Shy Girl

Shy Girl
4. Kelas Neraka



Aku berjalan dengan lesu menuju kelas 11 IPS 4. Kelas yang letaknya paling pojok dekat dengan kantin. Aku berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa pada diriku dalam setahun kedepan di kelas itu. Ketiga cewek itu menyeramkan.


Aku masuk ke dalam kelas yang masih sangat sepi. Padahal jika dibandingkan dengan kelas lain. Kelas ini yang paling sepi. Hanya ada beberapa siswi yang sedang berkumpul di pojok belakang kelas sambil berdandan.


Aku melihat-lihat meja di bagian belakang, tidak ada tas. Berarti meja ini aman untuk aku tempati. Senyumku menyungging sedikit. Aku tidak suka duduk di bagian depan. Sudah ku bilang, aku ini tidak pintar. Dan aku tidak mau terlalu terlihat.


Makanya aku memilih meja dibagian belakang saja. Terlihat aman dari tatapan guru.


Aku meletakkan tasku di sana dan duduk diam. Bingung. Aku menengok ke arah gerombolan siswi yang ada di belakang. Mereka tampak asik denganĀ  kegiatannya memoles wajah dengan bedak.


Ini salah satu yang aku takutkan. Berkenalan dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Kenapa aku tidak satu kelas saja dengan Ulfa. Aku menunduk lesu melihat kaitan kedua tanganku di atas pangkuan. Aku bingung sendiri. Bagaimana caraku memulai pembicaraan.


Hai, namaku Hani.


Akh!


"Kenapa susah sekali," erangku dalam hati.


Bagaimana ini? Aku mengacak sedikit kepalaku kesal. Aku tidak jago mengajak orang berkenalan.


"Hai!" Sapa seseorang dengan menepuk bahuku pelan.


Aku mendongak dan menemukan wajahnya sudah ada di depanku. Seorang gadis cantik tersenyum ramah.


"Hai," sahutku sambil tersenyum kikuk.


"Kamu Hani, kan?" Tanyanya dengan semangat.


"Iya," jawabku singkat.


"Aku Avi, kita pernah satu kelas yang sama waktu kelas 7 SMP. Inget aku nggak?" Tanyanya dengan antusias.


Aku mencoba melihat kembali wajah gadis di depanku dengan seksama. Dan memutar kembali memori otakku yang berkapasitas kecil ini untuk menemukan wajah gadis itu di dalam ingatan.


Ah! Benar. Gadis ini pernah satu kelas denganku dulu.


"Iya, aku ingat," ucapku dengan hati bahagia.


"Ternyata kita satu kelas, aku seneng banget."


"Iya, aku juga," sahutku.


"Kursi samping kamu kosong, kan?"


Aku mengangguk. Senyumnya langsung terpancar.


"Gimana kalo aku duduk di samping kamu, boleh?"


"Boleh, silakan."


Dibandingkan dia, justru aku lah yang paling senang di sini. Aku tidak menyangka, kalau ada seseorang yang mengenaliku. Padahal aku tidak pernah bergaul dan penyendiri.


Dalam hati aku bersorak-sorai. Aku melihat penampilannya, dia tampak biasa saja. Tidak bermake up tebal layaknya siswi-siswi di belakang sana. Ini lebih baik dari pada duduk bersama geng cewek centil di sana. Aku beruntung!


Gadis itu meletakkan tasnya yang berwarna pink di atas meja. Lalu dia mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana. Mungkin dia sedang membuat status hari ini.


Tak berapa lama, barulah ada suara-suara cempreng tertawa cekikikan. Mereka masuk ke dalam kelas.


Deg


Jantungku berdetak kencang. Mereka. Revi dan gengnya.


"Hahaha...!" Tawa gadis yang kutahu bernama Tya. Suara tawa Tya sangat menakutkan. Seperti tawa nenek sihir atau pemeran antagonis di film.


"Elo tuh yang aneh!" Teriak Revi dengan kencang.


"Alah! Sama-sama aneh juga," sahut Siska.


Tidak pernah sekalipun aku mendengar anak perempuan berteriak-teriak heboh seperti itu. Seolah-olah itu adalah hal yang biasa saja. Aku yang tidak pernah berada di lingkungan seperti ini jelas-jelas kebingungan. Tiba-tiba kelas yang tadinya sepi kini gaduh seketika.


"Heh! Kenapa gue ditinggalin?" Tanya satu gadis lagi yang baru saja masuk. Aku tidak kenal gadis cantik dengan rambut tebal itu. Ini pertama kali aku melihatnya.


"Sorry Ka, nih temen Lo lari duluan," sahut Tya.


"Bukannya elo yang dorong," balas Revi tak terima.


Berselang beberapa menit, gerombolan cowok-cowok dengan pakaian urakan masuk ke dalam kelas. Ada yang rambutnya kusut seperti tidak pernah disisir. Ada juga yang bajunya tidak dikancingkan.


Bukan hanya itu, ada juga cowok yang selalu membawa cermin dan selalu merapikan rambutnya agar tetap rapi. Dan masih banyak cowok yang terlihat aneh. Sepanjang mata memandang. Tidak ada siswa cowok yang normal. Mereka semua terlihat seperti berandalan yang di satukan di dalam satu ruangan. Di sini hanya aku dan Avi yang terlihat normal.


Bahkan di saat gerombolan itu melewatiku. Mereka tampak menakutkan bagiku hingga tanpa sadar tanganku bergetar.


Akh!!


Kepalaku pusing. Belum juga sehari aku ada di kelas ini. Tapi kepalaku sudah berdenyut-denyut dengan tubuh gemetar hebat. Lalu bagaimana satu tahun ke depan?


OMG!!


"Hahahaha...." Tawa salah satu cowok begitu keras. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Kelas yang tadinya sepi. Kini menjadi sangat amat gaduh. Banyak hal yang mereka lakukan. Ada yang konser dadakan. Ada pula yang tertawa cekikikan. Dan satu lagi hal yang paling tidak aku suka di kelas ini. Yaitu bersuara dengan begitu kencang. Entah mengapa setiap mereka mengobrol pasti dengan suara tinggi. Bukan hanya satu dua orang, tapi semuanya. Tidakkah mereka bisa berbicara dengan nada yang biasa saja. Tidak perlu berteriak seperti itu.


Gila! Ini gila!


Atau aku yang bisa gila?


Kenapa mereka tidak bisa berbicara dengan suara yang normal. Tidak yang cewek tidak juga yang cowok. Semuanya sama saja.


Telingaku benar-benar berdenging karena kelas ini sangat berisik. Bahkan seseorang yang sedang bernyanyi di depan sana juga bersuara cempreng. Dan sangat menyiksa pendengaranku. Namun anehnya tidak ada yang merasa terganggu sama sekali kecuali aku. Ku tutup kedua telingaku dengan tangan sambil berusaha membaca novel yang ada di depanku dengan sekuat tenaga. Namun ternyata konsentrasiku pecah. Aku tidak dapat membaca satu kalimat pun dengan benar.


Yang namanya kebiasaan pasti akan sulit untuk dirubah. Tapi mereka tampak sudah biasa berbicara dengan saling berteriak seperti itu.


Aku tidak sanggup kalau harus di kelas ini sampai setahun lamanya. Telingaku bisa berdenging setiap hari atau bisa juga aku ikut-ikutan mereka. Aku mengetuk meja tiga kali.


Tok tok tok


Amit-amit jabang bayi. Jangan sampai aku juga tertular kata berteriak-teriak seperti mereka semua.


Tuhan, kenapa engkau masukkan aku di kelas ini. Jelas ini bukan kelas yang normal. Seperti yang biasa aku tempati. Ini lebih mirip seperti kelas neraka. Dengan para iblis yang menghuninya.


Bukannya selama ini aku selalu menjadi anak baik. Lalu apa yang engkau rencanakan?