
Sudah enam hari aku terus memberi pertanyaan seputar hutan sabana. Tapi aku tak pernah lelah untuk terus bertanya walaupun semua orang sudah eneg mendengar pertanyaanku itu.
Seperti sekarang ini.
"Yaelah!! Hutan sabana lagi, hutan sabana lagi. Gue bosen tau nggak ditanya begitu terus," ujar Tya dengan nada ketus dan sinis. Aku hanya mampu menundukkan kepalaku.
"Iya! Emang nggak ada pertanyaan lain," ujar Arya dengan tatapan tajam.
"Elo itu baru jadi ketua kelas. Kenapa sok banget." Kata-kata Erik menusuk relung hatiku. Aku tau kalau aku baru jadi ketua kelas, tapi sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk bersikap sok atau apa pun sebutannya.
"Elo pikir karena elo ketua kelas makanya bisa berbuat seenaknya. Elo itu ganggu dengan semua pertanyaan Lo itu."
"Maaf kalo aku selama ini bikin kalian terganggu," ujarku dengan dada terasa sesak.
"Kalian kenapa sih? Gue yakin Hani nggak bermaksud buruk," ujar Rangga berdiri di depanku menatap semua orang yang tidak suka denganku.
"Tapi kelakuannya itu ganggu kita semua," ujar Arya dengan rahang mengeras.
"Kelakuan yang mana?" Tantang Rangga dengan nada kesal.
"Cih... Nggak usah pake nanya. Jelas kelakuan dia yang sok pinter nanyain semua orang tentang pelajaran. Kalo dia mau nanya-nanya. Suruh dia jadi guru dulu," ujar Arya nyolot seraya menunjukku. Membuat emosi Rangga terpancing.
"Elo nggak usah pake nunjuk-nunjuk segala!" ujar Elang yang berdiri di samping Rangga menutup tubuhku yang kecil.
Seluruh tubuhku bergetar. Aku benar-benar tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya ingin membuat Bu Endang tidak lagi meremehkan kelas kita. Aku hanya ingin merubah kalian menjadi lebih baik.
Aku berlari ke ke arah taman belakang yang sepi. Untung masih ada sisa jam istirahat. Jadi aku bisa menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali masuk ke dalam kelas yang penuh dengan tatapan tidak suka.
"Apa yang aku lakukan salah?"
"Apa aku memang tidak cocok jadi ketua kelas?"
"Apa lebih baik aku jadi diriku yang dulu saja?"
Semua pertanyaan itu muncul di dalam benakku.
"Nggak usah dipikirin." Aku melonjak kaget saat mendapati Elang sudah duduk di sampingku seraya tersenyum.
"Nih minum dulu." Dia memberikan sebotol air mineral.
"Makasih," ujarku setelah menerima botol air mineral itu.
"Gue tau elo nggak bermaksud begitu."
Hening.
Kami berdua sama-sama terdiam cukup lama.
"Elo bisa kasih tau gue maksud dari tindakan Lo selama enam hari ini?"
"Aku nggak bisa cerita. Lebih baik kita ke kelas, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi." Aku lebih dulu beranjak meninggalkan Elang dan kembali ke dalam kelas.
***
Selama satu jam kami mengerjakan soal ulangan dari Bu Endang. Lalu setelah itu Bu Endang langsung mengoreksi hasil pekerjaan kita semua.
"Kalian itu benar-benar!!" Ujarnya dengan suara kencang. Membuat kita semua terkejut. Aku mengernyitkan dahiku heran dengan kemarahan Bu Endang yang tiba-tiba.
"Kalian itu benar-benar berbeda dari kelas lain. Di kelas lain tidak ada yang berani berbuat seperti kalian semua!" Ujarnya dengan nada meninggi.
Apa maksudnya?
"Pasti kalian semua menyontek makanya bener semua."
"Maksud ibu apa?" Tanya Afif.
"Lihat ini!" Bu Endang menunjukkan kertas hasil ulangan yang menunjukkan nilai seratus semua.
"Tidak mungkin kalian semua bisa dapat nilai seratus kalau tidak menyontek. Cepat keluarkan kertas contekan kalian semua sekarang!" Mata Bu Endang melotot menatap kami semua. Ia terlihat sangat marah.
"Bu, kita nggak nyontek," ujar mas molor.
"Nggak mungkin, ibu nggak bakal percaya sama kalian semua."
"Begini Bu, murid kelas ini nyontek semua Bu. Tapi nggak mau ngaku."
"Apa benar seperti itu?" Tanya Bu Lisa menatap kami semua.
"Nggak Bu, kami nggak nyontek," ujar mas molor mewakili kita semua.
"Nggak nyontek gimana? Bu lihat ini buktinya." Kertas-kertas ulangan kami diserahkan ke Bu Lisa.
"Saya rasa tidak ada yang aneh." Bu Lisa mengembalikan kertas-kertas itu setelah memeriksa hasil ulangan kita semua.
"Ya jelas aneh dong Bu, kalau di kelas lain saya percaya mereka semua dapet nilai seratus. Masalahnya ini kelas IPS 4 Bu," ujarnya penuh penekanan.
"Apa masalahnya kelas IPS 4 dapet nilai seratus semua?"
"Mereka itu anak-anak pemalas."
"Tapi kita nggak nyontek," ujar mas molor tidak terima dituduh seperti itu.
"Kalo begitu buktikan. Tutup semua buku dan masukkan ke dalam tas masing-masing. Tidak boleh ada satupun buku diatas meja." Kami melakukan apa yang diperintahkan Bu Endang.
"Sekarang kamu jawab pertanyaan ibu, apa itu hutan sabana?" Tunjuknya ke arah mas molor.
"Cepat berdiri dan jawab dengan lantang dan tidak boleh menengok kanan-kiri."
"Hutan sabana adalah kawasan hutan berupa padang rumput yang ditumbuhi oleh semak atau perdu yang diselingi sebaran beberapa jenis pohon," sahut mas molor dengan suara lantang dengan tatapan lurus ke arah Bu Endang.
Tampak Bu Endang terpaku mendengar jawaban mas molor yang ternyata benar.
"Kalo begitu kamu." Tunjuknya ke arah Arya. Mungkin Bu Endang masih belum percaya. Makanya menunjuk orang lain.
"Sebutkan tiga ciri-ciri hutan sabana?"
"Pertama, curah hujan musiman. Yang kedua, curah hujan tidak teratur. Dan ketiga, hutan sabana hanya berada di wilayah iklim tropis atau wilayah yang dilewati garis khatulistiwa." Tampak Bu Lisa mengangguk bangga.
"Sekarang kamu." Tunjuknya ke arah Afif.
"Sebutkan pohon yang tumbuh di hutan sabana?" Terlihat Afif tersenyum terlebih dahulu sebelum menjawab.
"Pohon palem dan pohon akasia," jawabnya dengan penuh percaya diri.
"Lalu kamu." Tunjuknya ke arah Tya.
"Sudah Bu," potong Bu Lisa.
"Mereka semua tidak menyontek. Bu Endang tidak seharusnya mencap mereka semua sebagai anak yang pemalas."
"Maaf Bu." Bu Endang tampak kicep dengan wajah pucat pasi.
"Harusnya ibu minta maaf ke murid-murid."
"Anak-anak ibu minta maaf, tidak seharusnya ibu mencap kalian semua sebagai anak-anak pemalas."
***
Tampak semua teman-teman berjalan mendekatiku terlihat dari ujung ekor mataku. Aku hanya mampu duduk dengan wajah menunduk.
"Han, maafin kita karena tadi kita sempet marah-marah sama elo," ujar Tya. Aku mendongakkan kepalaku menatap wajahnya yang penuh rasa menyesal.
"Nggak pa-pa, aku tau kalo niat baik belum tentu ditangkap orang lain sebagai niat baik."
"Nggak," ujar Tya seraya menggelengkan kepalanya kencang.
"Kita yang salah dan berpikir negatif tentang elo. Gue baru tau apa maksud semua pertanyaan Lo selama ini. Berkat elo Bu Endang nggak lagi meremehkan kelas kita."
"Berkat elo juga gue bisa dengan mudah jawab pertanyaan Bu Endang tadi," ujar mas molor.
"Dan berkat elo gue bisa dapet nilai seratus. Gue bakal laminating nih kertas ulangan dan bakal gue pajang di kamar. Mau gue pamerin ke mama." Afif tampak sangat bahagia bahkan ia sampai mencium kertas ulangannya berulang-ulang.
Aku tersenyum geli mendengar penuturannya itu. Dan tanpa sengaja mataku dan mata Elang beradu.
Deg.