
Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa ada yang berbeda dari tatapan Elang padaku. Atau semua itu hanya perasaanku saja. Tapi anehnya sejak aku tahu Elang putus dari Vera dia kelihatan berbeda. Lebih banyak tersenyum manis ke arahku.
Entah saat bertemu di koridor atau dimana pun kita berada. Seperti saat ini, Elang tengah bermain futsal bersama cowok-cowok yang lain di tengah lapangan. Sedangkan aku dan teman-teman cewek telah selesai melaksanakan penilaian olahraga. Makanya kami bisa duduk-duduk santai menonton mereka bermain.
Tak jarang di saat Elang menjaga gawang, dia lebih sering menatap ke arahku. Lalu setelah itu senyumnya mengembang. Aku mencoba bersikap biasa saja, berekspresi senatural mungkin yang aku bisa. Lagi-lagi hal itu mungkin hanya perasaanku saja. Bisa jadi dia tersenyum ke arah seseorang yang duduk di belakangku. Dan bukannya tersenyum ke arahku, mungkin aku yang terlalu kegeeran saja. Atau bisa jadi aku yang mengharapkan hal itu. Makanya aku sering berhalusinasi.
Tapi entah kenapa tatapan Elang tak kunjung beralih menatap ke arah lain. Dia nampak menatap ke arahku cukup lama hingga aku mulai salah tingkah. Aku mencoba melakukan sesuatu, seperti contohnya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Mengambil botol air minum yang terdapat di sebelahku. Rasanya tenggorokanku kering seketika saat dipandangi begitu intens oleh Elang di depan sana.
Tapi saking gugupnya, hingga untuk membuka tutup botol saja aku kesulitan. Sudah berkali-kali aku coba tapi tetap saja tidak berhasil. Entah tutup botol itu yang terlalu kencang atau tanganku yang terlalu licin karena keringat. Hampir saja aku menyerah. Tiba-tiba botol air mineral yang berada ditanganku dirampas seseorang. Sontak, kepalaku mendongak menatap seseorang yang dengan seenaknya sendiri merebut botol air mineral ku.
Deg.
Aku langsung terdiam melihat seseorang dengan rambut basah karena keringat dengan mudahnya membuka tutup botol itu dan menyerahkan kembali kepadaku.
"Nih minum, pasti kamu capek. Tutup botolnya udah kebuka kok." Dia memperlihatkan tutup botol itu seraya tersenyum manis. Mungkin dia melihat wajah kebingunganku saat ini. Aku terpaku, seakan tubuhku membeku seketika.
"WOY!! ELANG!! MASIH MAU JADI KIPER NGGAK LO!!" Teriak Rangga dari tengah lapangan.
Elang berlari ke arah gawangnya seraya melambaikan tangannya. "SORRY!! BRO!!"
"Sorry... Sorry... Pala Lo! Nih gawang siapa yang jaga. Capek-capek gue nggiring bola ke gawang lawan. Eh! Gawang malah elo tinggal gitu aja," omel Rangga tampak kesal.
Tampak Elang justru cengengesan menanggapi omelan Rangga yang tampak sangat kesal itu. Hingga mau tidak mau aku terkikik geli melihat kejadian itu.
Aku tidak menyangka kalau Elang datang ke arahku meninggalkan gawangnya hanya untuk membantuku membuka tutup botol ini saja.
Dan...
Sepertinya ada sesuatu yang aneh. Tapi apa itu?
Deg.
Jantungku berdebar semakin kencang. Sepertinya tadi Elang memanggilku dengan kata kamu. Padahal setahuku dia tidak pernah memanggil seseorang dengan kata kamu selain Vera yang notabenenya pacarnya sebelum mereka putus.
Tapi aku bisa percaya dengan pendengaranku atau tidak? Apa jangan-jangan tadi Elang memanggilku dengan kata elo seperti biasanya. Dan telingaku yang salah mendengar.
Please tolong beritahu aku!!
Elang menangkap bola dengan mudahnya di sana. Senyumnya mengembang sangat lebar. Bahkan matahari kalah cerah dari senyumannya itu.
Dan tak tahu sejak kapan, tiba-tiba aku melihat banyak sekali cewek-cewek kelas sepuluh duduk di sebelahku seraya menonton pertandingan ini. Mereka tak berhenti-henti bersorak kegirangan setiap Elang berhasil menangkap bola.
Dan Elang di lapangan sana tampak tengil. Ia sepertinya tengah tebar pesona. Aku sampai menggeleng-gelengkan kepalaku geli melihat tingkahnya. Dia sok keren setiap kali bola datang. Hingga tak satupun bola ia biarkan masuk gawang begitu saja.
"Iya, Tan. Gue liat kak Elang makin ganteng. Apalagi pas jadi kiper. Kegantengannya bertambah berkali-kali lipat," ujar gadis yang lain. Sepertinya mereka penggemar berat Elang. Terlihat dari bagaimana mereka bersorak dengan kencang dan lantang ketika Elang berhasil menangkap bola.
"Gue denger kak Elang udah putus sama kak Vera. Berarti gue ada kesempatan buat deketin kak Elang nih," ujar cewek yang duduk tepat di sampingku. Dan entah kenapa dadaku tiba-tiba merasa sesak. Aku lihat penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gadis itu sangat cantik dengan rambut ikalnya yang tampak manis saat diikat.
"Jangan ngimpi di siang bolong Lo. Mana mau kak Elang sama elo," ujar temannya.
"Jelas mau lah, Gue kan cewek paling cantik," ujar cewek itu dengan rasa percaya diri.
Tak terasa pertandingan futsal itu berakhir dengan kemenangan di tim Elang. Lalu tanpa diduga Elang berjalan ke arahku seraya tersenyum senang.
"Liat tuh! Kak Elang nyamperin gue," pekik cewek yang duduk di sebelah gue dengan girangnya. Ia sampai menepuk-nepuk pundak temannya dengan histeris. Tak lupa dia merapikan rambutnya seraya memasang senyuman manis.
"Capek banget," ujar Elang setelah berada di depanku. Lalu tanpa diduga Elang mengambil botol air mineral ku dengan seenaknya sendiri dan meminumnya tanpa izin.
"Itu...." Kata-kata ku selanjutnya tak sanggup terucap lagi.
"Itu bekas bibirku," ujarku dalam hati kemudian. Tapi sudah terlanjur. Elang sudah meminum air dari botol yang sama denganku.
Secara tidak langsung kami sudah berciuman. Tiba-tiba pipiku memerah dan memanas. Tidak tahu lagi sudah seperti apa wajahku ini. Pasti merah melebihi tomat matang atau kepiting rebus.
Aku malu... Sangat-sangat malu. Rasanya aku ingin menyembunyikan wajahku dengan benda apapun yang ada di sini.
"Hah! Segarnya," ujar Elang setelah menghabiskan sisa air mineral ku yang ada di botol tadi.
"Makasih, sama maaf udah aku abisin airnya." Elang memperlihatkan botol kosong ditangannya. Dan menggoyang-goyangkannya.
"Abisnya aku udah nggak kuat lagi pergi ke kantin." Lalu dia duduk di sebelahku di sisi yang lain. Sedangkan aku hanya mampu mengangguk saja tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun. Terpaku karena dia menggunakan kata aku-kamu kepadaku. Diam-diam aku mencubit tanganku untuk memastikan kalau apa yang aku dengar ini nyata.
"Hani, kamu nggak pa-pa?" Tanya Elang dengan raut wajah khawatir. Hingga ia menangkup wajahku dengan telapak tangannya yang besar.
Sesaat aku semakin terdiam. Rasa sakit akibat cubitanku belum hilang saat dia dengan jelas mengatakan kata kamu dan bukan elo seperti biasanya.
Ini nyata, sangat amat nyata. Dan pendengaranku dengan jelas menangkap kata kamu yang terucap dari bibirnya.
Dengan gerakan kaku aku mencoba menganggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku nggak pa-pa," jawabku lirih dengan wajah yang kuyakini sangat merah.
***
Elang dan Hani kembali. Tapi maaf kalau author tidak bisa update setiap hari.