
Di dalam kelas, semuanya tampak menunggu kedatangan Bu asih. Tapi yang muncul malah Elang sambil senyum-senyum. Membuatku memalingkan wajah ke arah lain. Kesel banget rasanya lihat Elang senyum-senyum karena cewek itu.
Lalu di belakang Elang teryata ada bu Asih. Beliau masuk ke dalam kelas.
"Ibu mau tanya sama ketua kelas. Tolong jelaskan ke ibu kenapa kamu sampai lupa? Kasihan temen-temen kamu, nggak tahu apa-apa malah dihukum."
"Maaf Bu, saya bener-bener lupa," ujar Erik.
"Makanya kalo dikasih tugas langsung dibilang. Jangan ditunda-tunda."
"Iya, Bu. Erik emang suka nyepelein," adu yang lain.
"Nggak punya rasa tanggung jawab bu."
"Nggak cocok jadi ketua kelas."
"Ganti aja Bu!" Seru Rangga dengan suara lantang.
"Gimana menurut kalian? Ibu cuma ngikut aja."
"Ganti yang lain aja bu," ujar Revi seraya menatap sinis ke arah Erik.
"Kira-kira siapa yang pantas menjadi ketua kelas menurut kalian?" Tanya Bu Asih.
"Hani Bu!!!" Pekik Rangga dengan suara kencang dengan begitu semangatnya. Hingga jantungku berdetak kencang karena panik.
"Aish... Mulutnya emang pengen aku jahit rasanya," batinku kesal.
"Wah!! Iya... Iya... Hani aja yang jadi ketua kelas," ujar Revi semangat 45.
Diam-diam aku melirik ke arah Rangga dengan penuh dendam kesumat. Tapi wajahnya justru tambah menyebalkan. Dia tampak menyeringai senang.
"Baiklah kalo begitu!! Mulai hari ini Hani yang menjadi ketua kelas menggantikan Erik," putus Bu asih tiba-tiba.
"Hah! Tapi Bu..."
"Ibu yakin kamu bisa menjadi ketua kelas yang bertanggung jawab," ujarnya santai.
"Dan karena waktu istirahat kalian digunakan Bu Endang untuk menghukum kalian. Ibu sudah berdiskusi dengan pak Haris selaku guru yang akan mengajar setelah jam istirahat. Maka, ibu minta jam pelajaran ibu dan pak Haris ditukar. Jadi pak Haris bakal masuk di jam terakhir. Lalu ibu kasih tugas, kerjakan buku halaman 23 sampai 25 lalu dikumpulkan di meja ibu. Dan untuk saat ini kalian boleh istirahat di kantin. Tapi dengan satu syarat, kalian nggak boleh berisik atau mengganggu kelas lain yang masih pelajaran. Mengerti!!"
"Mengerti Bu!!" Pekik semuanya dengan senang. Setelah itu Bu Asih pergi keluar kelas.
"Yeay!! Yeay!!"
"Ssstt." Tiba-tiba Bu Asih berada diambang pintu sambil memberi kode agar tidak berisik.
"Maaf Bu nggak sengaja," ujar Revi yang tadi tampak paling semangat.
Di saat semuanya berhamburan keluar kelas dengan perasaan senang. Kini aku justru duduk dengan bahu merosot. Rasanya aku kehilangan tenaga. Lemah, letih, lesu bergabung menjadi satu.
"Lo nggak istirahat?" Tanya si biang kerok. Aku hanya meliriknya sinis lalu menelungkupkan kepalaku dilipatkan kedua tangan di atas meja.
"Oh iya! Gue lupa. Sekarang kan elo ketua kelas ya..." Aku tetap diam tak merespon apa pun ucapan si biang kerok satu ini.
"Ketua... Kantin yuk," ujarnya dengan nada menyebalkan di telingaku.
"Nggak!!" Sahutku ketus.
"Sebagai pengangkatan jabatan hari ini. Elo gue traktir deh."
"Pengangkatan jabatan kepalamu!!" Aku menegakan kembali tubuhku seraya menatapnya dengan mata berkilat marah.
"Apa maksud kamu jadiin aku ketua kelas?!" Ujarku dengan nada meninggi. Itu semua karena kelas kosong dan hanya ada aku dan si biang kerok satu ini.
"Pengen aja," sahutnya santai.
Aku meremas udara kosong di depanku. Seolah-olah aku sedang meremas wajahnya yang menyebalkan.
"Kamu tahu nggak! Kalo aku nggak pernah jadi ketua kelas selama ini!" Gigiku bergeletuk menahan amarah.
"Makanya biar pernah," sahutnya lagi dengan nada santai.
"Hiiiih!!!" Saking kesalnya aku lempar wajahnya dengan buku yang ada di atas meja.
Plak!
Buku itu jatuh ke lantai di sebelah Rangga. Ia sukses menangkis timpukan buku dariku.
"Eits... Nggak kena... wlek," ledeknya sambil menjulurkan lidahnya.
Buru-buru cowok itu berlari keluar kelas dengan kecepatan penuh. Sebelum buku tebal ini mendarat di wajahnya.
"Nyebelin banget tuh cowok," gerutuku seraya mencoret-coret kertas kosong untuk menyalurkan kekesalanku padanya. Cowok itu dengan seenaknya sendiri menyebut namaku.
Tak berapa lama kemudian mereka kembali ke dalam kelas tentu saja dengan keadaan perut kenyang. Sedangkan aku tidak nafsu makan sama sekali. Dari pada bengong, aku putuskan untuk mengerjakan tugas dari Bu Asih.
Dan akhirnya tugas itu selesai juga, aku menutup buku dan kembali menelungkupkan kepalaku dilipatan kedua tangan seraya memejamkan kedua mata.
Nyess!
"Hah!!" Pekikku terkejut saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Dengan cepat aku membuka mata dan melihat si pelaku utama yang kini tengah cekikikan.
"Ish...." Aku menatapnya dengan sorot mata tajam seraya menghapus air dingin yang menempel di pipiku.
"Nih buat Lo." Rangga meletakkan air mineral dingin dan dua bungkus roti di atas meja.
"Nggak mau," tolakku dengan nada kesal.
"Nggak usah malu-malu, makan aja."
"Nggak laper," ujarku seraya memalingkan wajah.
"Lang!!" Pekiknya kencang. Aku tahu apa yang akan dia lakukan. Maka dari itu aku buru-buru mengambil botol air mineral itu dan meneguknya dengan cepat.
"Ada apa ga?" Elang menghampiri Rangga yang berdiri di depanku.
"Besok jadi kan main futsal?" Tanya Rangga seraya melirikku sambil menyeringai.
"Jadilah, eh ngomong-ngomong kelas sebelah nantangin kelas kita besok. Terima nggak?"
"Terima aja, lagian biar tambah seru," sahut Rangga.
"Kalo gitu gue ngomong dulu ke Jono sama molor." Lalu Elang pergi menghampiri Jono dan molor di meja belakang.
"Mau ikut nonton futsal nggak? Gue yakin besok pacar Elang juga ikut nonton." Rangga menyeringai ke arahku.
"Nggak makasih," tolakku dengan nada ketus. Sudah tahu aku lagi patah hati, si biang kerok satu ini malah menyuruhku nonton futsal. Aku yakin 99% kalau besok bakal ada adegan romantis-romantisan lagi seperti hari-hari sebelumnya.
"Cemburu ya Lo?"
"Nggak! Udah sana-sana." Aku menggerak-gerakkan tanganku berusaha mengusirnya pergi. Muak banget lihat wajahnya yang menyebalkan itu.
***
Setelah bel berbunyi semuanya mengumpulkan buku-buku mereka di atas mejaku. Tentu saja sebagai ketua kelas yang baru aku harus membawanya ke ruang guru. Lalu dengan seenaknya sendiri, mereka berhamburan keluar dengan cepat meninggalkanku dengan tumpukan buku sebanyak ini.
Aku merapikan semua buku agar bisa dengan mudah membawanya ke ruang guru. Tapi tiba-tiba si biang kerok muncul persis seperti jin Tomang.
"Hei Yoo!!"
"Astaghfirullah!" Pekikku dengan jantung berdebar-debar karena terkejut dengan kemunculannya.
"Nih buku gue." Dia meletakkan bukunya ditumpukan paling atas. Tapi sudah satu menit dia masih saja berdiri di depan mejaku. Aku mengedikkan bahuku tak peduli. Lalu aku bangkit berdiri dari posisi duduk seraya membawa tumpukan buku itu dengan susah payah berjalan menuju ke pintu.
"Gue kasih tau ya, Elang masih ngobrol sama pacarnya di kelas sebelah," ujarnya hingga membuatku memutar langkah dan kembali ke mejaku lagi.
Brak!!
Dengan sengaja aku menghempaskan tumpukan buku itu di atas meja.
"Astaghfirullah!!" Pekiknya seraya mengelus dadanya pelan.
"Eh! gue kasih tau satu rahasia," ujarnya dengan suara berbisik. Yang kali ini benar-benar terdengar berbisik. Dia membungkukkan badannya condong ke arahku.
Aku mengangkat sebelah alisku penasaran.
"Vera selingkuh," ujarnya dengan suara lirih. Lalu ia menegakkan kembali tubuhnya seraya tersenyum.
"Beneran?" Tanyaku masih tidak percaya. Elang sesempurna itu masih diduakan oleh Vera. Kalau memang benar, sungguh keterlaluan.
Rangga mengangguk.
"Kok kamu bisa tau?" Tanyaku dengan tatapan curiga.
"Gue gitu loh," ujarnya seraya tersenyum bangga.