Hani kan?" Tanyanya dengan nada rendah, lalu matanya memicing tajam.
"Kamu ngomong apa sih Fa? Nggak lucu tau nggak," ujarku seraya tersenyum. Kulihat dia semakin menatap horor ke arahku.
"Fix, kamu bukan Hani," ujarnya tiba-tiba.
"Siapa kamu? Kenapa masuk ke tubuh temen aku? Emang nggak ada yang lain lagi buat dimasukin apa?" Mendengar perkataannya yang aneh itu, aku memutar bola mataku jengah.
Ini pasti karena Ulfa terlalu suka hal-hal berbau mistis. Jadi dia berpikir kalau aku kemasukkan sesuatu yang tidak tampak gara-gara perubahan sikapku yang tiba-tiba.
Plak!!
Aku memukul pelan lengannya.
"Aku Hani," sahutku kemudian.
"Jangan bohong kamu? Aku itu temen Hani dari dulu. Jadi kamu nggak bisa bohongi aku gitu aja. Yang pertama Hani itu nggak bakal nyapa duluan, kerena dia itu pemalu. Yang kedua, dia nggak seheboh itu pas nyapa orang. Yang ketiga, dia nggak pernah mukul aku dari dulu, karena dia takut aku nggak mau jadi temennya lagi," ujarnya panjang lebar.
"Tapi Aku juga mau berubah," balasku.
"Aku mau tidak kaku lagi waktu ngobrol sama orang. Aku mau kita lebih akrab lagi. Intinya aku mau berubah lebih percaya diri," ujarku seraya menatapnya serius.
"Kamu mau berubah beneran?" Aku pun mengangguk sebagai jawaban. Lalu tak berapa lama ia tersenyum lebar.
"Bagus!" Pekiknya senang.
"Kok bisa tiba-tiba mau berubah? Padahal kan aku sering bilang sama kamu supaya kamu lebih percaya diri. Tapi kamu malah bilang 'aku malu Fa, aku nggak bisa Fa, dan bla...bla...bla...' kamu selalu beralasan waktu aku suruh berubah. Padahal kan semuanya demi kebaikanmu sendiri."
"Eh...! Tapi apa yang membuat kamu termotivasi buat berubah?" Tampaknya ia sangat penasaran.
"Eum...." Aku bingung mau mengatakannya atau merahasiakannya saja.
"Aku janji nggak bakal kasih tahu siapapun," ujarnya seraya mengangkat tangannya ke atas. Mungkin dia tahu keragu-raguan diriku.
Aku menarik nafas dan mengembuskannya perlahan.
"Beneran janji ya," ujarku akhirnya. Lalu dia tersenyum cerah.
"Janji," ujarnya seraya mengangkat jari kelingkingnya. Aku sambut jari kelingkingnya dengan jari kelingking ku. Kami mengaitkan keduanya sebagai tanda janji yang tidak boleh dilanggar.
"Nah! Aku udah janji, sekarang kamu cepetan cerita." Ulfa sangat antusias.
"Sebenarnya... Aku...." Dia tampak berdecak kesal seraya memutar bola matanya menunggu perkataanku yang lama.
"Suka sama Elang," ujarku setelah memastikan kalau tidak ada satu orangpun yang mendengar perkataan ku barusan kecuali aku dan Ulfa.
"Oh...." Dia tampak mengangguk paham.
"APA?!" teriaknya kencang seraya menatap wajahku serius. Sepertinya ia baru menyadari ucapanku.
"Ssstt... Diem! Jangan teriak-teriak" Ujarku seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia mengangguk baru setelah itu aku melepaskan tanganku dari mulutnya.
"Kamu becanda kan?"
"Sayangnya enggak," sahutku. Kurasa wajahku memanas saking malunya.
"Kamu kok suka sama Elang sih, Han? Dia kan berandalan. Nggak cocok sama kamu. Mau aku kenalin sama temen sekelasku... ada Naufal, ada Hilman, ada Gilang. Mereka cowok baik-baik nggak berandalan kayak Elang..."
"Stop!" Pekikku. Lalu Ulfa terdiam menatap heran ke arahku.
"Kita bahas nanti aja pulang sekolah. Aku nggak mau ada yang denger," ujarku kemudian. Lagian sebentar lagi mereka masuk kelas. Jadi gawat kalau ada yang tahu.
"Yah...." Bahu Ulfa merosot kecewa. Aku tahu kalau dia penasaran. Tapi mau bagaimana lagi. Di tempat ini tidak aman. Banyak telinga yang bisa saja mencuri dengar. Aku tidak mau hal itu terjadi.
***
Seperti janjiku pada Ulfa tadi di sekolah. Kini gadis itu sudah duduk di atas ranjang ku menatapku dengan serius.
"Jadi... Kenapa kamu suka sama Elang?" Ujarnya begitu aku masuk seraya membawa minuman dan cemilan dari dapur.
"Nggak tahu," balasku seraya meletakkan nampan dan cemilan di atas meja belajar.
"Masa nggak tahu, kalo gitu ganti pertanyaan. Apa kelebihan Elang?"
"Dia... Itu ganteng, senyumnya manis, keren pas jadi penjaga gawang, baik karena beberapa kali bantuin aku. Terus bisa main gitar, suaranya merdu, eum... Apa lagi ya?" Aku mengetuk-ngetukkan jariku di dagu seraya mengingat lagi apa kelebihan Elang dibandingkan dengan cowok lain.
"Suka bikin jantung aku deg-degan," ujarku setelah sekian lama berpikir.
"Tapi kamu juga harus inget, kalo Elang udah punya pacar namanya Vera. Cewek populer di sekolah. Mending elo lupain Elang secepatnya. Dia nggak sesuai buat kamu. Jangan lupa kalau dia juga sering keluar masuk BK." Semua ucapan Ulfa benar, Elang sekarang sudah punya pacar.
"Tapi aku sukanya sama Elang. Gimana dong?" Rengekku seraya duduk di ranjang.
"Tenang... Kalo masalah ganteng, Naufal juga nggak kalah ganteng dari Elang. Kalo masalah punya senyum manis, Hilman nggak kalah manis. Kalo keren, mereka bertiga sama-sama keren. Kalo baik, mereka bertiga juga baik. Kalo bisa main gitar sama nyanyi, Gilang jagonya." Ulfa mempromosikan keunggulan ketiga temannya selayaknya seorang sales yang menawarkan barang dagangannya.
"Terus yang bisa bikin jantung aku deg-degan siapa?" Tanyaku menantang. Ulfa langsung tampak pucat.
"He...he...he... Nggak tahu. Makanya ketemu aja dulu. Baru bisa tahu deg-degan apa nggak." Ulfa menjawab sambil cengengesan.