Shy Girl

Shy Girl
6. Ternyata Kita Berjodoh



Sepanjang aku mengayuh sepeda, aku terus menerus tersenyum lebar. Mungkin orang yang tak sengaja melihatku akan mengerutkan dahinya bingung. Tapi aku tidak peduli sekarang. Yang pasti hatiku sedang berbunga-bunga layaknya taman di film India.


Aku mengayuh sepedaku dengan kencang agar aku cepat sampai di rumah. Bukan karena aku lapar dan merindukan masakan mama. Tapi aku ingin masuk ke kamar alias goa tempatku sering bersemedi dan menyendiri.


Tok tok tok


"Assalamualaikum!" Teriakku setelah mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam!" Mama membukakan pintu. Aku langsung masuk dan berlari dengan kencang ke arah kamar. Lalu tak lupa menguncinya terlebih dahulu. Aku langsung menghempaskan tubuhku keatas ranjang dan mengambil bantal dan kugunakan untuk membekap mulutku agar teriakanku tidak terdengar sampai keluar.


"Aaaaaaaa...."  Teriakku dengan kencang didalam bekapan bantal. Ini hari yang sangat menakjubkan. Padahal aku tidak pernah menyangka kalau akan ada Elang di kelasku itu. Karena dihari pertama keempat cowok itu tidak berangkat sekolah. Jadi aku tidak tahu, tapi hari ini begitu mengejutkan.


Tuhan ternyata sayang padaku dengan mengirimkan pangeran tampan yang aku sukai dan membuat hari-hari ku selama setahun kedepan akan lebih berwarna. Sepertinya Elang yang menjadi malaikat penyejuk hati di dalam kelas neraka yang akan selalu menyejukkan hatiku.


Maafkan aku Tuhan, karena sudah meremehkan kuasa-Mu. Sekarang persentase diriku dekat sudah menjadi 30% dari 0,001%. Itu tandanya tinggal 70% lagi. Agar aku dan dia bisa berubah menjadi kita.


Ea... Ea... Ea....


Membayangkannya saja sudah membuatku ingin menari. Ku nyalakan musik dari ponselku dengan kencang. Baru setelah itu aku berjingkrak-jingkrak di atas ranjang sambil menari dengan heboh. Untuk melepaskan rasa bahagia yang begitu membuncah di dalam hati. Rasanya tak sabar menanti hari esok segera datang.


***


"Celaka! Celaka!" Teriakku kencang. Aku bangun terlambat. Biasanya jam segini aku sudah berada di sekolah. Tapi pagi ini aku bahkan belum mandi sama sekali.


Cepat-cepat aku masuk ke kamar mandi dan mandi dengan secepat mungkin. Setelah mandi kilatku selesai, aku beranjak mengambil baju yang akan aku kenakan di dalam lemari.


Aku bercermin untuk memastikan kalau kancing bajuku terpasang dengan benar. Lalu aku mengambil sisir dan mulai menyisir rambut panjangku dengan kecepatan penuh. Tapi yang ada rambutku semakin kusut. Dengan terpaksa aku menyisir rambut dan mengikatnya dengan membutuhkan waktu lebih. Maka aku tak ada waktu untuk sarapan lebih dulu. Kugendong tasku lalu menuruni tangga dengan cepat. Terlihat mama dan papa sedang duduk di meja makan untuk sarapan.


"Tumben bangunnya kesiangan?" Tanya mama.


"Iya ma! Soalnya tadi malem nggak bisa tidur." Aku menyuap beberapa sendok nasi ke dalam mulutku. Lalu aku mencium tangan mama dan papa dengan kilat.


"Minta anterin pak sopir aja!" Teriak mama.


"Nggak perlu!! Aku berangkat dulu, assalamualaikum!" Teriakku sambil berlari keluar. Setelah itu aku tidak mendengar jawaban salam dari mama dan papa.


Tujuanku tentu saja sepeda kesayanganku. Aku langsung menaikinya dan mengayuh dengan kekuatan penuh. Tapi sayang seribu sayang, jalanan yang biasa lenggang saat aku berangkat sekolah. Kini penuh dengan sepeda motor yang saling salip tanpa perhitungan. Hanya mementingkan diri sendiri. Hal itu sukses membuat kepalaku pusing. Jam menunjukkan pukul 6.45 artinya sekitar 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi.


Tak ingin membuang cukup banyak waktu, aku mengayuh sepeda dengan perhitungan yang sangat matang untuk menghadapi mobil dan motor yang semakin menyebalkan. Hingga mengambil jalurku.


Ciitttt!


***


Akhirnya aku sudah sampai di sekolah. Dan karena aku terlambat datang. Tempat yang biasa aku gunakan untuk memarkirkan sepedaku sudah diambil siswa lain. Dengan terpaksa aku mencari tempat parkir lain yang memudahkan sepedaku keluar.


Keringatku bercucuran di pelipis. Sepertinya pagi ini menjadi pagi yang sangat menyebalkan. Padahal dulu aku tidak pernah sampai secapek ini. Mungkin karena pagi ini terburu-buru dan tidak menikmati. Makanya begitu terasa lelah dan letihnya. Untuk menggendong tas saja sudah ngos-ngosan. Apalagi kakiku sedikit bergetar di bawah sana.


Semua karena salahku sendiri yang begitu bersemangat menyambut hari esok. Hingga bukannya aku langsung tertidur, yang ada mataku semakin terbuka lebar. Aku terlalu senang sampai tidak bisa tidur. Sudah kucoba memejamkan mata, tapi kantuk belum juga datang. Sampai-sampai aku berguling kesana-kemari berganti posisi. Berharap dengan berganti posisi tidur. Akan membuatku cepat terlelap. Tapi tetap saja gagal. Sampai pukul 2 pagi aku baru bisa tertidur lelap. Alhasil saking lelapnya aku tertidur, sampai lupa kalau aku harus bangun pagi.


Sekolah sudah penuh dengan siswa-siswi yang asik bercengkrama. Dan juga banyak yang berseliweran kesana-kemari. Aku terlambat datang ke sekolah walaupun bel masuk belum berbunyi. Tapi dalam kamus hidupku, saat ini sudah termasuk terlambat.


Tapi saat aku membuka pintu.


Hah!


Mulutku menganga lebar. Mendapati kelasku masih kosong melompong. Kemana semua orang? Apa mereka belum datang?


Ku lihat jam tangan ku sekali lagi untuk memastikan pukul berapa sekarang. Dan sekarang pukul 06.55 artinya 5 menit lagi bel masuk akan segera berbunyi.


Aku bergidik ngeri. Benar-benar kelas neraka. Akhirnya aku duduk di kursiku sambil terus melihat jam dinding dan pintu secara bergantian. Padahal aku yakin sekali kalau kelas yang lain sudah mulai penuh siswa-siswi. Tapi kenapa kelasku masih saja kosong. Hanya ada aku seorang yang sudah datang.


Setelah bel berbunyi nyaring, barulah satu persatu masuk melewati pintu.


Bahkan Avi pun datang diwaktu yang sangat mepet. Tapi cowok yang aku tunggu-tunggu kedatangannya belum juga terlihat batang hidungnya.


"Apa Elang terlambat lagi?" Pikirku dalam hati.


Tapi sesaat kemudian dia masuk ke dalam kelas sambil mengobrol dengan kedua cowok yang tidak naik kelas itu.


"Siapa ya namanya?" Tanyaku dalam hati.


Ah! Aku memang payah kalau soal mengingat.


Oh iya! Yang suka cengengesan itu nama panggilannya molor. Terus yang satunya Jono.


Hahaha... Akhirnya aku cuma ingat nama panggilannya saja.


Mereka tampak sangat akrab. Mungkin mereka sudah saling kenal sebelumnya. Jadi tidak heran kalau mereka selalu berangkat bersama-sama. Atau jangan-jangan mereka satu komplek perumahan. Tak sengaja mata kami bertemu. Elang mengulas senyum ke arahku dan akupun mengulas senyum canggung untuk membalas senyumnya.


Setelah mereka duduk di tempatnya. Aku menutup wajahku dengan buku tulis. Pasti saat ini wajahku merah padam.