Shy Girl

Shy Girl
35. Imbalan



"Karena gue udah kasih Lo rahasia dan sedikit motivasi. Makanya gue minta imbalan."


"Imbalan? Jadi kamu nolongin aku tuh nggak ikhlas," ujarku penuh emosi.


"He...he...he... Ya gitu deh," ujarnya sambil cengengesan. Membuatku memutar bola mataku jengah.


"Minta imbalan apa?" Tanyaku dengan nada malas.


"Temen Lo yang kelas sebelah cantik juga. Gue minta nomor ponselnya."


"Apa?!!" Ujarku seraya menatap wajahnya dengan geram.


"Nggak mau," tolakku mentah-mentah.


"Yaudah kalo nggak mau, gue tinggal bilang aja sama Elang kalo elo suka sama dia," ujarnya santai sambil berjalan ke arah pintu.


"Ish... Nyebelin banget si biang kerok satu itu," gerutuku kesal.


"Oke!!" Pekikku kemudian. Lalu dia cepat-cepat kembali dengan kegirangan lalu menyodorkan ponselnya.


"Tapi awas kalo kamu bilang sama dia kalo aku yang kasih nomornya." Aku mulai mengetikkan nomor Ulfa.


"Maaf Fa, aku terpaksa," batinku.


"Oke bos ketua," ujarnya seraya hormat.


"Bisa nggak sih, nggak usah bilang ketua-ketua terus," ujarku sedikit dongkol.


"Sorry kalo masalah itu gue nggak bisa. Soalnya elo emang ketua sekarang." Lalu aku menyerahkan kembali ponselnya.


"Eh... Mau kemana?"


"Ya pulanglah, emang mau apa lagi?" Tanyanya dengan polosnya.


"Bantuin bawa buku dulu ke ruang guru."


"Ogah," sahutnya.


"Tapi aku punya satu rahasia tentang Ulfa," ujarku seraya menyeringai. Dan benar saja, baru bibir ini mengatup Rangga sudah berdiri di depanku seraya membawa semua tumpukan buku dengan mudahnya.


"Ayo cepetan," ujarnya membuatku terkekeh geli.


"Akhirnya aku punya senjata buat lawan kamu ga," batinku seraya menyeringai.


***


Pagi-pagi sekali Rangga sudah duduk di sebelahku dengan rasa penasaran. Soalnya sejak kemarin aku sengaja tidak langsung memberitahukan rahasia mengenai Ulfa. Makanya dia sudah datang pagi-pagi untuk menagih jawaban.


"Han, rahasia apaan sih? Gue sampe nggak bisa tidur gara-gara elo tau nggak," ujar Rangga.


"Sebenernya bukan rahasia sih, tapi lebih tepatnya sebuah fakta," ujarku seraya tersenyum misterius. Biarkan saja dia tambah penasaran.


"Fakta apa? Cepetan ngomong!" Nada suaranya sudah tidak sabar lagi.


"Ulfa itu paling anti sama cowok berandalan," tukasku kemudian.


Sukurin Lo!!


Dalam hati aku bersorak-sorai.


"Oh cuma gitu. Untungnya gue bukan cowok berandalan," ujarnya santai.


Aku langsung melongo mendengar penuturannya itu.


"Bukan cowok berandalan katanya?" Ujarku dalam hati seraya memutar bola mataku jengah. Mana ada cowok baik-baik bajunya berantakan keluar sana-sini. Terus suka nyontek tugas orang lain, tidur di kelas pas ada guru, bolos sekolah dan masih banyak yang lainnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.


"Cowok berandalan tapi nggak sadar diri," gumamku.


"Siapa nama lengkap Ulfa?"


"Ulfa Dianti," sahutku tak peduli.


"Pasti Ulfa bakal suka sama gue. Gue kan ganteng."


"Dari Hongkong," sahutku dalam hati.


"Gue pinter."


"Pinter bolos," sahutku lagi dalam hati.


"Gue juga cowok baik-baik," ujarnya narsis.


"Baik pala Lo!!" Batinku seraya menatap penampilannya dari ujung kepala sampai kaki. Tidak ada baik-baiknya di mataku.


Entah kenapa pagi itu Elang berangkat pagi. Padahal biasanya ia jarang berangkat pagi. Atau mungkin karena Vera makanya ia jadi berangkat pagi?


Ah entahlah. Bukan urusanku juga. Lagian hatiku ini masih sedikit nyeri kalo melihat wajah Elang dan Vera.


Saat memasuki kelas keningnya berkerut melihat Rangga duduk di sebelahku. Mungkin dia heran melihat keakraban kita berdua.


"Aduh!!" Pekikku sedikit meringis.


"Ngapain elo lihatin Elang sampe pala Lo muter gitu?" Tanyanya dengan berbisik.


"Dia keheranan lihat kamu duduk di sini," sahutku dengan berbisik pula.


"Biarin aja," bisiknya.


"Tapi kan aku penasaran," balasku lagi.


"Nggak usah penasaran," ujarnya seraya bangkit dan pergi ke tempat duduknya.


Setelah kepergiannya tiba-tiba Ulfa masuk ke dalam kelasku dengan heboh.


"Hani!!" Panggilnya dengan suara melengking. Dia mengambil duduk di sebelahku.


"Aku kesel banget han," ujarnya dengan nada merengek.


"Pagi-pagi kesel kenapa?" Tanyaku heran melihatnya merengek seperti itu.


"Ada cowok yang ngechat aku kemarin." Aku mengangkat sebelah alisku.


"Terus?"


"Dia sekelas sama kamu."


Deg.


Ini yang dimaksud Ulfa pasti Rangga.


"Kok dia bisa tahu ya, nomor ponselku," ujarnya dengan suara melengking.


"Mana tuh cowok sok kenal sok dekat lagi," ujarnya tanpa tahu kalau si biang kerok lagi senyum-senyum di belakang sana.


"Kira-kira siapa yang ngasih nomorku ke cowok itu ya?"


Aku memalingkan muka tak berani menatap wajahnya.


Dududududu....


"Pelakunya tepat di depan matamu," batinku seraya meringis.


"Han! Ih! Kok malah bengong sih," ujarnya.


"Eh iya," sahutku sedikit gugup.


"Kamu tau nggak siapa yang nyebarin nomorku."


Ehemm


Aku berdehem terlebih dahulu untuk melegakan tenggorokanku sebelum menjawab. Masalahnya aku terpaksa harus berbohong agar tidak diamuk gadis di depanku ini. Walau terlihat feminim, tapi sebenarnya Ulfa gadis yang sedikit bar-bar kalau menyangkut masalah pribadinya.


"Ng...nggak tahu," sahutku gugup. Namun saat kulirik Rangga, dia justru tampak terkekeh geli di mejanya.


"Lang!" Panggil Vera di ambang pintu. Lalu dia masuk ke dalam kelas menghampiri Elang yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.


"Nanti kamu jemput aku dulu sebelum ke tempat futsal," ujarnya dengan nada manja.


"Hmm," sahut Elang seraya memainkan ponselnya.


"Kamu dengerin aku nggak sih?!"


"Aku dengerin."


"Coba mana ponsel kamu, aku mau cek siapa tahu kamu lagi chat-an sama cewek lain." Vera dengan cepat merebut ponsel yang dipegang Elang.


"Kamu ngomong apa sih? Sini ponselnya balikin," ujar Elang berusaha meminta ponselnya kembali.


"Kamu mencurigakan tau nggak," ujar Vera dengan mata memicing tajam.


"Mencurigakan apaan sih? Kamu jangan aneh-aneh deh. Ini masih pagi jangan ngajak berantem." Wajah Elang tampak malas. Di saat mereka sedang beradu mulut, aku dan Ulfa asik menonton mereka.


Nah! Ini baru tontonan yang asik nggak romantis-romantisan terus. Vera tampak marah lalu pergi begitu saja meninggalkan Elang.


"Ish..." Elang tampak mengacak rambutnya sebelum menyusul Vera.


Setelah mereka berdua keluar dari kelas. Ulfa mendekatkan wajahnya ke arahku.


"Ternyata mereka bisa berantem juga, aku pikir mereka pasangan paling so sweet sejagat raya."


"Nggak selebay itu juga kali," sahutku.


"Tapi ya Han, Vera emang rada curigaan suka nuduh sembarangan tanpa bukti. Aku aja pernah dituduh ngilangin novelnya. Padahal aku udah kembaliin ke mejanya. Tapi dia nggak percaya. Dan untungnya waktu itu temennya ngasih tau kalo novelnya ketinggalan di kantin."


"Kalo Vera masih curigaan begitu, aku ramal mereka bakalan putus dalam waktu dekat."


"Dih! Kayak Dilan aja pake acara ramal-ramalan segala," sahutku kemudian.