Shy Girl

Shy Girl
17. Olahraga Lari Apa Olahraga Jantung



Jam pelajaran pertama dimulai dengan pelajaran olahraga. Maka dari itu setelah bel masuk berbunyi. Para cewek berbondong-bondong pergi ke toilet untuk mengganti baju seragam dengan baju olahraga. Aku mengambil baju olahragaku di dalam tas. Lalu tanpa sadar ternyata aku sudah tinggal. Dengan sedikit berlari, aku keluar dari kelas.


Bruk!!


"Aw!!" Pekikku saat aku terjatuh karena bahuku ditabrak Elang yang berlari masuk ke dalam kelas setelah dari kantin.


Duh! Malunya!


Aku menutup mata sejenak untuk menghilangkan sedikit rasa malu yang menghinggapi hatiku saat ini.


"Sorry sorry sorry. Gue nggak sengaja," ujar Elang dengan raut wajah bersalah. Dia menyugar rambutnya ke belakang. Lalu tangannya terulur ke arahku. Aku mendongak menatap wajahnya dengan perasaan senang yang membuncah sekaligus kegugupan yang mendera tubuhku. Dengan ragu-ragu aku meraih tangannya yang terulur. Hangat dan besar.


Genggaman tangannya terasa hangat di telapak tanganku yang kecil. Suara detak jantungku begitu kencang. Sampai aku takut suaranya bisa Elang dengar.


"Lo nggak pa-pa? Ada yang sakit nggak?" Kepalanya menunduk melihat ke arah wajahku. Setelah aku berhasil berdiri.


Lidahku terasa membeku. Tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Apalagi kini aku sedang dipandangi begitu dekat. Yang bisa aku lakukan hanya menggelengkan kepala. Entah mengapa di saat bersamanya, aku selalu canggung dan lidahku kaku. Bahkan untuk mengatakan nggak saja rasanya tidak sanggup.


Sebegitu hebat efek pandangan matanya hingga aku tidak bisa berkutik.


"Syukurlah, sekali lagi maaf," ujarnya seraya menggaruk tengkuknya.


Lagi-lagi aku hanya mengangguk untuk meresponnya. Aku merasa wajahku memanas, mungkin sekarang ini wajahku sudah berwarna merah padam. Aku malu!


Sungguh! Rasanya aku ingin mengambil panci dan menutupkannya ke atas kepalaku.


Setelah itu dengan gerakan kaku aku menyingkir ke kanan, tapi ternyata diapun menyingkir ke arah yang sama denganku. Aku menyingkir lagi ke kiri, diapun sama. Dia menggaruk-garuk tengkuknya dengan canggung. Akupun memeluk baju olahragaku dengan erat. Aku bergerak ke kanan dan diapun bergerak ke arah yang sama dengannya. Gerakan kami berdua sangat kaku.


"Hehehe.... Silakan keluar duluan," ujar Elang sambil cengengesan. Ia menyingkir ke arah kanannya menempel di tembok.


"Hem," sahutku sambil menunduk saat melewatinya. Aku berjalan dengan langkah kecil-kecil tapi cepat. Lalu aku menengok ke arah belakang.


Deg


Ternyata Elang melongokkan kepalanya menatap ke arahku. Lalu dia tersenyum. Buru-buru aku membalikkan pandanganku ke depan. Mungkin dia sedang tersenyum dengan orang lain. Bukan denganku, aku pasti terlalu ke-geer-an. Tapi di depan mataku tidak ada siswa ataupun siswi lain. Hanya ada aku seorang.


Jelas-jelas Elang tersenyum padaku. Aku menggelengkan kepalaku mengusir pikiranku yang sedang berhalusinasi. Dengan cepat aku masuk ke toilet. Menutup pintu dan bersandar di baliknya seraya memegang dada kiriku.


"Elang," ujarku dengan suara lirih.


"Please... jangan bikin aku ke-geer-an," gumamku seraya menggaruk-garuk kepalaku frustasi.


"Kenapa aku baperan sih?"


"Baru dilongok aja udah geer," gumamku.


"Sikap dia itu wajar, cuma elonya aja yang keganjenan," gumamku lirih sambil menoyor kepalaku sendiri berkali-kali.


Cepat-cepat aku mengganti bajuku dengan baju olahraga. Setelah selesai aku berjalan ke kelas untuk meletakkan bajuku di dalam laci.


Aku membuka pintu kelas yang tertutup dan masuk ke dalam. Tapi aku langsung memutar tubuhku seratus delapan puluh derajat. Dan keluar kelas dengan cepat.


Huff!!!


Hampir saja.


"Kenapa han?" Tanya Revi yang memandangiku dengan alis bertaut.


Aku menggelengkan kepalaku dengan panik. Bukan itu yang membuat wajahku memerah. Tapi ada alasan lain yang tidak bisa aku ceritakan kepadanya.


"Aku nggak sakit, cuma gerah aja," ujarku bohong.


"Beneran?" Tanyanya dengan sorot mata menyelidik.


"Iya," ujarku seraya tersenyum mencoba meyakinkannya.


"Oh gitu," ujarnya membuat aku menghela nafas lega.


"Eh, minggir gue mau lewat." Revi berusaha merangsek masuk. Aku menggeleng panik sambil merentangkan satu tangan. Karena tanganku yang satunya lagi sedang memegang baju seragam.


"Kenapa?" Tanya Revi dengan alis bertaut.


"Tunggu aja bentar."


Revi tampak mengangguk. Membuatku lega. Lalu beberapa menit kemudian gerombolan cewek-cewek datang dan ingin masuk ke dalam kelas.


"Eits... Tunggu!" Revi menghalangi jalan yang lain. Dengan terpaksa kami semua menunggu.


Krett


Elang membuka pintu kelas dengan pandangan heran melihat cewek-cewek berdiri di depan pintu.


"Lagi pada ngapain?"


"Kata Hani nggak boleh masuk dulu. Makanya kita tungguin," ujar Revi dengan polos.


Elangpun mengalihkan pandangannya ke arahku lalu memandangiku cukup lama seraya tersenyum. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke arah lain sambil menggigit bibir bawahku karena gugup.


Ehemm


Elang berdehem.


"Kalian udah boleh masuk," ujarnya lalu dia berjalan melewatiku menuju ke arah lapangan.


Di lapangan, kami berbaris sambil mengikuti gerakan ketua kelas yang sedang melakukan pemanasan. Dengan serius aku melakukannya. Dengan memfokuskan mata melihat ke arah depan. Tapi radarku menangkap kalau disaat aku sedang melakukan pemanasan. Elang sedang memandangiku saat ini.


Tapi aku acuhkan begitu saja, mungkin ini hanya perasaanku. Setelah gerakan pemanasan selesai. Kami lanjut berlari mengelilingi lapangan selama 3 kali putaran. Aku berlari mengikuti Avi yang ada di depanku. Aku tidak mau menengok ke belakang. Sepertinya punggungku sedang ditatap seseorang dengan intens. Aku merasakannya.


Tiba-tiba Elang berlari sejajar denganku. Ia tersenyum manis ke arahku. Membuatku mengalihkan pandanganku ke depan. Tapi ia tak pantang menyerah. Ia berlari di depanku dengan pandangan ke belakang.


"Ayo balapan," ujarnya seraya mengambil tangan kananku tanpa permisi dan menarikku seraya berlari.


Deg


Aku sangat terkejut, pandanganku terus menatap genggaman tangannya di tanganku. Alisku bertaut. Wangi parfumnya menerpa indera penciumanku secara langsung karena terbawa angin dari arah depan. Di saat aku melihat ke arah rambutnya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan. Dia menengok ke arahku seraya tersenyum.


Tanpa sadar bibirku pun tertarik membentuk senyuman. Tentu saja dengan detak jantung yang berpacu dengan sangat amat kencang.


Bahkan efek dari kejadian itu. Sepanjang hati jantungku terus berdetak kencang. Baru kemarin aku berharap dapat digandeng oleh Elang. Dan sekarang aku sudah merasakannya. Kenapa akhir-akhir ini Tuhan selalu membuatku bahagia.


Tanpa ku duga kejadian ini benar-benar terjadi padaku saat ini. Padahal aku tidak pernah menyangka. Aku cuma berharap saja. Dan tidak tahu kalau akan dikabulkan secepat ini. Terlalu cepat sampai membuat jantungku bergemuruh terus-menerus tanpa bisa aku kendalikan lagi.