
Elang POV
Nggak tahu kenapa gue nggak bisa berpaling dari senyumnya yang manis. Hani, gadis itu terlihat semakin cantik setiap harinya. Matanya menyipit hingga berbentuk bulan sabit saat tersenyum. Senyum yang belum pernah ia perlihatkan di depan umum sebelumnya.
Bukan hanya cantik wajahnya tapi juga cantik hatinya. Gue terus menatap wajahnya hingga tiba-tiba matanya menatap ke arah gue.
Deg.
Pipinya bersemu merah lalu dia memalingkan wajahnya menghindari kontak mata. Gue tahu dia memalingkan wajahnya bukan karena dia nggak suka sama gue, tapi karena dia malu. Mau tidak mau gue juga ikut tersenyum geli. Rasanya tangan gue gatel pengen pegang pipinya yang merah itu.
"Lang! Woi!" Tepukan tangan Arya di bahu gue membuat gue memalingkan wajah ke arah Arya yang berada di sebelah gue.
"Apa?" Gue menaikkan sebelah alis seraya menatap wajahnya bingung.
"Noh! Pacar Lo dari tadi manggil-manggil," ujarnya seraya menunjuk Vera yang berada di ambang pintu.
Dengan malas gue melangkahkan kaki mendekati Vera. Namun, mata gue sempat melirik ke arah Hani yang tampak tak peduli. Entah kenapa gue nggak begitu semangat menemui Vera.
"Lang, ntar sore kamu anterin aku ke mall ya." Gue mengeryitkan kedua alis. Perasaaan baru kemarin dia minta anterin ke mall. Dan sekarang dia mau ke mall lagi.
"Kamu mau beli apa lagi? Bukannya kemarin kamu udah ke mall." Bibirnya mengerucut dengan kedua tangannya terlipat di depan dada. Sepertinya dia ngambek lagi. Ini lah yang gue nggak suka dari Vera sedikit-sedikit ngambek nggak jelas.
"Ih... Kalo kemaren kan aku beli baju. Kalo nanti sore aku mau beli lip tint. Kebetulan lip tint warna pink aku hampir abis," ujarnya dengan nada manja.
"Maaf, nanti sore aku mau nongkrong sama temen-temen." Bukannya gue beralasan. Tapi emang gue udah lama nggak nongkrong bareng temen-temen setelah pacaran sama dia.
"Apa kamu bilang?! Nongkrong sama temen-temen? Jadi maksudnya kamu lebih mentingin temen kamu dari pada aku?" Dia mulai lagi. Gue memutar bola mata gue malas. Selalu saja begitu, padahal dulu waktu awal kenal dia nggak semenyebalkan ini. Dia gadis yang ceria dan pengertian. Tapi semakin lama ia mulai menampakkan sifat aslinya.
"Oke, nanti sore aku anterin kamu." Gue menghela nafas lelah, untuk kali ini gue mau nurutin apa maunya. Dan menunda acara kumpul-kumpul bareng temen-temen.
"Nah gitu dong, pacar itu emang harus diutamakan. Kalo masalah kumpul bareng temen bisa nanti-nanti."
***
Istirahat kedua ini gue sama temen-temen pergi ke kantin khusus cowok-cowok kelas 12. Tapi karena gue dan temen-temen termasuk anak yang bandel dan juga kenal pentolan kelas 12, makanya gue sama temen-temen bisa makan di kantin itu. Bahkan murid cowok dari kelas lain saja segan buat jajan di sini.
Di saat gue melihat ke depan, nggak sengaja gue malah lihat Hani jalan sama Avi ke kantin sebelah. Bibir gue nggak bisa kalo nggak senyum pas lihat dia.
"Woi gam! Liatin apaan Lo sambil senyum-senyum sendiri." Pandangan mata gue lalu beralih menatap Agam mantan ketua OSIS kelas 12 IPA 1. Cowok paling pinter dan paling rapi di kantin ini.
"Wah! Pasti gara-gara cewek yang waktu itu kan!" Ujar temannya dengan suara keras.
"Cewek yang mana? Perasaan temen kita yang satu ini nggak minat sama yang namanya cewek. Gue kasih tau ya, Agam itu cowok yang paling setia sama buku. Ya nggak gam." Teman yang satunya berkata sambil menepuk bahu Agam sok tau.
"Eh Ucup! Kalo nggak tau tuh nggak usah ngomong. Agam itu lagi berbunga-bunga sama cewek yang waktu itu masuk ke kantin ini sambil ngasih pertanyaan geografi."
Deg.
Jantung gue berdetak kencang setelah tahu siapa yang dimaksud cowok itu. Rasanya gue nggak rela kalo Hani dideketin sama Agam. Saking kesalnya gue menggebrak meja cukup kencang hingga memancing perhatian orang-orang.
"Eh Lang, elo kenapa?" Gue menatap molor tanpa memberi jawaban. Lalu gue langsung cabut kembali ke kelas. Entah kenapa gue merasa di kantin itu sangat panas.
Sesampainya di kelas gue duduk di kursi sambil mengacak-acak rambut gue untuk menghilangkan rasa kesal yang bercokol di hati. Hanya karena gue denger Agam suka sama Hani. Walaupun dia sendiri nggak membenarkan ucapan temennya. Tapi gue ngerasa apa yang diucapkan temennya bener. Karena udah kelihatan dari wajah Agam yang bersifat menatap Hani. Gue bisa sampai uring-uringan seperti ini.
"Gue sebenernya kenapa?" Batin gue bertanya-tanya. Padahal kemarin-kemarin Hani biasa aja di mata gue. Dia hanya gadis pemalu yang suka menyendiri. Nggak banyak ngomong tapi manis. Apalagi waktu gue ajak ngomong. Pipinya selalu memerah dan bikin tangan gue pengen nyubit pipinya itu. Pokoknya pengen gue unyel-unyel saking gemesnya.
Deg.
"Apa gue jatuh cinta sama Hani?" Gue menggelengkan kepala gue berulang kali. Tapi gue udah pacaran sama Vera. Jadi rasanya nggak mungkin gue jatuh cinta lagi.
Vera udah lebih dari cukup buat mengisi hati gue yang kosong. Tapi apakah yang gue rasain ke Vera itu cinta? Atau hanya sebagai pengisi kekosongan sementara sebelum mendapatkan seseorang yang benar-benar gue cintai?
Akh!!!
Gue semakin mengacak-acak rambut dengan kesal. Gue nggak ngerti jawabannya. Rasanya urusan perasaan lebih rumit dari pada ulangan geografi tadi pagi.
Ngomong-ngomong masalah pelajaran geografi. Gue malah inget wajah Hani saat terkekeh geli yang tampak cantik dan manis.
"Astaga!!" Gue terus-menerus membayangkan wajah Hani. Gadis itu benar-benar membuat gue gila.
***
Seperti biasa gue pergi ke kelas sebelah nungguin Vera keluar. Gue lihat dia lagi ngobrol sama temennya di dalem kelas. Dari pada bengong gue keluarin ponsel gue dan main games sambil bersandar di dekat pintu.
Tapi gue rasa ada yang kurang, makanya gue memasukkan tangan gue ke dalam saku. Dan benar saja, kunci motor gue ketinggalan di laci meja. Buru-buru gue masuk ke dalam kelas. Dan betapa terkejutnya gue saat mendapati Hani sedang menutup jendela sendirian.
Ehemm
Gue berdehem dengan jantung berdetak kencang. Lalu dia membalikkan badannya menatap ke arah gue. Lagi-lagi wajahnya memerah, tapi kali ini dia nggak berusaha untuk memalingkan wajahnya dari tatapan mata gue.
"Kok kamu belum pulang?" Gue tersenyum canggung.
"Iya," jawabnya. Lalu gue sadar pertanyaan gue nggak banget. Jelas-jelas dia masih di sini yang artinya dia belum pulang.
"Aish... Bodoh banget gue," batin gue kesal sendiri. Mungkin karena gue gugup jadinya mulut gue sama otak nggak nyambung. Gue menggaruk tengkuk gue bingung mau ngapain.
"Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan ya?"
"Ah iya!" Pekik gue kencang. Hampir saja gue lupa tujuan gue balik lagi ke kelas. Gue berjalan ke arah meja gue dan mengambil kunci motor yang ketinggalan di dalam laci. Lalu gue lihat dia kesusahan menutup jendela.
Makanya gue berinisiatif membantu. Gue berdiri di belakangnya lalu tangan gue yang panjang meraih kaitan jendelanya dan menutupnya dengan mudah. Dia membalikkan badannya dengan wajah terkejut. Mungkin karena gue ada di belakangnya dengan jarak yang begitu dekat. Gue harus sedikit menunduk untuk bisa menatap wajahnya yang lagi-lagi memerah karena malu.
Brak!!