
Aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Berbaring menatap langit-langit kamar.
"Aku nggak bisa Fa," ujarku kemudian.
"Kenapa nggak bisa?" Dia ikut berbaring di sebelahku menatap ke arah langit-langit kamar.
"Karena aku nggak bisa mengontrol perasaanku gitu aja. Kalo aku bisa, aku mau jatuh cinta sama cowok yang lebih dari Elang. Tapi nyatanya aku nggak bisa."
"Terus gimana rencana kamu kedepan? Nggak mungkin kamu nikung Elang dari Vera. Jelas kamu kalah telak." Entah kenapa ucapan Ulfa mengingatkanku dengan Rangga. Waktu itu juga dia mengibaratkan aku dan Vera seperti motor cub dan motor sport.
"Aku tahu itu... Makanya aku mau berubah lebih baik lagi. Aku mau fokus ke diriku sendiri. Dan nggak mau mikirin Elang lagi. Kamu mau kan bantu aku?" Ulfa tersenyum menatapku seraya memberikan dua jempolnya.
"Siap bos."
Aku dan dia tertawa bersama-sama. Ternyata rasanya curhat itu seperti ini. Seakan beban berat hilang setengah. Kenapa aku dulu selalu menutup diri. Padahal ada Ulfa yang selalu setia berteman denganku dari dulu.
***
Sejak saat itu setiap pulang sekolah, aku dan Rangga pasti pergi ke gedung terbengkalai. Di sana Rangga memberikan motivasi agar aku bisa lebih berani dan menjadi pribadi yang optimis.
"Nah! Gimana udah ngerti?" Dia bersedekap menatap wajah ku serius.
"Udah," balasku seraya mengangguk.
"Kalo gitu hari Minggu besok gue jemput elo di rumah."
"Emang kita mau ke mana?"
"Ada tugas buat elo. Dan elo nggak boleh menghindar, ngerti!"
"Iya ngerti." Entah kenapa cowok itu suka merintah-merintah seenaknya sendiri akhir-akhir ini.
***
Sekitar jam sepuluh Rangga menjemputku di depan rumah. Dan mama menatap Rangga dengan alis berkerut. Pasti setelah ini mama akan mengintrogasi dengan pertanyaan kenapa cowok yang jemput beda dari cowok sebelumnya. Tapi tak apalah, itu urusan terakhir.
Yang jadi masalah, Rangga mau membawaku ke mana? Dari tadi dia tidak bilang apa-apa. Hingga kami sampai di sebuah tempat makan cepat saji. Rangga memesan begitu banyak makanan yang dipisahkan perbungkusnya.
"Itu semua buat siapa?" Tunjukku ke arah kantong plastik yang dia pegang.
"Buat tugas elo hari ini," jawabnya ambigu.
"Tugas apa pake beli banyak ayam goreng?" Gumamku bertanya-tanya. Tapi aku terus mengikuti Rangga yang sudah berjalan lebih dulu ke arah jalan raya.
"Kita mau kemana lagi?" Tanyaku saat aku bisa mensejajarkan langkahku dengannya. Lebih tepatnya dia yang memelankan langkah kakinya.
"Elo liat kakek-kakek tukang parkir itu." Rangga menunjuk seorang pria tua yang sedang memarkirkan mobil di seberang jalan.
"Iya," sahutku seraya mengangguk.
"Nih." Dia memberikan sebungkus makanan tadi ke arahku. Dan aku menerimanya dengan dahi berkerut dalam.
Apa maksudnya?
"Terus aku harus apa?"
"Elo kasih makanan ini ke kakek-kakek itu dan ajak dia ngobrol sekitar sepuluh menitan."
"Ngobrol apa? Aku nggak bisa," tolakku.
"Hari ini elo praktik. Gue nggak mau tahu, elo harus ngobrol selama sepuluh menit sama kakek-kakek itu. Kalo nggak mau, besok gue kasih tahu Elang kalo elo suka sama dia," ancamnya.
"Oke aku terima tantangan kamu. Aku bakal kasih makanan ini sambil ngobrol sama kakek-kakek itu," ujarku kesal.
"Bagus, udah sana jangan lama-lama." Rangga menggerakkan tangannya seolah-olah mengusirku. Dengan terpaksa aku menyebrang menghampiri kakek-kakek lusuh itu ragu-ragu. Tampak kakek itu kepanasan karena terkena teriknya matahari yang sangat panas. Dia terduduk di emperan toko menanti mobil yang hendak parkir.
Aku mendekat dengan ragu.
"Kek, boleh aku duduk di sini?" Tanyaku.
"Aduh neng, di sini kotor sama panas. Eneng mending duduk di sana saja." Kakek itu justru menunjuk ke arah lain.
"Nggak pa-pa kek, aku mau duduk di sini."
"Kakek udah lama kerja jadi tukang parkir?"
"Udah lama neng, dari tahun sembilan puluhan. Kakek udah jadi tukang parkir di sini."
"Anak kakek kerja kok neng, bahkan mereka nyuruh kakek di rumah aja sama cucu. Tapi dasarnya kakek yang suka kerja, jadi kalo nggak kerja malah pegal-pegal semua punggungnya," sahutnya tanpa beban.
Aku mengangguk.
"Ngomong-ngomong anak kakek ada berapa?"
"Anak kakek ada dua, yang pertama laki-laki kerjanya di luar kota. Sedangkan yang terakhir perempuan, dia sudah menikah."
"Kalo istri kakek?"
"Dia udah lama nggak ada, waktu itu dia jatuh di kamar mandi. Terus karena kakek nggak punya uang, makanya kakek nggak bawa ke rumah sakit. Tapi seminggu kemudian dia pergi ninggalin kakek sama kedua anak kakek yang masih kecil-kecil." Tanpa sadar air mataku menetes mendengar cerita kakek itu. Beliau seorang ayah yang luar biasa. Merawat kedua anaknya seorang diri.
"Maaf kek, aku nggak bermaksud membuat kakek sedih," ujarku menyesal menanyakan hal itu.
"Nggak pa-pa neng, lagian kakek sudah ikhlas. Mungkin ini sudah jadi takdir dari sang maha kuasa."
Aku menghapus air mataku karena teringat dengan makanan yang ingin aku berikan.
"Kakek udah makan?" Tanyaku kemudian dengan suara serak.
"Belum neng," jawabnya santai. Padahal ini sudah siang hari waktunya orang-orang makan siang.
"Tapi ini kan udah siang, kakek bisa makan dulu sebentar baru kerja lagi."
"Duh neng, kalo siang begini banyak mobil yang parkir. Nanti kakek nggak dapet duit kalo ditinggal makan dulu."
Benar apa yang dikatakan kakek itu, siang hari seperti ini biasanya banyak yang makan siang diluar. Apalagi ini hari Minggu. Pasti banyak keluarga yang suka menghabiskan waktu bersama keluarga dengan jalan-jalan atau makan-makan diluar.
"Kebetulan aku ada makanan buat kakek, kakek terima ya," ujarku seraya menyerahkan bungkus makanan.
"Terima kasih neng," ujarnya.
"Iya, sama-sama." Dia tampak terharu saat membuka bungkusan itu.
"Kok makanannya dibungkus lagi kek, kakek nggak suka?"
"Bukan begitu neng, kebetulan cucu kakek suka minta ayam goreng kayak gini waktu ada iklan di tipi. Tapi nggak pernah dibeliin. Karena uangnya pas-pasan buat makan sehari-hari. Jadi kakek mau bawa pulang aja buat cucu di rumah," jawabnya. Tiba-tiba dadaku sesak, hatiku seakan tersentil. Menyaksikan masih banyak orang-orang yang kurang mampu di sekitar kita. Contohnya kakek ini, hal yang dianggap sepele. Bisa menjadi hal yang sangat berharga untuk orang lain.
"Yang itu kakek makan saja, aku masih punya banyak. Kakek tunggu, aku mau ambil dulu." Setelah mengatakan hal itu aku menyebrang jalan menghampiri Rangga yang sedang duduk.
"Yuk! Ke tempat lain," ujarnya hendak pergi.
"Tunggu!" Dia berbalik dengan alis terangkat sebelah.
"Apa lagi?"
"Aku boleh minta lagi nggak makanannya. Aku ganti deh. Soalnya cucu kakek itu mau ayam goreng ini tapi nggak pernah dibeliin. Boleh ya," pintaku memelas.
"Nih, ambil semua. Nggak usah diganti."
"Makasih," ujarku seraya kembali lagi ke tempat kakek-kakek itu duduk.
"Ini buat cucu kakek," ujarku seraya tersenyum.
"Makasih neng," ujarnya seraya menangis haru.
"Iya kek, aku pergi dulu."
Aku tersenyum seraya berjalan menuju ke tempat Rangga.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Ngobrol sama orang asing nggak terlalu buruk juga," ujarku tiba-tiba.
"Bagus deh, nih pake helmnya. Ngomong-ngomong siapa nama kakek itu?"
Plak!!
Aku langsung menepuk jidatku kencang.
"Aku lupa nanya," ujarku.
"Dasar b*doh," sahut Rangga seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.