PRINCESS CHLOE

PRINCESS CHLOE
JATUH TERONG



Chloe menjadi salah tingkah, dia menepuk nepuk wajah nya yang panas. "Sial! Dia benar benar membuat ku tidak waras. Sadar Chloe, sadar!" Chloe terus menepuk nepuk wajah nya. "Aduh kenapa dengan hati ku ini? Awas kau ya Brian, jika nanti kamu datang aku akan menyeret mu ke Pendeta. Eh! Tapi kenapa ke Pendeta?" Chloe nampak bodoh hanya karena melihat tulisan sayang yang di ketik Jaeden.


.


.


Sedangkan Jaeden yang sedari tadi menunggu balasan, namun tidak tidak kunjung mendapat balasan, langsung menghubungi Chloe.


Chloe yang melihat ponsel nya berdering, langsung di lihat nya. "Brian! Aa.....kenapa dia malah menghubungi ku? Apakah dia tidak tahu jika aku seperti ini karena dia! Huh, oke...oke...Tarik nafas, buang nafas," Chloe mengatur nafas nya agar tidak terlihat jika dia sedang gerogi.


Namun saat tangan itu hendak menekan tombol jawab, Chloe lagi lagi ragu. "Aku tidak sanggup! Aku tidak sanggup mendengar suara nya! Bagaimana jika dia memanggil ku sayang? Aku harus gimana? Aaa....menyebalkan, menyebalkan!" Chloe memukul mukul kasur sambil tengkurap. Sungguh tingkah itu sangat sangat aneh, karena tidak seperti biasanya Chloe bertingkah seperti itu.


Jaeden terus menghubungi Chloe. Chloe yang terus melihat ponsel nya berbunyi akhirnya mengangkat nya. "Huh.....Apa!!" jawab Chloe


"Kenapa lama sekali mengangkat nya?" tanya Jaeden.


"Mm, aku sedang ke kamar mandi tadi," jawab Chloe sambil tangan nya memukul-mukul kasur. "Aku berbohong, aku berbohong," teriak nya dalam hati.


"Oh, begitu. Lalu kenapa tadi tidak membalas pesan ku? Kamu marah dengan ku?" tanya Jaeden.


"Ya. Aku sangat-sangat marah dengan mu," jawab nya dengan nada di buat se kesal mungkin. Namun dalam hati ucapannya berbeda. "Tidak! Mana mungkin aku marah dengan mu. Aku hanya pura-pura, tidak marah sungguhan. Malahan aku merindukan mu Brian sialan."


"Maaf! Maaf karena membuat mu marah. Jangan marah lagi ya," pinta nya dengan suara sangat merdu membuat jantung Chloe dag, dig, dug.


"Jantung ku," batinnya sambil memegang dada nya yang berdebar.


"Jika tidak ingin aku marah cepat kembali ke sini."


"Aku akan kembali setelah urusan ku selesai."


"Bener, nggak bohong kan?" selidik Chloe.


"Beneran, nggak berani bohong." jawab Jaeden.


"Oke, cepat selesaikan urusan mu dan kembali lagi ke sini." Perintahnya


"Baik sayang, aku akan secepat nya kembali untuk menemani mu," jawab Jaeden tidak sadar jika mulut nya mengatakan sesuatu yang membuat si pendengar salah tingkah.


"Benar-benar Brian sialan! Dia benar benar memanggil ku seperti itu. Apa dia tidak tahu jika aku ingin gila karena kata kata aneh itu?" gerutunya dalam hati.


"Ehem....Chloe menormalkan perasan nya. "Aku tunggu secepatnya!"


Tut....


Chloe langsung mematikan panggilan itu tanpa permisi. Jaeden yang melihat panggilannya di putus oleh Chloe, hanya menatap ponsel jadul nya. "Ada apa dengan nya? Kenapa dia nampak aneh sekali malam ini?" gumam Jaeden yang tidak mengerti jika Chleo seperti itu di sebabkan oleh dirinya yang memanggil dengan panggilan sayang.


Setelah menghubungi Chloe, Jaeden langsung merebahkan tubuhnya nya dan tidur. Berbeda dengan Chloe yang masih belum bisa tidur, dia menatap langit langit kamar nya, memikirkan apa yang di rasakan nya saat ini. "Sebenarnya ada apa dengan hati ku ini? Kenapa seperti ini? Apakah___? Tidak, tidak! Mana mungkin aku mencntai nya! Jika aku benar-benar mencintai nya bagaimana? Apakah aku harus mengatakan perasaan ku lebih dulu pada nya? Aa...Tidak, tidak! Itu tidak boleh terjadi. Sangat memalukan jika aku mengatakan terlebih dahulu perasaan ku," Gumam Chloe.


"Akan ku lihat dulu, apakah dia mencintai ku atau tidak jika dia kembali nanti." perlahan Chloe memejamkan mata dan tidur.


.


.


Pagi hari, Jaeden bangun dan langsung membersihkan tubuh ya, memakai pakaian rapi dan setelah itu keluar dari kamar nya menuju ruang makan.


"Sesampai nya disana, di lihatnya Ceril dan Tian sudah menunggu nya. "Bagaimana tidur mu malam ini, nyenyak?" tanya Ceril.


"Ya, Mom," jawab Jaeden duduk di kursi meja makan.


"Terimakasih Mom."


"Jangan sungkan." jawab Ceril dan Jaeden pun mengangguk. Ceril juga memerintahkan Mayang untuk jangan sungkan menikmati sarapan pagi nya.


"Setelah selesai, Tian bertanya, "Apakah setelah ini kamu akan pergi?"


"Jaeden harus segara kembali, banyak pekerjaan yang harus Jaeden cepat selesaikan. Chloe juga sudah mengomel terus. Bahkan tadi malam dia sudah marah marah karena aku tak kunjung kembali," jelas Jaeden sambil terkekeh kecil mengingat Chloe yang kesal pada nya.


Tian dan Ceril yang mendengar tertawa. "Cepat selesaikan pekerjaan mu disini. Setelah semua nya selesai, cepat lah kembali kesana. Jika kamu tidak segera kembali, Daddy yakin dia pasti akan tambah kesal pada mu," jawab Tian dan di angguki Jaeden.


Siang hari, Jaeden pamit untuk kembali ke Negara nya, Negara S. Tian dan Ceril mengantarkan nya sampai depan istana. "Hati hati di jalan, dan segera selesaikan pekerjaan mu."


"Baik Dad. Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Jaeden dan di angguki Tian dan Ceril.


Jaeden pun masuk kedalam mobil mewah kerajaan, mereka berdua di antar oleh Samuel dan beberapa anak buah Tian.


Setelah mobil yang di tumpangi Jaeden pergi, Tian dan Ceril pun kembali masuk kedalam istana.


Di lain tempat, Chloe benar benar merasa kesepian. Pikirnya selalu melayang mengingat Brian. Aldirch dan Daffin yang melihat wajah Chloe yang tidak semangat, hanya mengangkat bahu nya. "Ada apa dengan mu?" tanya Aldirch dan Daffin. Mereka berdua duduk di depan Chloe sambil menopang dagunya.


"Tidak ada apa apa?" jawab Chloe lesu.


"Mana ada tidak apa apa! Wajah mu saja sudah burek seperti itu kau bilang tidak apa apa. Apa kau memikirkan laki laki bajingan itu?" tanya Aldirch.


"Tidak! Aku sedang memikirkan yang lain."


"Mm...yang lain ya?" Daffin berfikir. "Aa...apakah kau sedang memikirkan si tukang kipas?" tanya Daffin.


"Tukang kipas!" seru mereka berdua menatap Daffin bersamaan. "Siapa si tukang kipas?" tanya mereka berdua bersama.


"Tentu saja si Brian si tukang kipas asap, hahaha....." tawanya mengingat julukan Brian dengan si tukang kipas.


"Jika memberi panggilan itu yang benar," Chloe memukul kepala Daffin.


"Aduh...sakit Princess. Tapi bukankah benar, jika dia itu tukang kipas asap? Aku akan tidak salah," jawab Daffin membela diri.


"Tapi panggilan itu sangat jelek, tidak bagus sama sekali," kesal Chloe seperti tidak terima.


"Cie, cie, yang ngebela. Ehem...ehem...seperti nya ada jatuh Terong," ledek Daffin.


"Jatuh Terong! Apaan lagi tu?" tanya Aldirch dan Chloe.


"Jatuh cinta dan akhirnya kena terong, hahahhaha......" jawab Daffin tertawa.


"Terong pala mu!" ucap Chloe dan Aldirch yang langsung sontak memukul kepala Daffin yang otak nya sudah mulai nyasar.


"Kenapa kalian suka sekali memukul kepala ku? Apa kalian tidak tahu jika terus di pukul takut nya nanti aku tidak bisa berkhayal tentang lembah berimbun," jawab nya sambil mengusap kepala nya.


Chloe dan Aldirch yang mendengar benar benar kesal, karena Daffin tetap tidak pernah berubah. Otak nya terus saja ada mesum. Selama tinggal bersama mereka, Daffin sering kali menghilang, dan ternyata dia selalu asyik dengan banyak wanita, menikmati gadis gadis yang bohay bohay indehoy.


.


.


.