
Toko bunga ayanna...
" listy ssi, tolong jagan bicarakan hal itu"
" tapi yg aku bicarakan ini menyangkut kehidupan 4 orang yg amat berarti dalam hidupku"
" apa maksud mu?"
" defy dan jin adalah temanku juga, hentikan ini. ayo kita bicarakan dgn ayahmu. Aku tau taun kim akan memahami kalian"
" aku tidak bisa melakukan itu lis. Aku terlalu pengecut. Aku tidak bisa membahayakan kesehetan ayahku demi keinginan ku"
" tapi ini menyangkut masa depan kalian. Jin mencintai defy, dan kamu mencintai namjoon, bagaimana kalian bisa bersama"
" cinta akan tumbuh seiring waktu, tapi kesehatan ayahku, tidak bisa aku pertaruhkan"
Listy dan ayanna terus berdebat, tapi ayanna tidak juga mengubah keputusan nya.
Sampai akhir nya listy menyerah dan bangun dari duduk nya.
" entah kamu suka atau tidak, tapi kenyataan nya, kamu dan namjoon masih saling mencintai, aku tidak akan membiarkan kalian mengorbankan masa depan kalian begitu saja"
Listy keluar dari ruangan ayanna, meninggalkan ayana yg kini tertunduk sembari mengusap air mata nya yg membasahi kedua pipi ayanna.
Suga menghampiri listy yg keluar dari ruangan ayana.
" ayo kita pergi" ajak listy.
" kenapa wajahmu murung?" Tanya suga.
" udah ayo pergi"
Jessy mengetuk pintu rumah taehyung berkali kali, tetapi tae tetep saja tidak membukakan pintu.
Jessy menarik gagang pintu dan ternyata pintu rumah tae tidak terkunci, jessy pun langsung masuk sembari memanggil manggil taehyung.
Saat jessy masuk ke kamar taehyung, dia melihat taehyung yg tengah duduk di lantai. Wajahnya terlihat lesu dgn pandangan kosong.
jessy segera duduk di samping taehyung.
" tae, apa yg terjadi? Kenapa kau duduk di lantai seperti ini?" Tanya jessy panik.
" jessy ssi, apa aku pria yg begitu buruk? Apa aku begitu payah?" Tanya taehyung lemah.
" apa yg kau katakan taehyung? Kamu pria yg baik, sangat baik" ucap jessy sembari menyeka air mata yg mengalir dari manik taehyung.
" dia mencintai orang lain, dia tidak pernah menganggapku ada, dia.. dia.." taehyung kembali menangis melepas kesedihan nya.
Taehyung flash back on...
Taehyung keluar dari rumah nya, dia berjalan menuju ke arah rumah defy.
Tetapi langkah nya terhenti ketika melihat defy dan jin di depan rumah defy.
Defy pov.
Aku dan jin berbincang di depan rumahku.
"Kapan kau akan kembali ke kantor? Aku merindukan bos galakku" ucapku sembari tertunduk malu.
"Dasar nakal, saat aku galak kamu mengeluh, dan saat aku tidak ada kamu merindukan bos galak mu?" Ledek jin sembari menacak rambutku pelan.
" kembali lah ke kantor, bicara kan masalah mu baik baik dgn nyonya park. Dia pasti sangat menghawatirkanmu oppa" ucapku, sambil terus menatap sosok pria yg amat ku cintai di depanku.
" terimakasih, kamu selalu memberiku semangat, aku akan ke kantor besok. Ngomong ngomong, kenapa kamu begitu cantik hari ini?" Hibur jin.
" apa sih, aku memang selalu terlihat cantik" sombongku.
" sombong sekali gadis ini, dari mana kamu belajar sombong seperti ini?" Tanya jin yg mulai menaikkan suara nya.
" hey bos sombong, jangan tanyakan itu, itu menyindir dirimu sendiri"
Aku dan jin terus bercanda dan saling memaki dgn kasih sayang, sampai akhir nya, dia menenggelamkan kepala ku di bahu lebar nya.
Terasa begitu nyaman hangat dan tentu saja wangi. Aku pun membalas pelukan nya dgn melingkarkan kedua tangan ku di pinggang nya.
Beberapa menit aku merasa kenyamanan itu, rasa nya aku terus merasa kecanduan dgn pelukan nya.
Tapi hari sudah larut, aku pun harus istirahat. Jin pulang berjalan kaki, menuju ke arah rumah suga, yg memang tak terlalu jauh dari rumahku.
Beberapa menit setelah jin pergi, aku pun berjalan masuk ke rumahku. Tetapi tanganku yg semua mengayun bebas, kini tertahan.
Ku tatap tangan yg mengait di pergelanga tanganku. Lalu ku tatap si empu nya tangan itu.
Tidak lain dia adalah taehyung.
" tae? Apa yg lakukan disini? Kamu butuh sesuatu?" Tanyaku pelan.
" aku butuh penjelasanmu" jawab tae singkat.
" penjelasan? Apa?" Tanyaku dgn wajah bingung.
" apa kamu menjalin hubungan dgn jin hyung?" Tanya tae datar.
" iya.., memang nya ada apa tae? Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
" kamu bertanya kenapa? Lalu selama ini, perhatianmu, kebaikanmu, apa arti nya ini defy? Kamu mengganggap aku apa?" Tanya taehyung dgn mata yg mulai memerah.
" Tae, apa yg kau tanyakan ini. Kita kan teman, aku bahkan menganggapmu seperti adiku sendiri" jawab ku.
" Tae..."
"Cukup, jangan dekati aku lagi, jangan kasihani aku lagi" ucap tae sambil berlalu dari depan ku.
Aku sungguh binggung, apa yg terjadi pada nya?. Kenpa dia menanyakan hal aneh seperti itu?.
Taehyung pov.
Dengan penuh amarah, kesedihan, rasa malu, aku berjalan memasuki rumahku.
Entah sejak kapan air mata ku mulai membasahi pipi.
Dadaku terasa sangat sakit, berkali kali ku pukul dadaku, memukul tembok dgn kepalan tanganku, tapi rasa sakit itu tak juga berkurang sedikit pun.
Pemandangan yg baru saja aku lihat benar benar mematahkan hatiku, membuat remuk jantungku. Apa lagi setelah mendengar pengakuan defy.
Teman? Adik? Selama ini aku hanya sebatas itu? Menggelikan, aku merasa begitu konyol, mengharapkan cinta dari orang yg tak pernah menganggap ku lebih.
Aku duduk berdiam diri sepanjang malam.
Taehyung flash back off...
Sampai akhir nya jessy datang. Seperti biasa, dia membawakan makanan untukku.
Author pov.
" Taehyung, tae, berhentilah menangis, semua kan baik baik saja. Orang yg tidak menganggapmu, adalah orang yg paling bodoh. Hemh??" Jessy mencoba menghibur tae.
Tapi yg sebenar nya, hati jessy lebih hancur dari tae.
Ya..
Tentu saja, pria yg dia cintai tengah menangisi wanita lain. Berkali kali jessy mengedipkan mata nya menahan air mata nya agar tidak mengalir dan terlihat oleh taehyung.
" taehyung ssi, kamu terlihat sangat jelek saat menangis, berhenti menangis atau aku akan memukul kepala mu. Diam, dan makan lah makananmu. Aku akan menyuapi mu"
" kamu sangat cerewet seperti nenek"
" aku tau, kamu itu sangat keras kepala, jadi aku harus selalu mencrewetimu"
Jessy menyuapi taehyung dan sesekali, jessy terus berusaha membuat tae tersenyum.
Dan untuk sesaat, taehyung pun dapat melupakan kesedihan nya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Cafe jhope...
Siang itu, jhope tengah memeriksa catatan pemasukan cafe, di laptopnya.
Beberap kertas dan pena juga berjejer di meja kasir.
Tak lama kemuadian, Yuri datang membawa beberapa buku di tangan nya, dan tas kecil yang menggantung di bahu nya.
Saat yuri masuk, jhope langsung menatap ke arah nya. Begitu pun dengan yuri.
Mereka sama sama mengembangkan bibir dan yuri pun menghampiri jhope.
" hai jhope oppa? Apa listy ada?" Tanya yuri dgn senyum manis nya.
" bukan nya dia ke kampus? Dia pergi pagi tadi" jawab jhope.
" benarkah? Kenapa dia tidak menghubungiku, padahal sudah janji mau belajar bersama" keluh yuri.
Melihat yuri yg terlihat kecewa, jhope bangun dari duduk nya.
" dia pergi buru buru tadi, mungkin dia lupa, janji kalian. Lagi pula jurusan kalian kan berbeda"
" iya, tapi aku lebih suka kalo belajar dengan seorang teman oppa"
" baiklah, hari ini belajarlah dgnku, aku juga harus menyelesaikan catatan ini, kamu bisa mempelajari sistem keuangan cafe" ajak jhope.
Yuri pun kembali bersemangat dan tersenyum lebar memperlihatkan gigi nya.
" Benarkah? Ayo oppa aku mau" jawab yuri.
Yuri dan jhope masuk ke rumah jhope, mereka duduk di ruang TV.
Yuri mulai membuka buku nya dan memperhatikan semua hal yg jhope terangkan.
Tapi,
Tentu saja, yuri tidak menyia nyiakan kesempatan untuk menatap wajah jhope yg kini begitu dekat dengan nya, bahkan yuri sempat melamun menatap wajah pria manis di depan nya.
" yuri, lee yuri.. kenapa melamun?" Tegur jhope.
" eh hmm tidak oppa aku hanya.."
" saat kamu melamun, wajah mu seperti telor rebus. bulat dan pucat" ledek jhope.
" ih oppa.." rengek yuri.
Jhope terus saja meledek yuri, yuri pun tak tinggal diam, yuri terus memukul jhope dgn buku nya.
Jhope berlari ke sana kemari menghindari pukulan yuri, tapi dia tidak berhenti mentertawa kan yuri dan mengejek nya.