
Daffin dan Aldirch yang melihat wajah Chloe yang nampak suram hanya menampilkan senyum cengengesan nya, dan perlahan membalikkan badan untuk kabur dari Chloe yang sangat menyeramkan.
"Mau kemana kalian?" tanya Chloe dengan suara dingin.
Tubuh mereka berdua langsung membeku mendengar suara Chloe yang menurutnya mengerikan, mereka berdua menelan ludah dengan kasar dan membalikkan tubuhnya menatap Chloe.
"Hehehe....aku ingat kami ada urusan penting, bukan begitu Al?" tanya Daffin sambil menyikut pinggang Aldirch memberi kode.
"Ah, iya. Aku ingat kami ada urusan. Dan ini waktunya sudah sangat mepet, kami harus segera pergi," jawab Aldirch.
Chloe yang mendengar hanya menaikkan satu alisnya, tidak percaya dengan apa yang mereka berdua katakan.
"Kami pergi dulu. Bri, antarkan Chloe sampai tempat nya, jika perlu kurung dia di kamar," ucap Daffin dan langsung mendapatkan tampolan di kepala.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengizinkan itu," saut Aldirch kesal.
Daffin tidak memperdulikan kekesalan Aldirch, dia menarik paksa tangan Aldirch untuk membawa nya kabur agar tidak terkena amukan Chloe.
Chloe yang mendengar Daffin mengatakan itu napasnya langsung memburu siap untuk meluapkan kekesalannya.
"Kalian mau kemana? Kembali kalian!" teriaknya ingin mengejar Aldirch dan Daffin. Namun sebelum kaki itu melangkah tangan Jaeden menahannya.
"Tidak usah di kejar. Ayo kita pulang saja."
"Tapi!"
"Sudah lah, biarkan saja." ucapnya sambil menarik tangan Chloe, membawa nya menuju motor nya.
Chloe menurut saja melangkahkan kaki mengikuti langkah Jaeden. Sesampainya di motor, Jaeden memasangkan helm nya di kepala Chloe.
"Sudah! Naiklah."
Chloe menurut dan naik di motor, duduk di belakang Jaeden dan langsung memeluk pinggang itu. Jaeden menyalakan motor dan mengantarkan Chloe kembali ke kontrakan.
.
.
Sedangkan di kediaman Johnson, seorang satpam menemukan sebuah kotak di depan Pintu pagar dan dia pun membawanya untuk di serahkan kepada Nyonya nya.
"Nyonya," panggil Satpam itu.
"Ada apa?" jawab Ellie
"Ini ada sebuah kotak yang saya temukan di depan pagar Nyonya," ucapnya menyerahkan kotak itu.
Ellie mengambilnya, dan satpam itu di minta untuk pergi. Setelah satpam itu pergi, Ellie membuka kotak itu. Namun saat melihat sebuah kepala di dalam kotak itu, Ellie langsung berteriak dengan keras dan membuang kotak itu hingga membuat Kepala di dalam kotak itu menggelinding di lantai.
Para pelayan yang mendengar suara teriakan itu langsung berlari menuju asal suara. "Ada apa Nyonya?"
Huek....Huek...
Ellie muntah saat melihat kepala yang yang berlumuran darah itu. Dia merasa jijik dengan tangan nya yang memegang kotak berisikan kepala itu.
"I-itu!" tunjuk nya pada sebuah kepala yang berada di lantai.
Semua pelayan melihat ke arah yang di tunjuk Nyonya mereka. Saat melihat itu mereka semua langsung berteriak dengan keras.
"A-apa itu?"
"Buang barang menjijikkan itu," perintahnya dengan suara bergetar. Setelah memerintah, Ellie langsung pergi kekamar untuk mencuci tangan nya yang menurutnya sangat kotor.
Huek....Huek....
Ellie masih saja memuntahkan isi perutnya walaupun tidak ada yang keluar dari mulut nya. "Itu sungguh menjijikkan! Kenapa kepala itu di kirim ke sini? Siapa yang melakukan nya?" gumam nya sambil membasuh wajah nya.
"Jangan jangan! Sial! Apa mungkin ini ulah Gadis sialan itu! Benar benar tidak bisa di biarkan!"
Huek....Huek....
"Sial! Kenapa aku masih mengingat itu," gumam nya sambil bergidik ngeri.
.
.
"Kenapa kamar ini rasanya sedikit gelap?" gumamnya melihat kamar yang luas. Padahal jika di lihat, kamar itu sangat terang benderang. Dan itu hanya firasat Ellie saja karena rasa ketakutan.
Tok...Tok...Tok...
Mendengar suara ketukan itu, Ellie menelan ludah. Dia perfikir itu adalah hantu. Dengan cepat dia menarik selimut dan bersembunyi di balik selimut tebalnya.
Suara pintu itu di ketuk dari luar. Namun lambat laun suara ketukan itu berhenti dan berganti suara pintu di buka dan suara langkah kaki yang menghampiri nya.
"Siapa ini? Kenapa langkah kaki nya mendekati ku?" ucapnya dalam hati dengan detak jantung tak beraturan karena takut.
"Semoga itu bukan hantu kepala tadi!"
Langkah kaki itu semakin mendekati nya. Ellie benar benar ketakutan mendengar itu. " Jangan mendekat! Jangan mendekat!" Batinnya sambil memejamkan mata.
Tiba tiba Selimut yang di pakai nya di tarik oleh seseorang.
"Aaaaa..........," teriak nya dengan keras dengan mata memejam.
"Jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku, pergi kau setan jangan mendekati ku. Tubuh ku sudah tidak segar lagi. Jika kau ingin makan, makan saja pelayan ku yang di bawah, mereka lah yang membuang mu tadi," ucap nya sambil memejamkan kan mata dan mengatupkan tangan nya di depak dada.
Orang yang berdiri di samping nya mengerutkan kening mendengar ucapan Istrinya. Ya, orang yang menyibak selimut itu adalah Harond.
"Ada apa dengan mu Ma?" tanya Harond mengguncang bahu Ellie.
Mendengar suara Suaminya, Ellie langsung membuka matanya dan dengan cepat langsung memeluk tubuh Suami nya.
"Pa! Aku takut Pa."
"Takut kenapa?" tanya Harond bingung.
"Ta-tadi ada yang mengirim kepala di dalam kotak. Dan i-itu kepala, kepala orang yang kita suruh untuk membunuh Gadis sialan itu," jelas Ellie dengan ketakutan. Dia menyembunyikan wajah nya di dada suami nya
"Kepala?"
"Ya, dan itu sangat mengerikan Pa."
"Berani nya Gadis itu mengirim kan itu pada kita. Kita benar benar harus membunuh nya," ucapnya sambil mengelus kepala istrinya. "Sudah jangan takut lagi, Papa ada disini."
"Jangan Tinggalkan aku Pa."
"Mama disini dulu, Papa harus mandi."
"Tidak! Jangan tinggalkan Mama, mama takut. Bagaimana jika kepala itu menemui Mama," tahan nya sambil melihat sekeliling nya.
"Tidak akan ada Ma! Mama tunggu di sini saja, Papa hanya sebentar."
"Tapi!"
"Hanya sebentar Ma," Harond pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Ellie yang sendirian di kamar itu. Melihat suami nya pergi, Ellie langsung menarik selimut nya dan bersembunyi di dalam selimut.
.
.
Sedangkan di kontrakan Chloe, Jaeden hendak pamit karena waktu sudah malam. "Aku pulang dulu, sudah malam."
"Kenapa pulang?" tanya Chloe tidak rela jika Jaeden pergi.
"Ini sudah malam, kamu harus istirahat."
"Aku tidak mengantuk dan masih ingin di temani. Bahkan jika kamu akan membuat ku lelah aku akan tidak akan menolak," gumam Chloe pelan.
Jaeden yang mendengar gumaman Chloe tidak jelas mengerutkan kening. "Kamu ngomong apa?"
"Tidak! Tidak ngomong apa-apa?" kilah nya dan membuat Jaeden menaikkan sebelah alisnya.
.
.
.