
"Han, tolong cubit aku," ujarnya seraya mengulurkan tangannya ke arahku. Dengan senang hati aku cubit lengannya dengan sekencang mungkin. Ini sebagai aksi balas dendam karena dia telah meremehkan aku tadi.
"Aaaa!!!" Pekiknya kencang. Seraya mengelus-elus bekas cubitan mautku yang memerah.
"Nggak usah kencang-kencang. Sakit tahu!" Teriaknya seraya mendengus kencang.
"Maaf," ujarku seraya menundukkan kepalaku. Merasa bersalah bkarena sudah membuatnya kesakitan.
"Santai aja kali, gue nggak marah kok. Jangan dianggap serius gitu," ujarnya seraya merangkul bahuku sambil cengengesan.
"Kamu kok bisa kenal kak Agam sih. Cerita dong. Sumpah aku penasaran banget." Ulfa tampak antusias menatap wajahku. Matanya berbinar-binar cerah.
"Eum... Aku kenal kak Agam karena aku minta tolong sama dia buat bantuin ambil sepedaku yang kejepit motor."
"Udah?" Tanyanya tak percaya.
Aku mengangguk. "Iya, emang apa lagi?" Tanyaku bingung.
"Kapan?"
"Beberapa hari yang lalu," sahutku.
Bahunya merosot lemah sambil mengembuskan nafas lelah.
"Aku pikir kalian udah lama kenal. Ternyata baru beberapa hari yang lalu." Suaranya benar-benar lemah. Kecewa karena tidak mendapatkan jawaban seperti yang ia inginkan.
"Aku malah berharapnya kalian sodara sepupu. Jadi aku bisa minta kamu buat comblangin aku sama dia," ujarnya dengan pipi merah padam. Aku tidak pernah menyangkan bisa melihat Ulfa tersipu-sipu malu seperti itu sebelumnya.
"Dan sayangnya tidak," jawabku seraya mengedikkan bahuku. Lagi pula kalaupun kak Agam sepupuku. Aku juga tidak mau mengurusi urusan percintaan. Aku tidak mau menjadi Mak comblang.
Diriku sendiri saja masih jomblo. Lebih baik Ulfa berusaha sendiri dan jangan libatkan aku.
Aku tidak mau!!
"Han, kayaknya kak Agam ramah banget ya. Dia nyapa kamu walaupun baru beberapa hari yang lalu kenalan," ujar Avi yang mampu menyadarkanku dari lamunan.
"Hah! Iya," ujarku terkejut. Aku menganggukkan kepalaku sebentar.
"Kamu suka kak Agam ya Fa?" Tanyaku akhirnya saat melihatnya terus menerus tersenyum.
Tak butuh waktu lama. Dia mengangguk dengan cepat dan antusias. Aku penasaran apa yang membuat Ulfa jatuh cinta dengan Agam. Namun sebelum aku bertanya dia sudah lebih dulu bercerita.
"Kalian tahu nggak. Aku jatuh cinta sama kak Agam karena apa coba?" Aku dan Avi kompak menggeleng-gelengkan kepala.
"Karena dia udah bantuin aku waktu hampir pingsan pas upacara bendera. Han, ingetkan kamu pas aku hampir pingsan waktu itu?"
"Nggak," balasku jujur. Aku memang tidak ingat kapan. Karena Ulfa ini temanku yang suka pingsan waktu upacara bendera. Bahkan aku tidak bisa lagi menghitung berapa kali dia pingsan dan dibantu siapa saja. Jawabannya jelas aku lupa. Saking banyaknya.
"CK, pelupa." Ucapannya itu membuatku kesal.
"Kenapa aku yang pelupa? Bukannya kamu yang keseringan pingsan. Mana aku ingat kak Agam nolongin kamu pas kapan." Mendengar ucapanku dia tampak meringis lalu cengengesan setelahnya.
"Maaf," ujarnya sambil tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya.
"Terus waktu itu dia bawa aku ke UKS. Terus dia kasih aku minum teh manis hangat. Dia perhatian banget deh. Padahal ya, di sana ada anggota PMR. Tapi yang bantuin aku malah ketua OSIS. Mana waktu itu dia ganteng banget. Senyumnya manis, lesung pipinya itu yang bikin aku klepek-klepek," ujar Ulfa sepertinya dia sedang mengingat kejadian itu. Sampai senyum-senyum sendiri.
"Abis itu apa lagi?" Tanya Avi sepertinya dia masih penasaran.
"Udah," jawab Ulfa singkat.
"Udah gitu aja?" Tanya Avi tak percaya.
"Iya, gitu aja. Sejak saat itu aku nggak pernah ditolong kak Agam lagi."
"Kak Agam itu cowok paling kalem yang pernah aku lihat. Lihat aja bajunya yang selalu rapi sampai pulang sekolah." Aku jadi mengingat waktu pertama kali bertemu. Dia memang sangat rapi. Kemeja sekolahnya masih licin dan di masukkan ke dalam. Rambutnya juga tertata rapi. Wajahnya masih tampak segar dicuaca yang sangat panas kala itu. Bahkan aku saja yang perempuan sudah berantakan. Bajuku sudah kusut dan wajahku kusam terkena terik matahari.
"Iya!" Pekik Avi setuju.
"Kita aja yang perempuan nggak serapi itu ya, aku dulu pernah berpikir kalau kak Agam bawa setrika-an ke sekolah. Supaya bajunya tetep licin." Aku menggelengkan kepalaku mendengar penuturan Avi itu.
Tidak mungkin kak Agam membawa barang seperti itu ke sekolah. Pemikiran Avi sangat konyol menurutku.
"Ya nggak gitu juga kali," sahut Ulfa cepat.
"Kak Agam itu emang cowok yang rapi dan disiplin. Makanya dia jadi ketua OSIS. Pokoknya dia sempurna banget deh jadi cowok."
Di saat Ulfa dan Avi bercerita heboh tentang Agam. Entah mengapa mataku tertarik ke arah pintu kelasku. Di sana ada seorang gadis yang sedang berbicara dengan Elang di ambang pintu. Sepertinya aku pernah melihat wajah gadis itu. Tapi di mana?
Gadis itu tampak menyerahkan ponselnya kepada Elang. Lalu Elang dengan lihai mengetikkan sesuatu di ponsel itu. Sepertinya Elang dan gadis itu saling bertukar nomor telepon.
Entah kenapa udara di taman ini tiba-tiba terasa panas. Mungkin suasana hatiku yang membuatnya begitu. Mereka tampak berbincang dengan akrab. Aku terus memandangi mereka hingga Ulfa menyentuh bahuku. Hingga aku meloncat kaget.
"Hah!" Pekikku.
"Kamu liatin apaan sih?"
"Nggak lihat apa-apa kok. Udara di sini panas ya. Aku ke toilet dulu." Setelah berkata seperti itu aku buru-buru pergi ke arah toilet.
Di sana aku membasuh wajahku dengan air. Berharap rasa panas yang tiba-tiba muncul akibat melihat interaksi Elang dan gadis itu bisa menghilang. Kutarik nafasku dalam-dalam dan ku embuskan pelan-pelan. Ku ulangi beberapa kali sampai benar-benar tenang.
"Itu hal biasa, Han. Elang emang cowok populer. Jadi wajar kalo didekati cewek-cewek yang ngefans sama dia," ujarku dalam hati. Dan ku ulang-ulang terus-menerus.
Ku tatap wajahku di cermin. "Apakah aku bisa bersama Elang?" Tanyaku dalam hati.
"Sedangkan gadis tadi sangat cantik dan mudah bergaul," batinku lagi.
Lalu bayangan saat Elang masuk ke dalam kelas pertama kali. Dan memperkenalkan dirinya. Di situlah aku mendapat sedikit harapan.
Akhirnya aku menggeleng-gelengkan kepalaku cepat. Pasti ada maksudnya Tuhan mempertemukan aku dan Elang di satu kelas yang sama. Itu satu tanda yang tidak bisa aku ingkari.
"Pasti ada harapan," ujarku semangat. Mencoba menguatkan hatiku.
"Lagi pula aku belum maju atau setidaknya menunjukkan rasa sukaku kepadanya. Anggap saja gadis tadi sebagai latihan. Siapa tahu aku bisa berpacaran dengan Elang. Dan hal seperti itu pasti akan terjadi kedepannya. Karena resiko menjadi pacar cowok populer," batinku.