
Malam hari, mereka semua sudah bersiap untuk menemui seseorang. Jaeden dan Almeta hanya menurut saja dan tanpa membantah.
Mereka sekeluarga pergi ke sebuah Restoran mewah di Negara N. Di sana sepasang suami istri sedang menunggu kedatangan mereka.
Setelah sampai, mereka langsung menuju ke tempat ruangan yang telah di pesan oleh tamu nya. Saat sampai dengan di antar pelayan restoran, kini mereka masuk. Jaeden yang berjalan di belakang papa nya hanya diam melihat dua orang yang duduk di kursi sambil memunggungi mereka.
"Maaf Yang Mulia membuat anda menunggu lama," sapa Affandra pada Tian yang duduk di kursi. Tian berdiri dan menyambut mereka.
"Tidak apa apa Tuan Tesla, mari silahkan duduk," perintah nya mempersilahkan mereka semua untuk segera duduk di kursi masing masing.
Jaeden yang tahu siapa orang yang di temui Papa nya adalah calon mertua nya mengerutkan kening. Ada apa ini, pikir nya.
Semuanya pun duduk di kursi masing masing. Ceril meminta pelayan untuk mengantarkan semua makanan yang di miliki Restoran mewah itu untuk menjamu Keluarga Tesla.
Sambil menunggu makanan yang di pesan, mereka mengobrol ringan seputar pekerjaan, dan keadaan seluruh keluarga.
Tak lama pesanan yang di pesan pun tiba. Beberapa pelayan meletakan banyak macam-macam makanan di atas meja.
"Silahkan Tuan-tuan," ucap pelayan mempersilahkan semua nya untuk menikmati makanan yang di sediakan.
Semuanya mengangguk, dan menyantap makan malam bersama.
Setelah selesai. Tuan Affandra membuka percakapan nya tentang maksud dan tujuan nya meminta bertemu dengan keluarga kerajaan itu.
"Maaf sebelum nya meminta anda untuk menerima pertemuan kali ini Yang Mulia," ucap Affandra.
"Tidak apa apa. Oh ya, panggil seperti biasa saja Tuan Affandra," pinta Tian.
"Baiklah Tuan Tian."
"Itu lebih terasa dekat," jawab Tian sambil tersenyum. "Jika boleh tahu ada apa Tuan meminta bertemu dengan saya dan istri saya?"
"Ehem..Sebelum saya minta maaf karena lancang dengan niat saya ini yang bukan siapa siapa. Niat saya dan keluarga adalah melamar Putri anda, Putri Mahkota Chloe Dominic untuk Putra saya, Jaeden."
Jaeden yang mendengar langsung menatap wajah Papa nya, dia seakan tidak percaya jika Papa nya melamar Chloe untuk dirinya. Jaeden beralih menoleh ke arah Tian, Tian yang di lihat tersenyum kecil begitupun Ceril.
Ehem....Tian menarik napasnya sebelum berbicara.
"Tuan Affandra, seperti nya anda kalah telak ya," jawab Tian dan membuat Affandra terbengong
Tapi tidak untuk Jaeden, dia malah tersenyum.
"Apakah ada yang melamar lebih dulu dari saya Tuan?" tanya Affandra sedikit takut jika kekhawatiran nya terjadi. Lalu apa yang akan terjadi dengan putra nya jika wanita yang di cintai putra nya itu dimiliki laki laki lain, sudah di pastian Putra nya pasti akan patah hati
"Benar Tuan Affandra," jawab Tian sambil tersenyum melirik Jaeden.
Affandra yang mendengar langsung lemas sambil melirik Jaeden. "Malang sekali nasib mu Nak," batin Affandra seperti tidak semangat lagi karena gagal miliki menantu putri dari seorang Raja.
Ceril yang melihat wajah Tuan Affandra berserta istrinya yang tidak semangat lagi memukul Suami nya, "Jangan membuat mereka kecewa."
"Baiklah-baiklah, tidak bercanda lagi sayang," bisik ya pada Ceril. Tian menatap Tuan Affandra. "Ehem...Tuan Affandra maksud saya memang sudah ada yang lebih dulu melamar putri saya, tapi bukan menolak lamaran keluarga anda," jelas Tian.
"Maksud anda?" tanya Affandra langsung menatap Tian penuh tanya.
"Anak saya sudah di lamar oleh seorang pemuda dan pemuda itu adalah putra anda sendiri. Jadi bukankah memang sudah ada yang lebih dulu melamar putri saya ketimbang anda?" jawab Tian terkekeh.
"Benar Tuan, Jaeden sudah melamar Putri saya satu Minggu yang lalu," jawab Tian.
"Satu Minggu," gumam Affandra dan Annora yang langsung menoleh menatap Jaeden. "Kau sudah melamar nya?" tanya Annora dan di angguki Jaeden.
"Dasar Anak nakal, berani nya kau tidak bilang kepada orang tua bahwa kau telah melamar Putri Raja," Annora menjewer telinga putra nya yang menurutnya sangat lancang.
"Aduh, sakit Ma. Jangan bikin Jaeden malu di depan calon mertua ku," ucap Jaeden pelan namun masih di dengar oleh mereka semua. Semua nya malah tertawa mendengar itu. Jaeden sebenar nya sangat takut dengan Mama nya.
"Biarin, itu hukuman mu karena lancang lebih mendahului Mama dan Papa," kesal nya dan melepas jeweran itu.
"Aku hanya takut keduluan orang lain," jawab nya.
"Alasan," jawab Annora.
"Hahaha...Tapi Papa bangga, ternyata kamu sangat berani, bahkan dengan beraninya kamu melamarnya sendirian," saut Affandra menepuk bahu Jaeden dengan bangga.
"Jadi kita ini beneran akan menjadi besan Tuan Tian?" tanya Affandra memastikan lagi.
"Benar Tuan Affandra," jawab Tian.
Dan kini mereka semua merasakan penuh kebahagiaan
.
.
Satu bulan kemudian, Jaeden kembali ke Negara K bersama dengan ibu Meli, pengasuh nya saat kecil.
Jaeden tidak mengatakan kepada Chloe bahwa dia akan kembali, dia ingin memberi kejutan kepada calon istri nya kelak. Jaeden tidak akan mengatakan jika dia sebenarnya sudah melamar Chloe. Dan dia juga tidak akan mengatakan siapa dirinya sebenarnya, dia menyembunyikan sampai Chloe mencintai nya dengan tulus dan apa adanya.
Jaeden yang sudah berada di depan kontrakan Chloe langsung menghubungi Chloe, "Tebak aku dimana."
Chloe yang mendengar mengerutkan kening. "Memang nya kamu ada dimana?" tanya Chloe.
"Aku tidak akan mengatakan nya. Aku ingin kamu menembak kira kira aku ada di mana sekarang?"
"Dimana? Jangan main tebak tebakan. Cepat katakan kamu dimana sekarang!"
"Mm...Dimana ya?" jawab Jaeden berpikir dan membuat Chloe yang ada di seberang telepon kesal.
"Brian! Kamu dimana? Jangan membuat ku kesal karena penasaran."
"Hahaha... Baiklah-baiklah. Aku ada di depan kontrakan mu," jawab Jaeden dan langsung panggilan nya di putus oleh Chloe. Jaeden yang melihat menghela napas, lagi-lagi Chloe seperti itu.
Tak lama Pintu di buka oleh Chloe dari dalam. Chloe yang melihat langsung berlari dan melompat ke dalam pelukan Jaeden. Jaeden yang melihat itu langsung sigap menangkap tubuh Chloe yang memeluknya. "Hati-hati," ucap Jaeden yang mengangkat Tubuh Chloe dalam pelukan nya. Bagaimana tidak Chloe dengan berani nya melingkarkan kakinya di pinggang Jaeden.
Jaeden melihat di sekeliling, untung sepi. Jika tidak sudah di pastikan mereka pasti dapat sindiran dari tetangga Chloe. "Turunlah," perintah Jaeden lembut.
"Tidak mau. Aku ingin di gendong," Jawab Chloe yang mengeratkan tangan nya di leher Jaeden, sambil wajah nya di letakkan di ceruk leher yang wangi itu.
Jaeden pun mau tidak mau membiarkan Chloe dalam gendongan nya dan membawa Chloe masuk kedalam Kontrakan itu.