Shy Girl

Shy Girl
3. Naik Kelas



Setelah libur panjang, aku putuskan tidak akan memikirkan perasaan ku kepada Elang. Mungkin itu hanya rasa kagumku saja dengannya. Itu hanya sekedar perasaaan ngefans dan tidak lebih.


Dengan semangat aku mengayuh sepedaku menuju ke sekolah setelah libur panjang. Walau liburanku tidak pergi kemanapun. Tapi tetap saja aku merasa senang. Udara pagi berembus menerpa wajahku kencang kala ku kayuh pedal sepeda dengan kencang pula. Ya, aku sering berangkat sekolah menggunakan sepeda. Dan memang hanya aku yang menggunakannya. Di saat siswa lain memilih menggunakan sepeda motor.


Jangan tanya kenapa aku lebih memilih menggunakan sepeda di bandingkan sepeda motor. Karena menurutku sensasi keduanya juga berbeda. Ada tenaga yang aku keluarkan untuk melaju dengan kencang. Makanya aku lebih menyukai segala proses dengan usahaku sendiri. Tidak menggunakan cara simpel saja. Apalagi manfaat yang aku dapatkan untuk kesehatanku. Selain tidak mengeluarkan uang untuk membeli bensin, bersepeda juga memaksa tubuh bergerak aktif.


Rambut panjang ku yang kukuncir kuda bergerak seiring tubuhku mengayuh pedal. Aku tersenyum senang. Di sinilah aku biasa mengulas senyum tanpa perlu merasakan perasaan malu.


Jalanan terlihat sangat lenggang membuatku merasa lebih bebas. Karena aku lebih memilih berangkat sekolah sangat pagi untuk menghindari pemotor yang ugal-ugalan karena takut terlambat.


Ciitttt!


Ku Rem sepedaku saat aku sudah berada di depan SMA Garuda tercinta. Terlihat gerbang besar belum dibuka lebar. Mungkin aku berangkat terlalu semangat hingga penjaga sekolah saja belum membuka gerbang dengan lebar. Tak apa, yang penting sepedaku bisa masuk ke dalam sana. Aku menuntun sepedaku menuju ke tempat parkir yang letaknya tak begitu jauh dari gerbang sekolah. Kosong. Kuedarkan pandangan mataku ke sekeliling. Tempat parkir begitu kosong. Hingga aku bisa dengan bebas meletakkan sepedaku di mana saja yang aku inginkan . Kalau sudah begini, aku pasti akan memarkirkan sepedaku di tempat yang teduh.


Senangnya diriku, kini bukan lagi anak kelas sepuluh melainkan kelas sebelas. Sekarang aku mempunyai adik kelas. Yang pasti mereka akan menghormatiku sebagai senior.


Kuembuskan nafasku sejenak untuk menghilangkan letih setelah mengayuh sepeda dari rumah yang jaraknya lumayan jauh. Aku berjalan dengan riang gembira mumpung sekolah masih sepi. Kalau ramai tidak mungkin aku seperti ini. Aku akan memilih berjalan sambil menunduk. Menghindar dari tatapan orang-orang. Mungkin banyak orang yang akan menganggapku sombong. Padahal sejujurnya aku tak berniat seperti itu. Hanya saja aku malu jika harus menyapa lebih dulu. Seperti.... Entahlah aku tak bisa menjelaskannya.


Kelas-kelas yang aku lewati kini masih sangat-sangat sepi. Aku yang terlalu semangat berangkat sekolah. Sedangkan yang lainnya masih malas berangkat sekolah setelah libur panjang. Mungkin keenakan libur jadi malas berangkat.


Beda dengan diriku, kalau berangkat sekolah maunya cepat libur, tapi kalau libur kepanjangan pengen cepet berangkat. Aneh kan?


Itulah aku Hani si gadis pemalu yang suka bersepeda dan juga baca novel.


Ah! Aku lupa!


Inikan hari pertama masuk sekolah, jadi aku belum tahu aku ada di kelas mana.


Apalagi para guru pun belum berangkat. Lalu aku harus menunggu sendirian di sini?


Tak apa, aku juga suka keheningan. Lebih baik aku duduk di kursi taman sambil membaca novel yang baru aku beli Minggu lalu. Ku bersihan terlebih dahulu kursi taman yang terdapat dedaunan yang berserakan di atasnya. Setelah bersih aku duduk di sana sambil membaca novel. Aku hanyut dalam ceritanya hingga aku tak menyadari bahwa sudah banyak siswa-siswi yang sudah berangkat. Suara-suara cekikikan gerombolan siswi yang melintas di depanku membuatku terganggu.


Mereka tampak seru dengan perbincangan yang tak aku ketahui. Ku tutup novel di tanganku. Percuma kalau suasana sudah ramai. Aku mengedarkan pandanganku mencari seseorang yang aku kenal. Tapi sepertinya dia belum datang. Ulfa, dia pasti berangkat di jam mepet. Kebiasaan temanku satu-satunya itu membuatku pusing. Ia juga sering datang terlambat dan membuatnya menjadi langganan ruang bk. Walau begitu, gadis itu paling mengerti aku. Sehingga kami tampak cocok. Hani yang pemalu berteman dengan Ulfa gadis ceria dan pemberani.


Sifat kami memang sangat bertolak belakang. Tapi karena itulah kami berdua sangat cocok. Ku lirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Kalau ini hari seperti biasanya. Bel masuk pasti sudah berbunyi nyaring. Namun karena ini masih awal masuk sekolah setelah libur panjang. Makanya walau sudah pukul 7 pagi bel masuk belum berbunyi.


"DOR!" Teriak Ulfa dari belakang sambil menepuk bahuku kencang. Aku meloncat kaget. Jantungku terasa mau lepas dari tempatnya. Setelah itu terdengar suara tawa yang sangat kencang.


"Hahaha...." Ulfa mengambil duduk di dekatku sambil terus tertawa.


Sedangkan aku mendengus kencang seraya memegangi dada kiriku.


"Benar-benar keterlaluan," pikirku kesal.


"Kamu ngapain duduk sendirian di sini, sambil celingukan kayak orang ilang?" Tanyanya sambil berusaha meredakan gelak tawanya yang menggelegar itu. Hingga memancing perhatian siswi-siswi yang berkumpul tak jauh dari kami.


"Nyariin aku ya?" Tanyanya lagi dengan sorot jail.


"Aku lupa kalo temen kamu ya cuma aku," ejeknya lagi.


"Iya iya, temenku cuma kamu. Puas!" Sahutku tanpa minat.


"Udah ngambeknya, aku minta maaf ya," ujar Ulfa sambil mengulurkan tangannya di depanku dengan memasang cengirannya.


Kalau begini, sudah jelas aku akan memaafkannya. Apalagi melihat puppy eyes-nya itu yang menggemaskan. Mana bisa aku menolaknya. Ku raih uluran tangannya.


"Nah! Gitu dong. Ini baru temenku," katanya dengan menggenggam erat tangan kananku dan dinaik-turunkan dengan cepat.


"Udah, aku malu." Aku melihat banyak mata yang memperhatikan interaksi kami berdua. Mungkin aneh melihat pertemananku ini. Seandainya dulu Ulfa tak mengajak kenalan duluan. Mungkin sampai sekarang aku akan menjadi gadis tanpa teman.


"Dih! Gini aja pake malu," ejeknya melihatku menundukkan kepala.


"Malu kenapa sih?" ujarnya enteng. Menganggap hal yang kuanggap memalukan justru tak berpengaruh untuknya.


Aku hanya menganggukkan kepala saja. Tapi disaat kami sedang mengobrol, lebih tepatnya Ulfa yang berceloteh tentang pacarnya. Tiba-tiba siswa-siswi berlari menuju ke Mading yang ada di dekat ruang bk.


"Wah! Kayaknya udah ditempel pembagian kelasnya." Setelah mengucapkan hal itu. Ulfa langsung berlari meninggalkan diriku.


"Dasar," gumamku lirih. Aku menggeleng dan ikut berjalan mengikutinya ke arah Mading.


Siswa-siswi berdesak-desakan agar bisa melihat di manakah kelas mereka. Tinggiku yang hanya 150 tidak bisa melihat apa-apa. Jangankan mencari namaku. Melihat kertasnya saja tidak. Aku terjepit di tengah-tengah, membuat nafasku sesak. Aku memilih menyingkir terlebih dahulu. Setelah keluar dari kerumunan itu aku menghirup nafas dengan rakus.


Gila!


Aku baru sadar tinggiku hanya  seketek mereka saja. Aku duduk di kursi dekat pohon menunggu kerumunan itu sedikit melonggar. Tak lama kemudian datang Ulfa sambil cemberut.


"Huaaa... Aku di kelas 11 IPS 1!" Teriaknya sambil duduk di sampingku.


Aku mengerutkan dahiku. Emang apanya yang bikin sedih?


"Kenapa kamu sedih?" Tanyaku bingung.


"Nggak ada nama kamu di kelasku. Udah aku lihat baik-baik, dari atas sampai bawah. Tetap tidak ada namamu. Huaaa...."


Nah, sekarang aku juga ikut sedih. Ternyata aku dan dia terpisah kelas. Lalu aku di kelas apa?


"Aku ke Mading dulu," pamitku sambil beranjak mendekati Mading yang sudah lebih lenggang dari yang tadi.


Mataku meneliti dari daftar kelas 11 IPS 1 sampai kelas 11 IPS 3. Namun tidak ada namaku di sana. Berarti sudah dipastikan kalau aku berada di kelas 11 IPS 4. Aku fokus mencari namaku di sana dan hasilnya benar adanya. Aku di kelas 11 IPS 4. Lalu kulihat siswi-siswi yang ada di daftar itu. Siapa tahu ada yang aku kenal.


WHAT!!


Di kelas ini ada Revi, Siska dan Tya.