PRINCESS CHLOE

PRINCESS CHLOE
GAGAL



Di malam yang sepi, kedua anak manusia itu sedang di landa ga-irah yang membara. Bagaimana tidak, Jaeden benar-benar membuat Chloe melayang ke cakrawala. Sentuhan-sentuhan lembut yang di berikan Jaeden membuat Chloe hilang akal, hingga membuat mulut nya selalu mende-sah di bawah permainan Jaeden.


Di ruang tamu itu, Chloe mencum-bu tubuh sintal Chloe. Pakaian atas yang di kenakan nya pun sudah terkoyak dan di lempar asal oleh Jaeden ke lantai. Dan kini terpampang lah bukit barisan yang indah di depan matanya.


Melihat betapa menggoda nya itu, Jaeden menelan ludah, jakunnya naik turun menginginkan dan merasakan mendaki di puncak gunung Himalaya itu.


Tangan nya langsung melepas pengait yang menghalangi pemandangan indah dan membuang nya asal. Chloe yang melihat Jaeden memandanginya langsung menutupnya dengan kedua tangan nya, wajah nya bersemu, ia begitu malu saat Jaeden menatapnya seperti itu.


"Kenapa di tutup?" tanya Jaeden dengan suara seraknya. Tubuhnya sudah panas hanya melihat dua gunung berbaris sejajar itu. Belum melihat yang lain, tapi ga-irah nya sudah meledak ingin memiliki.


"Malu!" jawab Chloe membuang muka, takut Jaeden melihat rona di pipinya.


Mendengar itu, Jaeden tersenyum. Ia menyingkirkan tangan itu agar tidak menutupi pemandangannya, "Jangan di tutup, aku ingin melihat nya."


Wajah Chloe bertambah merah saat tangan itu di singkirkan. Chloe tahu Jaeden sedang menatap nya penuh damba. Puas melihat, Jaeden kembali mencium bibir itu dengan rakus sambil tangan nya bergerilya mencari sesuatu yang empuk dan mudah di re-mas.


Tak hanya di situ, Jaeden menyusuri leher serta mendaki dan memanen buah langka di pucuk gunung dengan mulut nya. Sebuah buah yang susah di petik dan hanya bisa di nikmati.


Uh....


Lenguhan itu kembali lolos saat Jaeden bermain dengan lihai nya, walaupun ini pertama kali buat nya.


Merasa tidak nyaman dengan tempat nya, Jaeden membopong tubuh itu ke kamar. Namun sebelum itu ia menghidupkan kipas agar mereka tidak terlalu kepanasan.


Jaeden pun kembali memberikan pemanasan, mencum-bu setiap lekukan tubuh yang membuat kepala nyut-nyutan ingin segera melepaskan anaconda nya ke sarang untuk bertelur.


Semua pakaian yang mereka kenakan pun kini sudah berserakan di tandai, dengan nafas memburu keduanya kini saling pandang. Chloe dengan rasa malunya, dan Jaeden dengan pandangan meminta izin.


"Boleh sayang?"


"Apakah sakit?"


"Hanya sebentar, tapi setelah nya akan begitu nikmat." jawab Jaeden yang sok tahu, padahal dia sama sekali belum pernah melakukan nya. Hanya saja dia sering mendengar jika pertama kali pasti akan sakit.


Dengan ragu Chloe mengangguk. Jaeden yang melihat tersenyum. Dan dia pun mengecup kening Chloe tanda terimakasih.


Merasakan sesuatu yang aneh ingin menerobos intinya, Chloe mendorong dada itu dan melihat apa itu. Namun saat mata itu melihat dia begitu terkejut, melihat sesuatu yang aneh di depan nya.


"Apa itu?" tanya Chloe yang memang baru melihat Anaconda peliharaan Jaeden.


"Apa?"


"Itu! Apa itu?"


"Ini peliharaan ku sayang," jawab Jaeden bingung melihat Chloe yang seperti nya terkejut.


"A-apa itu yang mau masuk tadi?"


"Em," jaeden mengangguk.


Mendengar jawaban Jaeden Chloe menelan ludah dengan kasar, ia merasa bergidik ngeri melihat itu. Pikiran nya melayang-layang, tentang apakah muat itu masuk ke miliknya? Apalagi jika di lihat ukuran Anaconda itu begitu jumbo.


Melihat ketakutan itu, Jaeden mengelus sayang kepala Chloe. "Apa kamu takut?" Dengan cepat Chloe mengangguk.


Melihat anggukan itu, Jaeden menghela napas dengan kasar. "Gagal sudah," serunya dalam hati.


.


.


Dan malam yang seharusnya menguras keringat, kini hanya saling berpelukan. Walaupun itu benar-benar membuat Jaeden sakit kepala karena tidak bisa menuntaskan keinginan nya.


.


.


Sabar ya mas Jaeden, mungkin memang belum waktu nya. Harus menunggu malam pertama 🤭🤭🤭🤭