Shy Girl

Shy Girl
49. Bebas



Elang POV


"Kayaknya ini waktu yang tepat," gumam gue seraya menyeringai lebar.


Dengan langkah pasti gue berjalan mendekati meja pasangan itu. Tentu saja gue udah buka jaket sama masker gue supaya mereka tahu kalo ada gue.


Tanpa permisi gue duduk di kursi kosong diantara mereka berdua. Tampak Vera sangat terkejut dengan kehadiran gue di sini. Sedangkan cowok itu ngeliat gue dengan raut wajah tampak kebingungan. Keningnya berkerut dalam, matanya tak lepas dari wajah gue.


Gue duduk sambil senyum-senyum gaje.


"Lo siapa?" Tanya cowok itu kemudian. Vera keliatan masih syok, makanya dia cuma bisa melotot lebar tanpa bisa berkata-kata.


"Gue?" Sengaja gue menunjuk wajah gue sendiri.


"Iya lah, emang siapa lagi," ujar cowok itu sedikit ketus.


"Kalo elo penasaran sama gue, mending elo tanya langsung gih, sama cewek ini. Dia lebih paham gue siapa? Ya kan?" Ujar gue sambil menunjuk Vera dengan dagu gue seraya tersenyum. Gue dengan seenak jidatnya mengambil kentang goreng di atas piring dan memakannya dengan santai. Seolah-olah makanan itu punya gue.


Terlihat kerutan di dahi cowok itu semakin dalam. "Yang, kamu kenal cowok ini?"


"E-elang," ujar Vera kemudian dengan suara gagap.


"Dia siapa kamu, kenapa nggak sopan main duduk sembarangan tanpa ijin?" Cowok itu menatap gue dengan wajah sinis. Sepertinya dia mulai curiga.


Bagus lah, gue suka itu.


"Dia pacar aku," sahut Vera sambil meneguk salivanya dengan susah payah.


"Apa!!" Teriaknya kencang. Matanya melotot lebar dan hampir mendekati gue.


"Tyo berhenti!" Teriak Vera menghalanginya mendekat ke arah gue.


"Dia pacar kamu." Tunjuknya ke arah gue. "Lalu aku siapa kamu?"


"Kamu juga pacar aku," sahut Vera lirih.


Gue duduk sambil terus memakan kentang goreng itu sampai hampir habis. Gue asik nonton drama di depan gue secara langsung.


"CK!" Cowok itu berdecak.


"Ternyata kamu selama ini selingkuhin aku?" Vera mengangguk tanpa bisa mengelak lagi.


"Kamu tahu kan! Kalo aku itu sayang banget sama kamu. Terus kamu dengan tega selingkuhin aku sama cowok ini. Mau kamu apa sebenarnya, hah?!" Cowok itu menggeram marah.


"Sekarang, kamu pilih dia atau aku?!" Tunjuknya ke arah gue.


"Nggak perlu repot-repot bro. Gue mending milih putus aja. Percuma dipilih juga, kalo gue udah kecewa berat sama dia. Mending dia buat Lo aja. Gue lebih baik nyari cewek yang setia." Gue menepuk bahu cowok itu dua kali. Lalu gue melenggang pergi tanpa beban.


"Elang!!!" Teriak Vera kencang. Gue nengok sebentar ke arah mereka berdua seraya menyeringai lebar, ternyata Vera lagi dipegangin sama tuh cowok ****. Cewek udah ketauan selingkuh masih aja dipertahanin. Buat apa coba?


"Gue lebih sayang Elang dari pada elo. Gue pacaran sama Lo karena Lo kaya. Dan gue suka dibelanjain barang-barang, udah itu aja! Nggak lebih!" Terdengar sayup-sayup suara Vera yang mengungkapkan kebenarannya.


Tapi sayangnya semua itu sudah terlambat. Gue udah nggak akan lagi percaya sama dia. Sekali ketauan selingkuh, dia pasti akan mengulanginya lagi dan lagi.


Gue keluar dari kafe itu sambil senyum-senyum sendiri. Mungkin orang-orang yang liat gue, mengira kalo gue gila. Habis mergokin pacar selingkuh kok malah keliatan bahagia.


Mungkin emang cuma gue yang agak aneh. Tapi gimana lagi? Hati gue ngerasa lega dan bebas. Seolah-olah rantai yang membelit tubuh gue lepas seketika.


Repot.


Untung Vera ketauan selingkuh duluan. Kalo nggak. Gimana nasib gue coba? Lihat Hani sama si kunyuk itu mesra-mesraan.


Eh! Bentar!


Ngomong-ngomong masalah itu. Gue jadi inget Hani sama si kunyuk itu. Kira-kira misi yang gue kasih ke Rangga berhasil nggak ya?


Kalo gagal, bisa gawat nih. Yang ada Hani beneran jadian sama si kunyuk itu. Enggak akan gue biarin!


Buru-buru gue menstarter motor dan melajukannya dengan kecepatan penuh kembali ke tempat tadi. Gue harap Rangga bisa gangguin keduanya saat nonton.


Gue berjalan cepat menuju ke arah bioskop di mana Hani dan si kunyuk itu nonton. Besok-besok lagi gue nggak akan pernah biarin si kunyuk mendekati Hani seinci pun. Pokoknya gue harus bisa jadian sama Hani lebih dulu.


Tapi Hani suka sama gue nggak ya?


Dicoba dulu lah. Kalo gimana caranya, bisa dipikirkan entar. Yang penting nyingkirin si kunyuk dulu.


Drrttt drrttt


Ponsel gue bergetar di saku. Dengan cepat gue buka pesan dari Rangga.


"Lang, kita berempat di food court. Elo cepetan ke sini," gumam gue baca pesannya. Gue merapikan rambut gue lebih dulu sebelum ke sana. Bibir gue terus mengulas senyum manis membayangkan kejadian barusan.


Gue bebas!!


Bebas deketin Hani, maksudnya.


"Lang!!" Panggil Rangga di ujung. Tangannya terangkat seraya tersenyum lebar.


Gue berjalan mendekat. Tampak Hani sedikit terkejut.


"Elo sendirian aja? Sini gabung sama kita-kita," ujar Rangga dengan seenaknya sendiri. Gue lihat wajah si kunyuk keliatan kesel. Mungkin acara berduaan sama Hani sukses digangguin Rangga.


The best tuh orang.


"Gue utang budi sama tuh orang," batin gue senang.


"Emangnya gue boleh gabung?" Tanya gue basa-basi. Jelas jawabannya boleh lah. Kalo nggak boleh, gue boleh-bolehin sendiri aja. Peduli sama si kunyuk? Jawabannya enggak lah!


Dia mah bodo amat. Yang penting gue bisa gabung sama Hani. Tuh kan! Belom apa-apa pipinya udah merah aja. Gue kok ngerasa Hani suka juga sama gue ya?


Tadi pas sama si kunyuk, wajahnya biasa aja. Tapi pas lihat gue pipinya langsung merah gemesin, kayak kepiting rebus. Kalo dia kepiting rebus, gue mau jadi saos padangnya.


"Elah! Sama siapa aja. Kalo mau gabung tinggal gabung aja," celetuk Rangga.


Gue sengaja duduk di deket Hani. Biar bisa lebih deket lihat dia salah tingkah.


"Han, abis beli novel ya?" Ia menoleh ke arah gue malu-malu.


"Iya," jawabnya berusaha terlihat biasa aja. Tapi di mata gue dia keliatan grogi. Jangankan elo Han, gue juga sebenernya lagi grogi sekarang natap mata Lo yang besar dan bulat itu.


"Novel yang gue beliin waktu itu udah elo baca?" Tanya gue seraya tersenyum manis ke arahnya. Biarin pipi Hani makin merah. Toh! Cuma gue yang bisa bikin dia begitu.


"Udah," sahutnya sedikit gugup. Tangan gue sengaja mengacak rambutnya gemas. Hingga membuat keempat orang termasuk Hani syok berat. Gue lihat wajah si kunyuk merah kayak tomat busuk.