Shy Girl

Shy Girl
8. Kantin



Siang hari ini cuaca begitu panas. Bahkan kipas angin yang menggantung di tengah-tengah kelas tak terasa anginnya. Mungkin karena kipasnya cuma satu. Jadi aku sering mengipasi wajahku dengan buku tulis. Tapi aku sedikit bersyukur karena pindah tempat duduk di meja depan dekat pintu. Jadi ada angin yang masuk melalui pintu yang menerpa wajahku. Lumayan untuk mengurangi rasa panas.


Guru yang mengajar mata pelajaran geografi belum juga datang. Hingga jam kosong ini dimanfaatkan yang lainnya untuk membuat kegaduhan. Ada yang sedang berkreasi dengan memanfaatkan taplak meja guru untuk digunakan sebagai jubah Superman. Cowok itu berlari kesana-kemari mengelilingi kelas sambil membentangkan taplak meja. Seolah-olah dia sedang terbang. Hal itu membuat kepalaku pusing.


Dan ditambah cewek-cewek geng Revi yang sedang bergosip sambil tertawa  terbahak-bahak di tempat duduknya. Mereka sedang membahas kelakuan Ika yang lucu saat bertemu dengan kakak kelas yang ia sukai. Hingga membuat wajah Ika merah padam karena malu. Jika mereka tahu aku menyukai Elang. Bisa dipastikan kalau mereka akan menggodaku seperti yang mereka lakukan kepada Ika. Bahkan Revi tidak tanggung-tanggung untuk menelpon kakak kelas yang di sukai Ika.


Dengan begitu, Ika berlari mengejar Revi agar tidak menelepon cowok yang di sukainya itu. Dan aksi kejar-kejaran tak terelakkan.


Lalu aku melihat mas molor. Dia kini tengah menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja. Sepertinya aku tahu kenapa mas molor dipanggil begitu. Ternyata dia suka molor di dalam kelas. Apa jangan-jangan karena kebiasaa molornya itu ia tidak naik kelas? Entahlah!


Lalu mataku menangkap sosok Elang yang kini sedang bercengkrama dengan Tya di belakang sana. Sepertinya mereka tampak akrab. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Jantungku berdetak sedikit nyeri. Tapi ku coba menghilangkan perasaan itu.


Dia ganteng dan terlihat mudah bergaul, tidak sepertiku yang pemalu. Pantas kalau dia cepat akrab dengan geng Revi yang juga banyak bicara. Avi di sampingku juga tengah asik memainkan ponselnya. Sedangkan aku tidak memegang ponselku. Aku memang sengaja tidak mengeluarkannya dari dalam saku. Karena aku lebih suka membaca novel. Hal itu aku lakukan agar aku tidak terlalu ketergantungan dengan benda yang satu itu. Fokus ku sekarang di sekolah hanya belajar. Ponsel akan aku pakai untuk menghubungi seseorang. Jika tidak, lebih baik disimpan saja.


Aku beda dan aneh. Iya! Aku akui itu. Dari semua orang yang ada di sekolah ini. Mungkin cuma aku seorang yang tidak memainkan ponsel. Itu keputusanku. Aku yang akan mengendalikan ponsel. Dan bukannya ponsel yang mengendalikan diriku.


Karena aku tahu, bahwa ponsel bisa membuat seseorang kecanduan. Hingga tidak bisa lepas sedetikpun dari benda itu. Yang aku tahu, orang yang sudah kecanduan akan merasa resah jika tidak menggunakannya. Sudah banyak contohnya. Termasuk teman-temanku di kelas 10.


Maka dari itu aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri dan menjadi lebih kuat dari pengaruh buruk ponsel. Aku sadar aku aneh. Bertarung dengan pengaruh buruk penggunaan ponsel. Tapi hal itu terbukti, di saat jaringan ponsel eror karena lampu mati dan ponsel tidak bisa digunakan. Aku bisa santai-santai saja saat menghadapinya, jika dibandingkan dengan temanku yang terlihat gelisah. Seolah-olah ada yang hilang dari dalam dirinya. Sampai berpengaruh pada moodnya yang turun drastis dan mudah emosi.


"Hai," sapa Revi yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku. Aku terkejut dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling mencari sosok Avi.


"Hai," ujarku sedikit canggung. Bukannya Revi sedang menggoda Ika lalu kenapa tiba-tiba mendatangiku?


Ia mengulurkan tangannya dan ku sambut dengan sedikit kaku.


"Nama Lo siapa? Gue lupa," ujarnya dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


Ini beneran kan dia minta kenalan? L


"Hani Widiani," ujarku sedikit kaku.


"Oh! Hani." Ia tampak menganggukkan kepalanya.


"Kalo gue Revi Marina. Panggil aja Revi."


"Rev! Jijik gue lihat elo," ujar Tya.


"Eh! Lo Lo pada bisa diem nggak!" Bentak Revi.


"Nih, Hani jadi ketakutan." Tiba-tiba ia merangkul bahuku.


Sebenarnya yang lebih aku takutkan bukan mereka. Tapi lebih ke sikap baikmu itu. Apakah ada udang dibalik bakwan.


"Nggak usah takut, Han. Gue bakal belain elo. Kan, kita teman," ucapnya sambil menepuk-nepuk bahuku.


Glek


Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Aku sedikit mengangguk dengan kaku sambil senyum tipis.


"Kantin yuk. Mumpung guru geografi belum dateng," ujar Siska santai. Aku mengerutkan dahiku.


"Belum istirahat!" Ujar Tya sambil menoyor kepala Siska sampai kepalanya miring ke kanan.


Keduanya kembali duduk di kursi masing-masing. Tampak Siska bermuka masam.


"Sabar woy, ntar gue traktir bakso di kantin," ujar Revi seraya menatapku.


Dan benar apa kata Tya, bel istirahat berbunyi nyaring. Membuat senyum Siska terpancar cerah. Buru-buru mereka semua pergi ke arah kantin.


"Kantin yuk!" Ajak Revi yang ada di sebelahku.


"Eum... Iya," sahutku pelan. Lalu ia menarik tanganku menuju ke arah teman-temannya yang sudah berjalan lebih dulu.


Aku duduk di antara Revi dan Tya. Mereka menatap wajahku dengan sorot mata keheranan.


"Elo emang pendiem ya?" Tanya Siska seraya menyantap bakso di depannya.


"Iya," sahutku kikuk.


"Beda banget ya sama kita-kita yang suka ngomong sambil teriak-teriak," ujar Revi.


"Heran gue sama elo Rev. Itu mulut apa toa tahu bulat. Kenceng banget kalo ngomong," ujar Tya mengejek.


"Bisa aja Lo Juminten," celetuk Revi membalas Tya.


"Mata Lo minus ya, gue bukan Juminten."


"Tapi?" Tanya Ika dengan nada penasaran.


"Tapi Song Hye Kyo," ujarnya seraya menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi sambil tersenyum manis.


"Hoek... Jijik," ujar Siska seraya bergidik.


"Tapi emang bener kok, lo mirip Song Hye Kyo," ujar Ika tiba-tiba.


"Tuh! Ika aja bilang gitu," ujar Tya bangga.


"Ini baru temen gue." Tya menepuk-nepuk bahu Ika.


"Kalo dilihatnya dari lubang sedotan," ujar Ika kemudian.


"Ha...ha...ha...." Tawa semuanya pun pecah. Bahkan aku harus menahan tawaku mendengar mereka saling ejek.


"Kurang ajar Lo." Tya tampak kesal dengan menambah jumlah sambal ke dalam mangkoknya. Aku bergidik ngeri melihat mangkok bakso milik Tya.


"Eh! Jangan banyak-banyak!" Pekik Revi seraya menahan tangan Tya yang hampir memasukkan sesendok sambal lagi ke dalam mangkoknya.


"Kenapa sih?" Tanyanya dengan nada sinis.


"Jangan banyak-banyak, ntar Bu kantin rugi. Lagian elo mau makan bakso apa mau ngabisin sambel?"


"Biarin wlek," sahut Tya seraya menjulurkan lidahnya ke arah Revi.


"Han, elo kalo marah jangan suka ngabisin sambel ya. Kayak dia." Revi menunjuk Tya dengan dagunya. Aku hanya bisa mengangguk sambil terkikik geli melihat wajah Tya yang langsung berwarna merah padam.