PRINCESS CHLOE

PRINCESS CHLOE
KEMARAHAN HAROND DAN ARIES



mendengar pertanyaan itu, Asisten Aries pun menyerahkan berkas yang berisikan informasi tentang Chloe.


Gusman menerima nya dan membaca nya. Setelah membaca, Gusman meletakkan Map itu di atas meja.


"Jadi gadis itu hanya gadis biasa?" tanya Gusman menatap kedua nya.


"Iya tuan," jawab kedua nya bersama


"Jika dia hanya gadis biasa, seharusnya mudah untuk kalian membunuh nya. Kenapa harus repot repot menyewa kami?" tanya Gusman selidik. Ia merasa janggal dengan informasi data Chloe.


"Alasan kami meminta bantuan anda karena Gadis itu bukan Gadis biasa Tuan. Gadis itu pandai bertarung dan juga membunuh. Setiap kali saya meminta bantuan seseorang, orang itu akan kembali tanpa nyawa. Dan Asisten pribadi saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, Gadis itu benar-benar panda bertarung," jelas Aries menunjukkan Cuplikan Vidio pertarungan Chloe dengan orang suruhan nya beberapa Minggu lalu.


Gusman melihat Vidio durasi pendek itu. Di lihatnya Chloe sedang membantai 20 orang kiriman Aries dengan brutal. Melihat cuplikan itu Gusman pun akhirnya mengerti, dia mengangguk-angguk kan kepala nya. "Baiklah aku mengerti sekarang kenapa anda meminta bantuan kami. Tapi untuk sekarang aku akan menyelidiki nya sendiri siapa Gadis itu. Jika memang benar-benar tidak memiliki latar keluarga yang kuat aku akan menerima misi ini," jelas Gusman.


"Baik Tuan," jawab Aries.


"Aku akan mengabari kalian jika memang sudah siap membunuh Gadis itu."


"Baik. Kalau begitu kami pergi dulu," pamit nya dan menjabat tangan Gusman, setelah itu pergi meninggalkan Markas Mafia SINALOA.


Setelah Aries dan Asisten nya pergi, Gusman langsung menyuruh anak buah nya untuk menyelidiki Chloe, mencari tahu apakah benar Chloe hanyalah orang biasa.


.


.


Sedangkan di tempat Chloe berada, Chloe sedang mengotak-ngatik komputer nya. Senyum terbit di bibirnya saat berhasil membobol keamanan data perusahaan Johnson dan Koch.


"Hahahaha.....Mampus kalian, akan ku obrak-abrik hingga membuat perusahaan kalian hancur," tawa Chloe mengerikan.


.


.


Di perusahaan JN's Group dan KC Group Semua nya karyawan kalang kabut karena data perusahaan kacau dan di bobol oleh seseorang yang mereka tidak kenal.


Di perusahaan JN's Group, Asisten Harond melaporkan apa yang di alami perusahaan itu. "Tuan, gawat! Data perusahaan di bobol dan di kacau oleh seseorang Tuan," Ucap Asisten itu memberitahu.


"Apa!! Bagaimana bisa?" tanya Harond sambil menggebrak meja kerja nya.


"Kami sudah melakukan yang terbaik, bahkan data perusahaan sudah beri keamanan tingkat tinggi. Namun tetap saja masih di bobol oleh orang ini Tuan. Dan kami saat ini masih mencari siapa yang berani membobol data perusahaan kita," jelas Asisten itu.


"Pokok nya saya tidak mau tahu, hari ini harus beres dan aku tidak mau ada kerugian di perusahaan ku. Suruh mereka ahli IT untuk mengamankan data perusahaan, jangan sampai orang itu berhasil mencuri data kita," perintah nya dengan napas memburu.


Harond khawatir perusahaan nya akan bangkrut jika data perusahaan di curi oleh orang yang tidak di kenal nya. Dia tidak ingin bangkrut, bagaimana pun cara nya mereka harus bisa mengamankan data data penting itu.


.


.


Sama hal nya di KC Group, Aries pun juga sangat marah mendengar ada yang membobol data perusahaan nya.


"Bajingan mana yang berani berulah dengan ku!" marah nya dengan napas memburu.


.


.


Sedangkan di tempat Chloe, Chloe benar benar senang, dia tertawa keras saat melihat komputer nya di lacak oleh orang nya Aries dan Harond. "Heh, kalian pikir kalian bisa melacak ku? Tidak akan pernah bisa. Aku berguru dengan paman Arsen dan Paman Dave, tidak akan mudah kalian menemukan ku," Gumam nya dan menghancurkan komputernya.


Dia tersenyum senang karena bisa mengerjai dua keluarga itu. Choe yakin saat ini dua perusahan itu sedang kalang kabut karena ulah nya.


"Ini lah akibat nya jika kalian berani dengan ku," gumam nya.


Chloe pun pergi ke warung nya dengan naik Ojek. Namun saat sampai dia melihat seseorang yang sepertinya sedang mengikuti. "Em, sepertinya dia orang yang mengikuti ku. Mau apa dia?" batin Chloe dengan sikap seolah tidak mengetahui jika dia sedang di intai.


Namun, sampai begitu lama, orang itu tetap tidak melakukan pergerakan. Dan Chloe yakin Pasti orang itu hanya menyelidiki nya saja.


"Sepertinya akan ada tamu yang tak di undang dekat hari ini," gumam nya dan melanjutkan pekerjaan nya.


Orang yang mengintai langsung pergi setelah mendapatkan data tentang Chloe. Dia akan melaporkan semuanya kepada Bos mereka tentang apa yang di dapat nya.


Sesampai nya di Markas Mafia SINALOA, orang itu langsung pergi menuju ruangan Bos nya.


"Bos."


"Bagaimana penyelidikan mu? Apakah Gadis itu benar benar hanya orang biasa?" tanya Gusman.


"Benar Tuan, Gadis itu hanya Gadis biasa. Tidak ada latar keluarga kuat di belakang nya. Bahkan dari yang saya selidiki dia hanya memiliki satu keluarga, adiknya yang bernama Aldirch."


"Jadi dia benar benar gadis biasa! Baiklah, jika memang dia hanya gadis biasa, itu akan semakin mempermudah misi kita."


"Oh ya, untuk memulai Misi ini, kita akan melakukan nya satu Minggu lagi. Aku minta pada mu, bawa beberapa anggota kita untuk membunuh nya," perintahnya.


"Kenapa hanya membawa beberapa Bos? Apa tidak langsung saja kita membawa banyak anggota untuk membunuh Gadis itu?"


"Tidak perlu, beberapa orang saja sudah cukup," jawab Gusman percaya diri.


"Baik Bos," jawab bawahan itu tidak bisa membantah.


.


.


.


Argh!


"Bajingan!" Marah nya dengan serius.


Mereka berdua kembali ke kediaman nya masing-masing di saat Waktu sudah tengah malam. Mereka berdua kembali dengan keadaan dan perasaan kacau. Bagaimana tidak! Perusahaan nya sedang ada masalah yang mungkin saja bisa membuat perusahaan yang mereka banggakan hancur karena ulah Chloe.


Namun, saat sampai di rumah masing-masing. Mereka malah di suguhkan dengan pemandangan yang begitu mengerikan. Mereka berdua dikirimi Boneka dengan tubuh Di Potong-potong dan berlumuran darah serta sebuah tulisan di lantai dengan kata ancaman.


"Bersiap lah, sebentar lagi kalian akan menjadi seperti boneka ini."


Harond dan Aries yang membaca itu langsung menendang Boneka berlumuran darah itu dan masuk kerumah dengan membanting pintu dengan sangat keras.


"Aku tahu siapa yang mengirim barang sialan itu! Awas kau gadis sialan! Kau lah sebentar lagi yang akan menjadi seperti boneka itu, bukan aku ataupun keluarga ku," geram Aries dan pergi menuju kamar nya.


.


.


Satu Minggu kemudian, Aldirch dan Chloe serta Daffin akan kembali ke Negara N atas permintaan Mommy Ceril dan Tian.


(Mereka kembali di bagian Anak Tak diakui Bab 145 ya)


Mereka bertiga akan pulang ke Negara asal. Namun sebelum itu Chloe pamit terlebih dahulu kepada Jaeden, meminta nya untuk menjaga warungnya saat dia balik ke kampung nya. Jaeden pun mengangguk dan dia akan menjaga warung wanita itu sampai Chloe kembali lagi.


Chloe tidak memberitahukan kepala Alvin bahwa dia akan kembali ke Nagara N, baginya itu tidak berguna, karena Chloe yakin Alvin pasti akan tahu jika dia pergi meninggalkan tempat ini.


Setelah pamit kepada Jaeden, mereka bertiga pun berangkat ke bandara untuk. Di bandara mereka sudah di tunggu oleh seseorang, seseorang itu adalah orang kepercayaan Tian yang di tugaskan untuk mengantarkan Putra Putri nya ke Negara N.


Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka sampai di Negara N. Sesampainya di Negara N, kedatangan mereka sudah di tunggu oleh Tian.


.


.


Di Negara K.


Setelah kepergian Chloe dan lainnya, Alvin benar benar datang ke warung Sate untuk menemui Chloe.


"Sayang...!" panggil Alvin dengan keras.


Jaeden yang ada di dalam langsung keluar saat mendengar suara yang tak asing di telinga nya. "Ada dia datang kemari, mengganggu suasana hati ku yang sedang galau saja," gumam nya dengan kesal.


Setelah sampai di depan Alvin, Jaeden melipat tangan nya di dada, menatap Alvin tidak suka. "Ada apa kau kemari?" tanya Jaeden dengan nada dingin dan penuh wibawa.


Alvin yang mendengar dan melihat itu sedikit bergetar, karena tidak pernah melihat wajah dingin Jaeden seperti itu selama dia mengenal nya.


"Kenapa orang ini nampak berbeda, seperti orang yang memiliki kedudukan tinggi," batin Alvin menatap Jaeden.


Jaeden yang melihat Alvin malah diam memperhatikan nya, berkata kembali. "Aku bertanya kepada mu! Kenapa kau malah diam?" tanyanya lagi dengan suara dingin dan tatapan tegas..


"Ehem, aku kesini menacari kekasih ku," jawab Alvin menormalkan perasaan nya yang sedikit takut.


"Dia tidak ada," jawab Jaeden santai.


"Tidak ada? Kau pikir aku akan percaya dengan apa yang kau katakan? Tidak mungkin dia tidak ada disini!" serunya tidak percaya, karena selain warung sate nya ini, Chloe tidak pernah pergi kemana pun. Di kontrakan nya juga Chloe tidak ada, jadi sudah dipastikan oleh Alvin, Chloe pasti ada di warung nya ini.


"Aku mengatakan dengan jujur, Chloe tidak ada di sini," jawab Jaeden lagi.


"Jangan membohongi ku. Aku tahu kau tidak menyukai ku, jadi minggir! Aku ingin menemui Kekasih ku," ucap nya mendorong bahu Jaeden.


Jaeden yang melihat Alvin ngotot menahan nya. "Aku tidak mengizinkan mu masuk," jawab nya dengan tatapan tajam.


"Apa masalah mu sampai kau melarang ku? Aku ini kekasih Chloe, jadi jika aku masuk untuk mencari nya kau tidak berhak melarang ku. Minggir!" usir nya kembali.


"Sudah ku katakan aku tidak akan mengizinkan."


"Kau berani kepada ku?" tatapnya menantang.


"Tentu saja. Hanya anak ingusan seperti mu, kenapa harus takut," jawab Jaeden santai.


"Kurang ajar!" marah Alvin saat mendengar Jaeden menghina nya dengan kata anak ingusan. Alvin langsung melayangkan tinju nya untuk memukul Jaeden. Namun sebelum tangan itu menyentuh wajah Jaeden, tangan itu di tahan oleh nya.


"Jangan harap bisa menyentuh ku dengan tangan kotor mu itu," ucap Jaeden dengan nada mengerikan dan memelintir tangan itu hingga tubuh Alvin berbalik. Jaeden menendang lutut Alvin dan membuat Alvin bersimpuh.


"Argh! Bajingan! Lepaskan aku," marah nya saat itu di pelintir dengan kuat.


"Diam!" bentak Jaeden saat matanya melihat sesuatu tak jauh dari nya, seseorang yang sedang mengamati dirinya.


.


.


.