
Brak!!
Aku menatap ke arah sumber suara. Di sana ada Vera yang menatapku dengan tatapan menyeramkan. Jantungku berdetak kencang karena kehadiran Elang yang tiba-tiba di belakangku dengan jarak yang amat sangat dekat. Lalu jantungku berdetak lebih cepat lagi dengan kedatangan pacarnya.
Tamatlah riwayatku.
Buru-buru tanganku mendorong dada Elang agar menjauh dariku. Dia terdorong ke belakang dengan wajah terkejut.
"Kalian berdua lagi ngapain?!" Teriak Vera dengan suara melengking. Buru-buru dia berjalan mendekat dan menarik Elang menjauh dariku. Walau sebenarnya jarak Elang dan aku memang sudah jauh karena aku sudah mendorongnya tadi.
"Heh! Elo jangan berani deketin Elang. Karena Elang itu pacar gue!" Tangannya mengapit lengan Elang begitu kencang.
"Vera, aku sama Hani nggak ngelakuin apa-apa. Aku cuma bantuin dia nutup jendela doang," ujar Elang mencoba menjelaskan.
"Oh! Jadi nama cewek ini Hani," ujarnya dengan nada sinis seraya menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai.
"Elo musti sadar diri, kalo nggak punya pacar sana cari cowok yang masih single. Bukannya berusaha ngerayu pacar gue. Dasar cewek keganjenan," ujarnya dengan tatapan meremehkan.
"Vera!!" Bentak Elang dengan suara lantang.
"Apa?! Kamu mau belain dia gitu." Tampak Elang mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
"Aku nggak belain dia. Tapi kita berdua nggak melakukan seperti yang kamu pikirkan." Elang buru-buru menarik lengan Vera dan membawanya keluar kelas.
"Awas Lo!" Ancam Vera saat berada di ambang pintu.
Jujur saja aku merasa sakit. Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Justru Elang sendiri yang datang tanpa aku minta dan membantuku menutup jendela. Tapi kenapa malah aku yang dituduh macam-macam.
***
Hari Minggu ini aku pergi ke toko buku seperti biasa untuk mencari novel yang menarik. Tapi secara tidak sengaja aku melihat Vera tengah bergandengan tangan dengan cowok lain.
"Apa dia selingkuhan Vera yang pernah Rangga katakan waktu itu?" Batinku. Lalu tanpa sadar kaki ini sudah melangkah mengikuti mereka berdua memasuki toko boneka.
Aish... Kenapa aku kepo begini? Bukankah ini bukan urusanku. Bisa jadi cowok itu kakak atau sepupunya. Kenapa aku kemakan ucapan Rangga waktu itu. Walau begitu aku tetap tak beranjak pergi.
"Yang, beliin boneka beruang yang itu ya," suara Vera mengalun dengan lancar. Seraya tangannya menunjuk boneka yang ada di rak. Aku bersembunyi di belakangnya dibalik boneka-boneka.
"Iya, jangankan satu. Semuanya juga boleh." Cowok itu kelihatan bukan cowok biasa. Terlihat dari pakaiannya yang bermerek. Apa lagi wajah cowok itu tampak lebih dewasa dari Vera. Mungkin seorang mahasiswa.
Tampak Vera tersenyum senang. Lalu tangan cowok itu menepuk kepala Vera sayang.
"Yang, besok aku jemput kamu ke sekolah ya. Masa selama kita pacaran kamu selalu ngelarang aku jemput sih," ujarnya selagi menunggu bonekanya dibungkus.
"Jangan!" Pekik Vera tampak panik.
"Kenapa?"
"Eum... Maksudnya jangan besok. Lain kali aja," jawab Vera tampak berpikir keras.
"Abis ini kita pergi ke toko baju ya, soalnya ada baju inceranku. Takut kehabisan." Tampak dengan jelas kalau Vera tengah mengalihkan topik pembicaraan.
Lalu setelah bonekanya sudah ada ditangan, mereka langsung pergi.
"Maaf dek, mau boneka yang mana?" Tanya seorang perempuan. Mungkin karyawan di toko ini.
"Maaf mbak saya nggak jadi beli, soalnya uang saya nggak cukup." Setelah mengatakan hal itu aku buru-buru kabur keluar dari toko boneka itu. Kembali ke toko buku untuk mencari novel seperti tujuan awalku.
***
Setelah membeli novel yang aku mau, sekarang ini aku tengah duduk di sebuah kafe bersama Ulfa. Gadis itu menyusul ku ke toko buku. Katanya dia mau curhat sesuatu. Makanya aku dan dia duduk di sini. Tempat yang jarang aku datangi tidak seperti kebanyakan teman-temanku.
"Han, aku kesel banget sama cowok yang ngechat aku waktu itu. Ternyata namanya Rangga temen sekelas kamu. Dia terus gangguin aku, nggak siang nggak malam. Aku pengen blokir kontaknya. Tapi dia ngancem aku, gini katanya 'kamu kenal Hani kan?' ya aku jawab aja iya. Terus dia bilang gini 'bilangin ke dia suruh hati-hati.' gitu katanya. Itu berarti dia lagi ngancem aku biar nggak blokir kontaknya dengan gunain kamu. Karena aku takut kamu diapa-apain, makanya kontaknya nggak jadi aku blokir," ujarnya panjang lebar dengan semangat 45.
"Rangga nggak gitu kok orangnya," sahutku karena selama ini cowok itu tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Dia hanya melakukan kenakalan remaja yang wajar dilakukan siswa cowok.
"Kamu itu jadi cewek jangan terlalu polos deh. Nggak semua orang itu baik. Walaupun dari luar dia keliatan baik. Tapi di dalamnya belum tentu baik." Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku saja mendengar petuah darinya.
"Kalian lagi ngomongin gue ya?" Tiba-tiba cowok yang menjadi topik utama hari ini muncul seperti jin Tomang. Dia mengambil duduk di samping Ulfa dengan senyuman jail.
Sroooot!!
Glek! Ah!
"Segernya," ujar Rangga setelah menghabiskan minuman Ulfa dengan seenak jidatnya sendiri.
Tampak wajah Ulfa memerah dengan rahang mengeras, gigi bergeletuk menatap gelasnya yang kosong setelah dihabiskan si biang kerok.
"Rangga!!! Itu gelas minumanku!!! Kenapa kamu minum?!!" Teriaknya menggelegar hingga memancing perhatian orang-orang.
Plak!
Plak!
Ulfa memukul lengan Rangga membabi buta.
"Ganti nggak!!"
"Aku nggak rela!!"
"Cepetan beliin yang baru!!"
"AW! AW! Iya yang, aku beliin yang baru." Rangga berusaha melindungi lengannya dari pukulan Ulfa.
"Nggak usah pake yang-yangan!!" Ulfa begitu murka dengan kelakuan Rangga.
Kalau begini aku terlihat seperti obat nyamuk diantara Ulfa dan Rangga. Aku menghela nafas lelah seraya mengamati pertengkaran kedua orang itu. Lalu tak sengaja mataku melihat Vera dan cowok tadi masuk ke dalam kafe. Mereka tampak bergandengan tangan dengan mesra.
"Kalian bisa diem nggak!!" Ujarku cukup kencang. Hingga membuat Ulfa terkejut hingga melongo.
"Kalian lihat nggak siapa pasangan yang duduk di arah jam sepuluh," ujarku kemudian. Lalu dengan cepat Ulfa menengok ke arah yang aku maksud. Tapi Rangga justru kebingungan dengan menengok ke kiri dan ke kanan.
"Arah jam sepuluh tuh ke sana." Tunjuk Ulfa.
"Oh..." Rangga tampak menganguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Makanya kalo sekolah jangan tidur. Gitu aja nggak tahu," ujar Ulfa ketus.
"He...he...he... Maaf yang," sahut Rangga sambil cengengesan. Ulfa hendak membalas tapi aku sudah lebih dulu meletakkan jari telunjukku di bibir agar Ulfa diam.
"Hah! Bukannya dia Vera? Tapi siapa cowok itu?" Ulfa tampak terkejut.
"Itu selingkuhan Vera yang pernah gue kasih tau ke Hani."
"Vera selingkuh?" Ulfa masih melongo melihat fakta baru.
"Nama cowok itu Tyo mahasiswa di universitas Brawijaya. Anak yang punya tambang batu bara."
"Wah tajir dong!" Ulfa tampak sumringah. Rangga tampak mengangguk.
"Kok kamu tahu dia?" Aku heran kenapa Rangga bisa tahu cowok itu.
"Karena dia temen Abang gue."
"Tapi... Bukannya Vera cinta banget sama Elang, terus kenapa dia selingkuh?" Tanya Ulfa dengan alis bertaut. Itu juga yang menjadi pertanyaanku sedari tadi.
"Vera emang suka banget sama Elang, tapi Vera juga suka duit tuh cowok," jawab Rangga seraya mengedikkan dagunya ke arah cowok itu.