PRINCESS CHLOE

PRINCESS CHLOE
JAEDEN



Alvin diam mendengar apa yang di katakan Papa nya. Bukankah sekarang dia harus memilih? Memilih antara Chloe dan Elice. Atau bisa di katakan kaya dan miskin. Jika memilih Chloe bersiap menjadi orang miskin, tapi jika memilih Elice dia akan tetap menjadi keluarga kaya raya.


"Itu terserah pada mu. Sekarang pilihlah, ingin bersama Elice atau gadis miskin itu?" tanya Harond.


Alvin masih tetap diam. Cukup lama dia diam, Alvin pun menghela napas, "Hah....Baik lah aku akan bersama dengan Elice, dan menjadikan nya sebagai istri ku nanti nya. Tapi untuk saat ini biarkan aku bersenang senang terlebih dahulu dengan Chloe," jelas Alvin.


"Terserah kamu. Tapi ingat! Jika sampai kau mengingkari pilihan mu Papa tidak akan segan langsung mengusir mu dari kediaman Johnson."


"Baik Pa," jawab Alvin senang. Sedangkan Ellie tak percaya suami menyetuji permintaan Alvin untuk masih berhubungan dengan Chloe.


"Pa, kenapa Papa membiarkan dia masih dekat dengan Gadis miskin itu? Bagaimana jika Elice tahu?"


"Dia tidak akan mungkin tahu," jawab Harond santai.


"Tapi..!"


"Sudah lah Ma."


"Baiklah," jawab Ellie tidak ingin membantah takut suami nya akan marah.


.


.


.


Hari hari berlalu, Alvin masih terus membujuk Chloe agar tidak marah kepada nya. Walaupun dia sudah memutuskan memilih Elice, namun dengan serakah nya dia masih ingin dekat dengan Chloe.


"Sayang, kenapa masih marah sih? Maaf kan aku sayang, untuk saat ini aku belum bisa membawa mu ke keluarga ku. Karena kamu tahu sendiri kan Mama tidak menyukai mu. Aku masih berusaha membujuknya agar dia mau bertemu dengan mu. Tapi sampai saat ini aku belum berhasil membujuk nya. Jadi bersabarlah, dan mengertilah diri ku," jelas Alvin memegang tangan Chloe.


Chloe hanya menatap datar. "Jika susah lebih baik kita putus saja," jawab Chloe melepas tangan Alvin dari tangan nya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu. Sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi milik ku. Dan tak akan ku biarkan orang lain mendekati mu bahkan memiliki mu."


"Kau egois," kesal Chloe.


"Ya aku egois sangat sangat egois. Karena aku hanya ingin memiliki mu," jawab Alvin.


Mendengar itu Chloe pergi meninggalkan Alvin dengan perasaan kesal. Chloe terus berjalan mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan pikiran nya.


"Kenapa cinta pertama ku seperti ini? Sungguh menyebalkan. Alvin tidak ingin berpisah dengan ku, dan aku yakin apa yang dia ucapkan pasti sungguhan. Jika aku dekat dengan laki laki lain, aku yakin dia pasti akan membuat masalah kepada laki laki itu. Dan aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam hubungan ini, apalagi sampai harus melibatkan nyawa. Aku tidak mau, jika seperti ini biarlah hubungan ini menggantung. Mulai sekarang aku tidak akan peduli dan tidak akan menganggap nya kekasih. Aku akan membuang semua perasaan ini dan akan mencari cinta lain di hati ku," gumam Chloe sambil memikirkan Brian.


"Brian juga kenapa nomornya tidak bisa di hubungi sih? Sial!! Kemana sih anak itu? Aku rindu dengan nya."


.


.


.


Di lain Negara, sebuah keluarga kaya raya, seorang pemuda sedang tidur di atas ranjang king size nya. Sedangkan di depan pintu kamar nya, wanita baya yang tak lain ibu nya terus mengetuk pintu kamar putra nya. Namun sampai tangan nya sakit, masih saja putra nya itu tidak kunjung bangun juga.


"Jaeden....buka pintu nya, ini susah siang. Apa kamu masih akan terus tidur? Bangun! Cepat bangun...." teriak Annora dengan keras, sampai sampai suara nya menggema sampai lantai bawah.


Jaeden yang sedang tidur menutup telinga nya dengan bantal karena terganggu mendengar suara Mama nya yang berbisik. "Kenapa pagi pagi sudah berisik sih si ibu Ratu ini? Apakah dia tidak bisa memelankan suara nya dan berbicara lembut layak nya wanita bangsawan," kesal Jaeden dengan suara Mama nya yang cempreng itu


"Jaeden jika kamu masih tetap tidak bangun juga, akan Mama dobrak pintu kamar mu ini," teriak nya lagi dengan keras.


"Kenapa kakak tak bangun juga sih? Apa dia tidak tahu gimana marah nya Mama nanti. Aku takut pintu kamar itu akan menjadi korbannya," Seru Almeta.


Dan benar saja, baru saja Almeta mengatakan nya, suara pintu di dobrak paksa dengan keras.


Braak...


Affandra dan Almeta hanya bisa memijat keningnya, merasa pusing dengan kegaduhan yang terjadi.


Di lantai dua, Annora masuk ke kamar putra nya yang tidak kunjung bangun juga. Jaeden yang mendengar pintu nya jebol langsung bangun dan duduk menatap Mama yang sudah siap memangsa nya. "Ma..! Hehhehe.....Jaeden benar benar tidak dengar tadi, Mama jangan marah ya! Ayo kendalikan kemarahan Mama, tarik napas, hembuskan," perintah Jaeden sudah takut menatap Mama nya yang sedang mengelus kepalan tangan nya sambil menatap nya.


Glek...


"Sial! Singa betina ini benar benar tidak berubah, tetap galak," batin Jaeden dengan susah payah menelan ludah nya melihat tatapan mamanya yang mengerikan.


"Berani nya kau mengabaikan panggilan Mama! Apa kau sudah bosan mendengar nya?" tanya Annora dengan suara mengerikan.


"Ah...Bu-bukan seperti itu Ma, hanya saja Jaeden benar benar tidak mendengar tadi," jawab Jaeden Bohong.


"Kamu pikir Mama percaya dengan ucapan mu? Tidak! Mama tahu kau berbohong."


Annora mendekati dan melayangkan tinjunya ke tubuh anak nya, memukul nya dengan membabi buta.


Buk....Buk...


"Ma, ampun! Ma, hentikan!


Jaeden benar benar dipukul habis karena tidak mendengar perintah Sang ratu. "Aku salah Ma, Jaeden mengaku salah."


'Katakan apa kesalahan mu?" Tanya Annora masih memukul Jaeden.


"Jaeden salah karena tidak mendengar panggilan Mama. Jaeden salah karena tidak cepat bangun padahal waktu sudah siang."


"Itu kau tahu, kenapa masih tidak kunjung bangun?"


"Aku malas Ma."


"Malas kau bilang?" wajah Annora semakin gelap. "Apa kau tidak tahu jika Papa dan adik mu sedang menunggu mu untuk sarapan bersama? Apa kamu tidak tahu jika Papa mu akan pergi bekerja? Dan apa kamu tidak tahu jika adik mu akan berangkat sekolah? Tapi kau dengan malas nya tidak lekas bangun dan membuat mereka menunggu lama. Dasar pemalas."


"Jika memang Papa dan adik menunggu ku, kenapa Mama memukuli ku? Dan bukankah itu akan semakin membuat mereka berdua lama menunggu ku?"


"Ah, iya. Kenapa aku malah memukul mu? Aku jadi membuat nya semakin lama menunggu. Sial! Aku harus segera turun dan menyiapkan mereka makanan," Annora keluar sambil berlari kecil. Sedangkan Jaeden yang melihat ibu nya sudah pergi mengelus dadanya, "Selamat, selamat."


.


.


.


. Selamat membaca


Jangan lupa like, komen dan vote serta hadiah nya.


Dan pencet love nya.