PRINCESS CHLOE

PRINCESS CHLOE
PENGGANGGU



Chloe yang tahu mereka berbisik bisik tentang dirinya langsung melemparkan bantal ke arah mereka berdua. "Aku tahu kalian sedang membicarakan ku. Sekarang kalian keluar, aku muak melihat wajah kalian, tampan tidak! Menyebalkan iya," seru nya mengusir kedua nya keluar dari kontrakan nya.


"Tidak mau, aku tetap ingin disini," jawab Daffin yang berpegangan pada kursi.


"Keluar kalian! Kalian sangat menyebalkan," Chloe menarik paksa kedua nya untuk keluar dari kontrakan nya. Jaeden yang melihat hanya menghela napas, sudah sering kali dia melihat hal seperti ini. Melihat Chloe, Aldirch dan Daffin yang selalu ribut di depan matanya.


"Brian tolong aku," teriak Aldirch dan Daffin lebay seolah dia akan di tangkap oleh penjahat.


"Pulang sana, mengganggu saja," kesal Chloe setelah berhasil menyeret mereka berdua keluar dari Kontrakan nya.


"Jahat sekali sih! Kau itu cewe, jika kasar seperti ini aku takut nya Brian kabur dari mu," seru Daffin


"Banyak omong, pergi kalian," usirnya dan langsung menutup pintu itu dengan keras.


Brak...


Chloe tidak peduli jika Jaeden melihat sifat nya yang kasar. Dia masuk dan duduk di samping Jaeden sambil melipat tangan nya dan dengan wajah ber sungut.


"Jangan marah seperti itu, tambah jelek tahu."


"Biarin! Mereka sungguh sangat menyebalkan," kesal nya masih dengan cemberut.


"Jika masih marah seperti ini lebih baik aku pulang saja, takut nanti kena amukan juga," seru Jaeden sambil tersenyum kecil.


"Jika kau berani pergilah. Mungkin kursi itu bisa melayang sebelum kau keluar dari pintu," jawab Chloe bertambah kesal.


Mendengar itu Jaeden malah tertawa, "Tidak jadi dan tidak berani melawan Yang Mulia Ratu," jawab nya sambil menganggukkan tangan.


"Pergi sana! Bukankah kau juga ingin pergi. Aku tidak melarang mu," kesal nya membuang muka. Ingin nya di rayu agar tidak marah malah mau di tinggal. Bukankah itu sangat menyebalkan? Memang benar benar menyebalkan.


"Aku tidak akan pergi. Sudah dong jangan marah lagi," pintanya menarik bahu Chloe agar menghadap ke arah nya.


Dengan bibir cemberut Chloe menghadap ke arah Jaeden. Menatap wajah tampan sekaligus menyebalkan itu. "Kenapa wajah mu sangat menyebalkan?" serunya dengan kening mengkerut.


"Menyebalkan! Menyebalkan bagaimana sih Yang," jawab nya bingung.


Chloe yang mendengar Jaeden memanggil nya Sayang langsung membuang muka. Wajah semula yang kesal kini menjadi merona penuh malu. "Ternyata seperti ini rasanya mendengar dia memanggil ku sayang secara langsung. Hati ku jedag-jedug. Abang, kau buat aku lemas dengan panggilan itu," batin Chloe yang lebay.


"Coba tatap aku. Apakah wajah ku ini sangat menyebalkan," pintanya menarik dagu Chloe agar menatap wajah nya.


"Gila! Dia tampan sekali, aku ingin menariknya ke kamar," teriaknya dalam hati.


"Chloe," panggil Jaeden menatap wajah Chloe.


Suasana malam yang sunyi, suara panggilan Jaeden terasa sedikit aneh, membuat perasaan Chloe menjadi kacau, tapi tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa diam dengan hati berteriak menginginkan lebih dari pertemanan. Ingin mengungkapkan tapi bibir tidak bisa, terasa kelu dan tidak berani.


Tatapan mata Jaeden sungguh membuat nya salah tingkah. Chloe menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, mengingat otak nya yang mesum menginginkan Jaeden mencium nya.


Jika dia bisa seperti Mommy Ceril, sudah di pastikan Jaeden akan di habisi di tempat itu. Tapi dia tidak berani, rasa malu nya untuk mengungkapkan mengalahkan otak nya yang mesum.


Melihat Chloe menutup wajah nya, Jaeden menarik tangan itu agar bisa lebih menatap Wajah cantik wanita yang di cintai nya itu. "Kenapa di tutup? Apakah wajah ku semengerikan itu, sehingga kamu menutupnya dan tidak ingin melihat wajah ku?" tanya Jaeden.


"Bukan seperti itu, hanya saja____," Belum selesai Chloe berbicara, Jaeden menarik tengkuk Chloe dan mencium bibir ranum itu, menyesa**p nya dan meluma**t nya dengan lembut.


Chloe yang merasakan bibirnya di ses*ap oleh Jaeden terbengong. Matanya melotot menatap wajah Jaeden yang begitu dekat, "Dia mencium ku? Apakah ini mimpi? Aaa.....ku harap ini bukan mimpi," teriak nya dalam hati.


Chloe pun memejamkan mata menikmati ciuman lembut itu. Setelah Chloe memejamkan mata, Jaeden pun membuka mata, dan melihatnya Chloe begitu menikmati Ciuman nya. Jaeden tersenyum kecil, Jaeden tahu apa yang di inginkan Chloe, jadi biarlah dia mengabulkan keingin itu. Lagian dia juga menginginkan hal itu, menginginkan bibir yang selalu menggoda nya itu. Di lihatnya perlahan Chloe membalas ciumannya, menggerakkan bibir itu dan mereka berdua saling menikmati bibir manis itu.


Chloe benar benar di buat gila oleh Jaeden, dia menginginkan lebih. Namun Jaeden tidak melakukan hal yang di inginkan nya itu. Saat mereka berdua saling asyik menikmati ciuman itu, pintu di luar lagi lagi di gedor oleh seseorang.


Keduanya langsung melepas dan menoleh ke arah Pintu. "Siapa yang berani menganggu ku?" kesal Chloe dalam hati.


Sebelum Chloe beranjak, Jaeden mengelap bibir Chloe yang basah karena ulah nya. "Biar aku yang buka," ucap Jaeden.


"Tidak usah! Biar aku saja," jawab Chloe langsung berdiri.


Di buka nya pintu itu dan di lihat nya Areum berdiri sambil tersenyum mengangkat dua jari. "Ada apa?" tanya Chloe menyelidik, dia pikir pasti ada sesuatu. Atau mungkin ada yang meminta Areum untuk datang mengganggu nya. Dia hafal Areum, tidak mungkin Areum datang malam malam seperti ini. Pasti ada seseorang yang menyuruhnya. "Pasti si Daffin buaya itu," batin nya.


"Bolehkah aku masuk?" pinta Areum sambil menengok ke dalam.


"Lihat apa kau? Hus, pergi sana mengganggu saja!" kesal nya sambil melipat tangan nya.


"Jangan marah dong! Aku hanya di minta Daffin untuk menganggu mu. Jika aku tidak mau dia akan memperkosa ku," jawab Areum sambil terkekeh.


"Tidak tahu malu," Kesalnya. "Lebih baik kau pulang lagi ke kamar mu dan layani buaya buntung itu."


Chloe benar benar kesal dengan teman nya ini, bisa bisa nya dia menuruti perintah laki laki yang suka menggombalinya itu. Jika di pikir apa yang di sukai dari diri Daffin itu? Sudah Playboy cap cicak, suka mampir ke sarang burung lagi. Menjijikkan.


"Di tidak bawa sesuatu yang beraroma pisang," bisik Areum.


"Aroma pisang? Apa itu?" tanya Chloe bingung, dia benar benar tidak tahu apa yang di maksud Areum si mesum, sama seperti si Daffin. Sebelas, dua belas.


"Pembungkus Burung Pipit, agar liur nya tidak menetes di goa nya," jawab Areum cepat dengan suara sedikit keras.


Jaeden yang ada di dalam mengerutkan kening, mendengar apa yang di katakan Areum. "Apa yang di bicarakan nya itu," Gumam Jaeden dan menghampiri mereka berdua.


"Kalian mengobrol kenapa tidak masuk?" tanya Jaeden dan membuat keduanya menoleh.


Chloe yang melihat langsung menatap Jaeden. "Kenapa kesini?" tanya Chloe. Pertanyaan Chloe membuat Jaeden dan Areum menaikkan satu alisnya. Pikirnya apakah salah?


"Ah..Kamu disini ya Bri?" tanya Areum sambil tersenyum.


"Ya," jawab Jaeden. Jaeden menatap Chloe, "Di suruh masuk dong tamu nya..Aku pergi dulu ay, sudah malam."


"Tidak boleh!" jawab Chloe cepat


"Tidak boleh?" gumam Jaeden bingung. "Tapi ini sudah malam, kamu pun harus tidur," jelas Jaeden.


Chloe langsung memasang wajah ingin menangis nya. "Semua ini gara gara kau," kesal nya langsung menjewer telinga Areum.


"Aduh duh, apa salah ku Chloe? Kenapa menjewer ku? Brian yang mau pamit kenapa kau menjewer ku? Seharusnya kau jewer dia. Jika perlu kurung dia di kamar." teriak Areum mencoba melepas tangan Chloe dari telinga nya.


"Mengurung nya di kamar?"Batin Chloe. "Tidak tidak? Tidak boleh. Harga diri harus di jaga." batin Chloe.


Jaeden hang melihat hanya bingung, dia menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Pulang tidak boleh, lalu dia suruh apa di kontrakan Chloe?


.


.


.


.