
Hani POV
Ketika semua teman-teman ku pergi ke kantin. Aku justru pergi ke ruang guru seorang diri untuk menemui Bu Asih. Sebagai ketua kelas aku harus selalu bersedia saat dipanggil guru ke ruang guru seperti sekarang ini.
"Permisi Bu," ujarku saat berada di depan Bu Asih.
"Oh! Hani, sebentar ya. Ibu cari dulu bukunya." Kepalanya mendongak saat mendengar suaraku. Lalu setelah itu bu Asih tampak sibuk mencari buku yang dimaksud.
"Jadi begini Hani, nanti siang ibu nggak bisa ngajar. Makanya ibu mau kalian catat materi dari halaman 25 sampai halaman 27. Ibu harap nanti kelas kalian jangan ribut. Pokoknya kamu kasih tahu temen-temenmu. Jangan ada yang ke kantin atau membuat keributan. Bila perlu kamu catet nama temenmu yang melanggar. Nanti kamu kasih ke ibu. Kamu mengerti?"
"Mengerti Bu," sahutku seraya mengangguk.
"Bagus, udah sana ke kantin. Maaf ibu ganggu kamu istirahat."
"Nggak pa-pa Bu, kalau begitu saya permisi dulu," ujarku seraya mengambil buku itu. Tampak Bu Asih mengangguk.
Saat berjalan keluar, tanpa sengaja aku bertatap muka dengan kak Agam. Sepertinya dia baru saja dipanggil guru sama sepertiku. Aku sedikit mengulas senyum ke arahnya sebelum keluar ruangan.
"Hani!" Panggil seseorang dari arah belakang. Secara refleks aku menengok mencari tahu siapa yang yang tengah memanggilku itu. Lalu ku lihat kak Agam berlari menghampiriku dan berhenti tepat di depanku dengan nafas terengah-engah.
"Hai," sapanya seraya mengulas senyum manis.
"Ada apa kak?" Tanyaku heran, untuk apa kak Agam memanggilku.
"Aku cuma mau ngobrol aja sama kamu," sahutnya dengan pembawaan yang tenang. Akhirnya kami berdua berjalan berdampingan.
"Aku denger kamu ketua kelas ya?" Tanyanya tiba-tiba setelah hening sebentar.
"Iya," sahutku seraya mengangguk.
"Kebetulan aku juga ketua kelas." Aku mengangkat sebelah alisku, untuk apa dia mengatakan hal itu kepadaku.
"Pasti berat ya jadi ketua kelas di kelasmu?"
"Nggak begitu berat kok, cuman memang harus lebih cerewet. Soalnya kalo dikasih tahu cuma sekali, mereka nggak bakalan ngerti." Entah kenapa semua gadis-gadis yang baru saja kami lewati menatap ku begitu lekat. Karena penasaran, makanya aku menatap ke seluruh badanku siapa tahu ada hal aneh yang tidak aku ketahui.
"Kamu kenapa?" Tanya Agam bingung melihatku bertingkah aneh.
"Kak ada yang aneh nggak di badanku?" Tanyaku akhirnya setelah aku tak dapat menemukan apa pun. Dia tampak mengamati sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada yang aneh," sahutnya kemudian.
"Memangnya kenapa?" Tanyanya.
"Aku rasa semua orang lagi memperhatikan ku. Khususnya yang cewek. Tapi aku nggak tahu kenapa?" Bisikku pelan. Aku tidak tahu kenapa mereka semua menatapku begitu.
Tampak kak Agam sedikit mengulas senyumnya seraya menatap ku.
Aduh... Bagaimana ini?
Entah kenapa jarak menuju ke kelasku begitu singkat. Padahal aku berharap saat kami sampai di depan kelas bel berbunyi. Agar aku tidak perlu ke kantin dengannya. Karena aku tidak bisa menolak, makanya aku berjalan dengannya ke kantin setelah meletakkan buku itu di atas meja.
Sekarang yang memandangiku bukan hanya cewek-cewek. Tapi juga cowok-cowok di kantin paling pojok. Termasuk Elang yang juga ikut menatap ke arahku. Tapi entah kenapa aku merasa Elang menatapku dengan tatapan tak suka. Setelah itu aku berusaha mengalihkan pandanganku ke arah lain.
Ketika aku dan kak Agam melintas cowok-cowok yang ada di kantin pojok itu berubah menjadi gaduh. Banyak siulan-siulan yang membuatku tidak nyaman.
"Kamu mau makan apa? Biar aku yang pesenin."
"Samain aja sama kakak," sahutku kemudian.
Tak lama kemudian kak Agam datang sambil membawa dua mangkuk bakso. Lalu ia pergi lagi untuk mengambil es teh manis. Aku lihat Ulfa di sudut sebelah sana tengah melongo lebar melihatku dengan kak Agam. Cowok idamannya dari kelas sepuluh. Saking lebar mulutnya aku bisa dengan mudah memasukkan bakso besar kedalamnya dalam sekali hap.
"Makasih kak," ujarku sedikit canggung.
"Iya, sama-sama. Ngomong-ngomong aku pernah lihat kamu ke kantin sebelah sambil ngasih pertanyaan ke temen cowok sekelasmu. Emangnya ada apa? Jujur aku penasaran banget."
"Sebenarnya waktu itu Bu Endang sering remehin kelasku. Beliau selalu membandingkan kelasku dengan kelas lain. Di mana kelasku yang selalu jadi yang tidak baiknya. Kami semua selalu dipandang dengan tatapan negatif. Maka dari itu, aku ingin merubah cara pandang Bu Endang. Agar kedepannya beliau tidak lagi meremehkan kami. Dan salah satu cara supaya Bu Endang nggak remehin lagi dengan mendapatkan nilai yang memuaskan saat ulangan. Makanya aku memaksa mereka buat belajar setiap hari dengan memberi mereka pertanyaan secara terus-menerus. Sampai mereka semua hafal jawabannya karena terlalu sering dipaksa menjawab."
Kak Agam tampak menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Mataku tak sengaja menatap ke arah Ulfa. Dia tampak menggerak-gerakkan mulutnya. Sepertinya aku harus menceritakan padanya apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan kak Agam. Sepertinya juga dia mulai penasaran terlihat dari matanya yang memicing tajam menatap ke arahku. Seolah-olah dari tatapannya, ia mengatakan, "aku tunggu jawabanmu."
"Aku salut banget sama kamu."
"Hah! Apa?!" Aku mendongak menatap wajahnya. Karena terlalu fokus memikirkan bagaimana caranya menjelaskan agar Ulfa tidak marah. Aku jadi lupa kalau ada kak Agam di depanku.
"Aku salut banget sama kamu. Kamu seorang pemimpin yang sangat kompeten. Kenapa nggak jadi ketua OSIS aja?"
"Nggak minat kak, lagian jadi ketua kelas aja aku ditunjuk. Bukan kemauanku sendiri." Aku kembali menyuap bakso kedalam mulutku dan menikmatinya.
"Ditunjuk aja bisa bertanggung jawab banget ya," ujar kak Agam seraya terkekeh. Tiba-tiba tangannya meraih tisu di sampingnya lalu terulur ke arah wajahku. Dia mengelap sudut bibirku dengan hati-hati.
Tak kuduga dia akan melakukan hal ini. Aku diam mematung karena syok berat. Tapi di saat dia tengah mengelap sudut bibirku. Tiba-tiba punggungku terasa sangat panas. Seolah-olah ada seseorang yang sedang menembakkan laser panas ke arah punggungku.
Setelah kak Agam selesai dengan apa yang dilakukannya barusan. Secara perlahan-lahan aku menengokkan kepalaku ke arah belakang.
Deg.
Sejak kapan Elang duduk di belakang ku dengan tatapan tajam setajam silet tepat ke arahku?
Wajahnya tampak sangat merah dengan urat leher menonjol seperti tengah menahan amarah. Lalu dia pergi begitu saja meninggalkan mejanya.
Glek!
Pacaran aja nggak pernah, tapi kenapa aku kayak pacar yang ketahuan selingkuh.