
Class meeting diadakan setelah UAS berakhir. Bukan hanya lomba kebersihan kelas saja. Melainkan ada tanding futsal antar kelas. Dan di sinilah aku sekarang. Duduk di belakang gawang yang dipisahkan oleh jaring-jaring lebar. Agar menghalau bola yang melesat dari gawang. Sambil menyaksikan pertandingan 10 IPS 3 dan 10 IPA 1. Sebenarnya aku tidak minat menonton futsal karena tidak ada kelasku yang bertanding. Tapi temanku Ulfa ingin menonton dan aku terpaksa menemaninya.
Aku duduk dengan lesu. Pandanganku tak fokus saat gerombolan anak kelas 10 IPS 3 dan 10 IPA 1 memasuki lapangan. Suara decitan mic memengkakkan telinga yang berasal dari pak Zaki, guru olahraga ku yang sekarang bertugas sebagai komentator. Beliau sudah bersiap-siap mengomentari pertandingan kali ini.
PRIIITTT!
Bunyi peluit melengking yang dibunyikan oleh wasit menandakan pertandingan sudah dimulai. Aku melihat tanpa minat ke gerombolan anak laki-laki yang tengah merebutkan bola di tangah lapangan. Apa bagusnya permainan itu?
Aku bahkan sampai mengantuk saking bosannya. Aku ingin pulang dan tiduran di dalam kamar. Padahal temanku yang lain sudah pulang dari tadi. Kulihat cowok berbaju hitam menggiring bola ke gawang di depanku. Banyak gadis berteriak-teriak heboh memberi semangat.
Bola ditendang dengan cukup kencang. Namun sayang meleset jauh dari gawang. Dan mengarah ke arahku yang sedang duduk menonton. Aku menutup mata dengan erat. Lalu beberapa detik kemudian aku membuka mataku.
"Aman," ucapku sambil mengelus dada untuk menenangkan detak jantungku.
Untung ada jaring-jaring yang terpasang di depanku. Hingga bola itu tertahan dan tak mengenai wajahku. Bisa malu aku jika menjadi tontonan gratis karena pingsan.
Tapi tetap saja jantungku yang berdetak kencang karena terkejut itu belum langsung berdetak normal kembali. Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk meredakannya. Namun di saat aku sedang berusaha meredakan detak jantungku. Tiba-tiba aku terkekeh melihat sepatu bola penjaga gawang yang membelakangiku di depan sana.
Demi apa!
Warnanya pink terang. Sangat imut-imut dan tidak cocok digunakan oleh cowok penyuka sepak bola dan sejenisnya. Tapi terlihat dari sini cowok itu tampak biasa-biasa saja. Untung penjaga gawang itu membelakangiku. Jika tidak, pasti dia akan tersinggung dengan kekehanku karena mataku tertuju ke arah sepatunya.
Pertandingan ini semakin seru. Karena penjaga gawang di depanku di serang habis-habisan. Tapi kemampuan penjaga gawang dengan sepatu pink itu tampak gesit dengan melompat kesana-kemari. Dan tak membiarkan satu bola pun masuk. Aku salut melihat perjuangannya, sampai-sampai ia jatuh berguling-guling untuk menyelamatkan gawangnya.
Hingga tiba-tiba ia melompat sangat tinggi untuk menggapai bola yang melambung ke arahnya. Ia berhasil menangkap bola itu dan mendekapnya di dada. Lalu ia terjatuh cukup keras.
Gedebug!!
Aku meringis ngeri. Pasti rasanya sakit sekali. Terlihat dari seberapa tinggi dia melompat tadi.
Ia berdiri dengan sorakan heboh dari gadis-gadis. Ia membalik badannya sambil tersenyum dengan wajah sombong karena berhasil menyelamatkan gawangnya dari lawan. Di saat itulah aku terpaku dengan detak jantung yang kembali terpacu. Bukan karena bola melambung ke arahku. Tapi cowok dengan sepatu pink mencolok itu ternyata dia, si Langlang itu. Cowok yang belum ku ketahui namanya itu.
Babak pertama telah usai. Ia menghampiri para gadis-gadis satu kelasnya dan mengambil botol mineral yang berada di dekat lapangan. Ia meminum setengah dan menggunakan setengahnya lagi untuk menyiram kepalanya. Digoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan kucuran air dari botol di atas kepalanya. Membuat rambut basahnya terkibas. Lalu ia mengangkat wajahnya yang kadar ketampanan dan kerennya meningkat pesat. Menimbulkan efek kejut di jantungku. Tanpa sadar tangan kiriku menyentuh dada bagian kiri di mana letak jantungku berdetak. Merasakan irama detak jantungku yang berpacu sangat kencang. Seperti layaknya sedang menaiki roller coaster.
Aku yakin, air liurku sebentar lagi akan menetes melihat pemandangan indah di depan sana. Hingga banyak gadis yang menjerit-jerit heboh.
Aku pun ingin sekali menjerit seperti gadis-gadis itu. Tapi aku sadar diri, kalau aku ini pemalu. Akhirnya aku hanya bisa menjerit dalam hati.
Sumpah! Cowok itu keren banget!
Prriiitttt!!
Babak kedua dimulai. Badanku yang tadinya lesu tiba-tiba bugar. Mataku juga langsung berbinar-binar cerah. Apalagi dia sekarang pindah gawang. Dan kini menghadap ke arahku.
Makasih Ya Allah!
Jeritku dalam hati. Pertandingan yang tadinya tak terlalu ku pedulikan. Kini aku enggan beranjak dan sekedar untuk berkedip pun aku tak rela. Karena pemandangan di depan sana terlalu indah untuk dilewatkan.
Go Elang go Elang go!
Cowok itu merentangkan kedua tangannya dengan memancarkan senyum songong. Tapi tetap terlihat keren di mataku.
Gol!!
Teriakan para suporter yang mendukung kelas 10 IPS 3 bergema. Kala striker dari kelas itu membobol gawang lawan. Elang di depan sana tampak bergaya layaknya Ronaldo. Dan semakin memancing jeritan bukan hanya gadis satu kelasnya saja . Tapi juga dari kakak kelas yang ternyata melihat betapa kerennya Elang di lapangan.
Pertandingan semakin sengit. Lawan tak ingin kebobolan lagi. Hingga memborbardir gawang yang dijaga Elang dengan serangan terus menerus. Elang tampak kualahan dengan terus melompat untuk menangkap bola setiap kali bola datang. Melompat jatuh. Melompat lagi dan jatuh lagi.
Jeritan gadis-gadis mengiringi setiap kali ia terjatuh karena berusaha menangkap bola. Namun, tak ada raut lelah sama sekali. Ia malah tersenyum sambil tebar pesona ke arah kakak kelas. Sambil memeluk bola yang ia tangkap.
Menjaga gawang saja dia bisa, apalagi menjaga hatiku. Ea...ea...ea....
Di saat itu aku mendengus karena kesal. Bukannya apa-apa, tapi kakak kelas cewek semakin banyak berkumpul dan menghalangi pandanganku. Sepertinya ketampanannya terpancar hingga sampai ke mata kakak kelas.
Kalau begini caranya, aku bisa kalah telak. Apalagi harus bersaing dengan kakak kelas yang pastinya lebih berkuasa. Oke! Sepertinya aku berlebihan. Aku mana mungkin bisa merebut perhatian Elang. Si cowok tampan yang mulai populer sejak hari ini. Apalah diriku yang biasa-biasa saja ini. Yang bisa aku lakukan hanya memimpikannya saja.
Huff
Kenyataan yang sangat menyebalkan. Di sini aku selalu menjadi peran figuran di kisah cinta orang lain. Lalu giliranku kapan tuhan.
Ku embuskan nafas lelah, 90% gadis yang berteriak di sana memiliki wajah yang cantik atau setidaknya lumayanlah dari pada aku. Jadi, kemungkinan dekat dengan Elang saja sangat kecil. Sekecil plankton diluasnya samudera Hindia. Apa lagi kalau menjadi pacarnya. Kemungkinannya hanya o,oo1%. Aku harus menunggu keajaiban dulu agar bisa menjadi pacarnya. Dan sayangnya keajaiban sepertinya tidak berpihak kepadaku.
Tuhan beginikah nasib cintaku. Mati sebelum berkembang.
**Jangan lupa like dan vote**