PRINCESS CHLOE

PRINCESS CHLOE
NIAT PEMBUNUHAN



Malam semakin larut dan Jaeden pun akhirnya pulang, walaupun harus penuh dengan drama karena Chloe tidak mau di tinggal, akhirnya Jaeden pun bisa lepas dari drama itu, drama yang meminta nya terus untuk menemani nya.


"Aku harus pulang, besok aku akan datang lagi menjemput mu," Kata Jaeden sambil mengelus kepala Chloe.


"Baiklah," jawab nya lemas seperti tidak ada nyawa di tubuhnya.


Melihat itu Jaeden tersenyum. "Aku pulang ya," pamit nya.


Chloe terus menatap Jaeden seperti meminta sesuatu, "Cium aku, cium aku." Namun Jaeden tidak melakukan nya, dan itu membuat Chloe langsung lemas.


"Tidak ya!" harapan nya pupus saat melihat Jaeden pergi meninggalkan nya mengendarai motor butut nya.


Dengan perlahan, Chloe membalikkan tubuhnya dengan wajah kecewa. Dia masuk kedalam kontrakan nya dengan lesu. Sedangkan tak jauh dari sana, dua orang yang melihat wajah lesu Chloe tertawa terbahak bahak. Siapa lagi jika bukan Daffin dan Aldirch yang mengintai sejak tadi! Laki laki yang menyebalkan di hidup Chloe.


Di dalam kamar, Chloe tersenyum mengingat ciuman nya tadi, ciuman yang sedikit panas yang pertama kali mereka rasakan tanpa embel-embel kekasih. Dan itu berhasil melupakan rasa kecewanya karena tidak mendapatkan ciuman malam dari Jaeden saat pulang.


"Bibirnya sangat lembut dan manis, aku suka. Aaa.....Aku ingin lagi," Chleo sungguh sudah seperti orang gila, gila terhadap Jaeden.


"Tapi aku rasa tidak akan ada lagi, apalagi saat melihat ku yang masih dekat dengan Alvin si bajingan itu. Tapi aku harus menjelaskan nya kepada Brian agar dia tidak salah paham kepada ku nanti dan akhirnya menjauhi ku. Besok aku harus menjelaskan nya tentang niat ku yang masih menerima Alvin," gumam nya sendiri.


"Ya, kau harus menjelaskan nya Chloe. Semangat mengejar cinta mu," serunya menyemangati dirinya sendiri.


.


.


.


Keesokan pagi nya, Jaeden sudah di depan kontrakan Chloe untuk menjemput teman serasa kekasih itu. Chloe yang keluar tersenyum melihat Jaeden sudah menunggu nya.



"Lama ya?" tanya Chloe memakai sepatu nya.


"Tidak!"


Setelah memakai sepatu nya, Chloe langsung menghampiri dan duduk di belakang Jaeden, memeluk pinggang kuat itu.


"Sudah siap?"


"Sudah," jawab Chloe


Mereka berdua pergi menuju Warung sate dengan hati bahagia. Tapi saat sampai disana, kebahagian itu langsung hilang saat melihat seorang yang di benci nya. "Mengganggu hati bahagia ku saja," gerutu nya dengan cemberut.


Setelah sampai di depan Warung, Chloe turun dan menyerahkan helm nya kepada Jaeden. Jaeden menerima nya dan meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa pagi sekali kamu sudah datang?" tanya Chloe dengan nada sedikit acuh.


"Sayang, jangan seperti ini dong! Sampai kapan kamu akan marah dengan ku?" tanya Alvin memegang kedua tangan Chloe, dia terus membujuk agar Chloe tidak marah lagi dengan nya. Namun lagi lagi Chloe tetap diam, tidak menjawab pertanyaan Alvin.


Dari kejauhan tangan seorang wanita mengepal kuat, dia adalah Elice. "Kurang ajar! Ternyata dia masih mendekati Gadis miskin itu. Aku tidak terima, aku harus membunuh Gadis sialan itu!" Geram nya dan langsung pergi menuju rumah nya untuk menemui kedua orang tua nya.


Setelah sampai di kediaman Koch, Elice memanggil Papa dan Mama nya.


"PAPA, MAMA," panggilnya dengan suara keras.


Elice langsung duduk di samping Mama nya dengan wajah kesal nya. Revina yang melihat wajah kusut Putri nya bertanya lagi. "Ada apa dengan mu? Kenapa wajah mu di tekuk seperti itu?"


"Ini semua gara-gara wanita Jala*ng itu!" jawabnya dengan kesal.


Aries Koch, Papa Elice langsung menatap putri nya mendengar Elice menyebut wanita jala*ng, "Siapa yang kamu maksud?" tanya Aries.


"Iya sayang, siapa yang kamu maksud dengan Wanita jala*ng itu?" Tanya Revina menimpali.


"Dia bernama Chloe, wanita yang selalu menggoda Alvin. Ma, Pa, bantu aku menyingkirkan wanita itu. Aku tidak mau Alvin terus terusan tergoda oleh wanita jala*ng itu," pinta nya menatap kedua orang tua nya.


"Kau tenang saja, Mama dan Papa akan membantu mu untuk menyingkirkan gadis itu. Kamu tidak perlu khawatir sayang, Alvin akan tetap menjadi milik mu," jawab Revina mengelus kepala putrinya dengan sayang.


"Benar kata Mama mu, Papa akan menyingkirkan gadis itu. Itu bukan masalah besar bagi Papa untuk menyingkirkan gadis rendahan itu. Kau tahu sendiri kan keluarga kita? Bagi kita itu sangatlah mudah," saut Aries.


"Terimakasih Pa. Elice percaya Papa akan melakukan apapun untuk Elice."


"Tentu saja, kau itu putri ku. Apapun permintaan mu akan Papa kabulkan asalkan kamu bahagia."


Elice tersenyum, dia bahagia dan bangga memiliki keluarga yang kaya raya, apapun bisa mereka lakukan. Termasuk menyingkirkan orang orang yang dia benci. "Kau hanya milik ku Alvin, hanya milik ku. Tak ada seorang pun yang boleh memiliki mu kecuali aku, termasuk wanita jala*ng itu. Lihat saja, sebentar lagi kau akan mati di tangan ku wanita jala*ng." serunya dalam hati.


.


.


.


Di lain tempat di kediaman Johnson, Ellie juga mendapatkan laporan dari mata-mata yang di tugaskan untuk selalu mengawasi Putra nya. Dan saat ini dia mendapatkan laporan bahwa Putra nya menemui Chloe, si Gadis miskin itu.


"Kurang ajar! Gadis itu benar benar harus di singkirkan. Berani nya dia masih menggoda Putra ku. Apa sebenar nya yang di gunakan Gadis miskin itu sampai-sampai Alvin masih tetap mengejar nya. Ini benar-benar tidak bisa di biarkan. Aku harus segera menyingkirkan Gadis sialan itu!"


"Cari beberapa orang pembunuh handal untuk membunuh Gadis itu. Jangan seperti sebelum nya yang lemah. Gadis itu pandai ilmu beladiri jadi cari yang memang benar-benar handal dalam hal membunuh," perintah Ellie kepada bawahan nya.


"Baik Nyonya," jawab Bawahan itu mengangguk.


"Pergilah, aku tunggu kabar baik nya."


"Baik," jawab Bawahan itu dan pergi dari hadapan Tuan nya untuk mencari seseorang yang handal dalam hal membunuh.


Setelah orang itu pergi, Harond yang melihat istrinya duduk di kursi tamu langsung menghampiri. "Apa masih berniat membunuh Gadis itu?"


"Em, Gadis itu harus segera di singkirkan. Jika tidak Alvin akan tetap seperti itu."


"Bukankah kamu sudah pernah menyuruh beberapa orang untuk membunuh gadis itu? Apakah masih belum berhasil?" tanya Harond lagi.


"Gadis itu ternyata pandai ilmu beladiri, jadi tidak mudah untuk menyingkirkan nya," jelas Ellie dan di angguki Harond tanda dia mengerti, jika beberapa orang yang di kirim istri nya semua nya gagal.


"Kamu harus mencari orang yang benar benar ahli dalam hal membunuh. Jika tidak! Itu hanya akan sia sia saja," jelas Harond.


"Ya, aku sudah meminta orang tadi mencari seorang pembunuh yang handal. Aku kira sebelum nya gadis itu gadis yang lemah, tapi ternyata aku salah. Gadis itu gadis yang sangat berani. Bahkan mampu mengalahkan orang-orang yang aku kirim."


Bersambung.