
Keesokan harinya aku melakukan hal yang sama yaitu berdiri diambang pintu menutup jalan mereka masuk sebelum bisa menjawab pertanyaan dariku. Kali ini Revi dan Tya yang berangkat lebih dulu. Kemarin mereka bisa lolos tapi untuk kali ini aku tidak akan membiarkan satupun penghuni kelas ini lolos dengan mudah.
"Pagi," sapa Revi dengan senyuman manisnya.
"Pagi," sahutku.
"Sebelum masuk jawab dulu satu pertanyaan dariku," ujarku.
"Pertanyaan apa? Tapi jangan susah-susah ya." Aku mengangguk.
"Nggak susah kok. Jadi pertanyaannya, sebutkan 3 ciri-ciri hutan sabana?" Ia tampak mengerutkan keningnya bingung.
"Yah! Itu mah susah."
"Yaudah, kamu boleh lihat di internet."
"Nah! Gitu dong!" Dia dengan cepat mengutak-atik ponselnya.
"Apa tadi pertanyaannya?"
"Sebutkan ciri-ciri hutan sabana."
"Nah Ketemu! Tiga kan?" Aku mengangguk.
"Pertama, hutan sabana hanya berada di wilayah iklim tropis atau wilayah yang dilewati garis khatulistiwa. Kedua, curah hujan musiman. Ketiga, curah hujan tidak teratur. Udah! Sekarang gue boleh masuk?" Tanyanya.
"Silakan," balasku seraya mempersilakan dia masuk.
"Kalo kamu belum boleh masuk."
"Gue juga ada pertanyaannya?" Aku lagi-lagi mengangguk.
"Jawaban gue sama kayak Revi," ujar Tya cepat.
"Tapi pertanyaannya beda," sahutku. Ia tampak mengernyitkan dahinya.
"Kenapa nggak disamain aja," ujarnya tampak malas.
"Udahlah terima aja, lagian kalo nggak bisa tinggal nyari jawabannya di internet ya kan, han?" Ujar Revi yang kini berada di belakangku setelah meletakkan tas di kursinya.
"Iya betul," sahutku seraya mengangguk.
"Yaudah apa pertanyaannya." Nada bicara Tya sangat sinis. Sepertinya dia tidak suka kalau aku melakukan hal seperti ini.
"Sebutkan tiga manfaat hutan sabana?" Lalu ia langsung mengetik di ponsel mencari jawabannya.
"Pertama, habitat berbagai jenis flora dan fauna yang harus dilestarikan. Kedua, mencegah terjadinya bencana alam. Ketiga, sebagai tempat untuk menyimpan cadangan air tanah. Yaudah minggir sana." Tya mengibaskan tangannya dan berjalan melewatiku dengan tatapan sinis.
Aku mengedikkan bahuku. Tak apa sekarang ada yang tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Tapi kalian akan tahu apa yang aku lakukan ini demi kalian semua.
"Pertanyaan buat gue apa?" Suara seseorang mengagetkanku. Saat aku berbalik, ternyata Elang sudah berdiri di depanku.
"Hah! Apa?" Kemunculannya yang tiba-tiba membuat otakku kosong.
"Pertanyaan buat gue apa?" Dia tampak terkekeh geli melihat wajahku yang pastinya sangat kebingungan.
"Oh... Iya sebentar." Buru-buru aku membuka buku berisi pertanyaan yang aku siapkan jika sewaktu-waktu aku lupa. Dan ternyata catatan ini berguna juga. Karena sekarang otakku tidak bisa diandalkan untuk mengingat pertanyaan yang sebenarnya sudah aku hafal dengan baik. Semua ini tentu saja karena Elang.
"Pengertian hutan sabana?" Tanyaku dengan gugup. Bahkan suaraku sedikit bergetar saat mengatakannya.
"Hutan sabana adalah...kawasan...hutan berupa padang... He...he...he... Gue lupa lanjutannya. Boleh nggak gue ngintip dikit," ujarnya dengan terbata-bata karena terlihat sekali kalau ia berusaha mengingat semua kalimat itu. Tapi sayangnya ia tidak ingat bagian akhirnya. Tapi tak apalah, yang penting dia mau berusaha menghafal.
"Boleh," sahutku sedikit gugup.
"Oke! Gue udah inget. Kita ulangi lagi ya?" Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Hutan sabana adalah kawasan hutan berupa padang rumput yang ditumbuhi oleh semak atau perdu yang diselingi sebaran beberapa jenis pohon." Elang mengucapkannya dengan hafal. Mungkin dia sudah belajar karena kemarin dia melihatku memberi pertanyaan sebelum masuk kelas.
Setelah Elang masuk sekarang giliran mas molor dan bang Jono yang menjadi sasaran selanjutnya.
"Permisi Bu guru, saya mau masuk," ujar mas molor seraya terkekeh geli. Dia pikir aku lagi berperan jadi guru apa? Ini bukan sekedar kurang kerjaan. Tapi misi penting yang harus aku lakukan agar harkat dan martabak kelas 11 IPS 4. Eh! Martabat kelas 11 IPS 4 maksudnya tidak diremehkan oleh siapapun. Termasuk Bu Endang, beliau harus tahu kelas kita juga bisa menjadi kelas yang unggul dibidang akademik.
"Boleh nyontek?"
"Boleh," balasku. Dia langsung mengambil ponselnya.
"Pertama, curah hujan musiman. Kedua, hujan tidak teratur. Dan ketiga, habitat hidup hewan, baik hewan karnivora maupun herbivora."
"Silakan masuk." Lalu aku menghalangi Jono masuk dengan merentangkan kedua tangan
"Buat bang Jon, pertanyaannya sebutkan 3 wisata hutan sabana di Indonesia?"
"Yaelah, ribet amat masuk kelas doang," gerutu bang Jon seraya mengutak-atik ponselnya.
"Pertama, kepulauan komodo. Kedua, Sumba timur. Dan ketiga, Tanjung Ringgit. Bener nggak tuh?"
"Bener semua bang," sahutku. Lalu dia mengulurkan tangannya ke arahku. Membuatku mengangkat sebelah alisku heran. Apa maksudnya?
"Mana hadiahnya?"
Yah! Malah minta imbalan.
"Nggak ada hadiahnya bang," sahutku seraya cengengesan.
"Yah! Gue pikir kalo bener dapet hadiah." Dia berjalan melewatiku menghampiri mas molor yang sudah meletakkan kepalanya di atas meja.
"Dia aja nyontek, malah minta hadiah," batinku kesal.
Setelah itu aku menunggu target selanjutnya, tapi sepertinya si Afif dan Irwan sudah tahu kalau aku akan menghadang mereka diambang pintu. Makanya mereka baru masuk setelah bel berbunyi.
***
Dengan tekad kuat, aku melangkahkan kakiku ke arah kantin khusus cowok-cowok kelas tiga dan cowok-cowok kelasku. Mereka tampak sedang berbincang-bincang dengan hebohnya. Ada yang sedang bernyanyi dan ada pula yang sedang tertawa terbahak-bahak. Entah mereka sedang membicarakan apa.
Di saat Afif hendak memasukkan bakso ke dalam mulutnya. Aku mengambil duduk di depannya seraya tersenyum.
"Astaghfirullah!!" Pekiknya hingga bakso yang ada di mulutnya menggelinding jatuh ke lantai dengan cepat.
"Maaf," ujarku dengan rasa menyesal karena telah mengagetkannya.
"Ngapain Lo di sini?" Tanya Afif seraya mengedarkan pandangannya. Mungkin dia heran melihatku yang merupakan cewek satu-satunya di kantin ini.
"Aku mau kasih pertanyaan," ujarku tak memedulikan keadaan sekitar. Yang aku yakini juga tengah memandangku dengan sorot mata keheranan. Karena baru kali ini ada murid cewek mau masuk ke kantin cowok.
"Pertanyaan lagi, bukannya kemaren udah?" Afif tampak kesal.
"Kemaren kan belum di jawab," sahutku seraya mengambil mangkok baksonya.
"Eh bakso gue ngapa Lo ambil," ujarnya melihat mangkoknya yang aku ambil untuk disita.
"Elo laper? Gue pesenin deh. Tapi bayar sendiri ya." Ia hendak beranjak pergi.
"Eh tunggu!! Aku nggak laper kok. Sini duduk dulu." Lalu dia kembali duduk di kursinya.
"Lah! Kalo nggak laper kenapa mangkok gue elo ambil?"
"Aku sita mangkoknya sampe kamu bisa jawab pertanyaanku."
"Yaudah cepetan! Gue laper banget nih."
"Sebutkan dua pohon yang tumbuh di hutan sabana?"
"Gue nyontek dulu bentar." Dia mengambil ponselnya.
"Oke jawabannya pohon palem sama pohon akasia."
"Betul." Lalu aku menatap Irwan yang duduk di sebelah Afif.
"Gue juga?" Dan aku mengangguk.
Tak sengaja aku melihat kak Agam dan Elang yang tengah menatapku seraya terkekeh geli.