PRINCESS CHLOE

PRINCESS CHLOE
OTAK YANG TERKONTAMINASI



"Dasar gadis licik, namun aku suka. Tapi ingat Princess, jangan pernah benar-benar tergoda dengan Alvin si murahan itu," ucap Aldirch memperingati.


"Kau tenang saja, aku tidak akan pernah tergoda lagi dengan si Alvin itu. Karena aku suka dengan seseorang," Chloe senyum senyum sendiri mengingat wajah seseorang.


Daffin dan Aldirch yang melihat tingkah gila Chloe mendengus kesal. Dia tahu siapa yang di pikirkan Chloe saat ini. Saking kesal nya melihat Chloe yang hampir setiap hari seperti itu, Daffin pun langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.


"Hallo! Ada apa Daf?" tanya Jaeden yang di hubungi saat rapat.


"Ada seseorang yang merindukan mu," jawab Daffin sambil melirik ke arah Chloe. Chloe yang mendengar langsung mencoba merebut ponsel Daffin.


"Bawa sini Ponsel mu."


"Tidak akan," jawab Daffin.


"Bri, Chloe merindukan mu. Kapan kau pulang?" tanya Daffin sambil tangannya menghalau tangan Chloe yang mencoba merebut Ponsel nya.


"Siapa yang merindukan nya. Jangan banyak omong kau," Chleo terus mencoba merebut ponsel itu


"Halah jangan ngeles lagi, bukankan tadi kau senyum senyum tidak waras? Aku tahu siapa yang kau pikirkan. Brian cepetan balik! Jika kau tidak cepat balik aku yakin dia akan semakin gila karena selalu terbayang wajah jelek mu itu," saut Aldirch dengan suara keras.


"Siapa yang terbayang bayang wajah nya? Jangan ngaco," kesal Chloe karena terus di ledek Aldirch dan Daffin


"Bri, dia benar benar sudah sedikit tidak waras. karena selalu memikirkan mu. Kadang saja dia kesal karena kau tidak lekas balik. Dia selalu terbayang bayang wajah mu uuuuuuu......Wajah mu yang paaaas-pasan," Daffin menghina sambil menyanyikan sebuah lagu.


Jaeden yang mendengar semua itu menjadi kesal bercampur gemas. Gemas karena Chloe ternyata merindukan nya namun tidak mau mengakui nya. Dan kesal karena mendengar dua laki-laki menyebalkan itu menghina nya, dan mengatakan jika dia jelek dan memiliki wajah pas-pasan. Jika saja dia ada disana sudah di pastikan mereka berdua akan langsung kena bogem mentah nya.


Jaeden menghela napas, tidak mungkin dia mengoceh panjang di depan para kliennya. Dia yang mengangkat panggilan itu saja semua nya sudah melihat ke arah nya, namun semuanya diam karena mereka tahu tidak mungkin melarang orang hebat seperti Jaeden Briandy Tesla.


"Baiklah, aku akan segera kembali jika semuanya sudah selesai. Bisakah kau berikan ponsel nya kepada Princess? Aku ingin berbicara sebentar dengan nya," tanya Jaeden yang ingin mendengar suara wanita nya.


"Oke, tapi jangan bikin dia baper. Aku takut dia tidak akan bisa tidur nanti malam," jawab Daffin. Jaeden yang mendengar mengulas senyum tipis nya, berpikir apakah benar seperti itu?


Daffin pun menyerahkan ponsel nya kepada Chloe, "Nih, bicaralah dengan akang tukang kipas mu. Dia ingin bicara dengan mu."


Chloe mengambil dengan kasar ponsel Daffin sambil memelototi Daffin karena mendengar Daffin memanggil Jaeden dengan Akang tukang kipas. Jelek sekali panggilan itu pikir Chloe. Daffin yang melihat Chloe mengambil kasar ponsel nya berteriak, "Hati hati...jangan sampai kau membuat ponsel ku hancur."


Chloe bukan nya hati hati dia malah membuat Daffin berteriak kesal. Bagaimana tidak! Chloe malah seperti ingin membanting ponsel mahal milik Daffin. Daffin wajah nya sudah sangat suram melihat itu. "Jika kau berani membanting nya aku akan mencekik mu."


"Hahaha....Hanya ponsel murahan saja kau sudah seperti orang gila." jawab Chloe.


"Murahan kata mu!" kesal Daffin.


Aldirch yang melihat menepuk bahu Daffin, "Sudah sudah. Jika nanti ponsel jelek mu itu hancur, aku yang akan menggantikan nya."


Daffin menatap Aldirch tidak suka karena Aldirch menghina ponsel mahal nya dengan ponsel jelek. Pikir nya apa mata mereka berdua buta? Sampai tidak bisa melihat ponsel mahal. Atau karena keseringan mereka melihat Ponsel butut sehingga ponsel mahal mereka kira jelek?


"Princess," Panggil Jaeden lembut.


"Ya, kapan pulang?" tanya Chloe langsung pada intinya yang menginginkan Jaeden segera pulang.


"Apakah kamu benar benar ingin aku kembali? Jika aku kembali apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jaeden santai di depan semua klien nya.


"Mengurung mu di kamar," batin Chloe tertawa jahat membayangkan dia mengurung Jaeden di dalam kamar, dan menghabisinya di ranjang. Sungguh pikiran Chloe susah sangat sangat kotor.


"Apa yang kau pikir kan Princess?" gumam Chloe memukul pelan kepalanya sendiri. Aldirch dan Daffin yang melihat memiliki pemikiran sama jika saat ini Chloe pasti berpikir yang tidak tidak. Dan mungkin saja otak cantik nya itu sudah terkontaminasi kemesuman sama halnya Daffin si playboy cap kadal.


"Ehem, tentu saja aku akan menghajar mu," jawab Chloe dan membuat Jaeden tersenyum, senyum yang sungguh menawan.


"Baiklah, aku siap. Apapun yang akan kau lakukan aku akan siap," jawab Jaeden.


Chloe yang mendengar tertawa dalam hati. "Hahaha....Dia ternyata siap. Hihihi... Bagaimana jika aku benar benar menghajar nya di kamar? Apakah dia juga siap?" Chloe bener benar tersenyum iblis.


"Deal! Kau tidak boleh protes dan tidak boleh menolak."


"Oke sayang," jawab Jaeden sambil terkekeh. Chloe yang mendengar kata sayang lagi, pipinya langsung bersemu.


Blush!


"Menyebalkan! Selalu saja bikin aku seperti ini," gerutu Chloe pelan, namun masih bisa di dengar Jaeden. Jaeden yang mendengar benar benar terkekeh kecil.


"Aku tunggu minggu ini. Jika kamu tidak pulang, jangan pernah menemui ku lagi," ancam nya.


"Baik sayang," jawab Jaeden lagi dengan sebutan sayang.


"Menyebalkan!" Chloe langsung memutus panggilan itu dan melempar ponsel mahal itu ke arah Daffin dan pergi ke dapur.


Daffin yang melihat menangkap dengan gelagapan, takut ponsel mahal itu pecah dan rusak. "Huh... selamat, selamat," Daffin mengelus ponsel satu satu nya karena hanya itu lah benda mahal yang di izinkan Daddy Nickel bawa. Aldirch yang melihat semua itu hanya menggelengkan kepalanya dan menyusul Chleo ke dapur.


Sedangkan Jaeden yang melihat panggilan itu mati hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Setelah itu menaruh ponsel bututnya di meja. Semua yang ada di ruangan itu melihat ke arah ponsel butut Jaeden. Jaeden yang tahu arah mata mereka langsung ber dehem.


"Ehem...Silahkan di lanjutkan," perintah nya.


Rapat itu pun kembali di lanjutkan. Namun Jaeden malah tidak pokus dengan pembahasan itu, dia malah mengingat Chloe yang sepertinya memang sangat merindukan nya. Jaeden terus tersenyum seperti orang yang nampak bodoh. Asisten Jaeden yang melihat hanya menghela napas dengan kasar. Dia tahu siapa yang di pikirkan Bos nya itu, siapa lagi jika bukan putri mahkota, Chloe Dominic.


.


.


.