
Di tempat lain, Alvin mengejar Elice yang pergi dengan keadaan marah.
"Sayang, tunggu!" Alvin mengejar. Namun Elice tidak memperdulikan Itu, dia terus berjalan meninggalkan Alvin si bajingan itu.
"Sayang, tunggu," Alvin berhasil menggapai tangan Elice dan langsung memeluk nya.
"Lepas! Lepaskan aku bajingan!" Elice meronta untuk melepas pelukan Alvin dari tubuhnya. Dia merasa kesal mengingat kejadian tadi saat Alvin malah merayu Chloe.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu. Maafkan aku, aku tahu kamu sakit hati. Tapi aku melakukan nya karena terpaksa. Bukan aku tidak ingin mementingkan mu tadi sayang. Aku tadi ingin membela mu, tapi kamu tahu sendiri disana ada dua laki laki yang menjaga Chloe. Tidak mungkin aku mengatakan sesuatu yang membuat mereka marah dengan ku, jika aku membuatnya marah, bisa bisa aku mati di tempat itu juga," jelas Alvin menatap wajah Elice sambil mengelus pipi mulus itu.
Elice menatap Alvin penuh selidik, mencari apakah ada kebohongan diimata itu. Tapi sial nya dia tidak bisa melihat apakah Alvin berbohong atau tidak.
"Sayang, maafkan aku ya. Walaupun tadi aku mengatakan seperti itu kepada mu, nanti nya juga kamu yang akan bersama ku bukan dia. Aku hanya ingin melindungi ku. Kamu tidak ingin kan melihat ku mati di tangan meraka?" ucap Alvin berbohong agar kesalahan nya bisa di maafkan.
Elice diam, berpikir. Mungkin memang benar apa yang di katakan Alvin, jika dia sebenarnya hanya ingin melindungi diri dari dua pemuda yang ada di belakang Chloe tadi. Elice juga tahu jika di tempat itu ada dua pemuda yang tampan dan gagah, dan lebih baik dia percaya dari pada harus kehilangan Alvin laki laki pujaan nya.
"Baiklah, aku memaafkan mu. Tapi lain kali jangan di ulang," serunya.
"Terimakasih sayang," Alvin memeluk kembali tubuh ramping dan Sexy itu. "Sayang aku kangen kamu. Kita cari hotel yuk," ajaknya yang ingin hoa hoe.
"Kau itu__," pukul Elice di dada Alvin, tapi ia juga mengiyakan permintaan Alvin. Dan akhirnya mereka berdua pun mencari hotel untuk berolahraga siang hari.
Sesampainya di hotel, mereka berdua memesan kamar dan setelah selesai, mereka pergi menuju kamar yang telah mereka pesan. Sedangkan di luar hotel, Orang yang membuntuti mereka berdua memotret dan mengirimkan nya ke ponsel Chloe.
Chloe yang mendapatkan pesan itu tersenyum jijik. "Sangat menjijikkan! Untung aku mengetahui kebusukan nya," gumam Chloe.
.
.
Di kamar Hotel. Setelah beberapa jam pergumulan di atas kasur, Elice dan Alvin pun saling berpelukan. "Sayang, kapan kita bertunangan?" tanya Elice mengelus dada Alvin.
"Kapan mau mu?" tanya balik Alvin.
"Secepatnya, aku ingin secepatnya kita bertunangan. Dan setelah itu menikah," jawab Elice memutar-mutarkan telunjuknya di dada itu.
.
.
Sore hari mereka berdua kembali ke kediaman mereka, Alvin mengantarkan Elice ke keluarga Koch.
"Masuklah," perintah Alvin.
"Kamu tidak ikut masuk?" tanya Elice.
"Tidak sayang. Aku ada sesuatu hal yang penting, besok besok saja aku akan mampir," jawab Alvin mengelus kepala Elice.
"Baiklah," jawab Elice dan mencium bibir Alvin. Mereka berdua berciuman cukup lama dan saling menikmati.
Setelah puas, Alvin melepas ciuman nya memandang wajah cantik Elice. Elice yang di pandang tersenyum. "Aku masuk dulu," ucap nya dan di angguki Alvin.
Elice pun masuk kedalam rumah, sedang kan Alvin yang melihat Elice sudah masuk langsung pergi dan masuk kedalam mobil. "Dua wanita yang sangat bodoh," gumamnya sambil terkekeh kecil. Alvin berpikir Chleo dan Elice adalah wanita yang bodoh karena mudah di permainkan. Tapi kenyataannya tidak untuk Chloe, dia sebenarnya sudah tahu jika Alvin mempermainkan nya, dan malah Chloe berniat akan membalas semuanya bahkan akan menghancurkan nya.
.
.
Satu Minggu kemudian, di kediaman Tesla, jaeden sedang sarapan bersama dengan keluarga nya.
"Nanti kita sekeluarga akan pergi ke Negara N," jelas Affandra.
Jaeden dan Almeta langsung menoleh ke arah Papa nya, "Kenapa kita ke Negara N? Mendadak sekali?" tanya Jaeden.
"Ya, kenapa mendadak sekali Pa?" tanya Almeta.
"Ada hal sangat penting, dan itu sangat-sangat penting. Dan juga tidak bisa di tunda lagi," jelas nya.
"Jika masalah bisnis Papa, aku lebih baik di rumah saja," jawab Almeta.
"Aku pun sama," sambung Jaeden.
"Tidak ada yang boleh tinggal di rumah. Semua nya harus ikut titik, dan Papa tidak ingin dengar ada penolakan," jawab Affandra yang tidak ingin di bantah.
"Baik," jawab mereka berdua serempak. Annora terkekeh kecil melihat kedua anak nya yang patuh jika Papa nya sudah berkata dan tidak ingin di bantah. Mereka berdua sudah seperti kelinci yang sangat imut, sungguh sangat menggemaskan.
"Habiskan makanan kalian, karena kita akan langsung berangkat setelah ini," jelas Annora.
"Baik Ma," jawab mereka berdua bersama.
Setelah sarapan pagi selesai, mereka semua pergi ke bandara di antar oleh supir pribadi mereka. Setelah sampai, mereka naik ke Jet pribadi nya untuk pergi ke Negara N, melamar Chloe untuk Jaeden.
Namun Affandra dan Annora tidak memberitahukan rencananya kepada Jaeden, sehingga Jaeden sendiri tidak tahu kepentingan apa yang membuat seluruh keluarga harus pergi ke Negara N. Jaeden pun sudah bertanya, namun Affandra tetap tidak mengatakan nya. Affandra ingin membuat kejutan untuk Putra nya itu. Tapi kenyataannya Affandra salah, niat ingin membuat kejutan sebenar nya dia lah akan mendapatkan kejutan, karena Jaeden sendiri sudah lebih dulu melamar Chloe kepada Tian Dominic.
Mungkin jika Affandra tahu, ia pasti sudah menghajar putra nya itu yang sok berani melamar sendiri tanpa kedua orang tua nya.
"Sebenarnya mau apa ke Negara N?" batin Jaeden terus berpikir.
Setelah beberapa jam perjalanan, kini mereka telah sampai di Bandara Negara N. Di sana seorang kepercayaan Affandra menjemput nya di bandara.
"Mari Tuan, Nyonya, Tuan Muda dan Nona Muda," ucap seorang itu mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam mobil.
"Kita mau kemana Pa?" tanya Jaeden.
"Ke rumah lah," jawab Annora santai sambil melihat jalanan yang mereka lewati.
"Rumah! Rumah siapa?" tanya Almeta penasaran karena memang tidak mengetahui jika Papa nya juga memiliki rumah di Negara N.
"Tentu saja rumah kita. Kota ini kan kaya, jadi rumah kita ada di mana mana," jelas nya menyombongkan diri karena mereka adalah keluarga kaya raya.
"Mulai lagi sombong nya. Ku harap tidak akan tumbuh tanduk di kepala nya," gumam kedua anak nya.
Annora yang telinga nya tajam langsung menoleh, menatap kedua dengan tajam. "Jangan kira Mama tidak dengar ya Jaeden, Almeta," ucapnya dengan suara yang sudah seperti ingin menerkam.
"Hehehe....Memang apa sih yang Mama dengar, kita ini tidak mengatakan apapun Lo, iyakan kak?" tanya Almeta sudah takut melihat tatapan Mama nya.
"Ya, Meta benar," jawab Jaeden santai.
"Kalian pikir Mama ini budek ha..?" Tangan Annora memukul kepala kedua anak nya.
Tuk..Tuk...
"Aduh sakit Ma! Mama ini selalu KDRT, Meta dan kakak akan melaporkan nya," ucap Meta cemberut sambil mengusap kepala nya.
"Laporkan, ayo laporkan! Mau kalian laporkan ke siapa ha..?"
"Tentu saja kepada Papa," jawab Almeta memeluk lengan Papa nya manja. "Pa!"
Affandra hendak berkata, tapi tidak jadi karena mendengar Jaeden sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Semua nya menoleh menatap Jaeden dan jiwa jiwa kepo nya meronta ingin tahu.
"Apa?" tanya Jaeden menatap semua nya.
"Siapa?" jawab mereka semua dengan suara pelan agar yang di hubungi Jaeden tidak mendengar suara mereka.
"Kepo."
Jaeden tidak memperdulikan mereka semua yang masih menatap nya dan membiarkan saja keluarga kepo nya itu menguping pembicaraan nya.
"Belum pulang juga?" tanya Chloe.
"Belum, apa sudah kangen banget sih?" tanya Jaeden dan membuat kedua orang tua nya memutar bola mata nya jengah. Ternyata Anak nya itu pintar sekali berbicara manis.
"Ya," jawab Chloe jujur sambil wajah nya bersemu merah.
"Baiklah, sebentar lagi urusan ku selesai, dan aku akan segera kembali."
"Jangan bohong lagi. Baiklah aku tunggu, awas saja kalau membohongi ku lagi."
"Tidak akan sayang," jawab Jaeden langsung di matikan ponsel nya oleh Chloe setelah mendengar panggilan sayang.
Jaeden yang melihat itu terkekeh kecil. Setiap kali mulut licinnya tidak sadar mengatakan itu, Chloe selalu saja memutus panggilan. Jaeden menatap kedepan di lihatnya Kedua orang tua dan adik nya masih saja melihat ke arah nya.
"Hah," Jaeden menghela napas, "Dia Chloe, wanita ku incar," jelasnya.
"Kalian sudah pacaran?" tanya Almeta penasaran begitupun dengan Affandra dan Annora.
"Belum."
"Belum! Lalu kenapa kau sudah memangilnya sayang?" tanya Annora kepo.
"Mulut ku suka licin," jawab Jaeden apa adanya.
"Alasan saja, padahal ingin selalu membuat nya baper kan?" saut Affandra.
"Hehehhe......Papa tahu saja."
'Papa mu ini pernah muda tahu. Bahkan saat muda Papa mu ini pintar sekali mengambil hati, tapi tidak untuk seorang," liriknya ke arah Annora. "Dia terlalu cuek dan sering marah seperti singa betina jika di modusin."
Annora yang merasa langsung menjewer telinga Suami nya, "Aku tahu siapa yang kau maksud suami ku."
"Aduh....aduh...Sakit sayang," Affandra mencoba melepas tangan istrinya. "Aku salah, aku salah. Maafkan aku." mohon nya sambil menampilkan wajah imut nya.
Jaeden dan Almera yang sering melihat itu memutar bola matanya malas. "Menjijikkan."
Satu jam perjalanan, mereka semua pun akhirnya sampai di sebuah rumah mewah, rumah milik keluarga Tesla yang lama tidak mereka kunjungi.
"Rumah siapa ini Pa?" tanya Almeta.
"Rumah kita, ayo masuk." jawab Affandra dan meminta semua nya untuk masuk kedalam rumah mewah nya.
.
.
.
Maaf kemaren tidak Update. Setelah nulis separuh bab ini, mata Autor kumat sakit. Rasanya panas terus cenut cenut seperti mau pecah bola matanya hingga sampai membuat kepala Autor sakit. Saking sakit nya mata dan kepala badan Autor ikut gregesi.
Maaf....,🙏🙏🙏